Lombok Heritage and Science Society

Lombok Heritage and Science Society Lombok Heritage and Science Society (LHSS) merupakan organisasi nirlaba yang bertujuan untuk menggal

Lombok Heritage and Science Society (LHSS) menegaskan kebakaran Kampung Adat Sade memerlukan evaluasi menyeluruh terhada...
23/08/2026

Lombok Heritage and Science Society (LHSS) menegaskan kebakaran Kampung Adat Sade memerlukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem mitigasi dan perlindungan.

Komunitas Lombok Heritage and Science Society (LHSS) menilai kebakaran Kampung Adat Sade di Kabupaten Lombok Tengah menjadi alarm keras terhadap sistem ...

Akademisi dan Pemprov NTB Bahas Masa Depan Kota Tua AmpenanSumber : MEDIAMONITOR https://www.mediamonitor-lpkpk.com/akad...
19/08/2026

Akademisi dan Pemprov NTB Bahas Masa Depan Kota Tua Ampenan

Sumber : MEDIAMONITOR https://www.mediamonitor-lpkpk.com/akademisi-dan-pemprov-ntb-bahas-masa-depan-kota-tua-ampenan/

Mataram, 18 Agustus 2026 — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat mendorong revitalisasi Kota Tua Ampenan dilakukan melalui pendekatan rekonstruksi yang tetap berpijak pada karakter historis kawasan. Arah tersebut mengemuka dalam pertemuan lintas pemangku kepentingan di Pendopo Gubernuran NTB, Selasa (18/8/2026).

Pertemuan dihadiri Gubernur Nusa Tenggara Barat, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Kepala Bidang Pemanfaatan dan Kerja Sama, Pusat Studi Kebudayaan Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB), akademisi Universitas Mataram, serta Lombok Heritage Social & Science (LHSS).

Pertemuan membahas arah dan strategi revitalisasi Kota Tua Ampenan, terutama pilihan pendekatan yang akan menjadi pijakan dalam menghidupkan kembali kawasan bersejarah tersebut di tengah perkembangan Kota Mataram.

Dalam pembahasan, Gubernur NTB mengemukakan dua pilihan mendasar dalam menentukan masa depan Ampenan. Pertama, membangun Ampenan berdasarkan kebutuhan dan orientasi masyarakat hari ini. Kedua, merekonstruksi Ampenan dengan merujuk pada karakter kawasan sebagaimana terbentuk dalam perjalanan sejarahnya.

Dari kedua pilihan tersebut, Gubernur lebih mendorong pendekatan rekonstruksi. Penataan Kota Tua Ampenan dinilai tidak seharusnya berhenti pada pembangunan fisik baru, tetapi perlu menghidupkan kembali identitas kawasan yang menjadikan Ampenan memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan kota di Nusa Tenggara Barat.

Dalam konteks tersebut, Gubernur menekankan pentingnya menjadikan kajian sejarah, karakter arsitektur, dokumentasi kawasan, pemetaan aset budaya, serta kehidupan sosial masyarakat sebagai pijakan dalam proses rekonstruksi. Dengan demikian, revitalisasi tidak sekadar menghadirkan kembali tampilan visual bangunan lama, tetapi juga mempertahankan hubungan antara ruang, sejarah, masyarakat, dan fungsi kawasan.

Pendekatan tersebut menempatkan Kota Tua Ampenan bukan hanya sebagai objek pembangunan fisik, melainkan sebagai kawasan bersejarah yang masih hidup dan memiliki fungsi sosial, budaya, serta ekonomi bagi masyarakat. Karena itu, rekonstruksi perlu mempertimbangkan kesinambungan antara pelestarian warisan kota dengan kebutuhan masyarakat yang hingga kini hidup dan beraktivitas di kawasan tersebut.

Sebagai langkah awal, para pihak sepakat mendorong pelaksanaan studi dan pemetaan Kota Tua Ampenan secara kolaboratif hingga Desember 2026. Tahap ini akan menjadi basis awal untuk mengidentifikasi aset sejarah dan budaya, karakter kawasan, kondisi bangunan, dinamika sosial, serta potensi pengembangan yang perlu dipertimbangkan dalam penyusunan arah revitalisasi.

Proses tersebut diharapkan melibatkan pemerintah daerah, perguruan tinggi, pusat studi, akademisi, komunitas, dan unsur masyarakat sehingga data yang dihasilkan dapat menjadi pijakan bersama dalam merumuskan tahapan revitalisasi berikutnya.

Gubernur juga mendorong agar proses revitalisasi dilakukan secara terencana dan melibatkan berbagai disiplin serta pemangku kepentingan. Dokumentasi yang memadai dan kajian yang kuat dinilai penting agar setiap intervensi terhadap kawasan memiliki dasar yang jelas serta tidak menghilangkan karakter utama Ampenan.

Dalam forum tersebut, Pusat Studi Kebudayaan UNU NTB mendorong agar agenda revitalisasi segera diperkuat dengan payung hukum yang jelas. Regulasi dipandang penting untuk memberikan kepastian arah kebijakan, memperkuat perlindungan terhadap kawasan dan aset bersejarah, sekaligus menjadi dasar koordinasi antarlembaga dalam pelaksanaan revitalisasi.

Keberadaan payung hukum juga dinilai strategis untuk memastikan bahwa revitalisasi tidak berlangsung secara parsial. Dengan dasar kebijakan yang kuat, penataan Kota Tua Ampenan dapat dilakukan dalam satu kerangka yang menghubungkan aspek pelestarian, tata ruang, kebudayaan, arsitektur, ekonomi kawasan, pariwisata, dan kepentingan masyarakat.

Sejalan dengan hal tersebut, Gubernur NTB dan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB mendorong penguatan sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, pusat studi, akademisi, komunitas heritage, dan masyarakat. Kolaborasi lintas sektor dipandang sebagai prasyarat penting agar revitalisasi Kota Tua Ampenan dapat bergerak dari gagasan menuju langkah implementatif yang terukur.

Sinergi tersebut diharapkan mencakup pemetaan kawasan dan aset bersejarah, pendokumentasian arsitektur, penguatan basis data, kajian sejarah dan budaya, penyusunan rekomendasi kebijakan, hingga perumusan tahapan implementasi revitalisasi.

Kota Tua Ampenan memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan Mataram dan Nusa Tenggara Barat. Oleh karena itu, revitalisasi kawasan tidak hanya berkaitan dengan bagaimana Ampenan akan dibangun pada masa depan, tetapi juga bagaimana jejak sejarah dan identitasnya tetap dapat terbaca oleh generasi berikutnya.

Pertemuan di Pendopo Gubernuran NTB menjadi bagian dari upaya membangun kesamaan arah antarpemangku kepentingan. Dengan menjadikan rekonstruksi berbasis karakter historis sebagai orientasi, memperkuat landasan hukum, serta membuka ruang kolaborasi lintas lembaga, revitalisasi Kota Tua Ampenan diharapkan mampu mempertemukan kepentingan pelestarian dengan pembangunan kawasan secara berkelanjutan.

Ampenan dengan demikian diharapkan tidak hanya dipertahankan sebagai jejak masa lalu, tetapi dikembangkan sebagai kawasan bersejarah yang hidup, produktif, dan tetap memiliki relevansi sosial, budaya, serta ekonomi bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat

FROM BOSTON TO AMPENANA Sailor Boy’s Voyage to See the WorldOleh: Ali Lombok Ali Lombok Catatan perjalanan seorang pelau...
18/08/2026

FROM BOSTON TO AMPENAN

A Sailor Boy’s Voyage to See the World

Oleh: Ali Lombok Ali Lombok

Catatan perjalanan seorang pelaut Amerika, Chas. Nordhoff, tentang Lombok dan Pelabuhan Ampenan

Kami melewati Selat Torres dengan aman. Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh lima hari dari Sydney, akhirnya kami tiba di Lombok—atau lebih tepatnya di Pelabuhan Ampanam (Ampenan), di pantai barat p**au itu.

Lombok adalah sebuah p**au yang relatif kecil, tetapi sangat subur, di Kep**auan Melayu. Pulau ini terletak di antara Bali—yang dalam catatan kami disebut Bally—dan Sumbawa, masing-masing dipisahkan oleh selat yang sempit. Di sebelah barat Bali terbentang Pulau Jawa.

Lombok memiliki penduduk yang cukup padat. Tanahnya dikerjakan dengan baik dan menghasilkan beras dalam jumlah besar, yang menjadi salah satu hasil utama pertanian p**au tersebut. Konon, tidak kurang dari dua puluh hingga dua puluh lima ribu ton beras diekspor setiap tahun ke berbagai wilayah Hindia, bahkan sebagian di antaranya dikirim ke Cina.

Pulau ini dilintasi oleh jajaran pegunungan. Di bagian utara berdiri sebuah gunung berapi aktif dengan puncak yang dapat terlihat dari kejauhan, bahkan dari bermil-mil di laut.

Itulah gunung berapi aktif pertama yang pernah saya lihat.

Dengan rasa ingin tahu yang besar, saya terus memperhatikan asap tipis yang tampak terus-menerus melingkar di atas puncaknya. Saya bahkan membayangkan, dengan sedikit rasa cemas, bagaimana jika gunung itu tiba-tiba meletus ketika kami berada di sana. Letusan semacam itu tentu dapat membawa kehancuran besar bagi banyak keluarga yang tinggal di sekitarnya.

AMPENAN

Pelabuhan Ampanam—atau Ampenan—memang kecil, tetapi memiliki tempat berlabuh yang baik.

Karena ini adalah tempat Melayu pertama yang pernah saya kunjungi, hampir segala sesuatu di sana menarik perhatian saya.

Penduduk tinggal di rumah-rumah panjang yang sebagian besar dibuat dari bambu. Rumah-rumah tersebut berdiri di atas tiang-tiang tinggi, sekitar sepuluh hingga lima belas kaki dari permukaan tanah.

Beberapa keluarga biasanya tinggal dalam satu rumah. Di bawah rumah, di antara tiang-tiang penyangga, terdapat ayam dan babi peliharaan mereka. Saya bahkan berpikir bahwa hewan-hewan itu mungkin sekaligus berfungsi sebagai pembersih sisa makanan atau sampah yang jatuh dari atas rumah.

Untuk memasuki rumah, mereka menggunakan tangga.

Rumah-rumah tersebut berdiri di tengah perkebunan kakao dan pepohonan palem yang memberikan keteduhan yang indah. Pisang, delima, manggis, dan berbagai buah lainnya tumbuh dengan subur hampir di setiap lahan yang telah dibersihkan.

Kebun-kebun itu juga dipenuhi burung-burung dengan bulu yang indah. Banyak di antaranya dipelihara oleh penduduk, meskipun sebagian memiliki suara yang cukup sumbang.

Suasana tersebut menciptakan kehidupan hutan yang hiruk-pikuk—aneh bagi mata seorang pelaut yang baru pertama kali melihatnya, tetapi sekaligus sangat menyenangkan.

Di sana-sini kami dapat melihat monyet melompat dari satu dahan ke dahan lainnya di antara dedaunan yang lebat. Mereka mengayunkan ekornya sambil mengeluarkan jeritan melengking yang dapat mengejutkan penghuni hutan lainnya.

Kami sangat senang menjelajahi hutan-hutan tersebut selama dua hari Minggu yang kami habiskan di daratan Lombok.

Penduduk setempat tidak banyak berkomunikasi dengan kami, kecuali jika memang diperlukan. Namun, mereka bersikap baik dan penuh perhatian.

BUAH, UNGGAS, DAN SEEKOR MONYET

Buah-buahan dan berbagai perbekalan di Ampenan sangat murah.

Kami dapat membeli dua puluh lima ekor unggas berukuran besar hanya dengan harga satu dolar. Kakao dan pisang tersedia hampir kapan saja kami membutuhkannya, sementara buah-buahan lainnya juga mudah diperoleh.

Pada kesempatan itu saya membeli seekor monyet.

Saya menginginkan sesuatu yang dapat menghibur saya ketika kami kembali berlayar dan harus berbulan-bulan berada di laut.

Monyet itu masih liar. Karena itu saya memberinya sebuah rantai agar dapat ditambatkan ketika kami berada di pelabuhan. Saya khawatir ia akan terus melompat ke perahu-perahu kecil yang berlabuh di sekitar kapal kami.

Kami membeli monyet tersebut dengan harga setengah rupee—sekitar dua puluh lima sen.

Burung beo juga dapat dibeli dengan harga murah, mulai dari sepuluh sen hingga setengah dolar. Tentu saja, burung-burung tersebut biasanya baru ditangkap dan belum dapat berbicara.

Namun, burung beo yang telah diajari berbicara dalam bahasa Melayu atau Arab memiliki harga yang jauh lebih tinggi. Burung semacam itu tidak dijual dengan harga kurang dari dua puluh lima atau tiga puluh dolar.

ORANG TIONGHOA DI LOMBOK

Selain penduduk asli p**au-p**au tersebut, yang dalam catatan saya disebut orang Melayu dan sebagian besar beragama Islam, terdapat p**a masyarakat Tionghoa yang memainkan peranan penting dalam perdagangan.

Saya memperhatikan bahwa orang-orang Tionghoa sering melakukan kegiatan perdagangan semacam ini ketika berada jauh dari tanah asal mereka.

Mereka membuka toko-toko kecil yang menyediakan berbagai macam kebutuhan—semacam toko serba ada—dan saya menemukan mereka hampir di mana pun mereka berada, bahkan jauh dari rumah mereka sendiri.

Orang-orang Tionghoa yang saya jumpai tampak cerdas, giat, hemat, dan sangat memperhatikan peluang dalam urusan perdagangan.

Beberapa orang Tionghoa yang tinggal di Lombok bahkan terkenal sangat kaya.

Namun, banyak di antara mereka, setelah berhasil mengumpulkan kekayaan yang cukup, memilih kembali ke tanah asal untuk menetap. Mereka biasanya tidak menikah dengan penduduk asli, tetapi mengambil istri dari daerah asal mereka atau tetap melajang hingga kembali ke negeri sendiri.

Pakaian orang-orang Tionghoa tampaknya hampir sama di berbagai belahan dunia.

Sepatu dengan sol tebal, celana longgar, jaket yang longgar, serta topi bundar kecil—pakaian seperti itu dapat ditemukan dari India hingga Amerika, dari Shanghai hingga Sydney.

PAKAIAN PENDUDUK LOMBOK

Penduduk asli berpakaian dengan cara yang berbeda-beda, bergantung pada kedudukan dan kemampuan ekonomi mereka.

Orang-orang yang lebih kaya mengenakan pakaian dari bahan tenun bergaris dengan corak dan warna yang cerah.

Para lelaki dapat dikenali dari kain panjang yang dikenakan pada tubuh mereka serta sebilah belati pendek yang terselip di pinggang.

Namun, pada masa itu senjata tersebut tampaknya lebih banyak berfungsi sebagai bagian dari pakaian atau hiasan daripada sebagai senjata yang benar-benar digunakan.

Penduduk asli p**au ini, setidaknya menurut pengamatan saya, tampak tidak berbahaya dan tidak agresif.

Di kalangan pekerja, para lelaki biasanya hanya mengenakan kain pinggang dan sorban.

Sementara itu, para perempuan mengenakan pakaian panjang. Tidak jarang mereka memakai kain atau selendang katun berwarna cerah yang dililitkan secara longgar dan anggun di sekeliling tubuh.

PARA PENGUASA DAN PENGARUH BELANDA

Pulau ini diperintah oleh sejumlah penguasa atau raja. Persaingan di antara mereka, menurut apa yang kami dengar, sering menyeret rakyat ke dalam pertengkaran dan perang-perang kecil.

Perselisihan semacam itu juga menjadi kesempatan bagi Belanda di Jawa yang berdekatan untuk tampil sebagai penengah atau arbiter.

Dengan cara tersebut, Belanda secara perlahan memperluas pengaruhnya terhadap para penguasa lokal.

Pada saat kami berada di Lombok, pengaruh Belanda terhadap penguasa-penguasa setempat sudah cukup kuat.

MEMUAT BERAS DARI AMPENAN

Tidak lama setelah tiba, kami mulai memuat beras.

Beras terlebih dahulu dikumpulkan dan diratakan agar siap diangkut. Penduduk setempat membawa karung-karung tersebut menuju perahu-perahu besar. Dari sana, beras diangkat—atau lebih tepatnya dilemparkan—ke atas kapal kami dan kemudian disimpan di dalam palka.

Pekerjaan itu cukup berat.

Membawa karung-karung beras melewati ruang palka yang rendah bukan pekerjaan yang mudah. Setelah berada di dalam, kami harus menyusunnya dengan rapi di bagian depan dan belakang kapal.

Cuacanya sangat panas.

Bagian dalam kapal terasa seperti sebuah oven.

Kami bekerja dari pagi hingga malam, kira-kira dari pukul enam pagi sampai enam sore, dengan istirahat setengah jam untuk sarapan dan satu jam untuk makan malam.

Untungnya, kami memiliki awak kapal yang kuat. Karena itu pekerjaan dapat dilakukan dengan cukup bersemangat.

Dalam waktu kurang dari dua minggu, palka kapal kami telah penuh dengan beras.

Kami pun siap meninggalkan Lombok dan melanjutkan perjalanan menuju Cina.

SEBUAH KAPAL BESAR DATANG KE AMPENAN

Ketika kami sedang berlabuh di Ampenan, tiba-tiba terdengar kabar bahwa sebuah kapal negara yang besar telah memasuki pelabuhan untuk mendapatkan berbagai perbekalan.

Kapten kami memutuskan untuk mengunjunginya.

Saya beruntung menjadi salah satu awak kapal yang ikut naik ke kapal tersebut. Dengan demikian, saya mendapatkan kesempatan untuk melihat kapal besar itu dari dekat.

Sebelumnya, kami pernah berlabuh tidak jauh dari sebuah kapal besar milik pemerintah di Madras. Namun, saya tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menaikinya.

Karena itu, kunjungan di Ampenan menjadi pengalaman pertama bagi saya berdiri di atas geladak salah satu kapal besar tersebut.

Bagi seorang pelaut muda yang sedang berkeliling dunia, Ampenan bukan sekadar tempat persinggahan.

Di tempat inilah saya untuk pertama kalinya melihat kehidupan Lombok dari dekat—rumah-rumah bambu yang berdiri di atas tiang, kebun-kebun tropis yang rimbun, monyet yang bergelantungan di pepohonan, burung-burung berwarna-warni, perdagangan masyarakat Tionghoa, penduduk setempat, serta kesibukan pelabuhan yang dipenuhi beras untuk dikirim ke negeri-negeri yang jauh.

Ampenan menjadi salah satu halaman penting dalam perjalanan saya melihat dunia.

Diceritakan oleh pelaut Amerika, Chas. Nordhoff, dalam bukunya yang terbit pada 1884:

The Merchant Vessel

A Sailor Boy’s Voyage to See the World

LHSS

05/12/2024
17/10/2024

Komunitas Sejarah : Ditengah Sumber Langka dan Kelangkaan Sumber

Oleh: Amaq kangkung

Pada awal perkembangannya, penelitian dan penulisan sejarah boleh dikata tidak bersifat ilmiah. Cara kerja para penulis sejarah masih terbatas pada usaha menemukan sumber sejarah berupa buku-buku kuno ataupun surat-surat resmi dan berbagai laporan. Dokumen-dokumen itu dibaca oleh penelitinya untuk kemudian dikutip bagian-bagian yang sesuai dengan tema sejarah yang akan ditulis. Tidak ada usaha mengkaji sumber-sumber sejarah itu; temanya pun biasanya terbatas mengenai riwayat hidup orang-orang penting, kejayaan dan kejatuhan kerajaan, peperangan dan diplomasi antar-kerajaan. Singkat kata, tema umum penulisan sejarah pada masa-masa itu cenderung pada aspek politik dan militer.

Dengan kata lain, pada sumber langka melekat (inherent) kelangkaan. Juga menjadi jelas bahwa jangkauan peredaran sumber langka bersifat terbatas karena umumnya tidak digandakan secara masif melalui mesin cetak ataupun media transmisi lainnya.Selain itu, biasanya meskipun tidak selalu sumber langka menyangkut kurun masa yang sangat “tua” sehingga terentang jarak waktu yang jauh dengan masa hidup penelitinya. Segera dapat diidentifikasi bahwa yang tergolong sumber langka adalah naskah-naskah kuno atau manuskrip yang ditulis tangan. Banyak ditemukan naskah-naskah itu berasosiasi dengan “masa klasik” kerajaan tempo dulu. Dalam khazanah (ilmu) sejarah, penggolongan sumber langka diperluas dengan memasukkan kronikel, catatan harian, dokumen keluarga, memoar, arsip/dokumen resmi; juga sumber-sumber tidak tertulis seperti customs, folklor, bahkan mishmash sihir dan mitos (lihat Tosh 1987; Marwick dalam Kozicki [ed.] 1998).

Perubahan dalam cara-cara penulisan sejarah terjadi mulai abad ke-17. Suasana budaya yang berciri perkembangan ilmu pengetahuan alam serta sikap intelektual yang kritis muncul di kalangan penulis sejarah. Seorang sarjana Prancis, Jean Mabillon (1632-1707), dipandang sebagai peletak dasar ilmu sejarah yang disebut diplomatika- sesuai judul buku yang ditulisnya, De re diplomatica (1681). Para sejarawan mulai menemukan berbagai cara untuk mengkaji dokumen atau sumber sejarah secara kritis sehingga dapat menghasilkan penulisan sejarah yang mendekati kebenaran. Selain itu, sejarawan Leopold von Ranke (1795-1815), memperkenalkan prinsip seleksi kritis atas data sejarah untuk menetapkan fakta berdasarkan pedoman wie es eigentlich gewesen, sejarah sebagaimana sesungguhnya terjadi (Barnes, 1963).

Tidak diragukan bahwa dalam sumber-sumber langka tersimpan berbagai keterangan masa lampau yang melimpah. Artinya, sumber yang langka tidak identik dengan kelangkaan kandungan informasi yang diperlukan dalam penelitian sejarah. Peneliti awal sejarah Jawa, H.J. de Graaf misalnya, membuktikan bahwa “hanya” dengan mempelajari sumber-sumber tradisional seperti babad (tentu saja ditambah sumber-sumber lain), ia berhasil menampilkan aspek-aspek sejarah Jawa secara rinci. Sebagai orang Belanda, ia berguru kepada filolog Jawa R.M. Ngabehi Poerbatjaraka untuk “menaklukkan” berbagai kesulitan dalam menghadapi sumber-sumber tradisional, terutama dari segi bahasanya. Hasilnya, antara lain sejarah Mataram yang lengkap – dari muncul, berkembang sampai runtuhnya kerajaan itu (lihat De regering van Panembahan Senapati Ingalaga [1954], De regering van Sultan Agung [1958], De regering van Sunan Mangku – Rat I Tegal-Wangi, 2 jilid [1961, 1962], dan karya-karya lainnya).

Studi H.J. de Graaf tersebut dapat digolongkan sebagai tipikal sejarah konvensional yang menentukan pada peristiwa-peristiwa penting tingkat elite, sementara aspek sosial yang lebih luas tidak mendapatkan perhatian sewajarnya. Meskipun demikian, hasil jerih payah de Graaf sepanjang puluhan tahun itu dipandang sebagai landasan yang kokoh bagi studi ilmiah tentang sejarah Jawa dalam masa abad ke-16/18. Menurut sejarawan M.C. Ricklefs, yang pernah menjadi murid de Graaf, arti penting karya-karya gurunya itu terletak pada kepeloporannya untuk menyusun suatu dasar kisah sejarah serta menyediakan rujukan sumber-sumber bagi yang akan mengikuti jejaknya (1989:xvi).

Untuk Arus bawah sejarah lokal maka cukup menggembirakan bahwa di kalangan generasi muda peminat sejarah lokal Lombok Sumbawa timbul minat pada naskah-naskah lama untuk mengembangkan level diskusinya. Seperti Komunitas Lombok Heritage and Science Society , kelompok diskusi SEJARAH PEJANGGIK SAKRE SELEPARANG LOMBOK SUMBAWA SULAWESI, grup medsos Sumbawa Tempo dulu dll. Saya tidak menyebut mereka sebagai ahli. Tapi manusia yg selalu berproses dan belajar. Pendekatan mereka terhadap naskah lama agak berbeda dengan apa yang telah dilakukan peneliti lain sebelumnya. Mereka melihat naskah lama tidak hanya sebagai sumber sejarah tetapi juga sebagai sejarah itu sendiri.

Pendekatan serupa itu tampaknya sudah dirintis oleh filolog Nancy Florida yang menempatkan teks Jawa (abad ke-19) dalam konteksnya sebagai “writing-in-history” dan “history-as-writing”. Hal itu juga yang diinginkan dan ditunjukkan oleh para peminat sejarah lokal dari generasi muda ini ialah bahwa penelitian atas naskah-naskah lama selama ini lebih ditekankan pada makna isi teks tetapi “melupakan” penciptanya.Mereka ingin tau darimana titik episentrum sejarah mereka berasal, lalu menyelami dengan detail sumber sumber luar untuk dijadikan pembanding. Ketika ada titik temu maka disanalah tempat berprosesnya metodologi dan analisa. Bukan sekedar mengklaim kebenaran data sejarah itu cuman dari sumber kolonial semata.

17/10/2024

Dato' Gamuyang: Sahabat Raden Munda

Sebuah kapal Melayu yang dipimpin oleh seorang nakhoda yang bernama kapten Dato' Gomuyang, tiba di Pulau Lombok pada awal tahun 1697. Niatnya adalah
untuk membeli budak di wilayah Selaparang. Dan ternyata, kapten tsbt berhasil memperoleh dua puluh budak untuk perjalanan p**ang, tapi ternyata tidak hanya itu saja, dia juga menemukan kesempatan untuk bisa membantu saudara se-Iman.

Adalah Raden Munda yang malang, terdesak oleh tindakan ekspansi Musuh musuhnya yang berasal dari Bali. Bahkan Raden munda selain tidak memiliki kapal tetapi juga tidak memiliki tujuan yang pasti untuk singgah kemana. Sehingga dia meminta tolong untuk sementara berlayar menggunakan kapal milik Dato' Gomuyang.

Raden Munda bersama istrinya, dua orang
anak anaknya, enam anak saudara perempuannya, sepuluh hamba yang merdeka dan dua puluh hamba yang tidak merdeka.

Orang Melayu itu (dato' gomuyang) membawa penumpang Istimewanya tersebut ke Giri-Gresik di sekitaran Surabaya di Jawa. Titik asal mula Islam menyebar ke daerah Sasak. Sebuah Pesan dikirim oleh compeni ke pedagang Melayu Dato' Gomuyang untuk membawa keluarga raja tersebut lebih jauh dari Gresik menuju ke Jepara, dan hal itu dilakukannya.

Dato Gomuyang tidak memperoleh imbalan apa pun atas bantuan baiknya. Sebaliknya VOC dengan tegas menanyainya, "'Siapa yang memberimu wewenang untuk membeli budak di Selaparang?” Pedagang Melayu itu menjawab dengan politis "Tuan Komandan, awalnya saya punya rencana berbisnis di Kangean. Namun, karena badai yang berat, kepal saya terbawa ke Selaparang, tempat saya membeli budak. Bersama semua saudara dan teman milikku, aku mendapatkan dua puluh orang".

Komandan VOC tersebut tidak
puas dengan jawabannya. Karena tindakannya melampaui peraturan yang diberlakukan Compeni dan dia didenda 150 Real - jumlah yang sangat mahal. Kesengsaraannya dari bisnis
perdagangan budak tidak berhenti sampai disitu saja, karena kapalnya rusak parah di tengah jalan. Ia harus menggantikannya di Semarang.

Sekarang, apa yang harus dilakukan Kompeni terhadap Raden Munda? Mantan raja itu mencoba memperbaiki posisi tawarnya dengan menghadiahkan seorang budak kepada komandan. Namun Belanda tetap memutuskan untuk mengirimnya ke Batavia untuk melanjutkan
penyelidikan.

Raden Munda dengan raut wajah ketakutan memprotes: “Saya tidak bisa berangkat ke Batavia, karena semua temanku dan diriku sendiri sedang sakit. Seluruh tubuhku tidak sehat, dan [tanggung jawab atas] segala hal baik atau buruk yang menimpa saya akan menjadi tanggung jawab saya
komandan".

Setelah itu Raden Munda kemudian menyerahkan empat budaknya yang tersisa sebagai jaminan, agar tidak dikirim ke Batavia, hal itu dilakukannya karena rasa khawatir yang cukup besar”

Kemudian hal lain yang diketahui tentang Raden Munda. Dia tetap menjalani hidup dengan kesederhanannya. Tinggal di Jawa hingga musim panas tahun 1697, tanpa ada yang mampu berkomunikasi dengan putra sulungnya, yang ditinggalkan di antara orang orang Bali di Selaparang. Dia pernah ditanya oleh pegawai Kompeni, bila ada kesempatan dia tampak memiliki kecenderungan untuk kembali ke Selaparang. Namun, Kami tidak tahu apakah itu benar benar dilakukannya..

Catatan :
Raden Munda adalah raja terakhir Selaparang sebelum Bali melakukan
penaklukan. Dialog ini terdapat dalam bundel VOC 1599 dalam Algemeen
Rijksarchief di Den Haag, yang memuat surat dan laporan dari Pos Belanda di kota perdagangan timur laut Jawa, ditulis pada tahun 1697.

Dialog Mozaik Indonesia "Potensi Wisata Berbasis Heritage Terhadap Ekonomi Masyarakat,".
04/09/2024

Dialog Mozaik Indonesia "Potensi Wisata Berbasis Heritage Terhadap Ekonomi Masyarakat,".

Narasumber : - Zulhakim, S.E., M.I.Kom. (Founder Lombok Heritage and Science Society)- I Gede Widya Suputra (Dosen STP Mataram dan Praktisi Perhotelan)Presen...

Address

Jalan Batu Bolong Pagutan
Mataram
83117

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Lombok Heritage and Science Society posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share