24/03/2026
๐๐จ๐ง๐ญ๐๐ค๐ฌ ๐๐๐ฆ๐๐๐ง๐ ๐ฎ๐ง๐๐ง (๐๐ฐ๐๐ฅ ๐๐๐๐ ๐ค๐-๐๐)
Menara air ini dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda sekitar tahun 1900-an hingga 1920-an. Pada masa itu, Koeta Radja merupakan pusat pertahanan dan administrasi militer Belanda di Aceh setelah berakhirnya fase utama Perang Aceh. Pembangunan menara ini bertujuan untuk menyediakan sistem distribusi air bersih yang lebih higienis bagi warga kota, terutama untuk kebutuhan militer, perkantoran, dan pemukiman Eropa di sekitar area Kraton (sekarang area Lapangan Blang Padang dan sekitarnya).
๐๐ซ๐ฌ๐ข๐ญ๐๐ค๐ญ๐ฎ๐ซ ๐๐๐ง ๐
๐ฎ๐ง๐ ๐ฌ๐ข ๐๐๐ค๐ง๐ข๐ฌ
Secara teknis, menara air bekerja dengan prinsip bejana berhubungan dan tekanan gravitasi. Air dipompa dari sumber bawah tanah atau sungai ke tangki di atas menara, lalu dialirkan melalui p**a-p**a ke berbagai bangunan di bawahnya.
Arsitekturnya mencerminkan gaya Indis (Indische Stijl), yang menggabungkan struktur fungsional Eropa dengan penyesuaian terhadap iklim tropis. Bagian atas yang berbentuk paviliun dengan banyak jendela sebenarnya berfungsi sebagai ventilasi untuk menjaga suhu air di dalam tangki agar tidak terlalu panas.
๐๐จ๐ค๐๐ฌ๐ข ๐๐๐ง ๐๐ข๐ง๐ ๐ค๐ฎ๐ง๐ ๐๐ง ๐๐๐ค๐ข๐ญ๐๐ซ
Dalam foto tersebut, tertulis "Watertoren te Koeta-Radja". Berdasarkan catatan sejarah, menara air ini terletak di kawasan Blang Padang atau dekat dengan area militer Neusu. Area di sekitar menara yang tampak dalam foto menunjukkan penataan kota yang rapi dengan pohon-pohon peneduh dan pagar pelindung tanaman (bronjong) yang khas pada masa itu.
๐๐๐ซ๐๐ง ๐๐๐ฅ๐๐ฆ ๐๐๐ซ๐๐ง๐ ๐๐๐ง ๐๐๐ฆ๐๐ซ๐๐๐ค๐๐๐ง
Selama masa pendudukan Jepang (1942โ1945) dan masa revolusi kemerdekaan, infrastruktur air seperti ini sering menjadi objek vital yang diperebutkan. Pasokan air adalah kunci pertahanan kota. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan pembangunan sistem p**a bawah tanah yang lebih modern oleh PDAM setelah kemerdekaan, banyak menara air tua seperti ini yang berhenti beroperasi.
๐๐๐ฌ๐ข๐ ๐๐๐ง๐๐ซ๐ ๐๐๐๐ญ ๐๐ง๐ข
Banyak menara air di Banda Aceh mengalami kerusakan akibat usia, konflik, hingga bencana besar Tsunami 2004. Beberapa menara air peninggalan Belanda di Aceh telah dihancurkan untuk perluasan jalan atau bangunan, namun sebagian kecil pondasi atau strukturnya terkadang masih bisa ditemukan di sudut-sudut kota lama sebagai saksi sejarah bisu perkembangan sistem sanitasi di Aceh. ๐ง