18/11/2025
Sinopsis:
[...] agar layak disebut “kritik sastra”, sebuah tulisan tidak boleh berhenti pada asumsi tentang, misalnya, baik atau buruknya sebuah karya sastra, tentang terobosan baru yang konon dicapai dalam karya tertentu, tentang berhasilnya sastrawan tertentu, tentang kecenderungan tertentu di dunia sastra secara umum, dan sebagainya. Seorang kritikus sastra tidak boleh hanya berasumsi, tapi harus bisa menjelaskan bagaimana dia sampai pada pendapat tersebut
Bahasa Indonesia pada dasarnya tidak mengenal genus/gender, tapi itu tidak berarti bahwa di Indonesia seksisme tidak ada hubungannya dengan bahasa. Bahasa apa pun dapat menjadi seksis kalau digunakan secara seksis, tidak terkecuali bahasa Indonesia.
Kekuatan yang dianggap merepresi seksualitas manusia Indonesia adalah adat, tradisi, dan agamanya sendiri, sedangkan pembebasan dicari dengan memandang ke Barat. Dengan demikian, wacana tersebut mereprodusi imaji buruk dan gelap mengenai kekolotan dan ketertutupan budaya setempat (atau “budaya Timur” pada umumnya), yang dikontraskan dengan cahaya terang kemerdekaan (ala) manusia Barat.
Seks, Teks, Konteks; Esei-esei Kritik Sastra 2001-2021
Penulis: Katrin Bandel
Spesifikasi: xxiv + 628 hlm | 14 x 21 cm
Cetak dua warna; BC 150 gsm & bookpaper 72 gsm
Jahit benang
Cover: Kertas oldmill 250 gsm
Tekstur deboss tanpa laminasi
Kontak Pemesanan WA 085935660898