07/03/2026
*AXIENTY DAN PENYAKIT NON MEDIS DAN MEDIS PANGGILAN UNTUK KEMBALI KEPADA ALLAH...*
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman: Al-An‘ām: 48
> وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ ۖ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: “Kami tidak mengutus para rasul melainkan sebagai *pembawa kabar gembira* dan *pemberi peringatan*. Maka siapa yang *beriman* dan *memperbaiki diri*, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak p**a mereka bersedih hati.”
Munculnya *anxiety*, kegelisahan, kesempitan dada, dan berbagai macam penyakit, baik yang bersifat medis maupun non medis, pada hakikatnya sering menjadi panggilan dari Allah agar manusia kembali kepada-Nya. Sebab yang paling mendasar dari munculnya kegelisahan dan penyakit batin adalah ketika manusia tidak lagi menempatkan ajaran para Rasul sebagai sesuatu yang paling utama dalam kehidupannya. Mereka tidak menjadikan para Rasul sebagai teladan hidup mereka, khususnya Rasulullah ﷺ. Padahal para Rasul diutus oleh Allah: membawa *kabar gembira* dan memberikan *peringatan keras* bagi orang yang menyelisihi jalan mereka. Karena hakikat kebahagiaan manusia tidak terletak pada mengikuti hawa nafsu, tetapi terletak pada kebahagiaan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sebaliknya manusia hari ini justru merasa senang ketika melakukan larangan Allah, dan merasa berat ketika menjalankan ketaatan. Maka dari sinilah muncul: kegelisahan kesempitan hidup ketakutan kegundahan dan berbagai macam musibah. Karena peringatan para Rasul dianggap sesuatu yang ringan dan tidak perlu segera dihindari. Padahal Allah telah memperingatkan:
*Ancaman bagi yang Menyelisihi Rasul*
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
> فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya: “Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul itu takut akan ditimpa *fitnah* atau ditimpa *azab yang pedih*.” (QS. An-Nūr: 63)
Allah juga berfirman:
> وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Artinya: “Barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang beriman, maka Kami biarkan ia dalam kesesatan yang dipilihnya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisā’: 115)
Inilah akibat yang didapatkan ketika manusia menyelisihi jalan Rasulullah ﷺ:
✅menyelisihi tauhid mereka
✅menyelisihi manhaj mereka
✅menyelisihi akhlak dan Amalan hati dan tubuh mereka
✅menyelisihi ajaran dan dakwah mereka
Maka hati menjadi gelisah, hidup menjadi sempit, dan jiwa menjadi tidak tenang.
*Ketenangan hanya bagi yang Mengikuti Petunjuk*
Sebaliknya, orang-orang yang kembali kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasul, maka Allah menjanjikan kepada mereka *kehidupan yang baik* dan *hati yang tenang*.
Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
> مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: “Barang siapa mengerjakan *amal shalih*, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan *beriman*, maka pasti Kami akan berikan kepadanya *kehidupan yang baik*, dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Naḥl: 97)
Allah juga berfirman:
> الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)
*Hakikat Musibah dan Anxiety*
Munculnya *anxiety*, kegelisahan, tekanan hidup, dan berbagai penyakit sering kali merupakan peringatan dari Allah agar manusia kembali kepada-Nya. Allah berfirman:
> وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
Artinya: “Musibah apa saja yang menimpa kalian maka itu disebabkan oleh *perbuatan tangan kalian sendiri*, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan kalian.” (QS. Asy-Syūrā: 30)
Namun bagi orang beriman, musibah bukan hanya teguran, tetapi juga jalan untuk kembali kepada Allah.
*Musibah yang Mendekatkan kepada Allah*
Dalam hal ini Al-Imam Ibn Taimiyah رحمه الله memberikan kaidah yang sangat dalam tentang hakikat musibah dan nikmat.
Beliau berkata:
> مُصِيبَةٌ تُقْبِلُ بِكَ عَلَى اللَّهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ نِعْمَةٍ تُنْسِيكَ ذِكْرَ اللَّهِ
Artinya: “Musibah yang membuatmu kembali dan mendekat kepada Allah lebih baik bagimu daripada nikmat yang membuatmu lupa dari mengingat Allah.”
Makna perkataan ini sangat agung. Karena terkadang Allah menurunkan ujian berupa kegelisahan, penyakit, kesempitan hidup, atau tekanan batin, agar seorang hamba kembali kepada Rabbnya. Sebab jika seseorang hidup dalam kenikmatan yang panjang tetapi hatinya jauh dari Allah, maka itu sebenarnya bukan keberuntungan. Sebaliknya musibah yang membuat hati tunduk kepada Allah, kembali kepada tauhid, memperbanyak doa dan istighfar, justru merupakan nikmat yang tersembunyi.
*Ridha terhadap Takdir Ujian*
Rasulullah ﷺ bersabda:
> إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخَطَ فَلَهُ السُّخْطُ
Artinya: “Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Maka siapa yang *ridha*, baginya *keridhaan Allah*. Dan siapa yang *marah*, baginya *kemurkaan Allah*.” (HR. Tirmidzi)
*Seruan untuk Kembali kepada Allah*
Maka ketika *anxiety*, kegelisahan, dan berbagai penyakit datang, hendaknya seorang hamba tidak hanya sibuk mencari sebab duniawi saja. Tetapi hendaknya ia bertanya kepada dirinya:
•apakah aku telah benar-benar *mentauhidkan Allah*
•apakah aku telah mengikuti *sunnah Rasulullah ﷺ*
• apakah aku telah *memperbaiki amalanku*
Karena Allah telah memberikan janji yang sangat agung:
> فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Maka siapa yang beriman dan memperbaiki diri, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak p**a mereka bersedih hati.” (QS. Al-An‘ām: 48)
*Penutup*
Inilah saatnya bagi seorang hamba: menerima takdir musibah dengan *ridha* bersabar atas ujian bersyukur atas setiap keadaan kembali kepada *tauhid* memperbaiki amal dan mengikuti jalan *Rasulullah ﷺ* Karena ketenangan hati tidak akan ditemukan di dunia ini kecuali dengan kembali kepada Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim رحمه الله:
> فِي الْقَلْبِ فَاقَةٌ لَا يَسُدُّهَا إِلَّا اللَّهُ
Artinya: “Di dalam hati manusia ada kekosongan yang tidak akan pernah bisa dipenuhi kecuali dengan (mendekat kepada) Allah.”