10/08/2024
Menulis adalah sebuah perjalanan untuk mengungkapkan dunia batin, dan di situlah seni menemukan kekuatannya. Namun, sayang sekali jika seorang penulis terhenti di tengah perjalanan karena dirantai oleh norma, adat, budaya, serta doktrin agama. Ada baiknya kau, penulis junior, memahami bahwa semua itu penting, tetapi jika kau membiarkan mereka menjadi penjara bagi kreativitasmu, kau tidak akan pernah benar-benar menjadi seorang penulis.
Biar aku tebak, kau menulis dengan penuh kehati-hatian, seperti berjalan di atas es tipis, takut jika satu langkah salah akan membuatmu tenggelam. Mungkin kau berpikir bahwa semua yang kau tulis harus sesuai dengan norma dan budaya yang diajarkan sejak kecil, seolah-olah mereka adalah hukum alam yang tak bisa diganggu gugat. Setiap kalimat yang kau tulis kau periksa berulang kali, memastikan tidak ada kata yang bisa dianggap melanggar adat atau doktrin agama. Aku bisa membayangkan wajahmu yang pucat ketika editormu memberikan saran untuk lebih berani, lebih jujur, dan lebih bebas. “Apakah ini akan diterima masyarakat?” “Apakah aku akan dihujat?” “Apakah aku berdosa?” Begitu banyak pertanyaan yang mungkin berputar di kepalamu hingga membuatmu takut melangkah maju.
Ah, tapi kau tahu, menjadi penulis bukan hanya soal menyenangkan semua orang. Bukan soal memastikan setiap orang yang membaca karyamu akan mengangguk setuju. Penulis sejati adalah mereka yang mampu membawa pembaca ke dunia yang belum pernah mereka lihat, memperkenalkan sudut pandang baru, bahkan jika itu berarti menantang yang sudah ada. Kau terlalu sibuk memikirkan apa yang boleh dan tidak boleh kau tulis, hingga kau lupa bahwa menulis adalah tentang kejujuran—jujur pada diri sendiri dan pada apa yang ingin kau sampaikan.
Norma, adat, budaya, serta doktrin agama bukanlah hal yang mutlak salah untuk diikuti. Namun, jika kau hanya menulis untuk menyesuaikan diri dengan mereka, kau hanya akan menjadi penulis yang terjebak dalam kebekuan, seperti ikan yang terkurung dalam akuarium kecil, hanya berenang dalam lingkaran yang sama berulang kali. Tidak pernah berani menyelam lebih dalam atau berenang lebih jauh.
Mungkin kau berpikir bahwa dengan tetap berada dalam batasan itu, kau akan aman, tidak akan ada kontroversi, tidak akan ada kritik yang tajam. Tetapi apakah itu yang kau inginkan dari tulisanmu? Sebuah kenyamanan yang kosong? Penulis yang besar adalah mereka yang mampu menciptakan perubahan, yang berani mengambil risiko, dan siap menerima semua konsekuensinya. Jika kau terus-terusan takut melangkah keluar dari batasan yang kau buat sendiri, kau tidak akan pernah tahu sejauh mana kemampuanmu sebenarnya.
Kau perlu menyadari bahwa kreativitasmu adalah milikmu. Tidak ada yang bisa merenggut itu darimu, kecuali dirimu sendiri. Jadi, jika kau memilih untuk terus bersembunyi di balik norma dan doktrin, jangan kaget jika suatu hari nanti kau mendapati dirimu menulis dengan kering, tanpa gairah, tanpa jiwa. Pada saat itu, kau mungkin sudah terlambat untuk menyadari bahwa kau telah membuang potensimu, terkurung dalam penjara yang kau ciptakan sendiri.
Jadi, penulis junior, keluarlah dari cangkangmu. Beranilah menulis dengan kebebasan, tanpa takut pada apa yang mungkin orang lain katakan. Biarkan tulisanmu mengalir dengan penuh semangat, tidak terikat oleh belenggu yang tidak perlu. Jika tidak, kau hanya akan menjadi bayangan dari seorang penulis—selalu ada, tapi tak pernah benar-benar hidup.
Apakah kau?
🙄🤣