Tanahindie

Tanahindie Halaman maya Tanahindie. Sekolah yang cocok untuk Anda. Serius! Ikut menyokong situs jurnalisme warga http://mks0km.id (2012-sekarang)

Tanahindie merupakan ruang mandiri berdiri sejak 1999 yang mengutamakan programnya pada kajian & diskusi, pameran, perisalahan, dan penerbitan bertopik beragam ekspresi dan perkembangan masyarakat kota mutakhir. Salah satu kegiatan tetap Tanahindie adalah gerobak bioskop Dewi Bulan, program dengan konsep layar tancap setiap bulan. Agenda kerja kolaborasi Tanahindie dan ruangrupa (Jakarta) ini dige

lar sejak April 2011 hingga sekarang. Beberapa pameran dan kerja kolaborasi berkaitan seni dan wacana kebudayaan dilaksanakan seperti True Color (pameran lukisan perca & drawing, 2007), Bom Benang (2012, 2013), Panggung dalam Bingkai (pameran fotografi, 2014), dan Lembaran Halaman yang Hilang (pameran fotografi, 2014)

Penelitian meliputi Makassar Nol Kilometer (Ininnawa, 2005), Pasar Terong Makassar: Dunia dalam Kota (Ininnawa, 2012), dan Chambers: Makassar Urban Culture Identity (Chambers Celebes, 2013).

24/07/2026
Kami ketemu lagi Ibu Eni dkk setelah 10 tahun, usai Bom Benang 2016: Benang Kandung. Ketika itu, Jl. Barukang III adalah...
24/06/2026

Kami ketemu lagi Ibu Eni dkk setelah 10 tahun, usai Bom Benang 2016: Benang Kandung. Ketika itu, Jl. Barukang III adalah satu dari lima lokasi penyelenggaraan.

Kali ini, kami jumpa lagi untuk penelitian untuk rancangan pameran bekerja sama dengan MoFCREC, Monash University.

Tantangan pasti ada. Jadwal misalnya. Kami lalu pelajari jadwal warga Barukang. Tapi hujan Januari sering mengurung sampai lambat ke lapangan, lalu Ramadan datang yang ubah banyak hal sampai lebaran.

Belakangan kami tahu Barukang saat Ramadan justru jauh lebih sibuk. Misalnya warga jualan kue atau aktivitas di TPI Paotere makin padat.

Kesibukan Ibu Eni yang padat, utamanya ketika ia baru pulang dari pendampingan. Kami tahu dia butuh istrahat. Jadi kami hanya datang bergaul. Pertanyaan-pertanyaan kami simpan saja.

Temuan-temuan Februari kami lanjutkan usai Lebaran. Makin sering ke lapangan. April-Mei, kami mulai mengolah data tulisan dan gambar.

Usai perenungan pendek, konsep dan tema pameran akhirnya muncul. “Surat-surat Cinta di Jemuran”, tema yan muncul lantaran saat ke lapangan, pemandangan ini yang paling banyak terhidang. Kami mengimajinasikan, bagaimana kalau jemuran itu berganti menjadi surat yang berisi suara warga Barukang.

Kami sangat bahagia dan berterima kasih kepada teman-teman yang datang membaca surat-surat itu.

Terima kasih MoFCREC atas kepercayaannya,kwnfatimahazzahra yang meluangkan waktu menjawab banyak pertanyaan dan buka banyak pintu, Todd Dias yang meluangkan waktu untuk hadir, teman-teman media yang membantu menyebarluaskan info, teman-teman komunitas yang datang maupun yang mendukung dari jauh.

Sampai bertemu!👋🏻

Dewi Bulan turun ke bumi lagi!Kali ini, layar tancap Dewi Bulan mengantar film “Kuallea Tallanga Natowalia”, dokumenter ...
11/05/2026

Dewi Bulan turun ke bumi lagi!

Kali ini, layar tancap Dewi Bulan mengantar film “Kuallea Tallanga Natowalia”, dokumenter kolaborasi Louie Buana dan Agit Primaswara, pada Rabu
13 Mei 2026, pukul 19:00 Wita, di Galeri Tanahindie (lantai 1 Kampung Buku).

Kita akan ditemani Louie akan menemani pemutaran film yang menceritakan fenomena diaspora masyarakat Sulawesi Selatan dan Barat (Bugis, Makassar, Mandar, dan Bajau) di Kepulauan Nusantara.

Jika kajian selama ini didominasi oleh aspek sosial dan ekonomi, “Kuallea Tallanga Natowalia” yang merupakan hasil kolaborasi peneliti Louie Buana (Institute for History Leiden University & KITLV) dan Agit Primaswara ini hadir untuk menyoroti dimensi kesenian yang sering terabaikan.

Mengambil lokasi di Klungkung dan Serangan (Bali), Yogyakarta, serta Yirrkala (Australia), film ini membedah bagaimana identitas diaspora dinarasikan melalui kebudayaan lokal setempat. Alih-alih hanya berkutat pada data sosial-politik, film ini melacak jejak budaya yang tertinggal dalam ingatan bangsa lain. Melalui bahan pewarna lukisan Kamasan di Bali, gubahan wajah wayang kulit di Yogyakarta, hingga ritme tarian Suku Yolngu di Yirrkala, kita diajak melihat bagaimana sosok “Sang Perantau” dinarasikan oleh mereka yang menyambutnya. Inilah sebuah upaya melihat ulang identitas diaspora melalui lensa kesenian di tiga titik “dapur baru” tempat mereka mencari penghidupan.

Garis Wallacea: sebuah puisiJennifer MackenzieFarid Maruf Ibrahim -  (penerjemah)Cetakan 1, April 2026
xiv + 74 halaman ...
29/04/2026

Garis Wallacea: sebuah puisi
Jennifer Mackenzie
Farid Maruf Ibrahim - (penerjemah)
Cetakan 1, April 2026
xiv + 74 halaman / 14 x 21 cm
Tanahindie Press
Harga IDR 50,000

Sembari menelaah tragedi kolonialisme, eksplorasi serta penemuan yang seringkali penuh gejolak, “Garis Wallacea: Sebuah Puisi” menghormati koeksistensi, dunia perbatasan yang menyatu, di mana gambus dapat beresonansi dengan burung cendrawasih, pigmen biru dalam lukisan Titian dengan suara gamelan Jawa di bawah sinar rembulan. Dengan merayakan garis sebagai artefak, puisi-puisi ini menyerukan pentingnya keindahan dan belas kasih di dunia yang terbelah.

foto sampul: Aziziah Diah Aprilya
olah sampul: Fauzan Al-Ayyuby & TanahindieSign

Silakan kontak untuk pemesanan. Bukunya tersedia mulai awal Mei 2026.

Address

Jalan Abdullah Daeng Sirua 192 E, Panakkukang
Makassar
90231

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Tanahindie posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Tanahindie:

Shortcuts

Share