Yayasan Tebar Mushaf Nusantara

Yayasan Tebar Mushaf Nusantara Meraih amal jariyah, satu huruf sepuluh kebaikan.

Ramadan hari ke-30 adalah Anugerah Terakhir, Jangan Disia-siakan.Hari ke-30 Ramadan adalah tanda bahwa kita telah sampai...
19/03/2026

Ramadan hari ke-30 adalah Anugerah Terakhir, Jangan Disia-siakan.

Hari ke-30 Ramadan adalah tanda bahwa kita telah sampai di ujung perjalanan. Namun sejatinya, ini bukan sekadar akhir, ini adalah anugerah terakhir yang Allah berikan di bulan penuh rahmat ini.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, "Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur" (QS. Al-Baqarah: 185).
Ayat ini mengingatkan kita bahwa menyempurnakan Ramadan hingga hari terakhir adalah nikmat yang patut disyukuri. Tidak semua orang mendapat kesempatan ini. Maka jika hari ini kita masih bernafas dan masih bisa beribadah, itu adalah bukti kasih sayang Allah kepada kita.

Rasulullah ﷺ bersabda, "Sesungguhnya amal itu tergantung pada penutupnya" (HR. Bukhari).
Hadits ini menjadi peringatan penting, akhir dari Ramadan bisa menjadi penentu nilai seluruh ibadah kita. Jangan sampai di awal kita semangat, tetapi di akhir kita justru lalai.

Hari ke-30 adalah waktu untuk, menyempurnakan kekurangan, memperbanyak istighfar, menguatkan harapan akan ampunan Allah

Allah juga berfirman, "Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya" (QS. Az-Zumar: 53).
Ayat ini adalah pelukan kasih sayang dari Allah. Bahkan jika Ramadan kita terasa belum maksimal, pintu ampunan masih terbuka lebar hingga detik terakhir.

Saudaraku yang dimuliakan Allah.
Rasulullah ﷺ di sepuluh malam terakhir justru semakin bersungguh-sungguh dalam ibadah, sebagaimana disebutkan dalam hadits, "Rasulullah bersungguh-sungguh (dalam ibadah) pada sepuluh hari terakhir melebihi kesungguhan di hari-hari lainnya" (HR. Muslim).
Ini menunjukkan bahwa bagian akhir Ramadan adalah momen terbaik, bukan waktu untuk melemah.

Renungkanlah, Jika ini adalah Ramadan terakhir kita, sudahkah kita memanfaatkannya dengan sungguh-sungguh?
Jika belum, maka hari ke-30 ini adalah kesempatan terakhir untuk memperbaiki.
Perbanyaklah doa, karena Rasulullah ﷺ juga mengajarkan doa di malam-malam akhir, "Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni"
(Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku)" (HR. Tirmidzi).

Saudaraku.
Jangan biarkan Ramadan pergi tanpa meninggalkan bekas dalam hati kita. Jadikan hari terakhir ini sebagai momentum, untuk kembali sepenuhnya kepada Allah, untuk menangisi dosa-dosa kita, untuk berjanji menjadi hamba yang lebih baik lagi.

Karena sejatinya, orang yang beruntung bukanlah yang hanya bertemu Ramadan, tetapi yang keluar dari Ramadan dalam keadaan diampuni.
Semoga kita termasuk di dalamnya.

Amiin ya Rabbal ‘alamin.

Jangan Biarkan Ramadan Berlalu Tanpa Ampunan.Alhamdulillah, segala puji bagi Allah subhanahu wata'ala yang masih memberi...
18/03/2026

Jangan Biarkan Ramadan Berlalu Tanpa Ampunan.

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah subhanahu wata'ala yang masih memberikan kita kesempatan untuk menghirup udara Ramadan hingga di malam ini.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam, teladan terbaik sepanjang masa.

Hari ini… adalah detik-detik terakhir Ramadan.
Bulan yang dulu kita tunggu, kini perlahan meninggalkan kita.

Pertanyaannya bukan lagi:
Apa yang sudah kita lakukan?
Tetapi, “Apakah Allah menerima amal kita?”
Ramadan akan pergi, tapi apakah Kita Diampuni?

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Sungguh merugi seseorang yang masuk Ramadan, lalu Ramadan itu berlalu sebelum ia diampuni.” (HR. Tirmidzi)

Bayangkan…
Kita sudah berpuasa, shalat tarawih, membaca Al-Qur’an. Namun ternyata, kita keluar dari Ramadan tanpa ampunan.

Apa yang kurang?
Mungkin hati kita belum benar-benar hadir.
Mungkin lisan kita masih menyakiti.
Mungkin dosa-dosa belum kita tinggalkan.

Ramadan Adalah Sekolah Ketakwaan, Allah berfirman: “Agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ramadan bukan hanya menahan lapar dan haus.
Ramadan adalah latihan menjadi manusia yang lebih dekat kepada Allah.

Kalau setelah Ramadan, Shalat mulai ditinggalkan, Al-Qur’an kembali berdebu, maksiat kembali dilakukan.
Maka kita harus bertanya, Apakah kita benar-benar lulus dari madrasah Ramadan?

Masih ada kesempatan di akhir ramadan ini. Jangan putus asa. Selama nafas masih ada, pintu ampunan masih terbuka.
Allah berfirman: “Katakanlah, Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)

Dan di malam-malam terakhir ini, ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, “Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Malam itu bisa jadi malam ini. Namun pertanyaannya, apakah kita mencarinya atau malah melewatkannya?

Para ulama terdahulu menangis di akhir Ramadan. Bukan karena Ramadan pergi, tetapi karena takut amal mereka tidak diterima.
Allah azza wajalla berfirman, “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)

Maka di akhir ramadan ini, Perbanyak istighfar. Menangislah di hadapan Allah. Mohon agar semua amal diterima.
Jangan kembali menjadi hamba yang Lama. Jangan sampai kita seperti yang disebut sebagian ulama, “Janganlah kamu menjadi hamba Ramadan, tetapi jadilah hamba Allah.”

Karena Allah bukan hanya Rabb di bulan Ramadan, tetapi Rabb sepanjang hidup kita.
Allah berfirman, “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99)

Bisa jadi, ini Ramadan terakhir kita.
Bisa jadi, kita tidak akan bertemu lagi dengannya.
Maka sebelum Ramadan benar-benar pergi, mintalah ampun dengan sungguh-sungguh.
Perbaiki hubungan dengan sesama. Kembalilah kepada Allah sepenuh hati.

Jangan biarkan Ramadan menjadi saksi…
Bahwa kita pernah dekat dengan Allah, lalu menjauh kembali setelah Ramadan pergi.

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anna.
Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah kami.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah… amanah telah tersampaikan.Amanah dari para Muhsinin dalam program Peduli Dai Pelosok periode bulan ini te...
18/03/2026

Alhamdulillah… amanah telah tersampaikan.

Amanah dari para Muhsinin dalam program Peduli Dai Pelosok periode bulan ini telah tersampaikan dengan baik.

Senyum dan kebahagiaan para dai menjadi bukti nyata, betapa berarti dukungan yang Anda berikan. Bantuan ini bukan sekadar materi, tetapi juga menjadi penyemangat bagi mereka untuk terus melangkah, menebarkan dakwah hingga ke pelosok negeri.

Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, doa-doa tulus mereka dipanjatkan untuk para Muhsinin, serta Bang Arham Rasyid yang telah menjadi bagian dari kebaikan ini.

Semoga Allah membalas setiap kebaikan dengan pahala berlipat ganda dan menjadikannya sebagai amal jariyah yang terus mengalir.
Aamiiin.

Mari terus ambil bagian dalam kebaikan ini.
Jangan biarkan mereka berjuang sendiri di pelosok negeri.
Dukung terus Program Peduli Dai Pelosok agar cahaya dakwah terus menyala hingga ke penjuru negeri.

Salurkan donasi Anda melalui:
Bank Syariah Indonesia (BSI)
No. Rek: 1040374996
Konfirmasi donasi:
wa.me/6285242577345

Alhamdulillahi rabbil 'alaminSegala puji bagi Allah yang masih mempertemukan kita dengan hari-hari ramadan.Shalawat dan ...
11/03/2026

Alhamdulillahi rabbil 'alamin
Segala puji bagi Allah yang masih mempertemukan kita dengan hari-hari ramadan.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam.

Hari ini kita sudah berada di sepuluh malam terakhir bulan ramadan.
Di dalamnya Allah menyembunyikan satu malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar. Dan tahukah kamu apakah malam Lailatul Qadar itu? Malam Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1–3)

Seribu bulan berarti lebih dari 83 tahun ibadah.
Bayangkan…
Satu malam saja kita beribadah dengan penuh keikhlasan, nilainya bisa lebih baik daripada ibadah selama puluhan tahun.
Karena itulah Rasulullah ﷺ tidak menyia-nyiakan malam-malam ini.
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata: “Rasulullah ﷺ apabila memasuki sepuluh malam terakhir Ramadan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, bersungguh-sungguh dalam ibadah dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa “menghidupkan malam” berarti memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa dan memohon ampun kepada Allah.
Karena tidak ada yang tahu di malam mana Lailatul Qadar akan datang.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan.” (HR. Bukhari)
Malam ini mungkin bukan malam ganjil. Namun ia adalah jalan menuju malam-malam yang sangat agung.
Orang yang mendapatkan Lailatul Qadar bukan hanya yang menunggu malam tertentu, tetapi mereka yang menghidupkan setiap malam dengan ibadah.
Jika malam ini kita masih diberi kesempatan untuk bernapas, itu berarti Allah masih membuka pintu rahmat-Nya.

Maka malam ini…
Bangunlah walau hanya sebentar.
Shalatlah walau hanya dua rakaat.
Angkatlah tangan dan berdoa dengan penuh harap.

Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ: “Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui suatu malam adalah Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca?”
Beliau menjawab: “Bacalah:
اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR. Tirmidzi)

Malam-malam ini mungkin akan segera berlalu.
Tetapi ampunan Allah bisa mengubah seluruh hidup kita.
Jangan biarkan malam ini berlalu tanpa sujud, tanpa istighfar dan tanpa doa.

Semoga Allah mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar dan menerima seluruh amal ibadah kita.
Aamiin 🤲

والله أعلم بالصواب

 Ramadan Terus Pergi… Apakah Hati Kita Ikut Kembali?Malam ini Ramadan kembali berkurang satu hari.Tanpa terasa, waktunya...
09/03/2026



Ramadan Terus Pergi… Apakah Hati Kita Ikut Kembali?

Malam ini Ramadan kembali berkurang satu hari.
Tanpa terasa, waktunya terus berjalan meninggalkan kita.

Ramadan tidak pernah menunggu siapa pun.
Ia datang dengan rahmat,
lalu pergi membawa catatan amal setiap hamba.

Entah kita memanfaatkannya…
atau justru menyia-nyiakannya.

Coba sejenak kita jujur pada diri sendiri.

Berapa banyak waktu yang telah kita habiskan sejak awal Ramadan?
Berapa banyak ayat Al-Qur’an yang sudah kita baca?
Berapa banyak doa yang benar-benar keluar dari hati kita?

Dan berapa banyak waktu yang justru habis untuk hal yang tidak mendekatkan kita kepada Allah?

Malam ini bukan untuk menyalahkan diri.
Tetapi untuk menyadarkan hati.

Karena boleh jadi…
Ramadan tahun ini adalah kesempatan terakhir yang Allah berikan kepada kita.

Betapa banyak orang yang tahun lalu berpuasa bersama kita,
tertawa bersama kita saat berbuka,
berdiri bersama kita dalam shalat tarawih.

Namun hari ini mereka telah berada di alam kubur,
membawa amal yang dulu mereka lakukan di Ramadan.

Jika mereka diberi kesempatan kembali satu malam saja…
mungkin mereka akan menghidupkannya dengan sujud yang panjang,
dengan istighfar yang tidak terhitung,
dengan doa yang penuh tangis.

Tetapi kesempatan itu sekarang bukan milik mereka.
Ia ada di tangan kita.

Malam ini…
jangan biarkan ia berlalu seperti malam-malam biasa.

Bangunlah walau hanya sebentar.
Ambillah wudhu dengan tenang.
Berdirilah di hadapan Allah walau hanya dua rakaat.

Lalu berdoalah…

Bukan hanya meminta dunia.
Tetapi mintalah hati yang kembali hidup.
Mintalah iman yang diperbaiki.
Mintalah agar Allah tidak menjadikan kita termasuk orang-orang yang lalai.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Celakalah seseorang yang mendapati Ramadan, lalu Ramadan itu berlalu sebelum dosanya diampuni.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis ini bukan untuk menakut-nakuti.
Ia adalah panggilan agar kita tidak melewatkan kesempatan besar ini.

Selama Ramadan masih ada,
pintu taubat masih terbuka.

Selama kita masih bisa bersujud,
Allah masih memberi kita kesempatan untuk kembali.

Maka malam ini…
jangan tunda istighfar.
Jangan tunda doa.
Jangan tunda untuk kembali kepada Allah.

Karena kita tidak tahu…
apakah kita masih akan bertemu Ramadan berikutnya.

اللهم بلغنا ليلة القدر
واغفر لنا ما تقدم من ذنوبنا وما تأخر

Semoga Allah tidak membiarkan Ramadan ini pergi
kecuali dalam keadaan kita telah diampuni.

والله أعلم بالصواب

 Jangan Redup di Malam-Malam Pertengahan RamadanMalam kembali datang.Ramadan terus berjalan.Mungkin tubuh mulai lelah.Ru...
05/03/2026



Jangan Redup di Malam-Malam Pertengahan Ramadan

Malam kembali datang.
Ramadan terus berjalan.

Mungkin tubuh mulai lelah.
Rutinitas mulai terasa berat.
Semangat yang dulu menyala di awal Ramadan, kini tidak lagi sekuat dulu.

Namun ingatlah…
Ramadan tidak menilai siapa yang paling bersemangat di hari pertama.
Ramadan memuliakan mereka yang tetap berjalan, walau langkahnya perlahan.

Allah ﷻ berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka…” (QS. Fushshilat: 30)

Istiqamah…
Itulah yang paling sulit, sekaligus yang paling dicintai.

Malam ini mungkin bukan malam yang paling panjang.
Bukan p**a malam yang paling khusyuk yang pernah kita rasakan.

Tetapi bisa jadi…
Inilah malam ketika doa yang lama kita simpan akhirnya didengar.
Inilah malam ketika air mata yang jatuh diam-diam justru paling dekat dengan langit.

Jangan meremehkan satu rakaat yang ditambah.
Jangan menunda satu halaman Al-Qur’an yang bisa dibaca.
Jangan menahan satu doa yang ingin dipanjatkan.

Karena kita tidak pernah tahu,
amal kecil mana yang justru menjadi sebab rahmat Allah turun kepada kita.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Maka malam ini…
tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk kembali mendekat.

Jika tadi siang kita lalai,
malam ini kita bisa memperbaiki.

Jika hati terasa jauh,
malam ini kita bisa kembali mengetuk pintu-Nya.

Angkat tangan kita.
Sebut nama orang tua kita dalam doa, terlebih jika mereka sudah tiada.
Minta ampun untuk dosa yang kita tahu maupun yang kita lupa.

Karena selama Ramadan masih ada…
pintu itu belum tertutup.

Semoga malam ini lebih hidup daripada kemarin.
Semoga hati kita lebih lembut daripada kemarin.
Dan semoga Allah masih menuliskan kita sebagai hamba yang ingin kembali kepada-Nya.

اللهم تقبل منا إنك أنت السميع العليم
والله أعلم بالصواب

 Jangan Lelah di Tengah Jalan, Ramadan telah sampai di pertengahan.Pertanyaannya,Bagaimana hati kita hari ini?Masihkah i...
04/03/2026



Jangan Lelah di Tengah Jalan, Ramadan telah sampai di pertengahan.

Pertanyaannya,
Bagaimana hati kita hari ini?
Masihkah ia bergetar seperti di malam pertama?
Ataukah mulai lelah, mulai biasa atau mulai lalai?

Ramadan bukan tentang siapa yang paling semangat di awal.
Tetapi siapa yang paling istiqamah hingga akhir.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:
“Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS. Al-Hijr: 99)
Ayat ini bukan hanya tentang hidup.
Ia juga tentang ibadah.
Tentang konsistensi.
Tentang tidak berhenti di tengah jalan.

Bisa jadi sepuluh malam terakhir yang akan datang justru lebih menentukan daripada belasan hari yang telah berlalu.

Rasulullah ﷺ memberi teladan kepada kita. Dalam hadits riwayat Aisyah binti Abu Bakar, beliau berkata:
“Apabila telah masuk sepuluh hari terakhir Ramadan, Rasulullah ﷺ mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)
Lihatlah…
Justru ketika Ramadan hampir berakhir, beliau semakin bersungguh-sungguh.
Mengapa?
Karena di sanalah ada Lailatul Qadar.
Malam yang lebih baik dari seribu bulan.
Malam yang mungkin tidak akan kita temui lagi tahun depan.

Ramadan hari ke-15 adalah titik evaluasi.
Jika bacaan Al-Qur’an masih sedikit, tambahkan.
Jika sedekah masih jarang, perbanyak.
Jika doa masih singkat, panjangkan.
Jika hati masih keras, lembutkan dengan istighfar.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling kontinu walaupun sedikit.” (HR. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim)

Ramadan bukan lomba cepat.
Ia adalah perjalanan mendekat.
Jangan sampai kita kuat di awal, namun melemah di akhir.
Jangan sampai kita menangis di malam pertama, tetapi tertawa dalam kelalaian di malam terakhir.
Bisa jadi ini Ramadan terakhir kita.
Bisa jadi separuh yang telah berlalu adalah separuh kesempatan hidup yang tersisa.

Maka hari ini, mari kita perbarui niat.
Perbaiki shalat.
Perbanyak doa untuk orang tua.
Ringankan tangan untuk bersedekah.
Dan minta kepada Allah agar dipertemukan dengan Lailatul Qadar.
Karena yang menentukan bukan bagaimana kita memulai Ramadan.
Tetapi bagaimana kita mengakhirinya.

Semoga Allah menguatkan langkah kita hingga garis akhir.
Semoga Ramadan ini benar-benar mengubah kita.

والله أعلم بالصواب

 Ramadan kembali menyapa.Bukan karena kita hebat.Bukan karena kita pantas.Tetapi karena Allah masih memberi kita waktu.B...
01/03/2026



Ramadan kembali menyapa.
Bukan karena kita hebat.
Bukan karena kita pantas.
Tetapi karena Allah masih memberi kita waktu.

Berapa banyak orang tahun lalu yang berdoa ingin bertemu Ramadan lagi, namun kini mereka telah berada di alam kubur.
Sementara kita? Masih diberi nafas. Masih diberi kesempatan.
Bukankah itu cinta?

Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)
Tujuan Ramadan bukan sekadar lapar dan haus.
Bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum.
Tetapi membentuk takwa, hati yang sadar bahwa Allah selalu melihat.

Saat tidak ada yang melihat, kita bisa saja minum.
Kita bisa saja membatalkan puasa diam-diam.
Namun kita tidak melakukannya. Mengapa?
Karena kita tahu Allah melihat.

Dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah ﷺ bersabda:
"Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Puasa adalah rahasia antara kita dan Allah.
Ia melatih hati untuk jujur.
Dan dunia ini, sangat kekurangan orang-orang yang jujur.

Wallahu a'lam.

 Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah ﷻ yang masih mempertemukan kita dengan hari-hari Ramadan.Nikmat w...
28/02/2026



Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah ﷻ yang masih mempertemukan kita dengan hari-hari Ramadan.
Nikmat waktu adalah nikmat yang sering terlupakan, padahal setiap detik di bulan ini adalah kesempatan yang tak ternilai.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, manusia paling dermawan dan paling bersungguh-sungguh ibadahnya, terlebih saat Ramadan.

Alhamdulillah, malam ke 11 ini kita masih diberi kesempatan beribadah di bulan Ramadan dan inti dari seluruh ibadah adalah hati.
Puasa di bulan ini bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi menahan hati dari penyakit-penyakitnya. Menahan hati dari riya. Menahan hati dari iri. Menahan hati dari sombong. Menahan hati dari prasangka buruk.

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa dalam diri manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruhnya. Itulah hati.

Ramadan adalah madrasah untuk membersihkan hati. Saat kita lapar, kita belajar rendah hati.
Saat kita menahan amarah, kita belajar mengendalikan ego.
Saat kita memperbanyak istighfar, kita sedang menyapu kotoran-kotoran batin yang mungkin selama ini menumpuk.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah hati kita lebih lembut dibanding sebelum Ramadan? Apakah kita lebih mudah memaafkan? Apakah kita lebih mudah bersyukur? Apakah kita masih menyimpan dendam atau gengsi untuk meminta maaf?
Jangan sampai kita sibuk memperindah amal lahir, tetapi lupa memperbaiki batin.
Tilawah harus melembutkan hati. Shalat harus menenangkan jiwa. Sedekah harus menghilangkan cinta berlebihan pada dunia.

Ramadan bukan hanya tentang memperbanyak amal, tetapi memperbaiki kualitas amal.
Dan kualitas amal sangat ditentukan oleh kebersihan hati.

Mari di hari ke 11 ini kita perbanyak doa:
“Ya Allah, bersihkan hati kami dari segala penyakit.
Ya Allah, jadikan puasa kami bukan hanya lapar dan dahaga, tetapi juga penyuci jiwa.
Ya Allah, lembutkan hati kami agar mudah menerima kebenaran dan mudah melakukan kebaikan.”

Kita tidak tahu apakah kita akan bertemu Ramadan berikutnya. Maka jangan tunda untuk memperbaiki hati hari ini.
Semoga Allah menjaga hati kita tetap hidup. Menjadikannya hati yang khusyuk, hati yang bersyukur, dan hati yang kembali kepada-Nya dengan penuh ketundukan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.Alhamdulillah… segala puji bagi Allah ﷻ yang masih memberi kita kesempatan u...
26/02/2026

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah… segala puji bagi Allah ﷻ yang masih memberi kita kesempatan untuk melanjutkan langkah di bulan yang penuh rahmat ini.

Ramadan bukan hanya tentang menahan diri, tetapi tentang membangun diri.
Ia datang bukan sekadar untuk menghapus dosa, tetapi untuk mengangkat derajat.
Setiap lapar yang kita rasakan, setiap dahaga yang kita tahan, setiap kantuk yang kita lawan dalam qiyamullail, semua itu sedang membentuk hati yang lebih peka dan jiwa yang lebih kuat.

Lihatlah bagaimana Rasulullah ﷺ mencontohkan kepada kita. Dalam riwayat, Rasulullah Muhammad ﷺ, disebutkan bahwa beliau adalah manusia paling dermawan dan kedermawanannya semakin bertambah ketika Ramadan. Seakan-akan Ramadan itu bukan hanya menguatkan hubungan beliau dengan Allah, tetapi juga meluaskan kasih sayangnya kepada manusia.

Ramadan mengajarkan keseimbangan: Hubungan vertikal yang kuat kepada Allah dan hubungan horizontal yang lembut kepada sesama.

Apa gunanya panjangnya rakaat jika hati masih keras kepada keluarga?
Apa manfaatnya banyaknya tilawah jika lisan masih melukai saudara?
Apa artinya menahan makan jika kita belum mampu menahan amarah?
Allah ﷻ tidak melihat rupa dan harta kita, tetapi melihat hati dan amal kita.
Maka Ramadan adalah kesempatan memperbaiki hati sebelum memperindah amal.

Malam-malam Ramadan masih tersisa. Didalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Malam yang jika kita bersungguh-sungguh, bisa mengubah takdir hidup kita. Jangan sampai kita menyesal ketika Ramadan pergi dan kita baru sadar bahwa kita belum memberikan yang terbaik.

Jangan tunggu sempurna untuk bertaubat.
Jangan tunggu tenang untuk mendekat.
Jangan tunggu tua untuk berubah.
Karena kematian tidak menunggu kesiapan.
Jika hari ini kita masih diberi nafas, itu berarti Allah masih memberi kesempatan.
Jika hati kita masih tersentuh oleh nasihat, itu berarti Allah masih memanggil kita.
Jika mata kita masih bisa menangis karena dosa, itu berarti hati kita belum mati.

Mari kita jadikan sisa Ramadan ini sebagai Ramadan terbaik dalam hidup kita.
Perbanyak istighfar, perbanyak sedekah, perbanyak doa untuk orang tua kita, yang masih ada maupun yang telah lebih dulu kembali kepada Allah.
Perbaiki shalat kita, perindah akhlak kita.

Semoga ketika Ramadan benar-benar pergi, ia meninggalkan kita dalam keadaan lebih bersih dari saat ia datang.
Dan semoga ketika Allah memanggil kita kelak, kita datang dengan hati yang telah ditempa oleh taubat dan dihiasi oleh takwa.

Ya Allah… Jangan Engkau jadikan Ramadan ini berlalu kecuali Engkau telah mengampuni kami.
Jangan Engkau biarkan kami kembali kepada kebiasaan lama setelah Engkau lembutkan hati kami.
Tetapkanlah langkah kami di atas jalan-Mu, hingga kami bertemu dengan-Mu dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Aksi Tebar Mushaf Gratis di 1 Ramadan 1447 H, 140 Al-Qur’an Ludes Kurang dari Setengah Jam
26/02/2026

Aksi Tebar Mushaf Gratis di 1 Ramadan 1447 H, 140 Al-Qur’an Ludes Kurang dari Setengah Jam

KENDARI, LINKSULTRA.COM – Momentum 1 Ramadan 1447 Hijriah / 2026 Masehi dimanfaatkan

Address

Perumahan Grand Annisa Blok A No. 7 Jalan Singa Kelurahan Rahandouna, Kecamatan Poasia, Kota Kendari, Propinsi
Kendari
93232

Opening Hours

Monday 09:00 - 17:00
Tuesday 09:00 - 17:00
Wednesday 09:00 - 17:00
Thursday 09:00 - 17:00
Friday 09:00 - 17:00

Telephone

+6285242577345

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Yayasan Tebar Mushaf Nusantara posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Yayasan Tebar Mushaf Nusantara:

Share