19/08/2026
Kepribadian: Nafas Tauhid ke Peradaban
Post Views: 1318 Agustus 2026
Oleh Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A., M.A.
Ketua PWM 2015–2022; 2000–2005 dan Rektor UM Sumbar 2006–2013
Menjadi Muhammadiyah barangkali lebih sulit daripada sekadar menjadi warga Muhammadiyah. Pertanyaan itu terus menggoda batin saya. Sejak mengenal dan aktif dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada 1973 hingga memasuki usia di atas tujuh puluh tahun, saya masih merasa belum selesai memahami dan menghayati Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang semestinya bersemayam dalam rongga batin sekaligus menjelma dalam laku kehidupan.
Scroll ke bawah
Teruskan Membaca
Sebab, menjadi seorang Muslim dan menjadi seorang Muhammadiyah bukanlah perjalanan yang selesai hanya karena seseorang telah mengetahui sejumlah ajaran, menghadiri pengajian, atau memegang amanah kepemimpinan. Ia adalah perjalanan panjang dari pengetahuan menuju penghayatan, dari penghayatan menuju akhlak, dan dari akhlak menuju amal yang memberi cahaya peradaban. Karena itu, saya terus mengulang apa yang pernah saya baca, saya dengar, dan saya diskusikan bersama para Pimpinan, Senior, Yunior di Muhammadiyah.
Di antaranya memahami Kepribadian Muhammadiyah. Keputusan Muktamar ke-35 Muhammadiyah, Jakarta, 1962. Membaca Haedar: Islam Berkemajuan: Riwayat, Ikhtiar; Peran Muhammadiyah; Muhammadiyah Gerakan Pembaruan; Risalah Islam Berkemajuan. Membaca ulang dengan hati, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM); Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah (MADM); Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH).
Baca lagi Ki Bagus Hadikusumo Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah; K.H. Faqih Usman Apakah Muhammadiyah Itu? Terakhir ini adala naskah ceramah yang menjadi embrio Kepribadian Muhammadiyah. Semua mereka kunci dengan Al-Qur’an al-Karim; Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
Walaupun begitu, semakin lama seseorang berjalan, berdialog, membaca dan merenung, semakin ia menyadari bahwa ilmu tidak pernah selesai. Ia perlu diulang, diperdalam, diperluas, dan direnungkan kembali agar tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi kesadaran dan kepribadian.
Di antara warisan penting itu adalah Kepribadian Muhammadiyah. Ia bukan sekadar seperangkat norma organisasi, melainkan cermin moral dan orientasi ruhani bagi kader, pimpinan, dan seluruh warga Persyarikatan. Untuk memudahkannya, saya menyebut sepuluh sifat tersebut sebagai Dasa Sila Kepribadian Muhammadiyah—sepuluh dasar yang mempertemukan tauhid dengan kehidupan nyata.
Di dalamnya terdapat sebuah paradigma: bahwa tauhid tidak boleh berhenti di langit keyakinan. Tauhid harus turun ke bumi menjadi akhlak, keadilan, persaudaraan, pelayanan, ilmu, kerja sosial, dan tanggung jawab kebangsaan. Inilah yang menjadikan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang berusaha menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Maka dengan semua itu, jadilah 10 dasar Kepribadian Muhammadiyah:
Berjuang untuk Perdamaian dan Kesejahteraan
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 107)
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Islam hadirkan salam-rahmat-kedamaian. Karena itu, perjuangan Muhammadiyah tidak semestinya melahirkan kegaduhan, kebencian, dan perpecahan, melainkan menghadirkan kedamaian dan kesejahteraan. Sekolah, rumah sakit, perguruan tinggi, panti sosial, dan berbagai amal usaha adalah bentuk konkret dari dakwah yang menjadikan iman memiliki wajah kemanusiaan.
Memperbanyak Kawan dan Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2)
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh…” (HR. Muslim)
Ukhuwah adalah jembatan yang menghubungkan hati. Dalam kehidupan organisasi dan masyarakat, perbedaan pandangan merupakan keniscayaan. Yang harus dihindari bukan perbedaan, melainkan permusuhan. Karena itu, warga Muhammadiyah dituntut memperluas persahabatan, membangun kepercayaan, dan mengelola perbedaan dengan hikmah.
Berlapang Dada dan Berpandangan Luas
“Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka…” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159)
“Orang yang paling kuat bukanlah yang paling pandai bergulat, tetapi orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kekuatan sejati bukan terletak pada kerasnya suara, melainkan pada keluasan jiwa. Seorang kader dituntut santun, rendah hati, terbuka terhadap ilmu, dan mampu mengendalikan ego. Tradisi KH Ahmad Dahlan menunjukkan bahwa keterbukaan terhadap kemajuan tidak harus mengorbankan prinsip tauhid. Justru dengan keluasan pandangan, Islam dapat berdialog dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Bersifat Keagamaan dan Kemasyarakatan
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 110)
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad)
Muhammadiyah adalah gerakan dakwah dan kemasyarakatan, bukan organisasi politik. Karena itu, politik kebangsaan harus ditempatkan dalam kerangka etika, kemaslahatan, dan tanggung jawab moral, bukan semata-mata sebagai jalan menuju kekuasaan.
Mengindahkan Hukum Negara
“Taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta ulil amri di antara kamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 59)
Ketaatan kepada hukum merupakan bagian dari tanggung jawab kebangsaan. Warga Muhammadiyah menjaga konstitusi, Pancasila, dan kehidupan demokratis, seraya tetap menjalankan fungsi korektif terhadap kebijakan yang menyimpang dari keadilan. Dalam perspektif Muhammadiyah, Indonesia dipahami sebagai Darul ‘Ahdi wa Syahadah—negara kesepakatan dan kesaksian untuk mewujudkan kehidupan kebangsaan yang berkeadaban.
Amar Makruf Nahi Mungkar secara Bijaksana
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl [16]: 125)
Amar makruf nahi mungkar bukan lisensi untuk mencela. Ia adalah panggilan moral yang menuntut hikmah, keteladanan, keberanian sekaligus kebijaksanaan. Dakwah yang sejati bukan hanya menunjukkan kesalahan, tetapi menawarkan jalan keluar. Karena itu, sekolah, rumah sakit, lembaga ekonomi, dan berbagai amal usaha Muhammadiyah dapat dibaca sebagai bentuk amar makruf nahi mungkar yang produktif.
Aktif Membangun Masyarakat
“Dialah yang menjadikan kamu khalifah di muka bumi.” (QS. Fathir [35]: 39)
Manusia adalah khalifah. Karena itu, kesalehan tidak boleh berhenti dalam kesunyian ruang pribadi. Ia harus menjelma menjadi manfaat sosial. Kader Muhammadiyah dituntut menjadi agen perubahan: mencerdaskan melalui pendidikan, menyembuhkan melalui kesehatan, memberdayakan melalui ekonomi, dan mengangkat martabat masyarakat melalui berbagai bentuk pengabdian.
Bekerja Sama dalam Kebaikan
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa.” (QS. Al-Ma’idah [5]: 2)
Ta’awun adalah etika peradaban. Muhammadiyah tidak hidup dalam ruang yang tertutup. Ia terbuka untuk bekerja sama melintasi batas agama, budaya, profesi, dan kelompok sosial selama orientasinya adalah kemaslahatan. Di sinilah persaudaraan menemukan bentuknya yang lebih luas: bekerja bersama bukan karena semua orang sama, tetapi karena manusia dapat dipertemukan oleh kebaikan.
Membantu Pemerintah dan Membangun Bangsa
“Dan bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu, begitu juga Rasul dan orang-orang beriman.” (QS. At-Taubah [9]: 105)
Pembangunan bangsa pada hakikatnya adalah ibadah sosial. Muhammadiyah mendukung kebijakan yang berpihak kepada rakyat dan pada saat yang sama menjalankan fungsi kritis apabila kebijakan menyimpang dari prinsip keadilan. Sebab kepemimpinan dalam perspektif Islam bukanlah mahkota kekuasaan, melainkan amanah pelayanan.
Bersikap Adil, Bijaksana, dan Korektif
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (QS. An-Nahl [16]: 90). Keadilan merupakan jantung kehidupan Islam. Kebijaksanaan menjadi metode dalam berdakwah, sedangkan sikap korektif diperlukan untuk menjaga kesehatan organisasi. Kritik, dengan demikian, bukan permusuhan. Kritik adalah bentuk kecintaan apabila diarahkan untuk memperbaiki, bukan menjatuhkan.
Dari Tauhid Menuju Amal Peradaban
Sepuluh sifat tersebut pada akhirnya bermuara pada tiga watak utama kader Muhammadiyah: tauhid yang kokoh, akhlak yang luhur, dan amal yang berkemajuan. Tauhid mengarahkan seluruh aktivitas kepada Allah; akhlak menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat; sedangkan amal berkemajuan menerjemahkan iman menjadi manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Di sinilah Kepribadian Muhammadiyah memperoleh makna yang lebih dalam. Ia bukan hanya dokumen organisasi, melainkan jalan ruhani yang menghubungkan hati dengan kehidupan, ibadah dengan pengabdian, dan tauhid dengan peradaban.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang Muhammadiyah bukanlah seberapa panjang ia berbicara tentang Islam, melainkan seberapa jauh kehadirannya membuat kehidupan menjadi lebih tercerahkan. Bukan seberapa tinggi kedudukannya dalam Persyarikatan, melainkan seberapa dalam ketulusan amalnya. Bukan seberapa banyak ia dikenal manusia, melainkan seberapa banyak manfaat yang ditinggalkannya.
Sebab seorang kader pada hakikatnya sedang menempuh perjalanan dari “aku” menuju “kami”, dari “kami” menuju umat, dan dari umat menuju kemanusiaan. Dan di atas seluruh perjalanan itu terdapat satu horizon yang tidak boleh hilang: Allah. Maka Kepribadian Muhammadiyah pada akhirnya adalah ikhtiar untuk menjadikan tauhid bukan hanya sesuatu yang diucapkan oleh lisan, tetapi sesuatu yang hidup dalam hati, tercermin dalam akhlak, bekerja melalui tangan, dan memancar sebagai rahmat bagi semesta.
Itulah jalan dari tauhid menuju amal, dari amal menuju kemaslahatan, dan dari kemaslahatan menuju peradaban yang berkeadaban. (*)
Oleh Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, B.A.,...