07/05/2026
Melanjutkan lokakarya sebelumnya bersama KKMD dan berbagai pihak, workshop kali ini difokuskan pada pemetaan peluang restorasi dan rehabilitasi mangrove di kawasan pesisir yang terdegradasi di Takalar, Maros, dan Pangkep. Pertemuan ini juga menjadi ruang bersama bagi para peserta untuk mendiskusikan berbagai tantangan tata guna lahan di wilayah pesisir, mulai dari perubahan fungsi lahan, konflik pemanfaatan ruang, hingga pentingnya sinkronisasi kebijakan antarwilayah dan antarlevel pemerintahan.
Dalam workshop ini, peserta juga melakukan praktik langsung memetakan area-area yang memiliki potensi rehabilitasi mangrove berdasarkan tipologi kawasan, kondisi ekologis, serta peluang penggunaan lahannya dengan tools sederhana Google Earth. Proses ini membantu peserta memahami bahwa setiap lokasi memiliki karakteristik dan pendekatan rehabilitasi yang berbeda, sehingga perencanaan perlu dilakukan secara lebih kontekstual dan berbasis kondisi lapangan.
Selain itu, workshop ini bertujuan memperkuat kapasitas peserta dalam analisis spasial, memahami aspek tenurial dan tata kelola, serta melihat potensi blue carbon sebagai bagian dari Nilai Ekonomi Mangrove. Dari berbagai diskusi yang berkembang, muncul pemahaman bersama bahwa nilai mangrove tidak hanya terletak pada karbon, tetapi juga pada manfaat ekologis, sosial, dan ekonomi yang secara langsung dirasakan masyarakat pesisir. Karbon dipandang sebagai nilai tambah dari pengelolaan mangrove yang baik, sementara fokus utamanya tetap pada upaya menghadirkan manfaat yang nyata, adil, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Ke depan, proses ini akan dilanjutkan melalui opportunity mapping, penyusunan rencana tata guna lahan desa selama delapan bulan ke depan, pemetaan tenurial, hingga sinkronisasi dengan Peta Mangrove Nasional dan RTRW kabupaten maupun provinsi. Harapannya, proses ini dapat mendorong lahirnya model tata kelola pesisir yang lebih partisipatif dan menjadi acuan dalam rehabilitasi mangrove berkelanjutan di Sulawesi Selatan.