20/08/2026
Kalimantan bukan sekadar hamparan hutan yang luas. Ia adalah rumah bagi ribuan jenis satwa, penyimpan karbon, penyangga ekosistem, sekaligus bagian penting dari kehidupan masyarakat yang menggantungkan hidup pada hutan, sungai, dan lahan di sekitarnya. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, hutan dan lahan Kalimantan terus mengalami perubahan fungsi akibat ekspansi perkebunan kelapa sawit, pertambangan, serta berbagai bentuk pemanfaatan lahan lainnya. Degradasi hutan dan lahan gambut menjadi persoalan serius karena gambut mampu menyimpan karbon dan air dalam jumlah besar. Ketika gambut dikeringkan dan mengalami kerusakan, kemampuan menyimpan air menurun dan kerentanannya terhadap kebakaran meningkat. Pada saat yang sama, hilangnya tutupan hutan dan perubahan bentang alam semakin memperbesar tekanan terhadap ekosistem serta ruang hidup masyarakat.
Memasuki akhir 1990-an hingga 2000-an, pembukaan lahan dan perubahan bentang alam berlangsung dalam skala besar. Ketika kondisi tersebut bertemu dengan musim kemarau panjang dan fenomena El Niño, risiko serta intensitas kebakaran dapat meningkat secara signifikan. Kalimantan mengalami sejumlah episode kebakaran besar, termasuk pada 1997–1998, 2015, dan 2019. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Karhutla bukan semata-mata persoalan musim kemarau atau aktivitas pembakaran, melainkan persoalan yang berkaitan dengan perubahan iklim, kondisi ekologis, perubahan tata guna lahan, serta tata kelola sumber daya alam. Tahun 2026 kembali membawa kekhawatiran karena kondisi iklim yang kering dan panas dapat meningkatkan kerentanan terhadap Karhutla. Istilah “Godzilla” yang digunakan untuk menggambarkan El Niño tahun ini menjadi pengingat bahwa kondisi iklim yang semakin ekstrem perlu dihadapi dengan kewaspadaan serius. Namun, El Niño bukan satu-satunya penyebab Karhutla. Risiko kebakaran menjadi jauh lebih besar ketika kondisi kering dan panas bertemu dengan lanskap yang telah mengalami deforestasi, degradasi gambut, dan perubahan fungsi lahan.