ZIKIR NAFAS Sabbihisma

Directions Contact the organization

ZIKIR NAFAS Sabbihisma Pelatihan Zikir Nafas Sabbihisma
Berzikir u/ memasuki alam Ruhani tertinggi, menyehatkan fisik, pikiran, Spritualitas.

06/09/2026

Tahukah kalian bahwa Ibn Sina pernah membaca kitab Metafisika empat puluh kali sampai hafal di luar kepala, tetapi tetap tidak paham isinya?

Kisah ini diceritakan Ibn Sina sendiri tentang masa mudanya di Bukhara. Muridnya, Abu Ubaid al-Juzjani, mencatatnya, lalu Ibn Abi Usaibi'ah menyalin catatan itu ke dalam biografinya.

Pada usia enam belas tahun ia mulai mendalami kedokteran. Selama satu setengah tahun berikutnya ia mengulang logika dan seluruh bagian filsafat tanpa pernah tidur semalam penuh.

Setiap kali buntu pada satu masalah, ia pergi ke masjid jami, salat, dan memohon sampai yang tertutup terbuka.

Masalahnya, ketika beralih ke ilmu ketuhanan dan membaca kitab Metafisika, ia tidak paham isinya dan tujuan penulisnya. Ia mengulang bacaannya empat puluh kali sampai hafal, tetapi tetap tidak paham. Ia putus asa dan berkata bahwa kitab ini tidak ada jalan untuk dipahami.

Suatu hari, pada waktu asar, ia berada di deretan al-warraqin, atau para penjual dan penyalin buku. Seorang calo memegang sebuah jilid dan menawarkannya dengan berteriak.

Ibn Abi Usaibi'ah menukil penuturan Ibn Sina dalam Uyun al-Anba fi Tabaqat al-Atibba:

"Ia menawarkannya kepadaku, dan aku menolaknya dengan jengkel, karena yakin tidak ada gunanya ilmu ini. Ia berkata, 'Belilah ini dariku, harganya murah, kujual tiga dirham, dan pemiliknya sedang butuh uangnya.' Maka aku membelinya, dan ternyata itu kitab Abu Nashr al-Farabi tentang maksud-maksud kitab Metafisika. Aku p**ang ke rumah dan bergegas membacanya. Seketika terbukalah bagiku maksud kitab itu, karena kitab itu sudah kuhafal di luar kepala."

Uniknya, al-Farabi dan Ibn Sina tidak pernah bertemu. Jilid seharga tiga dirham itulah satu-satunya pertemuan mereka yang tercatat dalam kisah ini.

Ibn Sina gembira, dan keesokan harinya ia bersedekah banyak kepada fakir miskin sebagai syukur kepada Allah.

Tidak lama kemudian Sultan Bukhara, Nuh bin Manshur, jatuh sakit dan para tabib kebingungan. Nama Ibn Sina disebut di hadapan sultan, lantas ia ikut mengobati, lalu meminta izin masuk ke perpustakaan istana yang berisi peti-peti kitab. Ia mengaku selesai dengan semua ilmu itu pada usia delapan belas tahun.

Empat puluh kali pengulangan tidak "membuka" (futuh) kitab itu. Yang membukanya adalah penjelasan orang lain, dalam sebuah jilid yang hampir ia tolak karena sudah putus asa.

Akan tetapi, hafalan yang ia kumpulkan tidak sia-sia. Hafalan itulah yang membuat penjelasan al-Farabi langsung bekerja begitu dibaca.

Ada yang pernah mengalaminya?

Membaca sesuatu sampai hafal (tapi masih gak paham), tapi kelak hafalan itu malah tahqiq secara tiba-tiba?

Guru saya (Rumail Abbas) bilang: "itu namanya kefutuh".

21/08/2026

Kering dan Basah merupakan aktualisasi dari Af'al Allah di muka bumi (QS Al an'am 59)

29/07/2026

Rasullah SAW Bersabda:

Berjamaah lah kalian!!
Karna Allah selalu bersama orang2 yg berjamaah.
dan syaitan bersama orang yg sendirian (terpisah/terputus)
(Hadits Riwayat Imam Ahmad)

22/07/2026

Allah menciptakan tujuh langit dan bumi semisalnya, turunnya perintah (ketetapan) padanya, supaya engkau mengetahui (alimu) bahwa Allah maha kuasa atas segala sesuatu, bahwa Allah meliputi segala sesuatu dengan Ilmu-Nya
(QS At Talaq ayat 12)

11/07/2026

Dan Aku akan memahat sumpahKu di surga, untuk menjadi tanda antara Aku dan Bani Adam, bahwa selama ada orang beriman di dunia maka langit akan tegak di atas bumi.
Kitab Nabi Idris 55:2

08/07/2026

Kedermawanan merupakan pantulan nafas Ar Rahman.

Syekh Akbar Ibn 'Arabi, tindakan kebajikan yang paling utama adalah membersihkan jiwa dari ilusi dan hawa nafsu; tindakan ini adalah bentuk pembersihan hati agar hati menjadi “ruang kosong” sehingga kehendak dan qudrah Tuhan (nafas Ar Rahman) yang mengisinya dan memberikan Diri-Nya.

Seorang arifbillah atau wali Allah adalah sosok yang menjadikan diri(nafs)nya sebagai wadah tindakan-tindakan Tuhan. Maka, amal dan akhlak merupakan hasil dari bangunan-bangunan jiwa.

Agar tajalli kebajikan itu memantul cahaya yang jernih, kita menyediakan “ruang kosong”di dalam dalam jiwa (al haba'). Sehingga nafas Ar Rahman ber tajalli menjadi bentuk-bentuk, dorongan -dorongan hasrat, bangunan-bangunan jiwa.

Sebab, kita dilahirkan didunia dengan keadaan rendah yg hanya melihat alam rendah (dunia) sj. dan diturunkan dalam keadaan lemah, lemah dari tipudaya dunia.
Sehingga nafas dipenuhi dengan ego, hasrat duniawi, ilusi, dan hawa-nafsu), egoisme atau kesombongan, keserakahan dan bakhil, dan sebagainya.

Jiwa yang telah dipenuhi oleh cahaya Tuhan dan merasakan atau memakrifahi kehadiran-Nya tidak akan bisa menahan diri untuk tidak dermawan, sebab kedermawanan adalah prinsip pancaran kebaikan Tuhan (nafas Ar Rahman), sama seperti matahari yang tidak bisa menahan sinarnya.

Dalam konteks hakikat ini, seseorang yang dermawan melihat bahwa segala sesuatu pada hakikatnya dalam genggaman Allah, dan mengalirkan karunia kebajikan adalah hukum alam dari spiritual.

Kebajikan tertinggi adalah Al-Ihsan (menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya), atau menyadari bahwa Dia melihatmu.

Kebajikan yang berasal dari pantulan nafas Ar Rahman adalah proses takhalluq bi Asma’illah (berakhlak dengan Nama-Nama Allah). Manusia adalah lokus penampakan (mazhar) dari nama-nama-Nya. Orang yang bajik adalah mereka yang berhasil menyeimbangkan dan mengaktualisasikan sifat-sifat Tuhan di dalam dirinya secara proporsional (’adl).

Namun, kebajikan ini mencapai puncaknya ketika sang hamba mengalami hati telah kosong lalu menerima pantulan cahaya Rahmani, di mana ia menyadari bahwa yang melakukan kebajikan itu pada hakikatnya adalah Allah melalui dirinya, bukan ego nafsiah (diri sendiri). Ia menjadi dermawan bukan karena berdasar nafsunya untuk mendapat pahala, tetapi karena ia tahu bahwa dirinya hanyalah alat atau sarana yang digunakan Tuhan untuk menunjukkan kebaikan-kebaikan-Nya.

Syekh Ibn ’Arabi menjelaskan tingkatan kedermawanan secara lebih filosofis.

• Kedermawanan Eksistensial (Al-Jud al-Wujudi): Ini adalah kedermawanan Allah yang paling mendasar, yaitu "memberikan wujud" kepada ciptaan-Nya. Alam semesta ini ada karena kedermawanan Allah yang rindu untuk dikenal (Kanzan Makhfiyyan - Khazanah yang Tersembunyi). Tanpa kedermawanan Allah, kita berada dalam ketiadaan (’adam).

• Kedermawanan Hamba (Judal-’Abd): Ketika seorang manusia memberi, Syekh Ibn ’Arabi mengingatkan sebuah rahasia mistik: Siapa yang sebenarnya memberi kepada siapa? Karena semua wujud adalah milik Allah, maka ketika Anda memberi kepada orang lain, pada hakikatnya harta atau karunia Allah sedang bergerak melalui hamba Allah untuk sampai ke hamba Allah yang lain.

• Oleh karena itu, kedermawanan tertinggi menurut Syeh Akbar adalah ketika seseorang memberikan dirinya sendiri (egonya) kembali kepada Allah. Ketika sang menyadari kefakirannya secara absolut, ia menyadari ia tidak memiliki apa-apa, dan di situlah ia menjadi wadah murni bagi kedermawanan Ilahi.

Jadi menurut perspektif Syeh Ibn 'Arabi, kita bukan benar-benar "dermawan" jika masih merasa bahwa diri kita adalah si pemberi. Bagaimana mungkin kita memberikan sesuatu apabila kita pada hakikatnya tidak punya apa-apa? Kita hanyalah cermin yang memantulkan kedermawanan Ilahiah, dan kita menjadi saksi atas kedermawanan Tuhan itu melalui tindakan kita. Pada kedudukan spiritual ini, seseorang berarti merealisasikan apa yang tersirat dalam hadis qudsi tentang “perbendaharaan tersembunyi” (kanz makhfiyan) pada alam nampak.

Wa Allahu a'lam.

05/07/2026

Titian zikir nafas :

• Zikir nafas dengan udara keluar masuk beserta bacaan zikir. Zikir ini bergerak dengan ruh jismani.

• Zikir nafas dengan himmah dari hasrat. Zikir ini bergerak dengan ruh rawani.

• Zikir nafas dengan mengatur penghadapan wajah batin (Fuad), zikir ini bergerak dengan ruh sulthani.

• Zikir nafas dengan ruhani, zikir ini bergerak dengan dengan Nur, dengan ruh Quds.

• Zikir nafas dengan nafas dengan Ilmu, zikir ini bergerak dengan Hayat.

24/06/2026

Syair Syaikhul Akbar Muhyyidin Ibnu Arabi, Kitab al-isra ila maqam al-asra:

Diriku adalah Al Quran 7 ayat yg diulang2.
Ruhnya bukan sekedar Ruh dari wadah2.

Fuadku senantiasa tinggal bersama objek ilmuku,berkelakuan menyaksikanNya.
Sementara yg bersama kalian hanya lisanku.

oleh sebab itu,janganlah engkau memandang dgn lirikan matamu kejasmani ku.
dan jangan kau meresa tenang dgn apa yg sudah engkau dapat.

Selamilah kedalaman samudra zat dari segala zat,niscaya akan kau lihat keajaiban2 yg tak pernah dapat dipandang mata.

Begitu p**a akan tersingkap rahasia2 nan samar, yg terpendam didalam ruh2 para Makna.

nb dari Syaikhul Akbar Ibnu Arabi.
Sungguh demi Allah!! tidak sebaitpun syair itu kulantunkan kecuali aku mendengarkannya seperti mayat.hal itu karena hikmah yg ku harapkan keridhaannya dan sebuah hajat dalam diri nabi Yaqub yg telah ia tetapkan (QS Yusuf 68)

01/05/2026

Ilah yg menjadi sumber gerak batin (hasrat) manusia, menjadi sumber kekuatan dan daya pada diri manusia.

01/05/2026

Nafas adalah Hasrat.
Hasrat yg terbit dari ilah yg tersembunyi dalam diri manusia

Address

Padang
25137

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when ZIKIR NAFAS Sabbihisma posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to ZIKIR NAFAS Sabbihisma:

Shortcuts

Share