26/12/2023
Thoreqoh itu metode yang di buat oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa Salam, menempuh jalan menuju Allah dengan cepat dan sistematis, di awal thoreqoh itu hanya di ajarkan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa Salam, lewat jalan Syaidina Ali dan Syaidina Abu Bakar As Syidiq, lalu turun ke bawah lewat jalur dua orang itu, ketika ke bawah dan di tahun tahun dan di wilayah yang berbeda maka berkembang pengajaran sesuai kebutuhan masa dan kondisi perjuangan, maka berkembang p**a sebuah metode pengajaran yang menyesuaikan kepada kejadian di daerah thoreqoh itu berkembang.
Dasarnya sama, akarnya amaliyahnya sama, sebagaimana orang yang bekerja di lain lain pekerjaan, kerja di laut, dan kerja di sawah atau kebun, sama akarnya yaitu menggunakan otot, kalau di laut otot untuk menebarkan jaring, kalau di sawah otot untuk mengayunkan cangkul. cangkul dan jaring berbeda, di laut untuk memperoleh ikan, di sawah untuk memanen padi, ikan di makan sama beras di satu piring, masuk ke dalam perut, ikan dari laut, beras dari sawah, bertemu dalam satu piring.
Itulah berbagai macam cara untuk menempuh jalan thoreqoh, intinya sama untuk mendapatkan ridho Allah, yang melenceng itu sesuatu apabila amaliyah yang di lakukan bukan untuk mencari ridho Allah, bukan Allah tujuannya, sebab thoreqoh itu kan jalan menuju Allah, kok tdk menuju Allah namanya sesat.
Ketika jalan berbeda, dan pentuk amaliyah berbeda, kerja di laut di namakan pelaut, kerja di sawah di namakan petani, thoreqoh kemudian juga nama namanya berbeda beda, nama berbeda tentu amaliyahnya berbeda.
Seperti Thoreqoh Qodiriyah yang mengajarkan Syaikh Abdul Qodir Jailani, dan tentu dengan cara Syaikh Abdul Qodir Jailani yang mengajarkan caranya, dan kalau orng menjalankan Thoreqoh Qodiriyah maka harus menjalankan sesuai pengajaran Syaikh Abdul Qodir Jailani, yaitu dengan adanya ngedan. dan juga menjalankan amaliyah dari Syaikh Abdul Qodir Jailani Thoreqoh Naqsyabandiyah yang mengajarkan Syaikh Baha'uddin Annaqsyabandi tentu amaliyah yang di pakai ajaran dari Syaikh Naqsyabandi, dan ajaran pokoknya kholwat. dzikirnya juga memakai dzikir Syaikh Naqsyabandi.
Jika yang di amalkan Thoreqoh Syatariyah maka yang di amalkan tentu amaliyah dari Syaikh Abdullah Assyatari, dan dzikirnya dari Syaikh Abdullah Assyatari. Jika menjalankn Thoreqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah wa Syatariyah, maka berarti menjalankan thoreqoh ketiga orang itu, berarti harus ngedan, harus kholwat, dn harus menjalankan dzikir ketiga orang tersebut. itu baru namanya menjalankan TQNS, kalau belum ya namanya belum murid.
Kalau orang menjalankan suatu thoreqoh, ya di jalankan saja amaliyahnya, tdk usah menyalahkan orang lain yang menjalankan thoreqoh lain yang berbeda, sebab setiap thoreqoh namanya beda, mursyidnya beda, maka cara dan metodenya juga amaliyahnya beda, saya contohkan seorang pelaut ya gak bisa kerja dengan gerakan orang macul dan jaring ikannya pakai cangkul, begitu juga petani, tidak bisa nyangkul pakai jaring, dan dengan gerakan nyangkulnya pakai gerakan menjaring.
Petani yang menyalahkan gerakan orang menebar jaring, tidak sesuai dengan gerakan dia mencangkul berarti petani bodoh. Begitu juga pelaut yang menyalahkan petani karena mencangkulnya tak pakai gerakan menjaring, maka itu nelayan bodoh. Orang thoreqoh itu juga begitu, yang menyalahkan thoreqoh lain, maka tandanya dia bodoh, tak tau menahu soal thoreqoh tapi mau bahas thoreqoh.
Seorang salik/penempuh jalan thoreqoh itu akan selalu berusaha semampunya sekuatnya menjalankn thoreqoh yang di jalankannya dan berusaha istiqomah, tak ada waktu mengoreksi dan ngomentari thoreqoh lain, itu tanda kepahaman dia soal thoreqoh, kalau masih ngomentari dan mencela itu tanda dia belum paham dengan yang dia jalani.
Amaliyah thoriqoh itu tidaklah rumit seperti orang perkirakan, yang kata kebanyakan orang itu berat.
Thoriqoh itu ya hanya menjalankan amaliyah syareat, cuma bedanya amaliyah hakikat dibawa beserta/bersamaan ketika mengamalkan syareat itu.
Sebagai contoh dalam sholat, ketika orang mengamalkan syareat maka syarat rukun perbuatan dan ucapan itu di kerjakan, sebagaimana orang itu mengerjakan sholat biasa, dan ketika orang itu menyertakan hakekat, maka fokus akal hati difokuskan mengingat Allah. Akal dan hati tidak kemana mana, tapi masuk ke dalam diri sendiri mengkonsentrasikan lafadz Allah di titik titik latifah.
Lalu apa itu titik latifah? titik latifah itu titik penghubung antara manusia dengan Allah melewati 7 pratala lapis langit, di titik latifah itu ada lubang, lubang itu mengarah ke dalam keghaiban ruhani, menuju alam ruh yaitu alam langit, dan melintasi pintu pintu langit. Makanya manusia harus mengetahui di mana tempat titik latifah robbaniyahnya, karena di titik latifah itu terdapat kotoran, dan kotoran itu yang menghalangi manusia untuk sampai kepada Allah.
Jika kotoran di titik latifah itu masih ada, maka manusia tidak bisa mencapai keikhlasan krn ikhlas itu murni, jika masih kotor maka namanya tidak murni/ikhlas.
Kotoran kotoran itu yang mengotori keikhlasan, seperti ujub, sombong, tidak bisa terima, riya, sum'ah, ghibah, dusta, khianat, dendam, marah, benci, ragu, was was, semua kotoran itu adanya di titik latifah, dan kita membersihkan kotoran itu namanya NADHOFAH, makanya kata kata nadhofah disangkut pautkan dengan iman, bukan dgn islam, annadhofatu minal iman, bukan annadhofatu minal islam, karena yang dimaksud di hadits itu adalah pembersihan titik latifah kita, makanya Rosulullah Shalallahu alaihi wa Salam mengisyaratkannya dengan iman bukan dg Islam.
Jika titik latifah kita belum bersih dari kotoran, maka pintu 7 langit belum bisa di lewati oleh amal ibadah kita, artinya, amal ibadah kita tak sampai pada Allah.
Bukan hanya amal ibadah kita tertolak, kalau tertolak itu artinya sudah sampai kepada Allah, sudah sampai lalu ditolak, klo ini malah belum melewati langit, ya jelas belum sampai. APALAGI amal ibadah kita bermanfaat atau ada manfaatnya, bermanfaat itu kalau sudah sampai kepada Allah, ini sampai saja tidak, bagaimana mau bermanfaat?
JIKA titik latifah kita bersih, bersih dari semua penyakit, baru amal ibadah kita akan melewati langit, dan sampai kepada Allah, dan akan bermanfaat atau ada manfaatnya. Jika kita menjalankan hanya syareat saja, ya tidak ada apa apa yang keluar dari tubuh kita ketika kita beribadah. Kita itu kalau sudah menggabungkan ibadah kita antara syareat dan hakekat sinkron bersama sama, maka akan keluar malaikat sebentuk cahaya yang akan ke langit menghadap kepada Allah sebagai perwujudan ibadah kita.
MALAIKAT serupa cahaya itu yang akan menghadap Allah. Makin serasi dan sejalan antara hakekat dan syareat, maka akan makin banyak cahaya yang keluar dari tubuh kita. Ini soal bisa menembus 7 langit, sekalipun ibadah kita sudah ada bentuk cahayanya, masalah menembus langit itu masih berhubungan dg kebersihan latifah kita dari kotoran ruhani. Selama latifah kita belum bersih dari kotoran, maka belum bisa cahaya yang keluar dari ibadah kita itu akan bisa menembus langit.
Makanya hanya ibadah yang ikhlas saja yang akan sampai kepada Allah.