08/10/2026
Minyak Kedelai Berpotensi Salip Minyak Sawit pada 2032
Selama lebih dari dua dekade, minyak sawit menjadi minyak nabati dengan produksi terbesar di dunia. Namun, posisi tersebut menghadapi dinamika baru.
Dalam forum Malaysian Palm Oil Forum 2026, analis industri Thomas Mielke dari ISTA Mielke GmbH menyampaikan bahwa produksi minyak kedelai berpotensi melampaui minyak sawit pada 2032.
Menurut Mielke, pertumbuhan kedelai didukung oleh sejumlah faktor, antara lain perluasan area budidaya, peningkatan varietas dengan produktivitas dan kandungan minyak lebih tinggi, ketahanan terhadap kekeringan, efisiensi tenaga kerja, skala ekonomi, serta biaya produksi yang lebih rendah.
Di sisi lain, pertumbuhan produksi minyak sawit diperkirakan melambat. Mielke menyoroti sejumlah tantangan seperti replanting yang belum mencukupi, penyakit Ganoderma, meningkatnya biaya produksi, berkurangnya penggunaan pupuk, serta tuntutan keberlanjutan yang semakin berkembang.
Menurut perkiraannya, pertumbuhan produksi tahunan minyak sawit rata-rata sekitar 1,3 juta ton pada 2020–2030, jauh di bawah rata-rata peningkatan 2,9 juta ton per tahun pada 2010–2020.
Prediksi tersebut tentu masih dipengaruhi oleh banyak faktor dari sisi produksi maupun permintaan. Namun, bagi industri sawit, perkembangan ini layak menjadi perhatian.
Bukan semata soal siapa yang menjadi nomor satu, tetapi tentang bagaimana meningkatkan produktivitas, memperkuat replanting, mengendalikan biaya, menjaga keberlanjutan, dan meningkatkan daya saing minyak sawit di pasar global.
Persaingan minyak nabati global terus berubah. Industri sawit perlu terus beradaptasi.
Menurut Anda, langkah apa yang paling penting dilakukan industri sawit untuk menjaga daya saing di tengah pertumbuhan minyak nabati lainnya?
Sumber: theedgemalaysia.com