21/04/2026
Selamat malam untuk Tite wahakae
Salam Gelekat ✊🏼 🤝
Dalam Rangka Memperingati Hari Kartini, dengan Tema Diskusi: Dari dapur ke dunia.
Ijin Menyampaikan Hasil yang dapat di Simpulkan dalam Diskusi bersama:
Kartini lahir pada 21 April 1879 di Jepara Jawa Tengah. Ia berasal dari kalangan
bangsawan jawa, yang membuatnya memiliki akses terhadap pendidikan dasar disekolah
belanda, ELS (Europeesche Lagere School. Namun, ketika menginjak usia remaja, ia
harus menjalin masa pingitan, sesuai ada jawa yang berlaku kala itu. Meski berada dalam
keterbatasan fisik, Kartini tidak membiarkan pikirannya terkungkung. Ia belajar secara
otodidak dalam menjalin korespondensi (aktivitas surat menyurat yang dilakukan antara
dua pihak maupun organisasi untuk menyampaikan informasi), dengan teman-temannya
di Belanda. Korespondensi inilah yang menjadi jalan bagi Kartini untuk menyuarakan
pikirannya tentang pentingnya pendidikan bagi peremupan, kesetaraan hak serta kritik
terhadap sistem feodalisme (struktur sosial politik dan ekonomi yang berpusat pada
penguasa) dan kolonialisme (sistem dimana sebuah negara kuat menguasai atau menjajah
dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, politik dan perluasan wilayah)
yang menindas.
R. A Kartini dikenal sebgai pelopor emansipasi (pembebasan dari
perbudakan atau persamaan hak) wanita indonesia yang gigih memperjuangkan kesetaraan hak,
terutama pendidikan bagi perempuan pribumi dimasa penjajahan. Beliau terkenal melalui
kumpulan surat-suratnya yang diterbitkan menjadi buku ‘’ Habis Gelap Terbitlah Terang” yang
menyoroti ketidakadilan sosial dan pendidikan. Kartini berkeyakinan bahwa perempuan harus memiliki hak belajar yang sama untuk meningkatkan kecerdasan dan martabat bangsa. Beliau
memperjuangkan agar perempuan tidak hanya terbatas pada peran domestik (dapur),tetapi juga
aktif dalam bidang sosial kemasyarakatan. Dengan tema yang menjadi acuana kita adalah “Dari Dapur, ke Dunia. Kiprah Perempuan Dalam Peran Ganda.”Perempuan Modern Dan Peran Ganda, saat ini perempuan mejalin peran ganda. Didapur
perempuan sebagai seorang Ibu, istri dan pengelolah rumah tangga, sedangkan didunia
perempuan bisa sebgai pemimpin, pengusaha, pendidik dan lainya.
Perempuan modern tidak lagi
harus memilih satu, tetapi sering menjalankan keduanya secara bersamaan. Misalnya seorang ibu
bisa menjadi guru, bidan dan lainnya sambil mengurus keluarga.
Meskipun kebebasan sudh terbuka luas, akan tetapi masih memiliki tantangan yang tidak selalu
mudah. Peran rumah tangga masih dibebankan pada perempuan, perempuan dituntun harus bisa
di kerja diluar rumah harus punya penghasilan, di tempat kerja sekalipun perempuan masih
mengalami ketimpangan dari gaji maupun jabatan. Yang menjadi pertanyaan apakah perjuangan Kartini saat ini sudah selesai atau hanya berubah bentuk saja?
Dengan pertanyaan diatas muncul kesimpulan bawah agar tidak ada peran ganda perempuan maka adanya kesadaran pada kaum laki-laki.Oleh karena itu, mewujudkan kesetaraan bukan hanya tanggung jawab perempuan, tetapi juga membutuhkan kesadaran dari kaum laki-laki. Laki-laki perlu mengambil peran aktif dalam membangun kemitraan yang setara, baik di dalam keluarga maupun di lingkungan kerja. Dukungan, penghargaan, serta pembagian peran yang adil akan menciptakanmu keseimbangan yang sehat antara kehidupan domestik dan publik.
Dengan demikian, semangat “Dari Dapur ke Dunia” bukan lagi tentang beban peran ganda yang harus dipikul sendiri oleh perempuan, melainkan tentang kolaborasi yang harmonis antara laki-laki dan perempuan. Ketika keduanya berjalan beriringan, maka cita-cita Kartini akan benar-benar terwujud: sebuah masyarakat yang adil, setara, dan saling menguatkan demi masa depan yang lebih baik.
Terimakasih 🙏🏼🤝