Ruqyah Syar'iyyah Kendari

Ruqyah Syar'iyyah Kendari Kesembuhan jasmani dan ruhani ada di dalam Qur'an dan Sunnah

28/03/2026

DOSA ADALAH PENYEBAB DICABUTNYA KENIKMATAN

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

وهل زالت عن أحد قط نعمة إلا بشؤم معصيته، فإن الله إذا أنعم على عبد بنعمة حفظها عليه ولا يغيرها عنه حتى يكون هو الساعي في تغييرها عن نفسه.

"Dan tidak ada sebuah kenikmatan pun lenyap dari seseorang kecuali disebabkan akibat buruk dari kemaksiatan yang dia lakukan, karena sesungguhnya Allah jika memberikan sebuah kenikmatan kepada seorang hamba, Dia akan menjaga kenikmatan itu untuknya dan Dia tidak akan merubahnya darinya sampai hamba itu yang menjadi pihak yang berusaha merubahnya dari dirinya sendiri."

📚 Bada-i'ul Fawaid, hal. 712.

*PUASA MENGHIMPUN TIGA KESABARAN DAN MENJADI SEBAB KESEHATAN JIWA SERTA JASMANI --- Keutamaan Sabar: Pondasi Agung Ibada...
08/03/2026

*PUASA MENGHIMPUN TIGA KESABARAN DAN MENJADI SEBAB KESEHATAN JIWA SERTA JASMANI --- Keutamaan Sabar: Pondasi Agung Ibadah Puasa*

Allah ﷻ berfirman:
> إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
(QS. Az-Zumar: 10)

Terjemah: “Sesungguhnya orang-orang yang bersabar itu akan disempurnakan pahala mereka tanpa batas.”

Ayat ini menunjukkan bahwa pahala sabar tidak dibatasi dengan hitungan tertentu. Tidak disebut sepuluh kali lipat, tidak p**a tujuh ratus kali lipat — tetapi tanpa hisab (tanpa batas).

Allah ﷻ juga berfirman:
> يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا ٱسْتَعِينُوا بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
(QS. Al-Baqarah: 153)

Terjemah: “Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”

Dan Allah ﷻ berfirman:
> إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا وَٱلَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ
(QS. An-Nahl: 128)

Terjemah: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat ihsan.”

Kebersamaan ini adalah kebersamaan khusus: kebersamaan pertolongan, penjagaan, dan taufik.

*Puasa Menghimpun Tiga Jenis Kesabaran*

Para ulama menjelaskan sabar terbagi menjadi tiga:
1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah
2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan
3. Sabar dalam menghadapi ujian dan takdir Allah

Dan ibadah puasa menghimpun ketiganya sekaligus.

*1️⃣ Sabar dalam Ketaatan*
Puasa adalah ibadah aktif yang menuntut kesungguhan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Menahan lapar dan haus adalah bentuk kesabaran dalam menjalankan perintah Allah.

*2️⃣ Sabar dalam Meninggalkan Maksiat*
Rasulullah ﷺ bersabda:
> فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ
(HR. Bukhari dan Muslim)

Terjemah: “Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia berkata kotor dan jangan berbuat gaduh.”

Puasa melatih lisan, pendengaran, penglihatan, dan hati untuk meninggalkan dosa. Maka ia adalah latihan meninggalkan maksiat secara total.

*3️⃣ Sabar dalam Menghadapi Ujian*
Lapar, haus, kelemahan badan — semuanya adalah ujian. Dan seorang mukmin menanggungnya dengan ridha. Karena itu sebagian salaf mengatakan bahwa puasa adalah separuh kesabaran.

*Pahala Tanpa Batas dan Pelipatgandaan Amal*
Karena puasa adalah kesabaran, maka ia masuk dalam ayat:
> إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّـٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Dan Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadits qudsi:
> كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
(HR. Bukhari dan Muslim)

Terjemah: “Setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Ini menunjukkan keistimewaan luar biasa.

*Tambahan Faedah Agung:*
Ketika seorang hamba berpuasa lalu ia:
- Shalat
- Berdzikir
- Membaca Al-Qur’an
- Bersedekah
- Melakukan amal shalih lainnya

Maka seluruh amal tersebut dilakukan dalam keadaan sabar. Karena ia sedang menahan lapar, haus, dan syahwat. Sehingga amal-amal itu terbalut dengan kesabaran. Dan kesabaran tidak memiliki batas pahala. Maka pahala amal shalih di bulan puasa bukan hanya berlipat seperti biasa, tetapi berada dalam naungan sabar yang pahalanya tanpa batas.

*Isyarat Kebersamaan Allah dan Pengabulan Doa*
Di tengah ayat-ayat puasa, Allah menyelipkan firman-Nya:
> وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِ
(QS. Al-Baqarah: 186)

Terjemah: “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.”

Para ulama menjelaskan: diselipkannya ayat ini di tengah ayat puasa menunjukkan besarnya peluang pengabulan doa saat berpuasa.

Rasulullah ﷺ bersabda:
> لِلصَّائِمِ دَعْوَةٌ لَا تُرَدُّ
“Bagi orang yang berpuasa ada doa yang tidak tertolak.”

Maka puasa adalah hadiah khusus dari Allah:
- Pengampunan dosa
- Pelipatgandaan amal
- Pahala tanpa batas
- Doa yang dekat dengan pengabulan

*Tujuan Tertinggi: Mencapai Takwa Hakiki*
Allah ﷻ berfirman:
> يَا أَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
(QS. Al-Baqarah: 183)

Terjemah: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Takwa yang lahir dari puasa adalah:
- Takwa dalam kesendirian
- Takwa dalam pengawasan Allah
- Takwa dalam lisan dan pandangan
- Takwa yang berlanjut setelah Ramadhan

*Puasa dan Kesehatan Jiwa*
Puasa:
- Menguatkan pengendalian diri
- Memutus dominasi hawa nafsu
- Menguatkan kesabaran emosional
- Menumbuhkan empati sosial
- Membersihkan hati dari kerakusan

Puasa menjadikan ruh lebih kuat daripada jasad.

*Puasa dan Kesehatan Jasmani*
Secara medis, puasa yang benar:
- Memberi waktu istirahat sistem pencernaan
- Membantu regenerasi sel
- Mengontrol kadar gula darah
- Meningkatkan sensitivitas insulin
- Membantu pembakaran lemak
- Mengurangi peradangan

Puasa syar’i bukan sekadar diet, tetapi sistem keseimbangan tubuh dan jiwa.

*Kesimp**an Paripurna*
Puasa adalah:
✔ Ibadah yang menghimpun tiga kesabaran
✔ Jalan menuju kebersamaan Allah
✔ Sebab pahala tanpa batas
✔ Ladang pelipatgandaan seluruh amal
✔ Momentum doa yang sangat mustajab
✔ Jalan mencapai takwa hakiki
✔ Pembersih jiwa
✔ Penyehat jasmani

Maka benar bahwa puasa adalah madrasah kesabaran, taman takwa, dan hadiah agung dari Allah bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang sabar:
> إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّـٰبِرِينَ
Aamiin.

*JALAN SEMBUH DARI ANXIETY DAN KECEMASAN MELALUI TAZKIYATUN NUFUS DAN PSIKOTERAPI QUR'ANI*Al-Qur’an adalah obat bagi hat...
07/03/2026

*JALAN SEMBUH DARI ANXIETY DAN KECEMASAN MELALUI TAZKIYATUN NUFUS DAN PSIKOTERAPI QUR'ANI*

Al-Qur’an adalah obat bagi hati manusia. Allah menjelaskan bahwa penyakit batin seperti kecemasan (القلق)، ketakutan (الخوف)، kesedihan (الحزن) dapat disembuhkan dengan iman, tauhid, tazkiyatun nufus, dan mengikuti petunjuk wahyu. Allah berfirman: يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُم مَّوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِّمَا فِي الصُّدُورِ Artinya: “Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Rabbmu dan penyembuh bagi apa yang ada di dalam dada.” (Yunus: 57)

*Al-Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata:*
> الْقُرْآنُ شِفَاءٌ تَامٌّ مِنْ جَمِيعِ الْأَدْوَاءِ الْقَلْبِيَّةِ وَالْبَدَنِيَّةِ
Artinya: “Al-Qur’an adalah penyembuh sempurna dari seluruh penyakit hati dan penyakit badan.” (Zād al-Ma‘ād)

Karena itu Al-Qur’an berulang kali memberikan janji besar kepada orang yang beriman: لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ Artinya: “Tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih hati.”

*Para ulama tafsir menjelaskan maknanya. Al-Imam Ibnu Katsir رحمه الله berkata:*
> لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ فِيمَا يَسْتَقْبِلُونَهُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ عَلَى مَا فَاتَهُمْ
Artinya: “Mereka tidak takut terhadap masa depan dan tidak bersedih atas apa yang telah berlalu.” (Tafsir Ibn Kathir)

Inilah fondasi psikoterapi Qur’ani: menyembuhkan ketakutan masa depan menyembuhkan kesedihan masa lalu

*AYAT-AYAT TERAPI KEJIWAAN DALAM AL-QUR’AN*

1. Al-Baqarah: 38
قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: “Kami berfirman: Turunlah kamu semua dari sana. Jika datang kepada kalian petunjuk dari-Ku maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih hati.”

2. Al-Baqarah: 112
بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: “Barang siapa menyerahkan dirinya kepada Allah dan berbuat ihsan maka baginya pahala di sisi Rabbnya. Tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih hati.”

3. Al-Baqarah: 262
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ثُمَّ لَا يُتْبِعُونَ مَا أَنْفَقُوا مَنًّا وَلَا أَذًى لَّهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: “Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah kemudian tidak menyebut-nyebut sedekahnya dan tidak menyakiti, bagi mereka pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak p**a mereka bersedih hati.”

4. Al-Baqarah: 277
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, beramal shalih, menegakkan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak p**a mereka bersedih hati.”

5. Al-An‘ām: 48
وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: “Kami tidak mengutus para rasul kecuali sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Maka siapa yang beriman dan memperbaiki diri tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak p**a mereka bersedih hati.”

6. Al-A‘rāf: 35
يَا بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي فَمَنِ اتَّقَىٰ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: “Wahai anak-anak Adam, jika datang kepada kalian rasul-rasul dari kalangan kalian yang membacakan ayat-ayat-Ku maka siapa yang bertakwa dan memperbaiki diri tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih hati.”

7. Yunus: 62
أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak p**a mereka bersedih hati.”

8. Al-Ahqaf: 13
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Rabb kami adalah Allah kemudian mereka istiqamah tidak ada rasa takut atas mereka dan mereka tidak bersedih hati.”

*30 JALAN SEMBUH DARI ANXIETY DALAM AYAT-AYAT INI*

1. Mengikuti petunjuk Allah فَمَن تَبِعَ هُدَايَ “Siapa yang mengikuti petunjuk-Ku.”
2. Berserah diri kepada Allah أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ “Menyerahkan diri kepada Allah.”
3. Berbuat ihsan Beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya.
4. Menguatkan iman
5. Memperbanyak amal shalih
6. Menegakkan shalat
7. Menunaikan zakat
8. Bersedekah di jalan Allah
9. Ikhlas dalam amal
10. Tidak menyakiti orang setelah memberi
11. Bertakwa kepada Allah
12. Memperbaiki diri
13. Istiqamah di atas tauhid
14. Menjadi wali Allah dengan iman dan takwa
15. Mendengarkan ayat-ayat Allah
16. Mentadabburi Al-Qur’an
17. Memperbanyak dzikir
18. Menguatkan tawakkal
19. Ridha terhadap takdir Allah
20. Mengharapkan pahala akhirat
21. Membersihkan hati dari riya
22. Membersihkan hati dari hasad
23. Membersihkan hati dari kesombongan
24. Menjaga hubungan dengan Allah
25. Menguatkan hubungan dengan sesama manusia
26. Menghindari dosa
27. Bertaubat dari kesalahan
28. Memperbanyak doa
29. Menghidupkan hati dengan ibadah
30. Istiqamah sampai akhir kehidupan

*HUBUNGAN DENGAN ILMU BEDAH SARAF DAN NEUROLOGI*

Dalam ilmu neuroscience, kecemasan berkaitan dengan aktivitas beberapa bagian otak:

1. Amygdala Pusat ketakutan dan kecemasan. Ibadah seperti dzikir, tilawah, dan shalat khusyuk membantu menenangkan aktivitas bagian ini.

2. Prefrontal Cortex Mengatur: kontrol emosi pengambilan keputusan ketenangan mental Ibadah yang khusyuk memperkuat regulasi emosi dari bagian ini.

3. Sistem Saraf Parasimpatis Dzikir dan ibadah menurunkan hormon stres seperti: kortisol adrenalin sehingga tubuh masuk dalam keadaan: tenang stabil damai

Ini selaras dengan firman Allah: أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ Artinya: “Ingatlah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (Ar-Ra’d: 28)

*AXIENTY DAN PENYAKIT NON MEDIS DAN MEDIS PANGGILAN UNTUK KEMBALI KEPADA ALLAH...*Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman: A...
07/03/2026

*AXIENTY DAN PENYAKIT NON MEDIS DAN MEDIS PANGGILAN UNTUK KEMBALI KEPADA ALLAH...*

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman: Al-An‘ām: 48

> وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلَّا مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ ۖ فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: “Kami tidak mengutus para rasul melainkan sebagai *pembawa kabar gembira* dan *pemberi peringatan*. Maka siapa yang *beriman* dan *memperbaiki diri*, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak p**a mereka bersedih hati.”

Munculnya *anxiety*, kegelisahan, kesempitan dada, dan berbagai macam penyakit, baik yang bersifat medis maupun non medis, pada hakikatnya sering menjadi panggilan dari Allah agar manusia kembali kepada-Nya. Sebab yang paling mendasar dari munculnya kegelisahan dan penyakit batin adalah ketika manusia tidak lagi menempatkan ajaran para Rasul sebagai sesuatu yang paling utama dalam kehidupannya. Mereka tidak menjadikan para Rasul sebagai teladan hidup mereka, khususnya Rasulullah ﷺ. Padahal para Rasul diutus oleh Allah: membawa *kabar gembira* dan memberikan *peringatan keras* bagi orang yang menyelisihi jalan mereka. Karena hakikat kebahagiaan manusia tidak terletak pada mengikuti hawa nafsu, tetapi terletak pada kebahagiaan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Sebaliknya manusia hari ini justru merasa senang ketika melakukan larangan Allah, dan merasa berat ketika menjalankan ketaatan. Maka dari sinilah muncul: kegelisahan kesempitan hidup ketakutan kegundahan dan berbagai macam musibah. Karena peringatan para Rasul dianggap sesuatu yang ringan dan tidak perlu segera dihindari. Padahal Allah telah memperingatkan:

*Ancaman bagi yang Menyelisihi Rasul*

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
> فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: “Maka hendaklah orang-orang yang menyelisihi perintah Rasul itu takut akan ditimpa *fitnah* atau ditimpa *azab yang pedih*.” (QS. An-Nūr: 63)

Allah juga berfirman:

> وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Artinya: “Barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang beriman, maka Kami biarkan ia dalam kesesatan yang dipilihnya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisā’: 115)

Inilah akibat yang didapatkan ketika manusia menyelisihi jalan Rasulullah ﷺ:
✅menyelisihi tauhid mereka
✅menyelisihi manhaj mereka
✅menyelisihi akhlak dan Amalan hati dan tubuh mereka
✅menyelisihi ajaran dan dakwah mereka

Maka hati menjadi gelisah, hidup menjadi sempit, dan jiwa menjadi tidak tenang.

*Ketenangan hanya bagi yang Mengikuti Petunjuk*

Sebaliknya, orang-orang yang kembali kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasul, maka Allah menjanjikan kepada mereka *kehidupan yang baik* dan *hati yang tenang*.

Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā berfirman:
> مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: “Barang siapa mengerjakan *amal shalih*, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan *beriman*, maka pasti Kami akan berikan kepadanya *kehidupan yang baik*, dan Kami akan memberi balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Naḥl: 97)

Allah juga berfirman:
> الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
Artinya: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)

*Hakikat Musibah dan Anxiety*

Munculnya *anxiety*, kegelisahan, tekanan hidup, dan berbagai penyakit sering kali merupakan peringatan dari Allah agar manusia kembali kepada-Nya. Allah berfirman:
> وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
Artinya: “Musibah apa saja yang menimpa kalian maka itu disebabkan oleh *perbuatan tangan kalian sendiri*, dan Allah memaafkan banyak dari kesalahan kalian.” (QS. Asy-Syūrā: 30)

Namun bagi orang beriman, musibah bukan hanya teguran, tetapi juga jalan untuk kembali kepada Allah.

*Musibah yang Mendekatkan kepada Allah*
Dalam hal ini Al-Imam Ibn Taimiyah رحمه الله memberikan kaidah yang sangat dalam tentang hakikat musibah dan nikmat.
Beliau berkata:
> مُصِيبَةٌ تُقْبِلُ بِكَ عَلَى اللَّهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ نِعْمَةٍ تُنْسِيكَ ذِكْرَ اللَّهِ
Artinya: “Musibah yang membuatmu kembali dan mendekat kepada Allah lebih baik bagimu daripada nikmat yang membuatmu lupa dari mengingat Allah.”

Makna perkataan ini sangat agung. Karena terkadang Allah menurunkan ujian berupa kegelisahan, penyakit, kesempitan hidup, atau tekanan batin, agar seorang hamba kembali kepada Rabbnya. Sebab jika seseorang hidup dalam kenikmatan yang panjang tetapi hatinya jauh dari Allah, maka itu sebenarnya bukan keberuntungan. Sebaliknya musibah yang membuat hati tunduk kepada Allah, kembali kepada tauhid, memperbanyak doa dan istighfar, justru merupakan nikmat yang tersembunyi.

*Ridha terhadap Takdir Ujian*

Rasulullah ﷺ bersabda:
> إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخَطَ فَلَهُ السُّخْطُ

Artinya: “Sesungguhnya besarnya pahala sesuai dengan besarnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Maka siapa yang *ridha*, baginya *keridhaan Allah*. Dan siapa yang *marah*, baginya *kemurkaan Allah*.” (HR. Tirmidzi)

*Seruan untuk Kembali kepada Allah*

Maka ketika *anxiety*, kegelisahan, dan berbagai penyakit datang, hendaknya seorang hamba tidak hanya sibuk mencari sebab duniawi saja. Tetapi hendaknya ia bertanya kepada dirinya:
•apakah aku telah benar-benar *mentauhidkan Allah*
•apakah aku telah mengikuti *sunnah Rasulullah ﷺ*
• apakah aku telah *memperbaiki amalanku*

Karena Allah telah memberikan janji yang sangat agung:
> فَمَنْ آمَنَ وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
“Maka siapa yang beriman dan memperbaiki diri, maka tidak ada rasa takut atas mereka dan tidak p**a mereka bersedih hati.” (QS. Al-An‘ām: 48)

*Penutup*
Inilah saatnya bagi seorang hamba: menerima takdir musibah dengan *ridha* bersabar atas ujian bersyukur atas setiap keadaan kembali kepada *tauhid* memperbaiki amal dan mengikuti jalan *Rasulullah ﷺ* Karena ketenangan hati tidak akan ditemukan di dunia ini kecuali dengan kembali kepada Allah. Sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibnul Qayyim رحمه الله:
> فِي الْقَلْبِ فَاقَةٌ لَا يَسُدُّهَا إِلَّا اللَّهُ
Artinya: “Di dalam hati manusia ada kekosongan yang tidak akan pernah bisa dipenuhi kecuali dengan (mendekat kepada) Allah.”

*Mengapa Saya Sakit dan Tertimpa Musibah? Antara Dosa, Kelalaian Hati, Emosi Negatif, dan Sunnatullah*Sebagian orang ber...
14/02/2026

*Mengapa Saya Sakit dan Tertimpa Musibah? Antara Dosa, Kelalaian Hati, Emosi Negatif, dan Sunnatullah*

Sebagian orang berkata: “Saya sakit padahal saya tidak makan sembarangan.” “Saya terkena ‘ain atau hasad padahal saya tidak punya musuh.” “Saya baik-baik saja dengan orang lain.” Namun ia lupa satu perkara besar: hati yang tidak dijaga. Islam mengajarkan bahwa musibah tidak berdiri sendiri. Ia terkait dengan sunnatullah, perbuatan manusia, kondisi hati, dan izin Allah.

*Kaedah Besar: Musibah dan Perbuatan Manusia*
Allah Ta’ala berfirman:
> _وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ_
“Dan musibah apa pun yang menimpa kalian maka itu disebabkan oleh apa yang diperbuat oleh tangan-tangan kalian, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahan kalian).” (QS. Asy-Syura: 30)
Dan firman-Nya:
_مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ_
“Tidaklah suatu musibah menimpa kecuali dengan izin Allah. Dan barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (QS. At-Taghabun: 11)
Musibah terjadi dengan izin Allah, namun ada kaitan dengan perbuatan dan kondisi hati manusia.

*1️⃣ Kelalaian Dalam Menjaga Makanan dan Pola Hidup*
Allah berfirman:
> _فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَىٰ طَعَامِهِ_
“Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. ‘Abasa: 24)
Memperhatikan makanan mencakup:
- Halal atau haram
- Thayyib atau membahayakan
- Cara memperolehnya
- Adab mengonsumsinya
- Tidak berlebihan

Banyak orang berkata tidak makan “sembarang”, tetapi:
- Makan berlebihan
- Kurang tidur
- Kurang olahraga
- Stres berat
- Emosi tidak stabil

Semua ini berkontribusi pada penyakit.

*2️⃣ Emosi Negatif: Penyebab Tersembunyi Penyakit*
Banyak penyakit modern berkaitan dengan kondisi psikis.
A. *Cemas Terhadap Masa Depan*
Kekhawatiran berlebihan (anxiety):
- Mengaktifkan hormon stres (kortisol)
- Meningkatkan tekanan darah
- Mengganggu sistem pencernaan
- Melemahkan imun

Padahal Allah berfirman:
> _وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا_
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya jalan keluar.” (QS. At-Talaq: 2)
Kecemasan berlebihan menunjukkan lemahnya tawakal.

B. *Sedih Terhadap Masa Lalu*
Kesedihan mendalam yang terus-menerus:
- Memicu depresi
- Mengganggu tidur
- Menurunkan imunitas
- Menyebabkan kelelahan kronis

Allah berfirman:
> _لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ_
“Agar kalian tidak bersedih atas apa yang luput dari kalian.” (QS. Al-Hadid: 23)
Islam tidak melarang sedih, tetapi melarang tenggelam dalam kesedihan.

C. *Marah dan Emosi Negatif*
Marah kronis menyebabkan:
- Lonjakan adrenalin
- Tekanan darah tinggi
- Risiko stroke
- Gangguan jantung

Rasulullah ﷺ bersabda:
> _لَا تَغْضَبْ_
Beliau mengulanginya berkali-kali. Karena marah merusak hati dan tubuh.

*3️⃣ Hubungan Hati dan Tubuh*
Rasulullah ﷺ bersabda:
> _أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً... أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ_
“Jika hati baik, seluruh tubuh baik. Jika hati rusak, seluruh tubuh rusak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Secara medis:
- Stres emosional → inflamasi sistemik
- Inflamasi → penyakit kronis
- Emosi negatif → gangguan hormon

Artinya, hadis ini sangat relevan dengan ilmu kesehatan modern.

*4️⃣ Mengapa Mudah Terkena ‘Ain dan Hasad?*
Allah berfirman:
> _وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ_
(QS. Al-Falaq: 5)
Hasad tidak mensyaratkan musuh. Kadang sebabnya:
- S**a menampakkan nikmat
- Senang dipuji
- Ujub dalam hati
- Kurang dzikir perlindungan

Hati yang tidak dijaga melemahkan benteng ruhiyah.

*5️⃣ Apakah Semua Karena Dosa?*
Tidak semua musibah adalah hukuman. Bisa jadi:
- Penghapus dosa
- Ujian kenaikan derajat
- Teguran agar kembali

Namun ayat QS Asy-Syura: 30 menunjukkan bahwa perbuatan manusia memiliki konsekuensi.
Orang yang berkata “saya baik-baik saja” perlu bertanya:
- Apakah hati saya bersih dari ujub?
- Apakah saya benar-benar tawakal?
- Apakah saya menjaga dzikir?
- Apakah saya menjaga emosi?

*Kesimp**an Besar*
Penyakit dan musibah bisa terkait dengan:
- Pola makan yang salah
- Stres kronis
- Kecemasan masa depan
- Kesedihan masa lalu
- Marah dan emosi negatif
- Kelalaian menjaga hati
- Kurang tawakal dan dzikir

Semua ini melemahkan tubuh dan benteng ruhiyah.
Allah menegaskan hubungan sebab akibat, namun tetap membuka pintu ampunan:
> _وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ_
Allah memaafkan jauh lebih banyak daripada yang Dia timpakan.

*Penutup*
Ketika sakit atau tertimpa musibah:
- Jangan hanya melihat faktor luar.
- Periksa hati.
- Periksa dosa.
- Periksa emosi.
- Periksa pola hidup.

Karena hati adalah pusat. Jika ia dijaga dengan iman, tawakal, syukur, dan sabar — maka tubuh dan hidup akan lebih stabil.

*Terlena Oleh Pujian dan Rusaknya Hati: Dampak Kesehatan dan Peringatan Nabi ﷺ*Pujian bukan sekadar ucapan. Ia adalah st...
14/02/2026

*Terlena Oleh Pujian dan Rusaknya Hati: Dampak Kesehatan dan Peringatan Nabi ﷺ*

Pujian bukan sekadar ucapan. Ia adalah stimulus psikologis yang kuat. Jika seseorang terus-menerus tenggelam dalam sanjungan, menjadikannya sumber harga diri dan kebahagiaan, maka dampaknya bukan hanya akhlak, tetapi juga kesehatan fisik dan mental. Rasulullah ﷺ telah memberi peringatan mendasar tentang pentingnya menjaga hati.

*Hadis Tentang Menjaga Hati*
Rasulullah ﷺ bersabda:
> _أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ_
“Ketahuilah, sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini adalah kaidah besar dalam kesehatan ruhiyah dan bahkan kesehatan jasmani. Ketika hati rusak karena ujub dan cinta pujian, efeknya menjalar ke seluruh tubuh.

*Hadis Tentang Bahaya Pujian*
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
> _إِذَا رَأَيْتُمُ الْمَدَّاحِينَ فَاحْثُوا فِي وُجُوهِهِمُ التُّرَابَ_
“Apabila kalian melihat orang-orang yang s**a memuji (berlebihan), maka taburkanlah tanah ke wajah mereka.” (HR. Muslim)

Ini menunjukkan bahwa pujian yang berlebihan adalah bahaya sosial dan spiritual.

*Bagaimana Pujian Merusak Hati?*
Ketika seseorang:
- Senang disanjung
- Mencari pengakuan
- Bahagia jika disebut-sebut
- Gelisah jika tidak dipuji

Maka hatinya bergeser dari ikhlas kepada Allah menjadi bergantung kepada manusia. Inilah pintu riya’ dan ujub.

*Dampak Kesehatan Jika Hati Tenggelam Dalam Pujian*
Hadis di atas menegaskan bahwa kerusakan hati memengaruhi tubuh. Secara medis, ini nyata.

1️⃣ *Ketergantungan Dopamin*
Pujian memicu pelepasan dopamin (hormon reward). Jika dinikmati terus-menerus:
- Otak membentuk ketergantungan validasi sosial
- Seseorang sulit merasa cukup
- Timbul kecanduan pengakuan
Ini mirip pola adiksi perilaku.

2️⃣ *Stres Sosial Kronis*
Ketika citra menjadi segalanya:
- Takut dikritik
- Takut kehilangan reputasi
- Takut tidak dianggap

Tubuh memproduksi hormon stres (kortisol) berlebihan. Akibatnya:
- Tekanan darah naik
- Gangguan tidur
- Sistem imun melemah
- Mudah lelah

3️⃣ *Gangguan Kecemasan dan Insomnia*
Ketergantungan pada pujian membuat pikiran:
- Overthinking
- Sensitif terhadap komentar
- Tidak tenang

Akibatnya:
- Anxiety disorder
- Insomnia
- Tegang otot kronis

4️⃣ *Krisis Identitas dan Depresi*
Jika pujian berhenti:
- Harga diri runtuh
- Merasa tidak berharga
- Mudah depresi

Karena identitas dibangun dari validasi manusia, bukan kestabilan internal.

*Keterkaitan Hadis Dengan Ilmu Kesehatan*
Rasulullah ﷺ menyebut hati sebagai pusat kebaikan dan kerusakan. Ilmu kedokteran modern menemukan bahwa:
- Stres emosional memengaruhi jantung
- Emosi negatif meningkatkan inflamasi
- Gangguan psikologis memperlemah imun

Artinya, hadis ini bukan sekadar nasihat spiritual, tetapi realitas biologis.

*Kesimp**an*
Orang yang terus-menerus tenggelam dalam pujian berisiko:
- Ketergantungan validasi sosial
- Stres kronis
- Gangguan tidur
- Tekanan darah meningkat
- Kecemasan dan depresi

Dan semua itu bermula dari hati yang tidak dijaga. Maka menjaga hati dari ujub dan cinta pujian bukan hanya kewajiban agama, tetapi juga kebutuhan kesehatan.

*Bahaya Senang Dipuji: Pintu Ujub, Riya’, dan Celah Gangguan Ruhiyah*Perkataan para ulama tentang bahaya pujian bukan se...
14/02/2026

*Bahaya Senang Dipuji: Pintu Ujub, Riya’, dan Celah Gangguan Ruhiyah*

Perkataan para ulama tentang bahaya pujian bukan sekadar adab, tetapi peringatan tentang penyakit hati yang dapat menghancurkan amal dan membuka pintu gangguan ruhiyah.

*Peringatan Imam Al-Ghazali dan Ibnu ‘Ajibah*
Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum ad-Din (3/236) menjelaskan bahwa orang yang dipuji hendaknya waspada dari ujub, sombong, dan futur, serta hendaknya ia merenungi hakikat dirinya dan kemungkinan su’ul khatimah. Ia mengingatkan bahwa orang yang memuji tidak mengetahui aib batin yang tersembunyi.

Ibnu ‘Ajibah dalam Iqazh al-Himam juga berkata bahwa seseorang tidak boleh tertipu oleh pujian manusia, karena mereka hanya melihat zhahir, sedangkan isi hati hanya diketahui oleh diri dan Rabb-nya.

Keduanya dikenal dalam literatur pembenahan jiwa dan hati, peringatan mereka tentang ujub dan riya’ memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

*Dalil Al-Qur’an dan Terjemahannya*
1️⃣ *Larangan Mensucikan Diri*
Allah Ta’ala berfirman:
> _فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ_
“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32)
Ayat ini melarang membanggakan diri, termasuk merasa besar karena pujian manusia.

2️⃣ *Ancaman bagi Orang yang Riya’*
Allah Ta’ala berfirman:
> _فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ﴿٤﴾ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ﴿٥﴾ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ_
“Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, (yaitu) orang-orang yang berbuat riya’.” (QS. Al-Ma’un: 4–6)
Ibn Kathir menjelaskan bahwa riya’ adalah melakukan amal agar dilihat manusia, bukan karena Allah.

3️⃣ *Riya’ Disebut Syirik Kecil*
Rasulullah ﷺ bersabda:
> _أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ_
“Perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Riya’.” (HR. Ahmad, shahih)

*Bahaya Secara Kesehatan (Psikologi)*
Dari sisi medis dan psikologis:
1. Ketergantungan Validasi Sosial → adiksi dopamin.
2. Stres kronis → peningkatan hormon kortisol.
3. Gangguan kecemasan → takut kehilangan citra di mata manusia.
4. Narsistik traits → merasa superior dan sulit menerima kritik.
Akibatnya bisa berupa insomnia, tekanan darah meningkat, dan kelelahan mental.

*Bahaya Dalam Ilmu Ruqyah dan Gangguan Ruhiyah*
Dalam pengalaman ruqyah syar’iyyah, hati yang senang dipuji sering:
- Mudah terkena ujub
- Lalai dari muraqabah
- Lemah tawakal

Allah berfirman tentang tipu daya setan:
> _لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ_
“Sungguh aku akan menghias (kejahatan) bagi mereka di bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Al-Hijr: 39)
Setan menghias pujian hingga hati lalai.

*Mengapa Orang yang Senang Dipuji Mudah Tertimpa Gangguan?*
1️⃣ Memancing Hasad dan ‘Ain
Orang yang sering menampakkan kelebihan memicu iri dengki.
2️⃣ Melemahkan Benteng Ruhiyah
Hati yang ujub tidak khusyuk dalam dzikir, sehingga pertahanan spiritual melemah.
3️⃣ Membuka Celah Was-was dan Gangguan Jin
Setan mudah masuk pada hati yang merasa besar.

*Benteng Perlindungan*
Selain dzikir pagi dan petang:
✔ *Menyembunyikan Amal*
> _رَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا_
“Seseorang yang bersedekah lalu ia menyembunyikannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
✔ *Doa Ketika Dipuji*
_اللَّهُمَّ لَا تُؤَاخِذْنِي بِمَا يَقُولُونَ، وَاغْفِرْ لِي مَا لَا يَعْلَمُونَ، وَاجْعَلْنِي خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّونَ_
“Ya Allah, jangan Engkau hukum aku karena apa yang mereka katakan, ampunilah aku atas apa yang tidak mereka ketahui, dan jadikan aku lebih baik daripada apa yang mereka sangka.”

*Kesimp**an*
Senang dipuji dapat:
- Menghapus amal karena riya’
- Menumbuhkan ujub dan takabbur
- Melemahkan benteng ruhiyah
- Mengundang hasad
- Membuka pintu gangguan setan

Orang yang mengenal dirinya akan selalu merasa kurang dan takut amalnya tertolak.

Address

Jalan Salak Kompleks Btn Wirabuana (RUQYAH SYAR'IYYAH KENDARI)
Kendari

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ruqyah Syar'iyyah Kendari posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share