Dongan Hijrah

Dongan Hijrah "Perjalanan hijrah ini bukan tentang menjadi paling suci. Tapi tentang menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Menuju ridha Allah, meski jatuh bangun tak terhitung."

“Kadang kita sibuk mencari jalan keluar hidup, padahal ada satu surat yang setiap hari kita baca minimal 17 kali… namun ...
20/05/2026

“Kadang kita sibuk mencari jalan keluar hidup, padahal ada satu surat yang setiap hari kita baca minimal 17 kali… namun sering belum benar-benar kita resapi: Al-Fatihah.”

Bukan sekadar hafalan.
Bukan cuma bacaan pembuka shalat.
Tapi ayat yang terus Allah pilih untuk menemani setiap 5 waktu kita.

Di kajian ini kita akan belajar bagaimana para imam membacanya, meresapi maknanya, dan menyadari bahwa setiap ayat dalam Al-Fatihah bukan hanya dibaca… tapi juga dijawab oleh Allah. 🤍

Kalau selama ini shalat terasa terburu-buru, hati sering kosong saat membaca Al-Fatihah, mungkin bukan karena kita jauh dari Allah… tapi karena kita belum benar-benar mengenal isi percakapan kita dengan-Nya.

Mari hadir bersama:
🗓 Jum’at, 22 Mei 2026
🕖 19.00 WIB – selesai
📍 RQumah Quran PPA, Padangsidimpuan

Terbuka untuk muslimah umum.
Ajak sahabat, kakak, ibu, atau siapa pun yang sedang ingin memperbaiki hatinya perlahan 🌙

“Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang (Al-Fatihah).”
(QS. Al-Hijr: 87)

📩 Daftar / info:
0856-6819-6666
IG/Tiktok: .hijrah

“Hijrah itu tidak selalu dimulai dari penampilan.Kadang… hijrah dimulai dari isi kepala yang terlalu lelah menanggung se...
20/05/2026

“Hijrah itu tidak selalu dimulai dari penampilan.
Kadang… hijrah dimulai dari isi kepala yang terlalu lelah menanggung semuanya sendiri.”

Ada pikiran yang terus berisik.
Overthinking sebelum tidur.
Merasa tidak cukup.
Takut penilaian orang.
Sulit memaafkan diri sendiri.
Dan tanpa sadar… hati jadi jauh dari tenang.

Padahal Rasulullah ﷺ pernah mengingatkan bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika ia baik maka baik seluruh tubuhnya: hati. Dan sering kali yang merusak hati… adalah isi pikiran yang tidak dijaga.

Di kajian ini kita tidak hanya bicara tentang mental health,
tapi juga bagaimana seorang muslimah memandang luka, cemas, dan pikirannya dengan cara yang lebih sehat… tanpa kehilangan iman. 🌷

Karena tidak semua yang terlihat kuat itu baik-baik saja.
Dan tidak semua yang tersenyum itu sedang tenang.

🗓 Sabtu malam Ahad, 23 Mei 2026
🕖 19.00 WIB
📍 Rumah Quran PPA
Jl. Cempaka No.44

Datanglah…
bukan karena hidupmu paling hancur,
tapi karena hatimu juga butuh dipeluk oleh ilmu. 🤍

“Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Tag sahabatmu yang akhir-akhir ini terlalu keras sama dirinya sendiri. 🌙

17/05/2026

11/05/2026
Kadang rumah bukan hancur karena kekurangan harta. Tapi karena ibu di dalamnya terlalu lama memendam lelah sendirian.Ada...
11/05/2026

Kadang rumah bukan hancur karena kekurangan harta. Tapi karena ibu di dalamnya terlalu lama memendam lelah sendirian.

Ada sebuah narasi yang mengatakan,
“Kalau ingin merusak sebuah keluarga, maka lelahkan dulu ibunya.”

Buat ia merasa semua beban ada di pundaknya.
Buat ia lupa cara bersyukur karena terlalu sibuk bertahan.
Bisikkan dalam hatinya bahwa dirinya tidak cukup baik.
Lalu bandingkan hidupnya dengan kebahagiaan orang lain, sampai ia lupa bahwa dirinya juga berharga.

Saat ibu mulai merasa tidak dihargai, kehilangan percaya diri, dan hatinya penuh sesak…
maka sabarnya perlahan ikut hilang.

Mulailah rumah dipenuhi nada tinggi,
kata-kata kasar,
amarah,
dan anak-anak pun tumbuh dari suasana yang penuh luka.

Padahal seorang ibu adalah hati dari sebuah rumah.
Kalau hatinya lelah dan kosong, rumah pun ikut kehilangan hangatnya.

Allah sudah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Dan Kami jadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Kasih sayang itu tidak lahir dari hati yang dipaksa terus kuat,
tapi dari hati yang dijaga dan dirawat.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.”
(HR. Bukhari)

Artinya, lelahmu juga perlu diperhatikan.
Istirahatmu bukan tanda lemah.
Menangismu bukan tanda gagal menjadi ibu.

Jalaluddin Rumi pernah berkata,
“Luka adalah tempat dimana cahaya masuk ke dalam dirimu.”

Mungkin selama ini kamu terlalu sibuk menjadi kuat,
sampai lupa bahwa Allah juga ingin kamu bersandar.

Dan seperti yang sering disampaikan oleh Hababah Halimah Alaydrus,
“Perempuan yang dekat dengan Allah akan menjadi tempat pulang yang menenangkan bagi keluarganya.”

Maka wahai ibu…
jangan merasa harus sempurna setiap waktu.

Kalau lelah, istirahatlah.
Kalau sesak, berceritalah.
Kalau pekerjaan rumah belum selesai, tidak apa-apa.
Rumah yang sedikit berantakan jauh lebih baik daripada hati ibu yang hancur diam-diam.

Dalam Al-Hikam disebutkan:
“Jangan heran jika ujian datang silih berganti, karena itu tanda Allah sedang mendidik dan mendekatkanmu kepada-Nya.”

Kamu juga manusia.
Kamu juga pantas dipeluk,
didengar,
dan dijaga.

Jangan biarkan lelah mengambil sabar dan syukurmu.
Karena rumah yang tenang dimulai dari hati ibu yang juga tenang.

Dan perempuan yang hatinya dekat dengan Allah,
akan tetap mampu menjadi cahaya,
meski dirinya sedang terluka.

Kadang yang bikin hati capek itu… bukan luka besar.Tapi hal-hal yang nggak pernah terucap, nggak pernah benar-benar dipa...
07/05/2026

Kadang yang bikin hati capek itu… bukan luka besar.
Tapi hal-hal yang nggak pernah terucap, nggak pernah benar-benar dipahami.

Kita terlihat baik-baik saja.
Padahal dalamnya… penuh tanya yang nggak selesai.

Mungkin bukan hidupnya yang salah.
Tapi cara kita memahami yang belum dalam.

Saatnya berhenti menebak.
Mulai memahami—diri, luka, dan arah pulang.

✨ Kajian: Ruang Saling Memahami — “Yang Tak Pernah Terucap”
🎤 Bersama: Mitha Astriana S.

📍 Jl. Teratai No. 19, Kel. Ujung Padang,
Kota Padangsidimpuan – Sumatera Utara

📅 09 Mei 2026 | ⏰ 19.00-20.30 WIB

Datang. Duduk. Tenang.
Biar hati nggak lagi berisik sendirian.

📌 *Gratis, tapi tempat terbatas.*
Amankan kursimu sekarang.

Sering kali masalah bukan pada apa yang disampaikan, tapi pada cara seseorang menerima. Ketika komunikasi sehat belum ja...
07/05/2026

Sering kali masalah bukan pada apa yang disampaikan, tapi pada cara seseorang menerima. Ketika komunikasi sehat belum jadi kebiasaan, setiap masukan terasa seperti serangan. Kata kata yang sebenarnya ingin memperbaiki justru ditangkap sebagai sindiran. Bukan karena niatnya salah, tapi karena cara memahaminya masih dipenuhi kecurigaan dan pertahanan diri.

Hal yang sama terjadi pada orang yang belum terbiasa bertanggung jawab. Kritik yang seharusnya jadi bahan evaluasi malah terasa seperti tekanan yang menyudutkan. Ada dorongan untuk membela diri, menolak, atau bahkan menyalahkan balik. Di situ, bukan kritiknya yang berlebihan, tapi kesiapan diri untuk menerimanya yang belum terbentuk dengan baik.

Mungkin yang perlu dibangun bukan hanya keberanian untuk berbicara, tapi juga kesiapan untuk mendengar. Komunikasi yang sehat tidak akan berjalan jika hanya satu pihak yang terbuka. Ketika seseorang mulai belajar menerima tanpa langsung merasa diserang, di situlah percakapan bisa berubah jadi ruang tumbuh, bukan lagi sekadar saling mempertahankan diri.

07/05/2026

Doa terbaik


Address

Padangsidempuan
22716

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Dongan Hijrah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share