11/05/2026
Kadang rumah bukan hancur karena kekurangan harta. Tapi karena ibu di dalamnya terlalu lama memendam lelah sendirian.
Ada sebuah narasi yang mengatakan,
“Kalau ingin merusak sebuah keluarga, maka lelahkan dulu ibunya.”
Buat ia merasa semua beban ada di pundaknya.
Buat ia lupa cara bersyukur karena terlalu sibuk bertahan.
Bisikkan dalam hatinya bahwa dirinya tidak cukup baik.
Lalu bandingkan hidupnya dengan kebahagiaan orang lain, sampai ia lupa bahwa dirinya juga berharga.
Saat ibu mulai merasa tidak dihargai, kehilangan percaya diri, dan hatinya penuh sesak…
maka sabarnya perlahan ikut hilang.
Mulailah rumah dipenuhi nada tinggi,
kata-kata kasar,
amarah,
dan anak-anak pun tumbuh dari suasana yang penuh luka.
Padahal seorang ibu adalah hati dari sebuah rumah.
Kalau hatinya lelah dan kosong, rumah pun ikut kehilangan hangatnya.
Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Dan Kami jadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)
Kasih sayang itu tidak lahir dari hati yang dipaksa terus kuat,
tapi dari hati yang dijaga dan dirawat.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.”
(HR. Bukhari)
Artinya, lelahmu juga perlu diperhatikan.
Istirahatmu bukan tanda lemah.
Menangismu bukan tanda gagal menjadi ibu.
Jalaluddin Rumi pernah berkata,
“Luka adalah tempat dimana cahaya masuk ke dalam dirimu.”
Mungkin selama ini kamu terlalu sibuk menjadi kuat,
sampai lupa bahwa Allah juga ingin kamu bersandar.
Dan seperti yang sering disampaikan oleh Hababah Halimah Alaydrus,
“Perempuan yang dekat dengan Allah akan menjadi tempat pulang yang menenangkan bagi keluarganya.”
Maka wahai ibu…
jangan merasa harus sempurna setiap waktu.
Kalau lelah, istirahatlah.
Kalau sesak, berceritalah.
Kalau pekerjaan rumah belum selesai, tidak apa-apa.
Rumah yang sedikit berantakan jauh lebih baik daripada hati ibu yang hancur diam-diam.
Dalam Al-Hikam disebutkan:
“Jangan heran jika ujian datang silih berganti, karena itu tanda Allah sedang mendidik dan mendekatkanmu kepada-Nya.”
Kamu juga manusia.
Kamu juga pantas dipeluk,
didengar,
dan dijaga.
Jangan biarkan lelah mengambil sabar dan syukurmu.
Karena rumah yang tenang dimulai dari hati ibu yang juga tenang.
Dan perempuan yang hatinya dekat dengan Allah,
akan tetap mampu menjadi cahaya,
meski dirinya sedang terluka.