22/05/2026
Bukan bahasa Indonesia, bukan juga bahasa Arab. Jujur, awal mendengar ucapan ini, tim sempat bingung dan saling bertatapan. Ada rasa kaget sekaligus penasaran, "Bahasa apa yang sedang mereka bicarakan?" š¶
Momen ini terekam saat tim Indonesia Bisa Baca Quran (IBBQ) menginjakkan kaki di tanah Nusa Tenggara Timur. Di tengah keterbatasan kata yang sempat membuat kami terdiam, perlahan senyuman hangat dari para warga mulai mencairkan suasana.
Ternyata, setelah kami cari tahu maknanya... ucapan lantang yang kami dengar bukanlah sekadar kata-kata biasa. Itu adalah bait-bait sambutan hangat, sebuah untaian doa yang menegaskan bahwa kami, yang baru saja datang dari jauh, sudah dianggap sebagai saudara kandung mereka sendiri. šā¤ļø
Kejutan tak berhenti di situ. Dengan penuh ketulusan, sebuah kain tenun khas NTT yang indah disampirkan di pundak kami. Sebuah simbol kehormatan dan ikatan kekeluargaan yang begitu sakral.
Perjalanan ini kembali mengingatkan kami: Al-Qur'an dan iman tidak hanya menyatukan kita dalam ibadah, tapi juga meruntuhkan sekat-sekat perbedaan bahasa. Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota ini, kami belajar arti ketulusan yang sesungguhnya.