18/12/2025
📝 | Rafika Duri: Suara Emas dari Pangkal Pinang yang Tak Pernah Padam
Di tengah riuhnya musik Indonesia era 70-an dimana ketika radio menjadi sahabat setia keluarga dan lagu-lagu dinikmati dengan perasaan muncul seorang gadis muda dari Pangkal Pinang, yang suaranya langsung mencuri perhatian. Lembut, jujur, dan penuh rasa. Namanya Rafika Duri.
Lahir pada 20 Januari 1960, Rafika atau Fika, sapaan akrabnya tumbuh dalam keluarga sederhana.
Ayahnya, Kemas Duri, adalah seorang camat di Sungailiat, Bangka. Dari rumah yang jauh dari gemerlap ibu kota itulah, bakat besar Fika perlahan tumbuh.
Sejak kecil ia sudah akrab dengan dunia tarik suara, bahkan di usia 11 tahun, ia telah menjuarai lomba menyanyi tingkat daerah. Sebuah tanda awal bahwa takdir besar sedang menunggunya.
Titik balik datang pada tahun 1976. Fika mengikuti ajang bergengsi Bintang Radio & Televisi, kompetisi yang kala itu menjadi pintu utama menuju dunia musik nasional.
Di usia yang masih sangat muda, ia tampil memukau dan keluar sebagai juara nasional. Pada ajang yang sama, Harvey Malaiholo menjadi juara kategori pria. Pertemuan dua talenta ini kemudian melahirkan kolaborasi yang dikenang lintas generasi.
Nama Rafika Duri pun melesat. Lagu “Tertusuk Duri”, karya maestro A. Riyanto, menjadikannya ikon lagu patah hati yang abadi.
Hingga hari ini, lagu itu masih sering diputar di radio, dinyanyikan ulang di panggung nostalgia, dan diam-diam menyentuh hati pendengarnya seakan waktu tak pernah benar-benar berlalu.
Tak berhenti di dalam negeri, Rafika membuktikan kualitasnya di panggung internasional.
Tahun 1978, ia meraih Gayageum Awards dalam Festival Lagu Internasional lewat lagu “Hanya Untukmu”.
Sebuah pencapaian yang menegaskan bahwa suara emasnya mampu berbicara lintas budaya.
Menariknya, Rafika Duri bukanlah penyanyi yang terjebak di satu warna musik. Ia berani menjelajah genre lain, termasuk bosanova.
Bersama musisi jazz ternama Ireng Maulana, ia menghadirkan nuansa elegan dan matang. Empat album bosanova yang ia rilis menjadi bukti kelasnya sebagai penyanyi lintas genre dan lintas generasi.
Di balik sorotan panggung, Rafika tetap berpijak pada kesederhanaan. Ia menuntaskan pendidikan di Universitas Trisakti, jurusan Seni Rupa Interior.
Pada tahun 1982, ia menikah dengan dr. Sonny Kusuma Yuliarso, seorang dokter spesialis anak.
Dari pernikahan itu, ia dikaruniai tiga anak dunia lain yang memberinya kebahagiaan di luar musik.
Hari ini, Rafika Duri masih aktif bernyanyi. Suaranya tetap jernih, pembawaannya tetap anggun. Ia kerap hadir di acara kenegaraan, konser nostalgia, hingga pertunjukan eksklusif yang mempertemukan generasi lama dan baru dalam satu ruang kenangan.
Rafika Duri bukan sekadar penyanyi. Ia adalah simbol ketulusan berkesenian. Ikon musik Indonesia yang tumbuh tanpa sensasi, bertahan karena kualitas, dan dikenang karena kejujuran rasa.
Jika lagu adalah doa yang diucapkan dengan nada, maka suara Rafika Duri adalah harapan yang dinyanyikan dengan sepenuh hati. Dan hingga kini, suara itu masih bersinar tenang, setia, dan abadi dalam sejarah musik Indonesia.
💬 Siapa yang masih ingat lagu Tertusuk Duri atau Tirai ?
Tulis di kolom komentar kenanganmu bersama lagu-lagu Rafika Duri, yuk! 👇
❤️ Like kalau kamu penggemar sejati musik Indonesia klasik,
🔁 dan bagikan agar generasi muda tahu betapa berharganya suara emas ini!