22/04/2026
~๐ฆ๐ถ๐ป๐ผ๐ฝ๐๐ถ๐~
Kump**an puisi ini merangkum suara-suara dari pesisir, kampung, kota, dan ruang batin yang retak oleh waktu. Melalui tema perantauan, kemiskinan, kehilangan orang tua dan anak, kritik sosial, kerusakan alam, serta ingatan budaya pesisir Sumatraโkhususnya Teluk Tapanuli dan Sibolgaโbuku ini menampilkan potret manusia yang terus bertahan di tengah arus kuasa, tradisi, dan perubahan zaman.
Puisi-puisinya bergerak dari tahun-tahun awal yang liris dan reflektif menuju karya-karya yang lebih matang, gelap, dan frontal. Ada satire tentang hiburan dan kepemimpinan, elegi tentang nelayan dan ibu, ratapan tentang tanah yang dicemari, serta mantra-mantra kecil yang mencoba menjaga iman agar tidak sepenuhnya runtuh. Bahasa yang digunakan kerap padat, metaforis, dan berlapis bunyi, namun tetap berpijak pada pengalaman konkret dan sosial.
Buku ini cocok bagi pembaca yang menyukai puisi dengan napas panjangโyang tidak hanya merayakan keindahan, tetapi juga berani menyentuh luka, ketidakadilan, dan duka personal sebagai bagian dari sejarah kolektif. Sebuah kesaksian puitis tentang manusia, alam, dan ingatan yang terus berusaha diselamatkan dari lupa.