Martondi Heritage ID Foundation

Martondi Heritage ID Foundation Martondi Heritage Indonesia Foundation (Yayasan) was founded by Dr. Dahlena S. Marbun & Tondi. R

“MENGAPA HUJAN EKSTREM & BANJIR MAKIN SERING ? : Penjelasan Sains yang Mudah Dipahami”Artikel Ilmiah Populer – Yayasan M...
27/11/2025

“MENGAPA HUJAN EKSTREM & BANJIR MAKIN SERING ? : Penjelasan Sains yang Mudah Dipahami”

Artikel Ilmiah Populer – Yayasan Martondi Heritage Indonesia

Ketika banjir bandang, longsor, dan hujan ekstrem melanda Sumatera Utara, banyak orang kembali menggunakan istilah “alam sedang marah”, atau "Bencana Alam".

Istilah yang sungguh tidak tepat ini justru menjadi biasa digunakan oleh pemangku kebijakan bahkan oleh instansi pemerintah yang bekerja dan bertugas untuk menganalisis secara ilmiah dalam bidang alam.

Padahal dalam ilmu pengetahuan, alam tidak pernah marah, tidak pernah berniat memberi bencana. Alam hanya menjalankan hukum energinya—seimbang, mekanis, dan konsisten. Alam selalu berproses dengan dinamika yang bertujuan untuk menyeimbangkan.

Bencana muncul bukan karena alam berubah menjadi kejam, tetapi karena : "Manusia mengubah lingkungan lebih cepat daripada kemampuan alam menyesuaikan diri."

1. Alam Tidak Pernah Memberi Bencana — Alam Hanya Menyeimbangkan Energi.

Atmosfer bekerja mengikuti hukum fisika. Ketika energi panas dan uap air menumpuk, atmosfer harus menyeimbangkannya. Caranya?

Membentuk awan konvektif.
Menurunkan hujan deras.
Melepaskan energi melalui badai petir.
Memindahkan massa udara secara tiba-tiba.

Fenomena-fenomena ini alami, bukan bencana. Bencana baru terjadi ketika:

Hutan digunduli → tanah tidak stabil.
Sungai disempitkan → air mencari jalur lain.
Kota dipenuhi beton → air hujan tidak dapat meresap.
Pemukiman dibangun di zona bahaya → longsor tidak terhindarkan

Jadi bencana adalah interaksi manusia dengan proses alam, bukan perbuatan alam semata.

2. Dari Mana Datangnya Hujan Ekstrem?

Untuk memahami hujan ekstrem, kita harus memahami dua sumber pemanasan:

A. Pemanasan Global → Mengubah iklim seluruh dunia

Faktor terbesar yang memanaskan atmosfer adalah efek rumah kaca.

Apa itu efek rumah kaca?

Efek ini bukan bangunan kaca. Dalam ilmu iklim, istilah “rumah kaca” adalah analogi untuk menggambarkan bagaimana atmosfer menahan panas.

Gas-gas rumah kaca (greenhouse gases):

CO₂ (paling dominan)
Metana (CH₄)
Dinitrogen oksida (N₂O)
Uap air (H₂O)
Gas industri (HFC, CFC)

Gas-gas ini menyerap panas dari permukaan Bumi dan memantulkannya kembali, sehingga suhu naik. Semakin banyak gas rumah kaca → semakin banyak panas terperangkap.

Efek globalnya:

Bumi lebih panas.
Laut lebih hangat → penguapan meningkat.
Atmosfer lebih lembap.
Hujan ekstrem lebih sering dan lebih intens.

Inilah penyebab utama badai, hujan ekstrem regional, dan pola cuaca yang semakin tidak stabil.

B. Pemanasan Kota (Urban Heat Island) →Memicu hujan deras lokal

Kota-kota seperti Medan mengalami pemanasan lokal yang tinggi karena:

Terlalu banyak beton dan aspal.
Kurangnya pepohonan.
Panas buangan mesin industri dan kendaraan.
Penggunaan AC secara masif.

AC mendinginkan ruangan, tetapi sekaligus membuang panas ke luar bangunan. Semakin banyak AC → semakin panas udara kota.

Akibatnya kota menjadi hotspot yang memicu hujan lokal:

1. Udara panas naik cepat
2. Membawa uap air
3. Atmosfer menjadi tidak stabil
4. Terbentuk awan badai lokal
5. Hujan tiba-tiba, sangat deras, sering disertai petir.

Fenomena ini menjelaskan mengapa kota besar sering diguyur hujan lebat mendadak meski daerah sekitarnya kering.

3. Bencana di Sumatera Utara: Peran Manusia yang Lebih Besar

Sumatera Utara kini rentan karena kombinasi antara:

1. Kerusakan hutan di daerah aliran sungai (DAS)

Air hujan seharusnya terserap akar dan tanah.
Ketika hutan hilang, air berubah jadi gelombang banjir bandang.

2. Penyempitan sungai oleh bangunan dan sampah

Debit sedikit saja sudah membuat air meluap.

3. Betonisasi dan hilangnya ruang hijau kota

Drainase tidak mampu menampung meningkatnya limpasan air hujan.

4. Perubahan iklim global yang menambah intensitas hujan

Hujan ekstrem yang dulu muncul 10 tahun sekali, kini muncul tiap tahun.

Kombinasi faktor-faktor ini membuat setiap hujan besar berpotensi menjadi bencana.

Kesimpulan Edukatif Untuk Masyarakat

1. Alam tidak pernah marah dan tidak pernah berniat memberi bencana. Alam hanya menyeimbangkan energi panas, uap air, dan tekanan.

2. Pemanasan global (gas rumah kaca) adalah penyebab utama hujan ekstrem.

3. Pemanasan kota (Urban Heat Island) memperkuat potensi hujan deras lokal, terutama di kota besar yang padat AC dan minim pepohonan.

4. Bencana terjadi karena kesalahan manusia dalam mengelola lingkungan, bukan karena proses alam semata.

5. Sains seharusnya menjadi dasar pembangunan, bukan hanya ramalan yang diabaikan.

Apa yang Harus Di Lakukan?

Yayasan Martondi Heritage Indonesia menyarankan langkah-langkah berikut:

1. Restorasi hutan dan DAS kritis.
2. Normalisasi dan pelebaran sungai sesuai kapasitas alami.
3.Pembatasan betonisasi dan penguatan ruang hijau perkotaan.
4. Pembangunan sistem peringatan dini berbasis data ilmiah
5. Tata ruang berbasis risiko, bukan berbasis kompromi politik.
6. Edukasi publik tentang sains atmosfer dan mitigasi bencana.

Dengan memahami sains secara benar, kita tidak lagi menyalahkan alam — kita mulai memperbaiki diri.

Shohibul Anshor Siregar Zulfikar Tanjung Irma Adrian Iwang Ari
27/11/2025

Shohibul Anshor Siregar Zulfikar Tanjung Irma Adrian Iwang Ari

BUKAN BENCANA DARI TUHAN : “Hidrometeorologi, Tata Ruang, dan Krisis Ekologi Sumatera Utara”

Oleh Yayasan Martondi Heritage Indonesia

Pendahuluan

Dalam beberapa hari ini Sumatera Utara mengalami rangkaian bencana alam yang semakin sering, semakin besar skalanya, dan semakin mematikan. Banjir bandang, tanah longsor, jebolnya tanggul sungai, serta hujan ekstrem yang turun hampir tanpa jeda telah menelan puluhan korban jiwa dan merusak infrastruktur masyarakat. Fenomena ini bukanlah kejadian tunggal, melainkan akumulasi dari kegagalan tata kelola ruang dan lingkungan selama puluhan tahun.

Yayasan Martondi Heritage Indonesia memandang bahwa krisis ini merupakan bagian dari bencana hidrometeorologis yang diperparah oleh kerusakan ekosistem. Untuk itu, diperlukan pemahaman ilmiah yang utuh—berbasis hidrometeorologi, geologi, topografi, serta kajian lingkungan—agar pemerintah dapat melakukan mitigasi dan rekonstruksi kebijakan secara tepat.

Hidrometeorologi Seharusnya Menjadi Instrumen Pengendali Kebijakan

Di banyak negara maju, hidrometeorologi tidak sekadar memprediksi hujan atau badai. Ia adalah otoritas ilmiah yang wajib digunakan dalam pengambilan keputusan tata ruang, termasuk:

1. pemberian izin penebangan hutan,

2. penentuan zona pemukiman,

3. Perizinan industri dan tambang,

4. Pekerjaan pengerukan sungai dan pelebaran alur air,

5. Pembangunan jalan, jembatan, dan bendungan.

Sayangnya, di Indonesia—khususnya Sumatera Utara— Ilmu hidrometeorologi (BMKG) sering ditempatkan sebagai lembaga pasif, hanya memberikan peringatan setelah bencana sudah di ambang terjadi. Padahal, data curah hujan, potensi banjir, stabilitas tanah, dan peta risiko hidrologis seharusnya menjadi instrumen utama sebelum izin pembangunan diberikan.

Topografi Sumatera Utara: Fondasi Alam yang Rawan

Sebagaimana diuraikan dalam buku Linimasa Deli & Sekitarnya, Pulau Sumatera dibentuk oleh:

Deretan Pegunungan Bukit Barisan yang curam dan aktif secara geologis serta jaringan sungai purba yang panjang dan berliku, zona patahan Sumatra yang dinamis, kontur geomorfologi yang berubah sejak era vulkanik tua hingga kolonial.

Struktur alam ini menciptakan kawasan yang sangat sensitif terhadap:

1. Curah hujan tinggi,

2. Perubahan tutupan hutan,

3. Pengerukan sungai yang tidak terkendali,

4. Penambangan di hulu,

5. Alih fungsi lahan yang masif.

Ketika hutan-hutan di Tapanuli, Dairi, Karo, Toba, Humbang, Langkat, dan Asahan ditebang untuk tujuan perkebunan dan industri, kemampuan tanah menahan air menurun drastis.

Yang terjadi adalah peningkatan aliran permukaan (runoff) hingga 300–600%, yang berakhir sebagai banjir bandang dan longsor.

Kegagalan Tata Ruang: Penyebab Utama Bencana

Bencana di Sumatera Utara hari ini bukanlah akibat “kemarahan alam”, melainkan hasil dari buruknya tata ruang dan perizinan:

1. Pemukiman di zona risiko tinggi

Banyak desa dan perumahan dibangun di lereng curam 30–45°, kawasan yang secara ilmiah seharusnya merupakan zona konservasi.

2. Pengerukan sungai tanpa kajian hidrologis

Hilir sungai menjadi dangkal dan dinding sungai menjadi rapuh; aliran air tidak lagi mengikuti profil alami sehingga memicu banjir bandang.

3. Penambangan di hulu dan bukit

Mengubah struktur tanah menjadi “hidraulik lepas” — mudah longsor ketika jenuh air.

4. Hilangnya vegetasi penahan air

Hutan lindung yang dahulu menjadi penyangga curah hujan kini berubah menjadi kebun, ladang, atau kawasan industri.

5. Fragmentasi ekosistem DAS

Sungai-sungai besar di Sumatera Utara tidak lagi bekerja sebagai sistem terintegrasi, melainkan terpotong-potong oleh aktivitas manusia.

Kombinasi faktor ini menciptakan “badai sempurna” yang memperbesar risiko setiap kali hujan ekstrem turun.

Solusi Ilmiah yang Mendesak

Yayasan Martondi Heritage Indonesia mengajukan lima langkah strategis berbasis ilmu hidrometeorologi dan geometri ruang:

1. Penyusunan Peta Zona Risiko Hidrometeorologi Tingkat Provinsi–Kabupaten

Zona Merah: tidak boleh ada pemukiman, penebangan, atau aktivitas industri.

Zona Kuning: kegiatan diizinkan dengan mitigasi ketat.

Zona Hijau: wilayah aman untuk pembangunan.

2. Reforestasi Terstruktur di Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS)

Reforestasi harus mengikuti sistem “tiga lapis vegetasi” untuk mengembalikan daya serap tanah.

3. Standarisasi Kajian Hidrologis dalam Perizinan

Semua izin tambang, perkebunan, dan perumahan wajib dilengkapi rekomendasi hidrometeorologi.

4. Restorasi Sungai Sesuai Profil Alaminya

Mengembalikan lebar sungai, menghapus bangunan liar, dan menghilangkan penyempitan yang menyebabkan percepatan aliran air.

5. Integrasi BMKG – PUPR – BRGM – Pemerintah Daerah dalam Sistem Ketahanan Lingkungan

Sistem terpadu yang tidak hanya mengeluarkan peringatan cuaca, tetapi memberikan peringatan tata ruang berdasarkan kondisi risiko.

Penutup

Sumatera Utara sedang berada pada titik kritis. Bencana yang berulang bukanlah fenomena alam biasa, tetapi alarm keras dari ekosistem yang rusak dan governance yang gagal. Dengan memanfaatkan hidrometeorologi dan ilmu geometri ruang sebagai dasar kebijakan, pemerintah dapat mengurangi risiko korban di masa depan dan mengembalikan keseimbangan lingkungan.

Yayasan Martondi Heritage Indonesia mengajak semua pihak—pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pelaku industri—untuk bersama-sama membangun Sumatera Utara yang lebih aman, lebih bijak, dan berkelanjutan.

BUKAN BENCANA DARI TUHAN : “Hidrometeorologi, Tata Ruang, dan Krisis Ekologi Sumatera Utara”Oleh Yayasan Martondi Herita...
27/11/2025

BUKAN BENCANA DARI TUHAN : “Hidrometeorologi, Tata Ruang, dan Krisis Ekologi Sumatera Utara”

Oleh Yayasan Martondi Heritage Indonesia

Pendahuluan

Dalam beberapa hari ini Sumatera Utara mengalami rangkaian bencana alam yang semakin sering, semakin besar skalanya, dan semakin mematikan. Banjir bandang, tanah longsor, jebolnya tanggul sungai, serta hujan ekstrem yang turun hampir tanpa jeda telah menelan puluhan korban jiwa dan merusak infrastruktur masyarakat. Fenomena ini bukanlah kejadian tunggal, melainkan akumulasi dari kegagalan tata kelola ruang dan lingkungan selama puluhan tahun.

Yayasan Martondi Heritage Indonesia memandang bahwa krisis ini merupakan bagian dari bencana hidrometeorologis yang diperparah oleh kerusakan ekosistem. Untuk itu, diperlukan pemahaman ilmiah yang utuh—berbasis hidrometeorologi, geologi, topografi, serta kajian lingkungan—agar pemerintah dapat melakukan mitigasi dan rekonstruksi kebijakan secara tepat.

Hidrometeorologi Seharusnya Menjadi Instrumen Pengendali Kebijakan

Di banyak negara maju, hidrometeorologi tidak sekadar memprediksi hujan atau badai. Ia adalah otoritas ilmiah yang wajib digunakan dalam pengambilan keputusan tata ruang, termasuk:

1. pemberian izin penebangan hutan,

2. penentuan zona pemukiman,

3. Perizinan industri dan tambang,

4. Pekerjaan pengerukan sungai dan pelebaran alur air,

5. Pembangunan jalan, jembatan, dan bendungan.

Sayangnya, di Indonesia—khususnya Sumatera Utara— Ilmu hidrometeorologi (BMKG) sering ditempatkan sebagai lembaga pasif, hanya memberikan peringatan setelah bencana sudah di ambang terjadi. Padahal, data curah hujan, potensi banjir, stabilitas tanah, dan peta risiko hidrologis seharusnya menjadi instrumen utama sebelum izin pembangunan diberikan.

Topografi Sumatera Utara: Fondasi Alam yang Rawan

Sebagaimana diuraikan dalam buku Linimasa Deli & Sekitarnya, Pulau Sumatera dibentuk oleh:

Deretan Pegunungan Bukit Barisan yang curam dan aktif secara geologis serta jaringan sungai purba yang panjang dan berliku, zona patahan Sumatra yang dinamis, kontur geomorfologi yang berubah sejak era vulkanik tua hingga kolonial.

Struktur alam ini menciptakan kawasan yang sangat sensitif terhadap:

1. Curah hujan tinggi,

2. Perubahan tutupan hutan,

3. Pengerukan sungai yang tidak terkendali,

4. Penambangan di hulu,

5. Alih fungsi lahan yang masif.

Ketika hutan-hutan di Tapanuli, Dairi, Karo, Toba, Humbang, Langkat, dan Asahan ditebang untuk tujuan perkebunan dan industri, kemampuan tanah menahan air menurun drastis.

Yang terjadi adalah peningkatan aliran permukaan (runoff) hingga 300–600%, yang berakhir sebagai banjir bandang dan longsor.

Kegagalan Tata Ruang: Penyebab Utama Bencana

Bencana di Sumatera Utara hari ini bukanlah akibat “kemarahan alam”, melainkan hasil dari buruknya tata ruang dan perizinan:

1. Pemukiman di zona risiko tinggi

Banyak desa dan perumahan dibangun di lereng curam 30–45°, kawasan yang secara ilmiah seharusnya merupakan zona konservasi.

2. Pengerukan sungai tanpa kajian hidrologis

Hilir sungai menjadi dangkal dan dinding sungai menjadi rapuh; aliran air tidak lagi mengikuti profil alami sehingga memicu banjir bandang.

3. Penambangan di hulu dan bukit

Mengubah struktur tanah menjadi “hidraulik lepas” — mudah longsor ketika jenuh air.

4. Hilangnya vegetasi penahan air

Hutan lindung yang dahulu menjadi penyangga curah hujan kini berubah menjadi kebun, ladang, atau kawasan industri.

5. Fragmentasi ekosistem DAS

Sungai-sungai besar di Sumatera Utara tidak lagi bekerja sebagai sistem terintegrasi, melainkan terpotong-potong oleh aktivitas manusia.

Kombinasi faktor ini menciptakan “badai sempurna” yang memperbesar risiko setiap kali hujan ekstrem turun.

Solusi Ilmiah yang Mendesak

Yayasan Martondi Heritage Indonesia mengajukan lima langkah strategis berbasis ilmu hidrometeorologi dan geometri ruang:

1. Penyusunan Peta Zona Risiko Hidrometeorologi Tingkat Provinsi–Kabupaten

Zona Merah: tidak boleh ada pemukiman, penebangan, atau aktivitas industri.

Zona Kuning: kegiatan diizinkan dengan mitigasi ketat.

Zona Hijau: wilayah aman untuk pembangunan.

2. Reforestasi Terstruktur di Hulu Daerah Aliran Sungai (DAS)

Reforestasi harus mengikuti sistem “tiga lapis vegetasi” untuk mengembalikan daya serap tanah.

3. Standarisasi Kajian Hidrologis dalam Perizinan

Semua izin tambang, perkebunan, dan perumahan wajib dilengkapi rekomendasi hidrometeorologi.

4. Restorasi Sungai Sesuai Profil Alaminya

Mengembalikan lebar sungai, menghapus bangunan liar, dan menghilangkan penyempitan yang menyebabkan percepatan aliran air.

5. Integrasi BMKG – PUPR – BRGM – Pemerintah Daerah dalam Sistem Ketahanan Lingkungan

Sistem terpadu yang tidak hanya mengeluarkan peringatan cuaca, tetapi memberikan peringatan tata ruang berdasarkan kondisi risiko.

Penutup

Sumatera Utara sedang berada pada titik kritis. Bencana yang berulang bukanlah fenomena alam biasa, tetapi alarm keras dari ekosistem yang rusak dan governance yang gagal. Dengan memanfaatkan hidrometeorologi dan ilmu geometri ruang sebagai dasar kebijakan, pemerintah dapat mengurangi risiko korban di masa depan dan mengembalikan keseimbangan lingkungan.

Yayasan Martondi Heritage Indonesia mengajak semua pihak—pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pelaku industri—untuk bersama-sama membangun Sumatera Utara yang lebih aman, lebih bijak, dan berkelanjutan.

Inilah era baru pertunjukan seni dan budaya di Sumatera Utara.Bersama kami : Raon Raon Arts Konsorsium. Heritage Perform...
03/09/2025

Inilah era baru pertunjukan seni dan budaya di Sumatera Utara.

Bersama kami : Raon Raon Arts Konsorsium.

Heritage Performing Arts Konsorsium merupakan motto kami, memiliki visi misi memajukan kebudayaan dan seni lokal, pertunjukan seni berkualitas dan eksklusif, serta menjadi pusat inkubasi ekosistem budaya dan edukasi seni.

Didukung oleh Yayasan Martondi Heritage Indonesia yang menjadi lokomotif, kami menghadirkan sebuah konsorsium yang mempersatukan institusi, komunitas, dan pelaku kreatif untuk menciptakan ekosistem seni budaya yang kompetitif, produktif, dan berkelas.

Kami memiliki sumber daya infrastruktur unggulan dalam satu atap:

Sound system profesional 7000 watt yang siap menjangkau ribuan penonton.

Mobile stage modern, praktis dengan sistem hidrolik, siap tampil hanya dalam hitungan menit.

Instrumen musik lengkap serta peralatan produksi berkualitas tinggi.

Apakah anda pernah membayangkan sebuah pertunjukkan seni yang dapat dipersiapkan hanya dalam tempo 30 menit ?. Kamilah yang dapat melakukannya.

Di balik panggung, kami diperkuat oleh studio rekaman profesional dan tim musik produksi berpengalaman.
Mulai dari aransemen, rekaman, mixing, hingga mastering—semuanya kami kerjakan dengan standar industri.

Kekuatan kami bukan hanya pada teknologi, tetapi juga pada jaringan komunitas seni budaya.

Kami menjalin sinergi dengan musisi, penari, dan kreator lokal untuk menghadirkan pertunjukan yang otentik, kreatif, dan penuh makna.
Inilah konsorsium yang berfokus pada produksi seni pertunjukan profesional—dari festival budaya, konser kolaborasi, hingga acara eksklusif.
Semua dikemas dengan standar tata panggung, tata suara, dan manajemen pertunjukan yang profesional.

Lebih dari sekadar hiburan, kami juga menjadi pusat inkubasi dan edukasi seni budaya.

Memberikan transfer pengetahuan yang fundamental, substantif, dan selalu update—untuk melahirkan talenta baru yang kreatif, produktif, dan berkarakter positif.

Kami adalah Konsorsium Seni, Budaya & Produksi Pertunjukan.
Membangun karya seni dari akar budaya lokal, dengan sentuhan profesional, untuk melangkah menuju panggung dunia.

Bersama kami, jadikan seni budaya bukan hanya tontonan—tetapi juga kekuatan yang menginspirasi dan memajukan.

Inilah era baru pertunjukan seni dan budaya di Sumatera Utara. Bersama kami : Raon Raon Arts Konsosium. Heritej Performing Arts Konsorsium merupakan motto ka...

"AYO, MENJADI MITRA & SUKARELAWAN"Yayasan Martondi Heritage telah memiliki akun online untuk PUB ( Donasi Pengumpulan Ua...
20/11/2024

"AYO, MENJADI MITRA & SUKARELAWAN"

Yayasan Martondi Heritage telah memiliki akun online untuk PUB ( Donasi Pengumpulan Uang & Barang ) yang terjamin akuntabilitas & transparansinya.

Seluruh warganegara RI dapat menjadi mitra dari Yayasan Martondi Heritage dalam hal kerjasama melakukan penggalangan dana untuk berbagai kebutuhan mendesak bagi kelompok dan individu yang membutuhkan dana untuk :

1. Sakit Keras
2. Disabilitas & Difabel
3. Bantuan Biaya Pendidikan
4. Bencana Alam
5. Penelitian & Pengembangan program kemanusiaan dan lingkungan hidup.
6. Kasus Hukum
7. Kecelakaan
8. Dan lain sebagainya.

Kerjasama Kemitraan dan Sukarelawan melalui proses perundangan dan peraturan yang berlaku di Negara RI.

Ayo menjadi mitra dan sukarelawan Martondi Heritage Indonesia. Dengan tujuan memberikan harapan dan membangun masa depan yang lebih baik bagi umat manusia dan alam secara inklusif. 🙏 CONTACT HELP DESK : 083160411153

Pemerhati Kebijakan Publik, Tondi Rangkuti yang juga Ketua Yayasan Martondi Heritage Indonesia, merasa prihatin atas sit...
17/10/2024

Pemerhati Kebijakan Publik, Tondi Rangkuti yang juga Ketua Yayasan Martondi Heritage Indonesia, merasa prihatin atas situasi yang dihadapi oleh masyarakat Madina, yang harus bergantung pada donasi untuk kebutuhan mendesak.

PANYABUNGAN, Waspada.co.id - Banyak masyarakat di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) yang hidup di bawah garis kemiskinan kerap mengharapkan uluran tangan

Address

Jalan Garu II, Blok Palem, Harjosari I
Medan
20174

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Martondi Heritage ID Foundation posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share