The Borneo Institute

The Borneo Institute The Borneo Institute is a Non-profit Organization based in Palangka Raya, Central Kalimantan, Indonesia. Our office is in Palangka Raya, Central Kalimantan.

We work together with indigenous people in Central Borneo We, the Borneo Institute, are a platform for people dedicated to the communities of Central Kalimantan (Indonesia), its environment and culture! Closely cooperating with the people of the island, we devise ways to adress the communities' needs with projects focusing on rural development, education and international exchange. We have been wo

rking together since 2004 and in 2007 we established the Borneo Institute to have a framework for our ideas and projects. You can reach us there, learn more about our projects and activities and read our extensive book collection. If we are not in the field, our doors are always open for visitors, so do not hesitate to drop by anytime!

31/07/2026

Kaleka adalah istilah yang digunakan oleh masyarakat Dayak untuk menggambarkan kebun atau hutan yang dikelola secara tradisional dan diwariskan secara turun-temurun. Di dalamnya tumbuh beragam jenis tanaman, seperti padi, pohon karet, berbagai jenis pohon buah, serta tanaman obat yang menjadi sumber pangan, penghidupan, dan pengetahuan lokal. Berbagai hasil hutan dari Kaleka juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat dan menjadi sumber penghasilan bagi banyak keluarga Dayak.

Selain menjadi sumber penghidupan, Kaleka juga berfungsi sebagai cadangan pangan, terutama pada musim paceklik atau ketika hasil pertanian utama tidak mencukupi. Bagi masyarakat Dayak, Kaleka bukan sekadar ruang untuk berladang atau berkebun, melainkan warisan budaya yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam. Keberadaannya menjadi bagian penting dalam menjaga identitas budaya sekaligus melestarikan keanekaragaman hayati bagi generasi mendatang.

Borneo Institute bersama LPMA, PUSHAM ULM, dan Mandala Katalika sebagai bagian dari konsorsium Program Blended Finance M...
13/07/2026

Borneo Institute bersama LPMA, PUSHAM ULM, dan Mandala Katalika sebagai bagian dari konsorsium Program Blended Finance Model (BFM) melaksanakan Sosialisasi Program, proses Free, Prior and Informed Consent (FPIC), dan penyusunan mekanisme Penanganan Pengaduan (GRM) pada Proyek BFM yang didanai oleh BPDLH di Provinsi Kalimantan Selatan pada 1–10 Juli 2026. Rangkaian kegiatan ini melibatkan delapan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), Balai Perhutanan Sosial, serta Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Selatan, untuk membangun kesepahaman mengenai tata kelola program yang inklusif, transparan, dan menghormati hak masyarakat dalam setiap tahapan pelaksanaannya.

07/07/2026

Peserta Sakula Budaya Sebangau Basewut dari Desa Sebangau Permai dan Sakula Budaya Borneo Cahyo Mudo dari Desa Sebangau Mulya, Kecamatan Sebangau Kuala, Kabupaten Pulang Pisau, turut tampil dalam kegiatan Malam Seni Budaya “Nusaphoria” dalam rangka HUT ke-24 Kabupaten Pulang Pisau yang diselenggarakan pada Minggu, 5 Juli 2026 di Halaman Stadion H.M. Sanusi.

Mengusung tema “Merayakan Ragam, Menguatkan Persatuan, Pulang Pisau Jaya: Dari Pulang Pisau untuk Nusantara, Satu Panggung Sejuta Budaya” kegiatan ini menghadirkan berbagai pertunjukan seni dan budaya sebagai bentuk perayaan atas keberagaman sekaligus ruang apresiasi bagi generasi muda untuk berkarya, menunjukkan kreativitas, serta berkontribusi dalam pelestarian seni, budaya, dan nilai-nilai kearifan lokal.

Dalam kesempatan tersebut, peserta Sakula Budaya Sebangau Basewut membawakan sajak berjudul “Lahirkan Jutaan dan Jutaan Dayak Pejuang” karya Magusig O Bungai yang menggambarkan kecintaan terhadap Kalimantan serta harapan akan lahirnya generasi Dayak pejuang yang menjaga martabat, budaya, dan masa depan tanahnya. Sementara itu, peserta Sakula Budaya Borneo Cahyo Mudo menampilkan Tari Jathilan, tarian tradisional Jawa yang menggambarkan keberanian dan semangat para prajurit berkuda.

Partisipasi peserta Sakula Budaya dalam kegiatan ini menunjukkan peran generasi muda dalam menjaga keberlangsungan budaya melalui karya, kreativitas, dan keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan seni dan budaya.

Borneo Institute melaksanakan kegiatan Peluncuran dan Sosialisasi Multipihak Pelaksanaan Proyek BFM–BPDLH Provinsi Kalim...
30/06/2026

Borneo Institute melaksanakan kegiatan Peluncuran dan Sosialisasi Multipihak Pelaksanaan Proyek BFM–BPDLH Provinsi Kalimantan Selatan sebagai langkah awal dalam memperkuat kolaborasi multipihak untuk mendukung pengembangan perhutanan sosial berkelanjutan di Kalimantan Selatan. Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, Kementerian Kehutanan, BPDLH, akademisi, mitra konsorsium, hingga Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS). Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara hybrid melalui pertemuan daring dan luring dengan fokus pada penguatan kelembagaan, peningkatan kapasitas masyarakat, optimalisasi produktivitas komoditas unggulan, serta pengembangan skema pembiayaan campuran (blended finance).

Melalui proyek BFM–BPDLH ini, Borneo Institute bersama para mitra mendorong sinergi dan kerja sama multipihak guna mendukung pengembangan usaha kehutanan sosial yang lebih profesional, berkelanjutan, dan memiliki daya saing. Selain membahas strategi implementasi proyek, kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi terkait tantangan pengelolaan kawasan hutan lindung, pengembangan layanan lingkungan, penguatan tata kelola kelompok, hingga perluasan akses pasar dan pembiayaan bagi KUPS di Kalimantan Selatan. Kolaborasi ini menjadi bagian penting dalam mendorong penguatan ekonomi masyarakat sekaligus mendukung upaya pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

Borneo Institute menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Benih dan Pangan Lokal Kabupaten Gunung Mas pada Kamis, 1...
25/06/2026

Borneo Institute menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Benih dan Pangan Lokal Kabupaten Gunung Mas pada Kamis, 18 Juni 2026 di Aula Dinas Pertanian Kabupaten Gunung Mas, Kuala Kurun. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama dalam mendorong penguatan kedaulatan pangan daerah berbasis masyarakat melalui pelestarian benih lokal, pengembangan pangan lokal, serta penguatan sistem pertanian yang berkelanjutan. FGD ini dihadiri oleh Dinas Pertanian Kabupaten Gunung Mas, penyuluh pertanian dari berbagai wilayah, petani lokal, serta berbagai pemangku kepentingan yang memiliki perhatian terhadap keberlanjutan pangan daerah.

Dalam kegiatan ini, Borneo Institute memaparkan hasil pendataan awal terkait kondisi petani ladang dan pangan lokal di wilayah dampingan Kabupaten Gunung Mas yang tersebar di enam kecamatan. Diskusi berlangsung secara partisipatif dengan membahas kondisi dan ketersediaan benih lokal, potensi pengembangan pangan lokal, tantangan yang dihadapi petani dalam pengelolaan benih dan budidaya pangan lokal, hingga peluang kolaborasi multipihak dalam mendukung penguatan sistem pangan daerah berbasis sumber daya lokal.

FGD ini juga menjadi ruang sosialisasi Program Financial Support for Third Parties (FSTP), yaitu skema dukungan pendanaan bagi kelompok tani dan masyarakat adat untuk memperkuat inisiatif pelestarian benih lokal dan pengembangan pangan berbasis komunitas. Melalui kegiatan ini, diharapkan terbangun kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah daerah, kelompok tani, masyarakat adat, dan organisasi masyarakat sipil dalam merumuskan langkah strategis untuk memperkuat kemandirian pangan serta menjaga keberlanjutan sistem pangan lokal di Kabupaten Gunung Mas.


Borneo Institute melaksanakan kegiatan Pelatihan Paralegal dan pembentukan serta penguatan Pos Bantuan Hukum (Posbankum)...
25/06/2026

Borneo Institute melaksanakan kegiatan Pelatihan Paralegal dan pembentukan serta penguatan Pos Bantuan Hukum (Posbankum) pada 8–12 Juni 2026 di Desa Tumbang Samui, Desa Tumbang Oroi, dan Desa Luwuk Tukau, Kecamatan Manuhing Raya, Kabupaten Gunung Mas. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman hukum masyarakat desa sekaligus mendorong hadirnya paralegal sebagai pendamping masyarakat di tingkat akar rumput.

Pelatihan diikuti oleh pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), anggota paralegal, tokoh adat dan masyarakat hukum adat, tokoh perempuan, kelompok tani, serta masyarakat desa. Dalam sesi diskusi, berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat turut dibahas bersama, mulai dari sengketa tanah, batas lahan, persoalan tanah waris, hingga penyelesaian konflik melalui musyawarah sebelum menempuh jalur pengadilan.

Melalui materi yang disampaikan, peserta berdiskusi mengenai peran paralegal dan Posbankum dalam membantu masyarakat memahami persoalan hukum di tingkat desa. Posbankum juga diperkenalkan sebagai tempat bagi masyarakat untuk berkonsultasi dan berbagi persoalan hukum yang dihadapi sehari-hari.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dan berita acara sebagai bagian dari pembentukan dan penguatan Posbankum di desa. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat semakin memiliki kesadaran hukum, memahami hak-haknya, serta mampu membangun penyelesaian persoalan secara adil, partisipatif, dan mengedepankan musyawarah.


🌾 Mengapa Kedaulatan Pangan Itu Penting?Kedaulatan pangan merupakan konsep penting dalam menjawab persoalan sistem panga...
03/06/2026

🌾 Mengapa Kedaulatan Pangan Itu Penting?

Kedaulatan pangan merupakan konsep penting dalam menjawab persoalan sistem pangan saat ini, yang tidak hanya berfokus pada ketersediaan pangan, tetapi juga pada siapa yang mengendalikan, memproduksi, dan menentukan arah sistem pangan itu sendiri. Lebih dari sekadar pemenuhan kebutuhan dasar, kedaulatan pangan menegaskan hak masyarakat untuk mengelola sistem pangannya secara mandiri sesuai dengan kebutuhan lokal, budaya, serta kondisi lingkungan setempat.

Namun, dalam praktiknya, kedaulatan pangan menghadapi berbagai tantangan yang cukup kompleks. Mulai dari ketimpangan penguasaan lahan, kerusakan lingkungan, ketergantungan pada sarana produksi dari luar, hingga tekanan perubahan iklim yang semakin memengaruhi hasil pertanian. Selain itu, melemahnya sistem pangan lokal dan rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian turut memperkuat kerentanan sistem pangan saat ini.

Oleh karena itu, penguatan kedaulatan pangan tidak dapat dilepaskan dari peran kita bersama. Mulai dari memperkuat sistem pangan lokal, mendukung petani kecil, hingga mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada keberlanjutan dan kemandirian pangan. Kedaulatan pangan dimulai dari kita, dari kesadaran untuk lebih menghargai pangan, memahami proses di baliknya, serta mengambil peran melalui pilihan konsumsi sehari-hari. Dari langkah kecil tersebut, kita dapat bersama-sama membangun arah sistem pangan yang lebih adil, berkelanjutan, dan berdaulat.

🌏 Kalimantan Makin Botak?Kalimantan, yang dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia, kini menghadapi laju deforestasi y...
20/05/2026

🌏 Kalimantan Makin Botak?

Kalimantan, yang dikenal sebagai salah satu paru-paru dunia, kini menghadapi laju deforestasi yang terus meningkat. Pada 2025, berdasarkan laporan Auriga Nusantara, Kalimantan menjadi wilayah dengan kehilangan hutan terbesar di Indonesia, mencapai lebih dari 158 ribu hektar, semakin meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Kerusakan ini terjadi akibat pembukaan lahan, penebangan liar, kebakaran hutan, hingga aktivitas penambangan yang terus menekan kawasan hutan.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh alam, tetapi juga manusia. Hilangnya hutan menyebabkan krisis iklim semakin parah, meningkatkan risiko banjir dan longsor, memicu kabut asap, serta mengancam sumber penghidupan masyarakat yang bergantung pada hutan. Jika kondisi ini terus dibiarkan, Kalimantan perlahan akan kehilangan keseimbangan ekologis yang selama ini menjaga kehidupan tetap lestari.

Hutan bukan hanya bagian dari alam, tetapi juga bagian dari kehidupan manusia. Menyebarkan informasi, meningkatkan kepedulian, dan menjaga lingkungan sekitar menjadi langkah sederhana yang bisa dilakukan bersama untuk menjaga Kalimantan tetap lestari. Karena Kalimantan bukan hanya warisan dari nenek moyang kita, tetapi titipan untuk anak cucu kita.

18/05/2026

Karungut merupakan seni sastra lisan khas masyarakat Dayak Kalimantan Tengah yang diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari identitas budaya daerah. Berasal dari kata karunya dalam Bahasa Sangiang yang berarti tembang atau nyanyian, karungut pada mulanya dilantunkan dalam upacara suci Agama Kaharingan sebagai kidung sakral yang sarat makna spiritual.

Dalam perkembangannya, karungut tidak lagi hanya hadir dalam ritual adat, tetapi juga menjadi media hiburan, nasihat, hingga penyampaian pesan sosial di tengah masyarakat. Syairnya dibawakan dengan irama khas dan biasanya diiringi alat musik tradisional seperti kecapi, gong, hingga suling yang membuat setiap lantunannya terasa lebih hidup dan berkarakter. Isi syair karungut pun dekat dengan kehidupan sehari-hari, mulai dari cerita, petuah, hingga nilai-nilai budaya masyarakat Dayak.

Hingga kini, karungut masih sering ditampilkan dalam festival budaya, penyambutan tamu, dan berbagai kegiatan masyarakat sebagai upaya menjaga warisan leluhur agar tetap dikenal generasi muda. Di balik setiap syair yang dilantunkan, karungut bukan hanya tentang seni pertunjukan, tetapi tentang cara masyarakat Dayak menjaga ingatan, nilai kehidupan, dan jati diri budayanya di tengah perubahan zaman.


Borneo Institute (BIT) bersama Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH) menggelar Fo...
01/05/2026

Borneo Institute (BIT) bersama Lembaga Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH) menggelar Focus Group Discussion (FGD) sebagai langkah awal dalam penguatan komoditas lokal di Kabupaten Gunung Mas. Kegiatan ini dilaksanakan pada 22–27 April 2026 di tingkat desa dan kecamatan, serta dilanjutkan pada 30 April 2026 di tingkat kabupaten, sebagai bagian dari upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan terbangun proses yang saling terhubung dari tingkat tapak hingga perumusan arah kebijakan.

FGD ini merupakan bagian awal dari pelaksanaan Kaleka Project, sebuah program kolaboratif yang dirancang untuk memperkuat keterpaduan antara ekologi, budaya, pertanian, dan peningkatan ekonomi masyarakat. Lebih dari sekadar program, inisiatif ini membawa semangat untuk menjaga warisan alam, pengetahuan lokal, serta cara hidup masyarakat agar tetap lestari, sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi kehidupan saat ini dan masa depan.

Dalam pelaksanaannya, proses diskusi dimulai dari tingkat desa dan kecamatan yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat yang terlibat langsung di lapangan, kemudian dilanjutkan di tingkat kabupaten dengan menghadirkan pemangku kebijakan dan pihak terkait. Dari ruang-ruang diskusi ini, suara, pengalaman, dan harapan masyarakat saling bertemu, membuka pemahaman yang lebih utuh tentang kondisi nyata sekaligus arah yang ingin dicapai bersama.

Melalui pemaparan, diskusi, dan perumusan bersama, kegiatan ini menjadi ruang penting untuk memvalidasi data, menyelaraskan pemahaman, serta merumuskan langkah tindak lanjut yang konkret dan kolaboratif. Lebih dari itu, kegiatan ini menumbuhkan keyakinan bahwa ketika masyarakat dan pemangku kepentingan berjalan bersama, potensi lokal dapat berkembang menjadi kekuatan yang tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga menghadirkan perubahan nyata bagi kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Gunung Mas.

Address

Jalan Sangga Buana II Selatan No. 63
Palangkaraya
73112

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00

Telephone

+625363224793

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when The Borneo Institute posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to The Borneo Institute:

Shortcuts

Share