Forum Pemuda Adat Tolaki

Forum Pemuda Adat Tolaki Forum Pemuda Adat Tolaki adalah salah satu wadah untuk merangkul pemuda suku Tolaki yang tergabung di beberapa ormas.

LAIKA MBU’ULaika Mbu'u merupakan rumah pokok atau induk bagi masyarakat Suku Tolaki di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultr...
16/05/2026

LAIKA MBU’U

Laika Mbu'u merupakan rumah pokok atau induk bagi masyarakat Suku Tolaki di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Laika Mbu'u dengan skalanya yang besar mampu menampung segala aktifitas ataupun ritual adat seperti Mosehe yaitu ritual yang bertujuan menyelesaikan permasalahan sosial, tolak bala, maupun sengketa.

Namun, beberapa urusan tentang permasalahan sosial diselesaikan dengan musyawarah antara sesama, baik pihak yang bertikai maupun masyarakat umum.

Selain itu, Laika Mbu'u juga berfungsi sebagai ruang penyelesaian adat dan berfungsi sebagai hunian bagi Ketua adat (Pu'u Tobu) beserta keluarganya.

14/05/2026

MENGULIK SEJARAH
“TRAGEDI PERTEMPURAN PUUNDOMBI”
Part >> 1

Susunan organisasi laskar tempur Konawe adalah sbb:
Pemimpin tertinggi : Watukila
Panglima tempur : Langgolo
Wakilnya : Lamboasa

Pasukan meriam dipimpin : Sindaliwu

Laskar-laskar utama : Kokodi, Matasala, Lataniambo, Merambangi. Tekoha, Pagala, Lattubangi Lelengano, Weribundu, KombomeEto, Bomba, La Marata dll.

Laskar-laskar tempur di Puundombi ribuan banyaknya dengan berbondong-bondong siap menangkis serangan pihak Belana.

Pertahanan Cadangan:

1. Walumohitu di Amboki,

2. Samuale di Wawotobi, semuanya siap bertempur, bahkan seluruh kawasan Konawe rakyatnya siap bertempur melawan musuh/Belanda.

Pertempuran di bentang Puundombi.

Hari pertama penyerangan Belanda pada tahun 1908 sudah tiba. Nampak bahwa pasukan-pasukan Belanda lengkap dengan persenjataannya yang lebih baik, jika dibandingkan dengan Konawe. Belanda dipimpin oleh Kapten Trevers, sedang pihak Konawe dipimpin oleh Langgolo dan dibantu wakilnya Lamboasa dengan 3 kesatuan laskar yang berkedudukan di kubu pertahanan Puundombi.

Pasukan meriam dipimpin oleh Sindaliwu, ditempat- kan di Sanuawuta ± 700 M dari Puundombi yang bertugas sebagai pasukan penghancur iring-iringan musuh. Watukila sebagai pimpinan tertinggi perang Konawe, tetap di markas pertahanan Sanuanggambo, ± 1½ Km dari Puundombi.

Sehari sebelum pasukan Kapten Trevers memerangi jantung pertahanan Konawe, seorang penghubung Belanda bernama Hampoo Seng (tenaga sewaan dari pihak Belanda) telah dibunuh di Puday, yaitu suatu desa di Kecamatan Wawotobi, Kabupaten Kendari (terletak 58 km dari kota Kendari).

Kemudian kepalanya dipenggal dan pada hari itu juga kepala Ham Poo Seng/peng- hubung Belanda langsung dibawa ke markas pertahanan Laskar Konawe di Sanuanggambo sebagai bukti, bahwa pasukan Belanda dalam perjalanan untuk menyerang pertahanan Konawe….. Next Part Selanjutnya…

13/05/2026

TAMALAKI

Tamalaki, yaitu kesatria atau panglima perang tradisional masyarakat Suku Tolaki pada masa lampau. Dalam budaya Tolaki, Tamalaki dikenal sebagai pelindung masyarakat, penjaga wilayah adat, serta simbol keberanian, kehormatan, dan keteguhan hati dalam mempertahankan tanah leluhur.

Pada ilustrasi ini, Tamalaki berdiri tegap sambil memegang dua perlengkapan perang tradisional khas Tolaki, yaitu:
• Kinia, yakni perisai tradisional yang terbuat dari kayu dan anyaman rotan. Perisai ini digunakan untuk melindungi tubuh dari serangan musuh dan menjadi simbol kewaspadaan serta ketahanan seorang pejuang.
• Karada atau Osungga, yaitu tombak tradisional masyarakat Tolaki yang digunakan dalam peperangan dan berburu. Tombak ini melambangkan keberanian, ketangkasan, kekuatan, serta semangat juang para Tamalaki dalam menjaga kehormatan masyarakat adat.

Latar belakang gambar memperlihatkan kehidupan masyarakat Tolaki zaman dahulu dengan rumah tradisional dan aktivitas keseharian masyarakat yang hidup sederhana, selaras dengan alam, serta menjunjung tinggi nilai gotong royong dan musyawarah.

Seorang Tamalaki bukan hanya dikenal sebagai pejuang perang, tetapi juga sebagai penjaga adat dan pemimpin masyarakat yang arif.

Mereka memiliki tanggung jawab menjaga keamanan kampung, melindungi rakyat, menegakkan aturan adat, dan mempertahankan nilai-nilai budaya leluhur agar tetap diwariskan kepada generasi berikutnya.

LAIKA LANDAFoto ini menggambarkan kehidupan masyarakat Suku Tolaki pada masa lampau yang hidup sederhana, harmonis denga...
12/05/2026

LAIKA LANDA

Foto ini menggambarkan kehidupan masyarakat Suku Tolaki pada masa lampau yang hidup sederhana, harmonis dengan alam, dan menjunjung tinggi nilai kebersamaan keluarga.

Rumah tradisional yang terlihat dalam gambar dikenal dengan nama “Laika Landa”, yaitu jenis rumah tinggal yang didirikan ditengah-tengah atau dipinggir kebun dan didiami oleh satu keluarga, dan juga rumah khas masyarakat Tolaki yang dibangun menggunakan bahan alami seperti bambu, kayu, dan atap rumbia.

Rumah ini bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga menjadi simbol perlindungan, persatuan keluarga, dan pusat aktivitas kehidupan sehari-hari masyarakat Tolaki.

Bentuk rumah panggung dibuat tinggi untuk menghindari banjir, binatang liar, serta menjaga sirkulasi udara agar tetap sejuk.

aktivitas tradisional masyarakat zaman dulu, seperti:
• Menumbuk padi secara manual menggunakan alat tradisional, dengan menggunakan media yang disebut o alu dan o nohu.
• Berkumpul bersama keluarga di bawah rumah.
• Anak-anak bermain di lingkungan sekitar rumah.
• Memanfaatkan alam sebagai sumber kehidupan sehari-hari.

Bagian bawah rumah dimanfaatkan sebagai tempat beraktivitas, beristirahat, dan menyimpan peralatan pertanian.

Kehidupan masyarakat saat itu sangat erat dengan budaya gotong royong, kesederhanaan, dan hubungan sosial yang kuat antarwarga.

nilai-nilai luhur masyarakat Tolaki, antara lain:
• Kebersamaan dalam kehidupan keluarga dan komunitas.
• Kearifan alam, yaitu hidup selaras dengan lingkungan.
• Ketahanan hidup menghadapi perubahan zaman.
• Identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Foto ini merupakan dokumentasi etnografi lama yang memperlihatkan kehidupan masyarakat tradisional di wilayah Kolaka dan...
10/05/2026

Foto ini merupakan dokumentasi etnografi lama yang memperlihatkan kehidupan masyarakat tradisional di wilayah Kolaka dan Mengkoka (kini bagian dari Sulawesi Tenggara) pada masa kolonial. Tulisan di bagian bawah foto berbunyi:

“Kampfspiele in Kopfjäger-Tracht, Kolaka in Mengkoka.”

Dalam bahasa Jerman, kalimat tersebut dapat diterjemahkan sebagai:

“Permainan perang dalam pakaian pemburu kepala, Kolaka di Mengkoka.”

Penjelasan Sejarah Foto

Foto ini diperkirakan diambil pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 oleh peneliti atau fotografer Eropa yang mendokumentasikan kehidupan masyarakat di Sulawesi. Pada masa itu, wilayah Kolaka dan Mekongga dikenal masih mempertahankan budaya adat yang kuat, termasuk tradisi perang, ritual keberanian, dan pertunjukan bela diri tradisional.

Beberapa hal yang terlihat dalam foto:
Tombak dan perisai kayu menunjukkan alat pertahanan tradisional masyarakat lokal.

Busana adat sederhana menggambarkan kehidupan masyarakat pedalaman Sulawesi pada masa itu.

Posisi duel atau permainan perang kemungkinan merupakan simulasi pertarungan adat, bukan perang sungguhan.

Istilah “pemburu kepala” berasal dari sudut pandang penulis kolonial Eropa. Pada masa lalu, beberapa suku di Nusantara memang mengenal tradisi pengambilan kepala musuh sebagai simbol kemenangan perang, keberanian, atau ritual spiritual. Namun istilah itu sering dilebih-lebihkan oleh penulis kolonial untuk menggambarkan masyarakat pribumi sebagai “liar” atau eksotis.

Latar Budaya Mekongga dan Kolaka

Wilayah Mekongga merupakan salah satu kawasan tua di Sulawesi Tenggara yang memiliki sejarah kerajaan dan komunitas adat yang kuat. Masyarakatnya hidup dari:
• bertani,
• berburu,
• meramu,
• dan menjaga wilayah adat.

Tradisi bela diri menggunakan tombak dan perisai merupakan bagian dari:
• latihan keberanian,
• pertahanan kampung,
• serta upacara adat tertentu.

Nilai Historis Foto

Foto seperti ini sangat penting karena:
• menjadi arsip visual kehidupan masyarakat Sulawesi tempo dulu,
• memperlihatkan budaya lokal sebelum modernisasi,
• dan menjadi bukti sejarah keberagaman budaya Nusantara.

Namun, penting juga memahami bahwa banyak dokumentasi kolonial dibuat dari sudut pandang Eropa, sehingga sebagian penjelasannya kadang tidak sepenuhnya menggambarkan realitas budaya masyarakat lokal secara adil.

Bergerak MenginspirasiSelamat Hari Pendidikan NasionalSabtu, 2 Mei 2026
02/05/2026

Bergerak Menginspirasi
Selamat Hari Pendidikan Nasional
Sabtu, 2 Mei 2026



10/04/2026

Penjelasan Makna Kalosara Part 2, Oleh Dewan Sara Fordati, Bapak Ajemain Suruambo, S.Si, M.Sos

09/04/2026

Penjelasan Makna Kalosara Part 1, Oleh Dewan Sara Fordati, Bapak Ajemain Suruambo, S.Si, M.Sos

08/04/2026

FORDATI REBORN

29/03/2026

Penjelasan Ponggawa Banderano Tolaki, Terkait Kritik atas Brand “Panglima Tamalaki” Kepada salah satu Ketua Ormas Tolaki 🤝

12/08/2025

Mari Lestarikan Budaya Bahasa Tolaki

Address

Jalan Poros Wawotobi/Lasolo, Kelurahan Meluhu, Kec. Meluhu
Konawe

Telephone

+6282332736461

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Forum Pemuda Adat Tolaki posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share