27/07/2026
Di sebuah sudut ruang yang sunyi, hidup seorang ayah yang hanya memiliki putri kecilnya sebagai satu-satunya alasan untuk bertahan hidup. Suatu hari, sebuah kalimat lirih terlontar dari bibir pucat sang anak. Kalimat yang sederhana, namun menyayat hati sang ayah lebih tajam dari sebilah belati:
"Yah, aku lapar..."
Sambil menelan kepedihan yang mencekik dada, sang ayah mengusap lembut kepala putrinya. Ia memaksakan sebuah senyum getir dan berbisik, "Tunggu sebentar ya, Nak. Ayah keluar cari uang dulu."
Namun, realitas di luar pintu rumah sangatlah kejam. Tak ada satu pun pekerjaan yang menyambutnya hari itu, dan tak ada sepeser upah pun yang bisa diraih. Di tengah keputusasaan yang memuncak, bayangan wajah putrinya yang menahan lapar mengalahkan akal sehatnya. Cinta seorang ayah memaksanya menabrak batas moral—ia melakukan hal yang bahkan tak pernah ia benarkan di dalam nuraninya: mencuri seekor ayam. Bukan untuk memperkaya diri, melainkan sekadar penyambung napas darah dagingnya.
Beberapa jam kemudian, ia "pulang". Ada begitu banyak rezeki dan makanan yang akhirnya tiba di rumah itu. Namun, bukan senyum bahagia yang menyambut, melainkan jerit tangis histeris sang putri yang memecah keheningan. Sang ayah memang tidak ingkar janji, ia membawa pulang makanan untuk putrinya. Sayangnya, seporsi pengganjal perut itu harus dibayar dengan harga yang tak terbayangkan mahalnya—nyawanya sendiri. Ia pulang tanpa nyawa, meninggalkan putrinya sendirian menatap dunia yang dingin.
Mungkin jika lapangan pekerjaan yang dijanjikan pemerintah itu benar-benar terealisasi tidak ada yang namanya maling ayam.
Siapa yang paling bertanggung jawab dalam hal ini?