22/05/2026
Perjalanan kami mengikuti warga Dayak Tomun melakukan (muar)panen madu hutan warisan leluhur menjadi pengalaman yang begitu mengesankan dan sulit dilupakan. Bukan sekadar perjalanan mencari madu, tetapi perjalanan menyusuri makna hidup, keberanian, serta hubungan manusia dengan alam yang dijaga penuh hormat sejak zaman para leluhur.
Perjalanan dimulai ketika senja mulai turun perlahan di tepian hutan. Warga bersiap dengan peralatan sederhana; tali, parang, pengasap tradisional, dan bekal seperlunya. Tidak ada kemewahan, namun dari wajah-wajah mereka terlihat keyakinan dan ketenangan. Di tengah langkah menuju rimba, terdengar gurauan kecil dan sapaan akrab yang membuat perjalanan terasa hangat, seolah hutan bukan tempat asing, melainkan rumah yang telah lama mereka kenal.
Malam menjadi saksi ketika rombongan mulai menyusuri jalan setapak yang licin dan gelap. Cahaya lampu seadanya menembus kabut dan pepohonan besar yang menjulang tinggi. Di sanalah kami mulai memahami bahwa muar bukan pekerjaan biasa. Ia membutuhkan keberanian, ketelitian, dan penghormatan kepada alam. Sebab bagi masyarakat Dayak Tomun, pohon lalau tempat lebah bersarang bukan hanya pohon tinggi, tetapi bagian dari kehidupan yang terus memberi keberkahan.
Sebelum memanjat, beberapa tokoh adat melantunkan doa dan ritual sederhana. Suaranya lirih menyatu dengan desir angin malam. Kami terdiam menyaksikan bagaimana tradisi diwariskan bukan lewat tulisan, melainkan lewat tindakan dan keyakinan yang dijaga turun-temurun. Ada rasa hormat yang begitu besar kepada Sang Pencipta dan kepada hutan yang selama ini memberi kehidupan.
Saat para pemanjat mulai naik ke batang lalau yang tinggi menjulang, jantung kami ikut berdebar. Dengan ketangkasan luar biasa mereka bergerak di ketinggian hanya berbekal pijakan kayu dan tali sederhana. Asap perlahan diarahkan ke sarang lebah, lalu tetesan madu emas mulai turun memenuhi wadah. Di bawah cahaya malam, madu itu tampak seperti cairan kehidupan yang lahir dari kerja keras, keberanian, dan kesabaran.
Yang paling mengesankan bukan hanya hasil madunya, melainkan cara mereka menjaga keseimbangan. Mereka tidak mengambil semuanya. Sebagian tetap dibiarkan agar lebah terus hidup dan kembali bersarang. Dari sana kami belajar bahwa leluhur telah lama mengajarkan tentang keberlanjutan jauh sebelum dunia ramai berbicara tentang pelestarian alam.
Perjalanan muar bersama warga Dayak Tomun memberi kami pelajaran berharga: bahwa hutan bukan untuk ditaklukkan, melainkan dihormati. Bahwa manusia bisa hidup berdampingan dengan alam tanpa rakus mengambil semuanya. Dan bahwa tradisi yang dijaga dengan hati akan selalu menjadi cahaya bagi generasi yang akan datang.
Malam itu kami pulang dengan tubuh lelah, pakaian penuh aroma asap dan hutan, tetapi hati terasa penuh. Sebab kami tidak hanya membawa pulang madu rimba, melainkan juga cerita, penghormatan, dan kekaguman kepada masyarakat Dayak Tomun yang tetap setia menjaga warisan leluhurnya.