Nama Mercy Tiger sebenarnya hanya dikenal di Indonesia, karena mobil ini merupakan jenis mobil sedan produksi Mercedes Benz yang diproduksi pertama kali pada tahun 1970 dengan seri resminya W 123. Namun bagi masyarakat konsumen mobil sedan pada masa itu, perkenalan dengan Mercedes Benz seri W 123 baru terjadi pada tahun 1976. Di Amerikapun pada tahun 1977 mobil sedan yang juga mempunyai julukan Me
rcy Mini karena bodi mobilnya yang ramping ini, menjadi favorit hingga harus dipesan terlebih dahulu selama dua belas bulan untuk mendapatkannya. Hal itu berkaitan dengan larangan import mobil secara utuh kala itu oleh pemerintahan masa orde baru. Sehingga perusahaan yang bermarkas di Stuttgart Jerman ini akhirnya bermitra dengan perusahaan Indonesia membuka pabrik perakitannya di Tanjung Priok pada tahun 1970. Dan mobil sedan Mercedes Benz W 123 tipe 280 atau Mercy Tiger ini juga termasuk mobil yang pertama dirakit di pabrik Tanjung Priok Jakarta. Sejarah lahirnya julukan atau nama Mercy Tiger sendiri sebenarnya cukup unik dan hanya terjadi di Indonesia. Karena pada awalnya mobil Mercedes Benz W 123 ini merupakan kendaraan warga negara asing yang berada di Jakarta atau pejabat negara pada masa itu, dan karena masuk dalam kategori mobil menengah atas dengan tampilan yang mentereng dan berkesan mewah di jamannya, maka masyarakat menyebutnya dengan mobil macan, singkatan dari manis cantik. Dengan sebutan yang sering terlontar dari masyarakat yang melihat mobil tersebut saat melintas di jalanan, maka oleh para pedagang mobil akhirnya nama macan dialih bahasakan menjadi tiger supaya lebih terdengar pantas untuk Mercedes Benz W 123 tersebut. Jadilah Mercy Tiger menjadi nama yang populer dikenal masyarakat penggemar mobil sedan buatan Jerman tersebut hingga saat ini. Tapi sebenarnya mobil kebanggaan bangsa Jerman ini, seri pendahulunya sudah masuk ke Indonesia jauh sebelum banyak orang menggunakan kuda besi tersebut sebagai alat transportasinya pada abad 19. Karena hanya berselang sekitar delapan bulan sejak mobil ditemukan oleh Gottlieb Daimler dan Karl Benz pada tahun 1886, Raja Kraton Kasunanan Surakarta, Paku Buwono ke-X sudah memesan mobil buatan Jerman tersebut untuk kendaraan beliau. Dan kemudian pada tahun 1907 seorang kerabat Kraton lainya yaitu Kanjeng Raden Sosrodiningrat juga membeli mobil Daimler dengan kekayaan pribadinya untuk menyaingi para petinggi pemerintahan penguasa Belanda. Semua itu dilakukan oleh Paku Buwono X dan kerabatnya untuk menunjukkan kedudukan yang lebih tinggi dari Gubernur Jenderal pemimpin tertinggi pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang berkuasa saat itu. Karena pada masa itu tidak ada yang berani menunjukan kedudukan yang lebih tinggi atau menyaingi sang Gubernur Jenderal. Karena pada masa tersebut sang Gubernur Jenderal masih menggunakan kereta yang ditarik dengan kuda dan mobil yang harga dan kualitasnya masih dibawah kendaraan buatan Jerman tersebut. Jadi bentuk perlawanan dengan menggunakan simbol status memiliki mobil “mewah” buatan Jerman tersebut menjadi salah satu pilihan Raja Kraton Kasunanan Surakarta untuk memposisikan beliau lebih berkuasa pada masa itu.