13/01/2026
BERORGANISASI, UNTUK MERAJUT UKHUWAH DEMI TEGAKNYA KALIMATILLAH ATAUKAH UNTUK BERPECAH BELAH DEMI MERAUP KESENANGAN DUNIA ?
Oleh : H. Muhammad Arman (Presidium PP PUI - Pengasuh Ponpes Amal Sunny Kediri)
Esensi berorganisasi itu sebenarnya utk memudahkan umat utk mengkoordinasikan & mensinergikan potensinya demi mencapai tujuan kemaslahatan umat dlm skala besar .... Dengan demikian setiap organisasi adalah piranti penopang, pelengkap & penyempurna bagi yg lain dlm mewujudkan cita2 bersama ...
Lebih2 jika mengingat maqalah bhw bilamana kekuatan kebenaran jika tidak terorganisir maka akan dapat dgn mudah dikalahkan oleh kekuatan kebatilan yg lebih terorganisir (الحق بلا نظام يغلبه الباطل بنظام) , maka kehadiran organisasi umat yg memiliki kepedulian utk memperjuangkan perkara haqq adalah urgen adanya kendati harus tampil dengan warna seragam organisasi yg berbeda mengikuti karakteristik anggotanya ...
Namun ironisnya, keberadaan organisasi yg beraneka rupa justru membetot umat utk mengkristalisasi diri bersama kelompoknya dgn memberi sekat tebal yg membatasi wilayah kepentingan mereka sendiri2, seakan2 masing2 merupakan satu2nya organ vital bagi sebangun tubuh bernama kaum muslimin , sementara organ yg lain hanyalah kutil benalu yg harus dimutilasi ....
Padahal, Islam datang demi merobohkan sekat2 ashobiyah & meruntuhkan tembok primordial yg bakal membatasi & mempersempit ruang ukhuwwah Islamiyyah yg disemainya , dan orang2 yg mengaku sbg pemeluk gigih Islam secara turun temurun ini justru menghendaki sekat kejahiliyahan tadi semakin menebal & menggila di kalangan pemujanya ....
Nyatanya, memang sudah menjadi wabah yg luar biasa menerpa di sanubari para tokoh warga kita, yang jangankan dgn pendakwah yg berbeda warna baju seragam --- dengan sesama baju ormas pun seringkali saling menjegal demi membesarkan jamaahnya sendiri ...😪😓
Kiranya fenomena itulah yg pernah disinggung oleh Al-Maghfurlah Kiai Masruhin Jampes dengan dawuh beliau berikut ini :
" _Tugas Dakwah Islamiyyah itu sungguhlah berat yang bilamana dibopong dgn satu punggung maka takkan terangkat seutuhnya ... Karena itu dibutuhkan punggung2 yg lain yg membantu menjunjung beban dakwah yg semakin hari kian terasa berat itu, dimana bila ada punggung lain yg berkenan turut memanggulnya , maka itulah saudara seperjuangan kita yg mesti kita rangkul dgn hati penuh s**a cita , dan di sinilah nilai keikhlasan kita bisa terukur_ "
Namun yang kerapkali terjadi, demi memuja keta'ashuban thd ormas atau kelompok sendiri ada di antara kita yang tak segan menghancurkan bejana tempat kaum muslimin minum bersama agar bisa menikmati dgn leluasa setangguk air di genggamannya ...
Orang2 seperti itu sudah tentu takkan pernah memahami keindahan kebersamaan dengan berjajar bersama barisan saudaranya yg lain ...
Dan sungguh kalaupun ia pernah menyentuhkan kening di pelataran suci Tanah Haram, maka pasti hatinya meranggas dlm keterasingan berada dlm himpitan shaf berjuta saudaranya yg lain karena merasa bukan satu kesatuan tubuh & jiwa dari kaum muslimin yang beraneka ragam asal negara & baju organisasinya .....
Bagaimana orang yang berkubang dalam fanatisme ormas seperti itu bisa bermimpi menjadi bagian dari barisan pendukung Khilafah Al-Mahdi yang menyatukan umat sedunia di bawah panji-panji Rasulullah, sedangkan azamnya sedari mula telah berpaling jauh dari sana , bahkan angannya pun tak pernah sudi singgah ke tepiannya hanya gara2 di situ banyak berkerumun orang2 yg berbeda baju seragam dengannya ...🤷
Lebih ironis lagi, banyak di antara kita yg seringkali menonjolkan ego kelompok dan kebangsaan tidak hanya di tempat tinggal sendiri, bahkan di ranah orang dan di depan Baitullah pun kita tak jarang lebih membela kepentingan kelompok dibanding kemaslahatan segenap kaum muslimin .....
Padahal Allah sendiri menyatakan dlm sebuah hadits qudsy bhws haq seorang yg terikat dlm persaudaraan Islam itu lebih besar dan lebih menuntut utk diperhatikan dibanding haq Baitullah , apalagi sekedar haq kelompok atau golongan ....
Padahal semestinya kita berasa malu jika menonjolkan simbol2 ta'ashub golongan di hadapan simbol2 keagungan Rasulullah yg menaungi seluruh jagad ini termasuk di masjid-masjid yang merupakan baitullah yang tegak berdiri meratai segenap hamparan bumi ini...
Mencintai kabilah atau bangsa dimana kita dilahirkan tentu boleh2 saja, namun kecintaan itu tatkala bersanding dgn kecintaan yg jauh lebih besar tentunya mesti dipendam atau dilarutkan sedemikian utk tidak menggema kecuali hanya di habitatnya semula ....
Seumpama mencintai diri sendiri dan keluarga termasuk ibu bapa, yang mana kecintaan yg memang menjadi fitrah diri manusia itu harus dilebur dlm kecintaan yg jauh lebih utama yaitu kecintaan kpd Allah & Rasul-Nya ....
Bukankah semisal kita berjajar di dalam wadah kebangsaan, maka sudah semestinya simbol2 primordial yg berkenaan dgn kedaerahan atau keorganisasian kita dilebur sejenak dlm satu simbol yg mengikat dan menaungi jati diri kita semua, sehingga tak perlu lagi ditonjolkan keJawaan atau keBatakan kita , begitu p**a tak perlu dipertontonkan lagi ke-NU-an atau ke-Muhammadiyah-an kita dalam pentas kebangsaan yg digelar bersama oleh segenap komponen bangsa ....
Maka sedemikian juga ketika kita berada di masjid-masjid apalagi di Masjid Haramain yg menjadi wahana pengabdian bagi umat muslim seluruh dunia, seharusnya lebih menyukai menanggalkan atribut kebangsaan selain hanya sekedar gelang atau pita identitas dan lebih memilih berpakaian putih2 agar bisa menyatu dlm jati diri kebersamaan kaum muslimin dari segala penjuru negeri .....
Boleh dibayangkan seumpama di setiap Masyair (tempat syiar peribadatan haji) dan di setiap Rumah-Rumah Allah yang mana setiap muslim diperkenankan utk mengekspresikan semangat nasionalismenya atau ghirah keorganisasiannya , maka lambang syiar dan ukhuwah Islam tentu akan tenggelam dan tertelan berjubel simbol atau lambang kebanggaan masing2 orang .... 😰😰
Lebih memprihatinkan lagi ketika kita disuguhi ironi yang cukup memilukan hati, dimana banyak teman sejawat yang mengaku masih mencintai setitik darah Islam mengalir dalam tubuhnya namun selalu mendukung sepak terjang rezim penguasa yang kekuatan di belakangnya amat bernafsu menghimpit Islam hingga tak lagi leluasa bernapas di bumi nusantara ini selain hanya menggeliat lemah dlm riak2 kehidupan tak berarti , serta lebih memilih berasyik masyuk dengan kufar yang tiada sejentik pun memiliki kepedulian terhadap keluhuran agama Allah dan kebaikan umatnya bahkan selalu mengincar kelengahan umat untuk bisa memperdayainya dan sekaligus membinasakannya....
Atas nama maqalah agung yang disandarkan sebagai ucapan Sayyidina Ali : "_Mereka yang bukan saudaramu se-iman, tak lain adalah saudaramu dalam kemanusiaan_" , lantas melenggang kesana kemari dengan gesitnya menyuarakan jargon2 toleransi & humanity yang dibekap erat dalam kemasan nasionalisme & pluralisme kebangsaan, namun dalam kecekatan mengusung pesan2 moral kemanusiaan & kemajuan peradaban itu justru mengalami kegagapan & kegagalan kala menerapkan maqalah yg lebih menuntut prioritas dlm bingkai ukhuwah Islamiyyah berikut ini :
*Dia yang bukan saudaramu dalam jam'iyyah, tak lain adalah saudara dalam aqidah* "
Sehingga tak ayal lagi, anak siamang dari hutan belantara pun ditimang & disus**an , sementara anak sendiri dilempar jauh dari pangkuan ... 😨😰
Adakah ia menepuk dadanya sebagai pahlawan bagi para pembegal harta berharga Islam kala ia membantu mengasah parang mereka utk mengiris nadi agama Allah di depan mata umatnya sendiri ?
Apa yg sebenarnya diidamkannya, apakah kibaran panji kebesaran organisasinya yg berkelebat gagah di atas reruntuhan puing2 tiang penyangga agamanya sendiri ? 😭
Inilah awal bencana besar yang mengharu-biru dan memporak-porandakan kekuatan umat ini dan bakal mengantarkan pada takdir kehancurannya di akhir zaman nanti ☝🏻
" _Titik pangkal dan pokok penyebab terjadinya perpecahan sesama Muslim adalah karena mereka hanya sibuk memandang adanya perbedaan diantara mereka, bukan memandang besar dan kuatnya persamaan yang ada pada diri mereka sebagai sesama penganut Islam_ "
" _Justru sebaliknya banyak diantara kita (Muslimin) yang mengklaim adanya persamaan antara agama satu dengan yang lain dengan melupakan besarnya perbedaan mendasar antara Islam dengan agama yang lain_"
(Abuya al Habib Abdullah Muhammad Baharun)
" _(Kondisi ironis) itu karena salahnya umat Islam sendiri... yang mana sebagian dari mereka ada yang gemar mencari muka dan mendorong kuffar yg minoritas menjadi berani terhadap muslim yg mayoritas_"
( K.H. Zuhrul Anam Hisyam, menantu Mbah Maimun Zubair Sarang )