22/10/2025
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU). Para pendirinya adalah santri NU, beberapa di antaranya bergelar Kiai, seperti KH. Chalid Mawardi dan KH. Nuril Huda Suaidi. Oleh karena itu, PMII tidak terlepas dari nilai-nilai kesantrian secara umum, apalagi secara kultural PMII merupakan bagian integral dari NU.
Hubungan erat PMII dan santri dapat dipahami melalui perluasan makna santri oleh tokoh-tokoh NU. Menurut K. H. Maβruf Amin, santri tidak hanya merujuk pada mereka yang tinggal dan mengaji kitab kuning di pesantren, namun juga mencakup orang-orang yang ikut dan patuh pada kiai. Sementara itu, K.H. Said Aqil Siradj menegaskan bahwa santri adalah umat yang menerima ajaran Islam dari para kiai, melakukan dakwah dengan menghormati budaya dan berakhlakul karimah. Seperti yang dilakukan oleh Walisongo, kecuali budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Dari interpretasi tersebut, terdapat dua kategori santri yakni:
1. Santri yang menetap dan belajar Islam di pesantren.
2. Santri yang belajar dan berdakwah Islam dari para kiai, meskipun tidak tinggal di pesantren.
PMII jelas termasuk dalam kategori santri yang kedua. Keterkaitan ini dimulai dari sejarah pendiriannya oleh ulama NU yang kuat kesantriannya. Nilai-nilai dan semangat dakwah Islam yang dipegang PMII merupakan pengejawantahan dari ajaran para kiai di pondok pesantren. Bahkan, metode kaderisasi yang diterapkan dalam PMII selaras dengan tradisi pesantren, dan rutinitas seperti tahlil, yasinan, serta ziarah, cukup menunjukkan bahwa kader dan anggota PMII adalah bagian dari kaum santri.
Kader PMII sebagai Santri Pergerakan, memiliki tanggung jawab menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan menjaga nilai kebangsaan. Gelar mujtahid yang disematkan dalam konteks Pelatihan Kader Dasar (PKD) tidak merujuk pada ahli hukum Islam secara umum, melainkan pada kader yang diharapkan tidak hanya menerima instruksi, tetapi juga mampu berpikir kritis, berinovasi, dan menghasilkan gagasan-gagasan baru sebagai wujud nyata dalam menjaga NKRI.
Menjaga NKRI adalah menjalankan roda kaderisasi, menebarkan nilai-nilai Ahlussunah Wal Jama'ah serta menjalankan nilai-nilai progresif keislaman yang memihak kepada kaum Mustadh'afin.
"Barangsiapa yang mau mengurus NU, saya anggap ia santriku. Siapa yang jadi santriku, saya doakan husnul khatimah beserta anak cucunya"
- KH. Hasyim Asy'ari
Selamat Hari Santri Nasional 2025ππ