Insan Hutan Indonesia

Insan Hutan Indonesia Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Insan Hutan Indonesia, Nonprofit Organization, Jalan Simpei Karuhei IV No. 2, Palangkaraya.

www.insanhutan.org >> YIHUI Insan Hutan Indonesia ««®»» Selamatkan Hutan Hujan Indonesia ««®»» Menjaga Kelestarian Hutan Jaminan untuk Kehidupan yang Lebih Baik. Hutan, Menyelamatkan Masa Depan.

Perjalanan kami mengikuti warga Dayak Tomun melakukan (muar)panen madu hutan warisan leluhur  menjadi pengalaman yang be...
22/05/2026

Perjalanan kami mengikuti warga Dayak Tomun melakukan (muar)panen madu hutan warisan leluhur menjadi pengalaman yang begitu mengesankan dan sulit dilupakan. Bukan sekadar perjalanan mencari madu, tetapi perjalanan menyusuri makna hidup, keberanian, serta hubungan manusia dengan alam yang dijaga penuh hormat sejak zaman para leluhur.
Perjalanan dimulai ketika senja mulai turun perlahan di tepian hutan. Warga bersiap dengan peralatan sederhana; tali, parang, pengasap tradisional, dan bekal seperlunya. Tidak ada kemewahan, namun dari wajah-wajah mereka terlihat keyakinan dan ketenangan. Di tengah langkah menuju rimba, terdengar gurauan kecil dan sapaan akrab yang membuat perjalanan terasa hangat, seolah hutan bukan tempat asing, melainkan rumah yang telah lama mereka kenal.
Malam menjadi saksi ketika rombongan mulai menyusuri jalan setapak yang licin dan gelap. Cahaya lampu seadanya menembus kabut dan pepohonan besar yang menjulang tinggi. Di sanalah kami mulai memahami bahwa muar bukan pekerjaan biasa. Ia membutuhkan keberanian, ketelitian, dan penghormatan kepada alam. Sebab bagi masyarakat Dayak Tomun, pohon lalau tempat lebah bersarang bukan hanya pohon tinggi, tetapi bagian dari kehidupan yang terus memberi keberkahan.
Sebelum memanjat, beberapa tokoh adat melantunkan doa dan ritual sederhana. Suaranya lirih menyatu dengan desir angin malam. Kami terdiam menyaksikan bagaimana tradisi diwariskan bukan lewat tulisan, melainkan lewat tindakan dan keyakinan yang dijaga turun-temurun. Ada rasa hormat yang begitu besar kepada Sang Pencipta dan kepada hutan yang selama ini memberi kehidupan.
Saat para pemanjat mulai naik ke batang lalau yang tinggi menjulang, jantung kami ikut berdebar. Dengan ketangkasan luar biasa mereka bergerak di ketinggian hanya berbekal pijakan kayu dan tali sederhana. Asap perlahan diarahkan ke sarang lebah, lalu tetesan madu emas mulai turun memenuhi wadah. Di bawah cahaya malam, madu itu tampak seperti cairan kehidupan yang lahir dari kerja keras, keberanian, dan kesabaran.
Yang paling mengesankan bukan hanya hasil madunya, melainkan cara mereka menjaga keseimbangan. Mereka tidak mengambil semuanya. Sebagian tetap dibiarkan agar lebah terus hidup dan kembali bersarang. Dari sana kami belajar bahwa leluhur telah lama mengajarkan tentang keberlanjutan jauh sebelum dunia ramai berbicara tentang pelestarian alam.
Perjalanan muar bersama warga Dayak Tomun memberi kami pelajaran berharga: bahwa hutan bukan untuk ditaklukkan, melainkan dihormati. Bahwa manusia bisa hidup berdampingan dengan alam tanpa rakus mengambil semuanya. Dan bahwa tradisi yang dijaga dengan hati akan selalu menjadi cahaya bagi generasi yang akan datang.
Malam itu kami pulang dengan tubuh lelah, pakaian penuh aroma asap dan hutan, tetapi hati terasa penuh. Sebab kami tidak hanya membawa pulang madu rimba, melainkan juga cerita, penghormatan, dan kekaguman kepada masyarakat Dayak Tomun yang tetap setia menjaga warisan leluhurnya.

Nyanyian syahdu Owa dan pekikan Burung Tingang disertai suara kepakkannya seakan membelah embun pagi yang belum sempurna...
19/05/2026

Nyanyian syahdu Owa dan pekikan Burung Tingang disertai suara kepakkannya seakan membelah embun pagi yang belum sempurna turun dari dedaunan ketika Laman Kubung bangun. Suasana Laman (Desa) Dayak Tomun ini seperti dengan sengaja disembunyikan oleh rapatnya kanopi aneka ragam pohon-pohon buah yang membentuk hutan, jajaran rumah-rumah berbaris rapi diapit rimba hijau yang tak putus dari Bukit Sebayan melintasi Tanggo Bonyawai puncak Bukit Konduruhan sampai ke Bukit Kokalai. Langitnya bersih, awan menggantung rendah seperti selimut yang ditenun oleh leluhur.

Suasana Laman Kubung pagi ini jalanan yang sebagian besar masih bertanah nampak masih sepi, udara yang masuk ke paru-paru terasa segar, bersih, dingin, dan wangi khas hutan hujan. Hutan yang terjaga, jernihnya aliran air sungai, tanah yang tidak dikhianati, nampak terasa keasrian yang tidak dapat dibeli. Pagi adalah waktunya Po-indaian (para ibu-ibu) dari kata Indai sebutan untuk ibu dalam bahasa Dayak Tomun memulai rutinitas harian. Sebelum matahari meninggi, mereka sudah sampai di Lakau. Kaki telanjang, Takint dipunggung dan tentu tidak tertinggal parang yang terselip di pinggang bersama popinangan. Mereka bukan sekadar petani, mereka penjaga benih, penjaga musim dan penjaga perapian dapur terus berasap. Dari tangan mereka, padi ladang ditugal hingga masanya bohanyi secara bonjuru'an (gotong royong bergantian) dan mengikuti aturan dan pantang yang diturunkan oleh nenek moyang; tidak boleh serakah, ambil secukupnya, sisakan untuk burung, untuk tanah, untuk anak cucu.

Bagi masyarakat Kubung, hutan adalah rumah besar dengan hukum Adatnya yang masih dipegang teguh. Selain aturan ketika berladang, hendak menebang pohon untuk tiang rumah, bahkan ketika panen madu hutan harus melakukan ritual tertentu, ambil madunya, sisakan sarang lainnya. Jika melanggar, maka denda adatlah buahnya. Tradisi itu yang bikin hutan di Laman Kubung tetap asri. Saat banyak kampung kehilangan hutan yang digantikan dengan monokultur dan lubang-lubang tambang, di sini pohon Limat masih merambat menjulang, tengkawang dan Ulin masih berbuah dan suara rangkong masih jadi alarm pagi. Karena bagi orang Dayak Tomun, merusak hutan sama dengan memutus tali pusar dengan leluhur.

Sore yang Emas, Sore yang Syahdu
Perlahan matahari tampak berjalan pulang. Cahayanya tumpah keemasan, membungkus seluruh Laman Kubung. Kabut tipis naik dari sela-sela hutan, seperti napas bumi yang tenang. Inilah saatnya Indai pulang. Takint mereka tidak kosong. Ada sayur pakis, ada rebung, ada buah hutan, kadang ada akar tongang untuk dianyam malam nanti. Wajah mereka lelah, tapi sorot matanya tangguh.

Laman Kubung asri bukan karena kebetulan. Ia asri karena ada janji yang tidak ditulis di kertas, tapi di hati, janji orang Tomun untuk tidak jadi tuan yang rakus di tanah sendiri. Tangan mereka kasar karena tanah, tapi dari tangan itulah lahir kehidupan.

Selama perempuan Laman Kubung masih ke lakau, selama Hukum Adat masih ditaati, selama anak-anak masih diajari nama-nama pohon oleh neneknya, maka Laman Kubung akan tetap seperti di foto ini,, hijau, damai, dan berwibawa di pelukan Bukit Konduruhan.

Meski secara turun temurun telah menjaga hutan dan menjalankan hukum adatnya Komunitas Adat Dayak Tomun Laman Kubung hingga tulisan ini dibuat belum juga mendapat pengakuan resmi sebagai Masyarakat Hukum Adat dari Negara sesuai dengan apa yang menjadi mandat UUD 1945 Pasal 18B ayat 2 dan Putusan MK 35/2012,, meski masyarakat Kubung telah memerjuangkan pengakuan dan perlindungan itu sejak tahun 2022 yang lalu.

SM508 edit with MetaAI
Kubung 19 Mei 2026

Kekuatan terhebat kita sebagai insan bukan pada seberapa hebat diri kita sendiri, tetapi seberapa erat kita saling menol...
10/05/2026

Kekuatan terhebat kita sebagai insan bukan pada seberapa hebat diri kita sendiri, tetapi seberapa erat kita saling menolong. Belajarlah dari keberadaan beragam tanaman yang membentuk hutan, mereka lestari Karena akar mereka saling menguatkan dan saling melindungi dari badai sekalipun.. Kita akan menjadi Insan yang hebat karena tangan kita saling bergandengan dan yakinlah setiap kebaikan yang dibagi akan kembali menjadi tunas tunas harapan bagi semua...

Terimakasih kami ucapkan untuk semua yang telah membersamai, berempati dan berdonasi atas musibah yang menimpa salah satu saudara kita masyarakat Adat Laman Kubung.. semoga operasi syaraf tulang belakang sdr. Darmanto (33) berjalan lancar dan segera diberi kesembuhan.. tabe!
www.insanhutan.org

Selamat Jalang Kang... Dedikasi dan komitmen Akang dalam memperjuangkan Hak Masyarakat Adat terkhusus perjuangan dalam P...
30/04/2026

Selamat Jalang Kang... Dedikasi dan komitmen Akang dalam memperjuangkan Hak Masyarakat Adat terkhusus perjuangan dalam Pengakuan MHA di Lamandau bersama kami sangat tulus dan Kuat. Kang Deny bukan hanya sekadar mitra, tapi kompas bagi kami di Yayasan Insan Hutan Indonesia dalam memperjuangkan hak masyarakat adat di Bumi Tambun Bungai. Meski perjuangan di Lamandau belum sampai ke garis akhir, semangat yang beliau titipkan adalah mandat bagi kami untuk terus melangkah. Selamat jalan kang, sang inspirator!!!. Al Fatihah

Lalau, sebuah istilah dayak Tomun Laman Kubung untuk menyebut pohon  yang dirawat khusus untuk tempat lebah bersarang.
10/04/2026

Lalau, sebuah istilah dayak Tomun Laman Kubung untuk menyebut pohon yang dirawat khusus untuk tempat lebah bersarang.

Di Laman Kubung, musim buah bukan sekadar tanda kenyang bagi perut, ia adalah panggilan pulang bagi jiwa. Ketika hutan m...
10/04/2026

Di Laman Kubung, musim buah bukan sekadar tanda kenyang bagi perut, ia adalah panggilan pulang bagi jiwa. Ketika hutan mulai beraroma manis, dan angin membawa kabar dari bunga-bunga liar yang kompak merekah, orang-orang tahu: saatnya kembali ke lalau, pohon yang dijaga bukan hanya dengan tangan, tapi dengan doa suci dan kesetiaan. Mereka berbondong-bondong masuk ke rimba, berjalan di jejak leluhur yang tak pernah benar-benar hilang.

Di bawah kanopi hutan yang tua, berdirilah pohon-pohon lalau, tinggi, diam, dan penuh janji. Pohon-pohon itu bukan milik siapa-siapa, tapi juga milik semua yang tahu cara merawatnya. Sejak lama, mereka dipelihara, dijaga dari keserakahan, dari api, dari lupa.

Saat malam turun, api kecil dinyalakan. Asapnya perlahan naik, menyapa lebah-lebah hutan dengan bahasa yang diwariskan turun-temurun. Dengan hati-hati, para lelaki memanjat, bukan sebagai penakluk, tapi sebagai tamu. Mereka tahu, madu bukan untuk direbut, ia untuk dipinta dengan hormat.

Tetes demi tetes jatuh ke dalam wadah, seperti berkah yang mengalir dari langit melalui pohon. Di bawah, perempuan dan anak-anak menunggu dengan harap dan senyum, seakan tahu bahwa yang pulang bukan hanya madu, tapi juga cerita, juga kehidupan.

Musim panen madu di Laman Kubung adalah lebih dari kerja, ia adalah perjanjian sunyi antara manusia dan hutan. Selama lalau tetap dijaga, selama hutan tetap dihormati, maka manisnya madu akan terus mengalir, mengikat generasi pada akar yang sama.

Namun di sela-sela sukacita itu, terselip juga tanya: sampai kapan tradisi ini bertahan, jika hutan mulai diganti hitungan, dan pohon dilihat bukan lagi sebagai kehidupan, tapi komoditas?
Di Laman Kubung, mereka masih percaya, selama masih ada yang pulang ke hutan dengan hati, bukan hanya dengan niat mengambil, maka madu akan tetap manis… dan leluhur akan tetap tinggal.

Sama seperti tunas baru yang tumbuh dari batang pohon tua, Paskah membawa harapan akan kehidupan baru dan kebangkitan.​S...
05/04/2026

Sama seperti tunas baru yang tumbuh dari batang pohon tua, Paskah membawa harapan akan kehidupan baru dan kebangkitan.
​Semoga semangat Paskah ini menginspirasi kita semua untuk terus merawat dan menjaga alam semesta, terutama hutan kita tercinta.

​Salam hangat,
​Yayasan Insan Hutan Indonesia
www.insanhutan.org

Eid Mubarak
19/03/2026

Eid Mubarak

18/03/2026
Populasi Pesut Mahakam tersisa 66 ekor saja 😢
11/02/2026

Populasi Pesut Mahakam tersisa 66 ekor saja 😢

Populasi Pesut Mahakam Menyusut karena Tongkang Batu Bara, Hanya Tersisa 66 Ekor Saja

Populasi pesut Mahakam kian berada di ambang kepunahan seiring masifnya lalu lintas ratusan kapal tongkang batu bara di Sungai Mahakam. Mamalia air tawar endemik Kalimantan Timur ini kini diperkirakan hanya tersisa 66 ekor, terdesak oleh kebisingan, pencemaran, rusaknya habitat, serta risiko tabrakan akibat aktivitas angkutan industri yang terus dibiarkan.

Sumber/Rujukan:
Liputan6com | Tirtoid | Kaltim Post

Gambar
Ilustrasi Pesut Mahakam

Address

Jalan Simpei Karuhei IV No. 2
Palangkaraya
73112

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Insan Hutan Indonesia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Insan Hutan Indonesia:

Share