30/05/2026
PUNCAK PERJUANGAN DI MINA
(Bagian 1)
Mabit di Mina, adalah rangkaian ibadah setelah wukuf di Arafah dan singgah di Muzdalifah. Disinilah ternyata, kesabaran dan daya tahan jamaah diuji. Dimulai dari pesanan tempat dari teman jamaah mabit di Muzdalifah yang ternyata "terpaksa rela di lepaskan" karena ego kelompok yang merasa besar dan merasa paling memiliki hak di Mina.
Pagi pukul enam, kami memulai perjuangan pertama.
Menempuh jarak sekitar 4 km pergi p**ang, dengan berjalan kaki menuju ke Jamarat guna menyesuaikan wajib haji, melontar jumrah Aqabah. Kami melalui terowongan Mu'ashim, bersama ribuan tamu Allah, yang mengalir teratur dalam pengawasan ketat aparat Kerajaan Saudi.
Ketahanan dan kekuatan fisik, benar-benar diuji. Kami hanya berbekal tiga botol air, yang kami sediakan untuk kami berdua. Kami lalui jalan jalan beraspal dengan penuh haru dan harap. Persimpangan jalan yang menjadi tumpukan jamaah, yang bingung, pun menjadi saksi perjalanan kami. Beton dan konblok penghubung 2 terowongan yang menembus dinding gunung batu pun kami terbatas, dengan penuh semangat.
Sampai di pilar jumrah Aqabah, desakan dari kiri, rangsekan dari kanan, dorongan dari belakang, adalah hal yang baru kami alami disini.
Akhirnya tangan pun mengayun sekuat tenaga melontarkan batu ke arah pilar, seraya berseru "Bismillahi Allahu Akbar" mencontoh apa yang dilakukan nabi Ibrahim tatkala melempar syaitan yang menggodanya. Ini adalah bagian pertama dari ujian di Mina.
Ujung jalan setelah pilar Aqabah terlihat, dan ini lah titik krusial berikutnya. Bagi mereka yang kurang konsentrasi, pasti akan terbawa arus jamaah yang kebanyakan memilih jalur lurus mengarah ke Kota Makkah. Dimana jalur itu berbeda dengan jalur kep**angan sesungguhnya, dan bahkan akan membuat tersesat lebih jauh.
Inilah yang terjadi di rombongan kami hari itu. Dari sekitar enam puluhan jamaah, hanya kami yang sepuluh jamaah, tidak mengambil jalur lurus, melainkan belok ke arah kanan, kembali ke arah terowongan Mu'ashim, dan Alhamdulillah kami sampai di tenda Mina sesuai jadwal yaitu pukul sembilan pagi.
Disini ujian kesabaran kembali terjadi, saat badan mulai lelah, terbayang empuknya kasur seakan memanggil : "kemarilah... kemarilah... akan ku obati letih mu seperti tadi malam"
Tetapi ...
Harapan itu hanyalah halusinasi ...
Harapan kenyamanan diatas kasur empuk Mina, tetap berwujud hayalan, tanpa berubah menjadi kenyataan.
Jatah kasur terpaksa berganti tuan, karena ego kelompok yang merasa berhak.
Belum lagi informasi dua puluh lima jamaah lain, yang belum mendapat kabar akan hak kasurnya di tenda itu.
Namun setelah ditelusuri ternyata hanya sepuluh jamaah saja, yang benar-benar tidak mendapatkan kasih sayang kasur empuk Mina, sang pelepas letih, meskipun ketua kloter sudah merelakan kasur nyamannya di boyong ke tenda dapur, agar tenda cukup untuk jamaah.
Masalah empuknya kasur belum selesai, namun kami harus berfikir kembali soal rombongan kami, yang masih belum kembali ke tenda. Ada p**a kisah lain yang jamaah ini terpaksa di evakuasi dari tenda jamaah negara lain.
Yang paling mengkhawatirkan adalah kisah jamaah yang terpisah dari rombongan, sementara shareloknya tidak bisa di telusuri. Disinilah kekuatan intuisi dan kesolidan jamaah berperan, daripada hanya kecerdasan membaca map.
Saat ada yang mundur karena khawatir jadi jamaah yang dicari, majulah jamaah lain yang memunculkan solusi, sehingga alhamdulillah masalah teratasi. Jamaah yang sempat enam jam terpisah akhirnya kembali.
Misfalah, 30 Mei 2026
_BimamedantigaDua_
Penulis : MRT
Editor : MMC
Untuk SIMAK