08/07/2026
Kedermawanan merupakan pantulan nafas Ar Rahman.
Syekh Akbar Ibn 'Arabi, tindakan kebajikan yang paling utama adalah membersihkan jiwa dari ilusi dan hawa nafsu; tindakan ini adalah bentuk pembersihan hati agar hati menjadi “ruang kosong” sehingga kehendak dan qudrah Tuhan (nafas Ar Rahman) yang mengisinya dan memberikan Diri-Nya.
Seorang arifbillah atau wali Allah adalah sosok yang menjadikan diri(nafs)nya sebagai wadah tindakan-tindakan Tuhan. Maka, amal dan akhlak merupakan hasil dari bangunan-bangunan jiwa.
Agar tajalli kebajikan itu memantul cahaya yang jernih, kita menyediakan “ruang kosong”di dalam dalam jiwa (al haba'). Sehingga nafas Ar Rahman ber tajalli menjadi bentuk-bentuk, dorongan -dorongan hasrat, bangunan-bangunan jiwa.
Sebab, kita dilahirkan didunia dengan keadaan rendah yg hanya melihat alam rendah (dunia) sj. dan diturunkan dalam keadaan lemah, lemah dari tipudaya dunia.
Sehingga nafas dipenuhi dengan ego, hasrat duniawi, ilusi, dan hawa-nafsu), egoisme atau kesombongan, keserakahan dan bakhil, dan sebagainya.
Jiwa yang telah dipenuhi oleh cahaya Tuhan dan merasakan atau memakrifahi kehadiran-Nya tidak akan bisa menahan diri untuk tidak dermawan, sebab kedermawanan adalah prinsip pancaran kebaikan Tuhan (nafas Ar Rahman), sama seperti matahari yang tidak bisa menahan sinarnya.
Dalam konteks hakikat ini, seseorang yang dermawan melihat bahwa segala sesuatu pada hakikatnya dalam genggaman Allah, dan mengalirkan karunia kebajikan adalah hukum alam dari spiritual.
Kebajikan tertinggi adalah Al-Ihsan (menyembah Allah seolah-olah engkau melihat-Nya), atau menyadari bahwa Dia melihatmu.
Kebajikan yang berasal dari pantulan nafas Ar Rahman adalah proses takhalluq bi Asma’illah (berakhlak dengan Nama-Nama Allah). Manusia adalah lokus penampakan (mazhar) dari nama-nama-Nya. Orang yang bajik adalah mereka yang berhasil menyeimbangkan dan mengaktualisasikan sifat-sifat Tuhan di dalam dirinya secara proporsional (’adl).
Namun, kebajikan ini mencapai puncaknya ketika sang hamba mengalami hati telah kosong lalu menerima pantulan cahaya Rahmani, di mana ia menyadari bahwa yang melakukan kebajikan itu pada hakikatnya adalah Allah melalui dirinya, bukan ego nafsiah (diri sendiri). Ia menjadi dermawan bukan karena berdasar nafsunya untuk mendapat pahala, tetapi karena ia tahu bahwa dirinya hanyalah alat atau sarana yang digunakan Tuhan untuk menunjukkan kebaikan-kebaikan-Nya.
Syekh Ibn ’Arabi menjelaskan tingkatan kedermawanan secara lebih filosofis.
• Kedermawanan Eksistensial (Al-Jud al-Wujudi): Ini adalah kedermawanan Allah yang paling mendasar, yaitu "memberikan wujud" kepada ciptaan-Nya. Alam semesta ini ada karena kedermawanan Allah yang rindu untuk dikenal (Kanzan Makhfiyyan - Khazanah yang Tersembunyi). Tanpa kedermawanan Allah, kita berada dalam ketiadaan (’adam).
• Kedermawanan Hamba (Judal-’Abd): Ketika seorang manusia memberi, Syekh Ibn ’Arabi mengingatkan sebuah rahasia mistik: Siapa yang sebenarnya memberi kepada siapa? Karena semua wujud adalah milik Allah, maka ketika Anda memberi kepada orang lain, pada hakikatnya harta atau karunia Allah sedang bergerak melalui hamba Allah untuk sampai ke hamba Allah yang lain.
• Oleh karena itu, kedermawanan tertinggi menurut Syeh Akbar adalah ketika seseorang memberikan dirinya sendiri (egonya) kembali kepada Allah. Ketika sang menyadari kefakirannya secara absolut, ia menyadari ia tidak memiliki apa-apa, dan di situlah ia menjadi wadah murni bagi kedermawanan Ilahi.
Jadi menurut perspektif Syeh Ibn 'Arabi, kita bukan benar-benar "dermawan" jika masih merasa bahwa diri kita adalah si pemberi. Bagaimana mungkin kita memberikan sesuatu apabila kita pada hakikatnya tidak punya apa-apa? Kita hanyalah cermin yang memantulkan kedermawanan Ilahiah, dan kita menjadi saksi atas kedermawanan Tuhan itu melalui tindakan kita. Pada kedudukan spiritual ini, seseorang berarti merealisasikan apa yang tersirat dalam hadis qudsi tentang “perbendaharaan tersembunyi” (kanz makhfiyan) pada alam nampak.
Wa Allahu a'lam.