Desa Tijayan

Desa Tijayan sebagai sarana sharing tentang Desa Tijayan dan cari solusi bersama Dalam teori pembangunan dikenal istilah pembangunan partisipatif.

Membangun desa tidak bisa dilakukan oleh suatu kelompok atau satu pihak saja (aparat desa, misalnya), melainkan semua elemen masyarakat harus bersinergi dan menyatukan visi-misi. Jadi, antara elemen masyarakat desa memiliki tugas dan tanggung jawab bersama. Orang bijak mengatakan, sendirian tidak banyak hal yang bisa dikerjakan; sementara bersama-sama akan ada banyak yang yang bisa dikerjakan dan

dicapai. Bertolak dari beberapa persoalan di atas dapat ditarik sebuah solusi sebagai berikut. Pertama, meningkatkan kualitas SDM. Harus diakui bahwa kualitas SDM yang baik dapat membawa kemajuan luar biasa. Dengan kata lain, kualitas SDM yang mumpuni dapat menciptakan sebuah gebrakan melalui perencanaan program pemberdayaan, sehingga anggaran desa atau dana desa digunakan untuk sesuatu yang produktif, tidak konsumtif. Dan, pada puncaknya untuk kesejahteraan masyarakat yang dapat dirasakan secara riil, bukan sekedar mengajak bermimpi, melainkan turut bertanggung jawab merealisasikannya. Kedua, mengakhiri konflik horisontal. Konflik berkepanjangan harus segara diputus rantainya. Konflik-konflik yang berkembang berdasarkan ideologi, politik, ekonomi, posisi presiden, dan jatah menteri harus disudahi (Burhani, 2016). Masyarakat desa harus membuat barisan, dan bersatu dan memantapkan sekaligus menjalankan satu visi dan misi, yakni bersama-sama memajukan desa. Ketiga, hijrah untuk kembali. Mentalitas pemuda desa saat ini (masih) menganggap bahwa desa tidak cocok untuk mengembangkan kariernya. Sehingga kebanyakan pemuda desa merantai ke kota dan tak jarang yang pulang ke desa hanya pada momentum Lebaran saja. Akibatnya, desa defisit pemuda andal. Akhirnya desa dipegang oleh mereka yang sudah tua dan tidak begitu kompeten mengelola desa karena mereka hanya modal 'uang'. Dalam tataran inilah, pemuda harus sadar bahwa desa membutuhkan kader muda yang kompeten dan memiliki integritas tinggi tentunya. Jadi, mindset yang harus dibangun pemuda saat ini adalah hijrah ke kota (guna menempuh ilmu, misalnya) untuk kembali (lagi) ke desa. Atau, meminjam istilah Mohammad Nasih, bahwa transmigrasi bukan perpindahan masyarakat desa ke kota, melainkan dari desa ke desa. Terakhir, meningkatkan etos kerja. Masyarakat Indonesia pada umumnya (masih) terjangkit penyakit, dalam istilah Nurcholish Madjid, "mentalitas pedalaman". Yakni, sebuah mentalitas yang mencerminkan sika tertutup, membatasi informasi, malas, dan tidak kreatif serta inovatif. Dalam bahasa kasarnya, rela menjadi kuli hingga akhir nanti, tanpa ada usaha keras dan terarah membebaskan dari mental yang demikian ini. Untuk itu, seperti diusulkan M Alfan Alfian (2016), masyarakat Indonesia terutama di desa harus mewarisi mental pesisiran, yang mencerminkan keterbukaan, produktif, dan memiliki etos kerja luar biasa, juga inovatif dan kreatif. Dalam bingkai itu, memaksimalkan kader lokal potensial untuk menjadi lokomotif pembangunan desa, dukungan dari seluruh ormas agama tanpa memandang golongan, dan didukung oleh seluruh masyarakat dalam membangun etos desa berkemajuan merupakan modal besar dalam upaya memajukan desa-desa. Sehingga, pembangunan tidak tersentral di kota-kota besar saja. Muhammad Najib Dosen STEBAN Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara Jakarta, Peneliti di Rumah Kader Monash Institute Semarang

Address

Jalan Jomboran, Tijayan
Manisrenggo
57485

Opening Hours

Monday 08:00 - 13:00
Tuesday 08:00 - 13:00
Wednesday 08:00 - 13:00
Thursday 08:00 - 13:00
Friday 08:00 - 11:30

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Desa Tijayan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Desa Tijayan:

Share