18/08/2026
FROM BOSTON TO AMPENAN
A Sailor Boy’s Voyage to See the World
Oleh: Ali Lombok Ali Lombok
Catatan perjalanan seorang pelaut Amerika, Chas. Nordhoff, tentang Lombok dan Pelabuhan Ampenan
Kami melewati Selat Torres dengan aman. Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh lima hari dari Sydney, akhirnya kami tiba di Lombok—atau lebih tepatnya di Pelabuhan Ampanam (Ampenan), di pantai barat p**au itu.
Lombok adalah sebuah p**au yang relatif kecil, tetapi sangat subur, di Kep**auan Melayu. Pulau ini terletak di antara Bali—yang dalam catatan kami disebut Bally—dan Sumbawa, masing-masing dipisahkan oleh selat yang sempit. Di sebelah barat Bali terbentang Pulau Jawa.
Lombok memiliki penduduk yang cukup padat. Tanahnya dikerjakan dengan baik dan menghasilkan beras dalam jumlah besar, yang menjadi salah satu hasil utama pertanian p**au tersebut. Konon, tidak kurang dari dua puluh hingga dua puluh lima ribu ton beras diekspor setiap tahun ke berbagai wilayah Hindia, bahkan sebagian di antaranya dikirim ke Cina.
Pulau ini dilintasi oleh jajaran pegunungan. Di bagian utara berdiri sebuah gunung berapi aktif dengan puncak yang dapat terlihat dari kejauhan, bahkan dari bermil-mil di laut.
Itulah gunung berapi aktif pertama yang pernah saya lihat.
Dengan rasa ingin tahu yang besar, saya terus memperhatikan asap tipis yang tampak terus-menerus melingkar di atas puncaknya. Saya bahkan membayangkan, dengan sedikit rasa cemas, bagaimana jika gunung itu tiba-tiba meletus ketika kami berada di sana. Letusan semacam itu tentu dapat membawa kehancuran besar bagi banyak keluarga yang tinggal di sekitarnya.
AMPENAN
Pelabuhan Ampanam—atau Ampenan—memang kecil, tetapi memiliki tempat berlabuh yang baik.
Karena ini adalah tempat Melayu pertama yang pernah saya kunjungi, hampir segala sesuatu di sana menarik perhatian saya.
Penduduk tinggal di rumah-rumah panjang yang sebagian besar dibuat dari bambu. Rumah-rumah tersebut berdiri di atas tiang-tiang tinggi, sekitar sepuluh hingga lima belas kaki dari permukaan tanah.
Beberapa keluarga biasanya tinggal dalam satu rumah. Di bawah rumah, di antara tiang-tiang penyangga, terdapat ayam dan babi peliharaan mereka. Saya bahkan berpikir bahwa hewan-hewan itu mungkin sekaligus berfungsi sebagai pembersih sisa makanan atau sampah yang jatuh dari atas rumah.
Untuk memasuki rumah, mereka menggunakan tangga.
Rumah-rumah tersebut berdiri di tengah perkebunan kakao dan pepohonan palem yang memberikan keteduhan yang indah. Pisang, delima, manggis, dan berbagai buah lainnya tumbuh dengan subur hampir di setiap lahan yang telah dibersihkan.
Kebun-kebun itu juga dipenuhi burung-burung dengan bulu yang indah. Banyak di antaranya dipelihara oleh penduduk, meskipun sebagian memiliki suara yang cukup sumbang.
Suasana tersebut menciptakan kehidupan hutan yang hiruk-pikuk—aneh bagi mata seorang pelaut yang baru pertama kali melihatnya, tetapi sekaligus sangat menyenangkan.
Di sana-sini kami dapat melihat monyet melompat dari satu dahan ke dahan lainnya di antara dedaunan yang lebat. Mereka mengayunkan ekornya sambil mengeluarkan jeritan melengking yang dapat mengejutkan penghuni hutan lainnya.
Kami sangat senang menjelajahi hutan-hutan tersebut selama dua hari Minggu yang kami habiskan di daratan Lombok.
Penduduk setempat tidak banyak berkomunikasi dengan kami, kecuali jika memang diperlukan. Namun, mereka bersikap baik dan penuh perhatian.
BUAH, UNGGAS, DAN SEEKOR MONYET
Buah-buahan dan berbagai perbekalan di Ampenan sangat murah.
Kami dapat membeli dua puluh lima ekor unggas berukuran besar hanya dengan harga satu dolar. Kakao dan pisang tersedia hampir kapan saja kami membutuhkannya, sementara buah-buahan lainnya juga mudah diperoleh.
Pada kesempatan itu saya membeli seekor monyet.
Saya menginginkan sesuatu yang dapat menghibur saya ketika kami kembali berlayar dan harus berbulan-bulan berada di laut.
Monyet itu masih liar. Karena itu saya memberinya sebuah rantai agar dapat ditambatkan ketika kami berada di pelabuhan. Saya khawatir ia akan terus melompat ke perahu-perahu kecil yang berlabuh di sekitar kapal kami.
Kami membeli monyet tersebut dengan harga setengah rupee—sekitar dua puluh lima sen.
Burung beo juga dapat dibeli dengan harga murah, mulai dari sepuluh sen hingga setengah dolar. Tentu saja, burung-burung tersebut biasanya baru ditangkap dan belum dapat berbicara.
Namun, burung beo yang telah diajari berbicara dalam bahasa Melayu atau Arab memiliki harga yang jauh lebih tinggi. Burung semacam itu tidak dijual dengan harga kurang dari dua puluh lima atau tiga puluh dolar.
ORANG TIONGHOA DI LOMBOK
Selain penduduk asli p**au-p**au tersebut, yang dalam catatan saya disebut orang Melayu dan sebagian besar beragama Islam, terdapat p**a masyarakat Tionghoa yang memainkan peranan penting dalam perdagangan.
Saya memperhatikan bahwa orang-orang Tionghoa sering melakukan kegiatan perdagangan semacam ini ketika berada jauh dari tanah asal mereka.
Mereka membuka toko-toko kecil yang menyediakan berbagai macam kebutuhan—semacam toko serba ada—dan saya menemukan mereka hampir di mana pun mereka berada, bahkan jauh dari rumah mereka sendiri.
Orang-orang Tionghoa yang saya jumpai tampak cerdas, giat, hemat, dan sangat memperhatikan peluang dalam urusan perdagangan.
Beberapa orang Tionghoa yang tinggal di Lombok bahkan terkenal sangat kaya.
Namun, banyak di antara mereka, setelah berhasil mengumpulkan kekayaan yang cukup, memilih kembali ke tanah asal untuk menetap. Mereka biasanya tidak menikah dengan penduduk asli, tetapi mengambil istri dari daerah asal mereka atau tetap melajang hingga kembali ke negeri sendiri.
Pakaian orang-orang Tionghoa tampaknya hampir sama di berbagai belahan dunia.
Sepatu dengan sol tebal, celana longgar, jaket yang longgar, serta topi bundar kecil—pakaian seperti itu dapat ditemukan dari India hingga Amerika, dari Shanghai hingga Sydney.
PAKAIAN PENDUDUK LOMBOK
Penduduk asli berpakaian dengan cara yang berbeda-beda, bergantung pada kedudukan dan kemampuan ekonomi mereka.
Orang-orang yang lebih kaya mengenakan pakaian dari bahan tenun bergaris dengan corak dan warna yang cerah.
Para lelaki dapat dikenali dari kain panjang yang dikenakan pada tubuh mereka serta sebilah belati pendek yang terselip di pinggang.
Namun, pada masa itu senjata tersebut tampaknya lebih banyak berfungsi sebagai bagian dari pakaian atau hiasan daripada sebagai senjata yang benar-benar digunakan.
Penduduk asli p**au ini, setidaknya menurut pengamatan saya, tampak tidak berbahaya dan tidak agresif.
Di kalangan pekerja, para lelaki biasanya hanya mengenakan kain pinggang dan sorban.
Sementara itu, para perempuan mengenakan pakaian panjang. Tidak jarang mereka memakai kain atau selendang katun berwarna cerah yang dililitkan secara longgar dan anggun di sekeliling tubuh.
PARA PENGUASA DAN PENGARUH BELANDA
Pulau ini diperintah oleh sejumlah penguasa atau raja. Persaingan di antara mereka, menurut apa yang kami dengar, sering menyeret rakyat ke dalam pertengkaran dan perang-perang kecil.
Perselisihan semacam itu juga menjadi kesempatan bagi Belanda di Jawa yang berdekatan untuk tampil sebagai penengah atau arbiter.
Dengan cara tersebut, Belanda secara perlahan memperluas pengaruhnya terhadap para penguasa lokal.
Pada saat kami berada di Lombok, pengaruh Belanda terhadap penguasa-penguasa setempat sudah cukup kuat.
MEMUAT BERAS DARI AMPENAN
Tidak lama setelah tiba, kami mulai memuat beras.
Beras terlebih dahulu dikumpulkan dan diratakan agar siap diangkut. Penduduk setempat membawa karung-karung tersebut menuju perahu-perahu besar. Dari sana, beras diangkat—atau lebih tepatnya dilemparkan—ke atas kapal kami dan kemudian disimpan di dalam palka.
Pekerjaan itu cukup berat.
Membawa karung-karung beras melewati ruang palka yang rendah bukan pekerjaan yang mudah. Setelah berada di dalam, kami harus menyusunnya dengan rapi di bagian depan dan belakang kapal.
Cuacanya sangat panas.
Bagian dalam kapal terasa seperti sebuah oven.
Kami bekerja dari pagi hingga malam, kira-kira dari pukul enam pagi sampai enam sore, dengan istirahat setengah jam untuk sarapan dan satu jam untuk makan malam.
Untungnya, kami memiliki awak kapal yang kuat. Karena itu pekerjaan dapat dilakukan dengan cukup bersemangat.
Dalam waktu kurang dari dua minggu, palka kapal kami telah penuh dengan beras.
Kami pun siap meninggalkan Lombok dan melanjutkan perjalanan menuju Cina.
SEBUAH KAPAL BESAR DATANG KE AMPENAN
Ketika kami sedang berlabuh di Ampenan, tiba-tiba terdengar kabar bahwa sebuah kapal negara yang besar telah memasuki pelabuhan untuk mendapatkan berbagai perbekalan.
Kapten kami memutuskan untuk mengunjunginya.
Saya beruntung menjadi salah satu awak kapal yang ikut naik ke kapal tersebut. Dengan demikian, saya mendapatkan kesempatan untuk melihat kapal besar itu dari dekat.
Sebelumnya, kami pernah berlabuh tidak jauh dari sebuah kapal besar milik pemerintah di Madras. Namun, saya tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menaikinya.
Karena itu, kunjungan di Ampenan menjadi pengalaman pertama bagi saya berdiri di atas geladak salah satu kapal besar tersebut.
Bagi seorang pelaut muda yang sedang berkeliling dunia, Ampenan bukan sekadar tempat persinggahan.
Di tempat inilah saya untuk pertama kalinya melihat kehidupan Lombok dari dekat—rumah-rumah bambu yang berdiri di atas tiang, kebun-kebun tropis yang rimbun, monyet yang bergelantungan di pepohonan, burung-burung berwarna-warni, perdagangan masyarakat Tionghoa, penduduk setempat, serta kesibukan pelabuhan yang dipenuhi beras untuk dikirim ke negeri-negeri yang jauh.
Ampenan menjadi salah satu halaman penting dalam perjalanan saya melihat dunia.
Diceritakan oleh pelaut Amerika, Chas. Nordhoff, dalam bukunya yang terbit pada 1884:
The Merchant Vessel
A Sailor Boy’s Voyage to See the World
LHSS