KBNU Lampung Selatan

KBNU Lampung Selatan BUAH DUKU BUAH JAMBU, BERSAMA NU LAMPUNG SELATAN MAJU.

"Berkhidmah di Fatayat NU bukan sekadar menjalankan roda organisasi, melainkan jalan menjemput rida Allah (Libtigho-i Ma...
09/05/2026

"Berkhidmah di Fatayat NU bukan sekadar menjalankan roda organisasi, melainkan jalan menjemput rida Allah (Libtigho-i Mardhotillah). Menanamkan rasa cinta kepada Nahdlatul Ulama di dalam dada, agar setiap perjuangan terasa ringan dan bermuara pada doa Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy'ari: diakui sebagai santri beliau dan didoakan meninggal dalam keadaan husnul khotimah.

Selamat dan sukses atas Pelantikan PAC Fatayat NU Kecamatan Palas Masa Khidmat 2025-2029. Bersama Majelis Istighotsah Al Istiqomah, kita perkuat iman dan pengabdian.

Berorganisasi bukan sekadar tentang posisi, tapi tentang kesinambungan khidmat yang terjaga.Pelantikan ini adalah awal d...
04/05/2026

Berorganisasi bukan sekadar tentang posisi, tapi tentang kesinambungan khidmat yang terjaga.

Pelantikan ini adalah awal dari tanggung jawab baru untuk Fatayat NU di Kecamatan Palas selama empat tahun ke depan.

Mari hadir dan menjadi saksi dimulainya masa khidmat 2025-2029.

Sabtu, 9 Mei 2026 di Masjid Darul Iqomah Desa Bumi Restu. Palas.

Sejak bertahun-tahun lalu, JPZISNU Al-Istiqamah tetap istiqomah dengan ciri khasnya: sowan langsung ke rumah jamaah. Bag...
30/01/2026

Sejak bertahun-tahun lalu, JPZISNU Al-Istiqamah tetap istiqomah dengan ciri khasnya: sowan langsung ke rumah jamaah. Bagi kami, pentasyarufan adalah sarana silaturahmi yang paling utama.

Jumat (30/01), kami berkesempatan menyambangi kediaman para penerima manfaat di dua wilayah:

Wilayah Kalianda:

Ananda Azira (putri Ibu Riyanti) - MT Al-Maghfiroh.

Wilayah Palas:

Bapak Winardi (suami Ibu Mariyam) - MT Darul Iqomah.

Ananda Tedi (putra Ibu Kalimah) - MT Darul Iqomah, Bumi Restu.

Ahli Waris Almarhumah Ibu Marwiyah - MT Nurul Iman, Cita Jaya (Santunan Meninggal Dunia).

Alhamdulillah, Ananda Azira dan Ananda Tedi kini sudah di rumah dalam masa pemulihan. Semoga santunan dari Koin NU ini membawa berkah dan kesembuhan. Inilah kekuatan 'recehan' jamaah yang dikelola secara amanah.

KEMANDIRIAN DI PELATARAN SAFINATUN NAJAH.Oleh: Edi Sriyanto.Membaca potret Harlah ke-92 Nahdlatul Ulama di Lampung Selat...
22/01/2026

KEMANDIRIAN DI PELATARAN SAFINATUN NAJAH.

Oleh: Edi Sriyanto.

Membaca potret Harlah ke-92 Nahdlatul Ulama di Lampung Selatan tahun 2018 adalah membaca sebuah kejujuran dalam berkhidmat.

Di lokasi yang kelak menjadi mercusuar peradaban, Masjid Safinatun Najah, terpampang sebuah spanduk hijau yang tidak biasa: Ekspose 9 Program PCNU Lampung Selatan 2018. Spanduk itu bukan sekadar pajangan, melainkan kontrak jam'iyyah di hadapan jamaah.

Di sana tertulis dengan tegas bahwa NU tidak sedang bermain-main dengan janji struktural. Dari urusan batin melalui Lailatul Ijtima’ dan ngaji Hikam, hingga urusan kedaulatan ekonomi melalui workshop kewirausahaan dan penyebaran kotak LAZIS NU di 256 desa, semua tertata dalam garis waktu yang presisi. Inilah wajah NU yang mandiri; organisasi yang tidak hanya pandai berwacana di atas mimbar, tapi nyata secara amal shaleh di tengah umat.

Suasana kebatinan warga saat itu terekam jelas dalam Grebeg Tumpeng. Sekitar seratusan tumpeng yang dibawa secara swadaya oleh Muslimat, MWCNU, dan para penggerak adalah bukti bahwa semangat kemandirian telah mendarah daging. Tumpeng-tumpeng itu adalah simbol dari kedaulatan dapur jam'iyyah yang tidak bisa dibeli.

Di pelataran masjid yang saat itu tiang-tiang bambunya masih menyangga beton-beton kokoh, warga berkumpul dengan satu keyakinan: bahwa masjid ini harus berdiri tembok di akhir tahun 2018, sebagaimana tertulis dalam poin kesembilan ekspose program tersebut.

Pembangunan ini menjadi ujian sekaligus pembuktian bahwa kekuatan kolektif Nahdliyin mampu mengubah lahan marjinal menjadi episentrum gerakan yang diperhitungkan.

Sinergi antara kiai sepuh jajaran Syuriyah yang memimpin doa dengan para penggerak Tanfidziyah yang mengeksekusi sembilan program tersebut menciptakan sebuah harmoni pergerakan yang luar biasa.

Di bawah kepemimpinan H. Nur Mahfudz marwah NU Lampung Selatan ditegakkan melalui kerja-kerja taktis yang terukur. Ekspose program tersebut adalah cara NU menunjukkan transparansi dan tanggung jawab kepada basis massa.

Bahwa koin-koin yang dikumpulkan dari saku warga di 256 desa benar-benar menjelma menjadi tembok-tembok masjid, menjadi pembentukan ranting-ranting baru, dan menjadi penguatan ideologi melalui Madrasah Kader NU.

Refleksi Harlah ke-92 ini akhirnya memberikan pesan abadi bagi kita semua: bahwa harga diri organisasi hanya bisa tegak jika ia memiliki kemandirian total. Safinatun Najah, sang perahu penyelamat, adalah saksi bisu betapa NU di Lampung Selatan pernah dan akan selalu menjadi jangkar bagi keselamatan umat.

Warisan semangat 2018 ini dengan seratusan tumpengnya dan sembilan nawa baktinya adalah sanad khidmah yang harus terus dijaga arah layarnya. Sebab, bagi Nahdliyin, ber-NU adalah tentang bagaimana memastikan setiap koin keikhlasan warga menjadi fondasi yang kokoh bagi tegaknya martabat agama dan bangsa.

Selamat Harlah 103 Tahun NU (16 Rajab 1447 H) dan Harlah 100 Tahun NU (31 Januari 1926 - 31 Januari 2026) dan Harlah 103 Tahun NU Hijriyah.

Momentum bersejarah ini menjadi saksi atas komitmen kita bersama dalam "Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia".

Mari kita terus melayarkan kapal besar ini dengan semangat kemandirian yang telah kita tanam di Lampung Selatan, agar Nahdlatul Ulama tetap menjadi "Perahu Penyelamat" yang kokoh mengarungi samudera zaman demi kemaslahatan umat yang hakiki.

Merawat Jagat, Membangun Peradaban.

H-5 Menuju SILATDA V & HARLAH Ke-100 NUSatu abad adalah bukti ketangguhan, namun abad kedua adalah ujian bagi kesetiaan....
19/01/2026

H-5 Menuju SILATDA V & HARLAH Ke-100 NU

Satu abad adalah bukti ketangguhan, namun abad kedua adalah ujian bagi kesetiaan. Di titik lima hari menjelang puncak, kita tidak hanya menghitung waktu, melainkan sedang memperpendek jarak antara instruksi dan eksekusi.

Menjadi bagian dari sejarah 100 Tahun Nahdlatul Ulama bukan sekadar hak istimewa, tapi tanggung jawab untuk memastikan panji organisasi tetap tegak dengan adab yang utuh. Di Lampung Selatan, kita jemput fajar abad kedua dengan militansi yang terukur dan barisan yang tak terpecah.

Siapkan atribut, kencangkan ikat pinggang. Pastikan setiap langkah kita adalah cerminan dari pengabdian yang tuntas tanpa sisa ragu, tanpa jeda ragu.

H-5. Menata barisan, menjemput masa depan!

Siapa Kita...???!!!

H-6 Menuju SILATDA V & HARLAH Ke-100 NUEnam hari menjelang puncak sejarah, koordinasi di Masjid Safinatun Najah hari ini...
18/01/2026

H-6 Menuju SILATDA V & HARLAH Ke-100 NU

Enam hari menjelang puncak sejarah, koordinasi di Masjid Safinatun Najah hari ini bukan sekadar pertemuan teknis, melainkan penyatuan frekuensi batin. Di tempat yang bermakna "Kapal Penyelamat" ini, kita diingatkan bahwa perjalanan menuju satu abad Nahdlatul Ulama adalah perjalanan ruhani yang panjang.

Bagi Kader Penggerak Lampung Selatan, Silatda V adalah momentum untuk membersihkan "korosi pemikiran" segala keraguan dan kelelahan yang mungkin sempat hinggap di hati. Kita ingin memastikan bahwa sebelum kaki melangkah di arena Silatda, hati kita telah lebih dulu murni dalam khidmat.

Dini hari di Masjid Safinatun Najah nanti akan menjadi saksi. Saat dunia terlelap, kita akan terjaga untuk Mujahadah, mengetuk pintu langit di kesunyian jam 00.00 WIB. Karena kita percaya, kekuatan sebuah organisasi tidak hanya terletak pada rapatnya barisan fisik, tapi pada jernihnya niat dan kuatnya sambungan doa kepada para Muassis.

H-6. Mari siapkan fisik, jernihkan hati. Sampai jumpa di pelataran doa menuju abad kedua yang digdaya.

Siapa Kita...???!!!

H-7 : Menuju SILATDA V dan HARLAH Ke-100 NU."Satu abad bukanlah sekadar angka yang meluruh ditelan zaman, melainkan jemb...
18/01/2026

H-7 : Menuju SILATDA V dan HARLAH Ke-100 NU.

"Satu abad bukanlah sekadar angka yang meluruh ditelan zaman, melainkan jembatan ruhaniah yang menghubungkan doa para muassis dengan keringat perjuangan kita hari ini. Di titik tujuh hari menuju puncak, Lampung Selatan bersiap mengawinkan dua momentum besar dalam satu detak jantung jam'iyyah.

Kita tak ingin melangkah dengan kepala yang riuh namun hati yang kosong. Maka, Silatda V ini kita awali dengan 'mengetuk pintu langit' pada titik nol malam. Sebuah laku tirakat di keheningan 00.00 WIB, untuk memastikan bahwa sebelum kaki bergerak di bumi, jiwa telah lebih dulu bersimpuh memohon restu Arsy.

Satu abad NU adalah muara syukur, dan Silatda adalah ruang kita menyuling kembali niat agar tetap murni."

H-8: Menuju SILATDA V dan HARLAH Ke-100 NU.Menata niat adalah kunci, namun ketepatan waktu adalah bukti. Mengingat agend...
17/01/2026

H-8: Menuju SILATDA V dan HARLAH Ke-100 NU.

Menata niat adalah kunci, namun ketepatan waktu adalah bukti. Mengingat agenda Mujahadah Titik Nol dimulai tepat pukul 00.00 WIB, maka kedisiplinan menjadi ujian pertama bagi setiap Kader Penggerak.

Agar barisan tetap rapat dan ruhani tetap terjaga, pastikan kita sudah beranjak dari rumah pada Sabtu Malam (24 Januari) ba’da Isya. Perjalanan menuju Masjid Safinatun Najah adalah hijrah kecil kita menuju pelataran syukur satu abad jam'iyyah.

Jangan biarkan barisan lowong karena salah perhitungan waktu. Bagi kita, hadir sebelum 'titik nol' adalah bentuk penghormatan (adab) kepada para masyayikh yang akan memimpin wasilah doa.

Sampai jumpa di keheningan Sabtu malam menuju Ahad pagi. Siapkan fisik, kuatkan militansi.

Siapa Kita...???!!!

H-9 MENUJU SILATDA V & HARLAH 100 TH NU: MENJEMPUT BAROKAH DI TITIK NOL MALAM.Sembilan hari lagi, Bumi Kalianda akan men...
16/01/2026

H-9 MENUJU SILATDA V & HARLAH 100 TH NU: MENJEMPUT BAROKAH DI TITIK NOL MALAM.

Sembilan hari lagi, Bumi Kalianda akan menjadi saksi berkumpulnya para pemanggul amanah dalam SILATDA V Kader Penggerak NU Lampung Selatan. Sebuah momentum bersejarah yang bertepatan dengan satu abad perjalanan jam'iyyah kita tercinta.

Namun, SILATDA bukan sekadar pertemuan struktural. Ia adalah perjumpaan batin yang akan dimulai tepat saat waktu menunjukkan pukul 00.00 WIB.

Di tengah keheningan malam, kita tidak hanya akan bermujahadah, tetapi juga akan melantunkan sebuah "Harta Karun" spiritual yang amat berharga: Istighotsah Alhasyimiyah.

Wirid ini adalah buah dzikir yang disusun langsung oleh Hadratussyaikh KH M. Hasyim Asy’ari. Sempat menjadi "pusaka yang tersembunyi," sanad istighotsah ini terjaga melalui rantai keilmuan yang kokoh dari Tebuireng hingga ke tangan para kiai sepuh di Ponorogo dan Tremas, sebelum akhirnya kembali diijazahkan secara luas untuk warga Nahdliyyin.

Bagi kita, Kader Penggerak, mengamalkan istighotsah ini bukan sekadar membaca rangkaian asmaul husna dan shalawat. Ia adalah upaya menyambungkan sanad ruhani kita langsung kepada Sang Pendiri NU. Di dalamnya terdapat dosis doa yang tepat untuk menguatkan pundak kita dalam mengawal Indonesia Merdeka menuju peradaban mulia.

Mari kita siapkan hati dan fisik, pada 25 Januari 2026 nanti, di Masjid Safinatun Najah, kita akan mengetuk pintu langit bersama-sama.

Kita awali pengabdian ini dengan adab dan kerendahan hati, bersimpuh dalam mujahadah, meneladani keteguhan langkah para muassis melalui wasilah dzikir yang mereka tinggalkan.

Sampai jumpa di titik nol malam, Kader Penggerak.

Lokasi: Masjid Safinatun Najah, PCNU Lampung Selatan. Waktu: Ahad, 25 Januari 2026 (Mulai Pukul 00.00 WIB).

Siapa Kita...???!!!

Jalan Khidmah Kiai Zuhri Rohmad.Oleh: Edi Sriyanto.Menilai pengabdian seseorang dalam sebuah organisasi sebesar Nahdlatu...
15/01/2026

Jalan Khidmah Kiai Zuhri Rohmad.

Oleh: Edi Sriyanto.

Menilai pengabdian seseorang dalam sebuah organisasi sebesar Nahdlatul Ulama seringkali terjebak pada angka-angka administratif atau kemegahan fisik. Namun, di Merbau Mataram, kita diajak untuk melihat NU dari sisi yang paling otentik: sebuah gerakan yang bermuara pada ketulusan dan konsistensi yang melampaui zaman. Di titik inilah, nama Kiai Zuhri Rohmad menjadi catatan penting bagi sejarah hijau di Lampung Selatan.

Beliau bukan sekadar Rais Syuriyah yang duduk di barisan depan saat seremoni. Beliau adalah jangkar spiritual yang telah memancangkan fondasi ideologi jauh sebelum wilayah ini mengenal hiruk-pikuk perkembangan modern.

Militansi Kiai Zuhri bukanlah sesuatu yang lahir dari ruang hampa. Ia adalah buah dari sanad perjuangan yang terjaga secara biologis dan ideologis. Lahir di Kulon Progo, 6 Juli 1951, beliau tumbuh di bawah asuhan almarhum Kiai Ahmad Badri, seorang tokoh NU yang juga dikenal sebagai Gusdurian pada masanya.

Spirit inklusif dan keberpihakan pada rakyat kecil itulah yang kemudian diperkuat saat beliau menimba ilmu di Pondok Pesantren Wates (Pesawat), di bawah asuhan Kiai Hasan Tholabi.

Sejarah mencatat, di usia yang sangat muda, beliau sudah terjun menjadi anggota Ansor pada tahun 1965 di Kulon Progo. Menjadi bagian dari Ansor di tahun yang penuh pergolakan tersebut membentuk mental baja yang kelak beliau bawa saat merantau ke tanah Lampung. Spirit ke-NU-an itu tumbuh subur dengan sendirinya karena telah mengakar sejak lahir.

Saat menginjakkan kaki di Lampung, Kiai Zuhri menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah pemekaran struktur NU. Jejak pengabdiannya mengikuti perkembangan administratif wilayah; mulai dari menjabat Ketua Ranting Merbau Mataram saat masih di bawah Kecamatan Panjang (1992), berlanjut ke Kecamatan Katibung (1997), hingga akhirnya mandiri di bawah Kecamatan Merbau Mataram.

Tantangan saat itu tidaklah ringan. Mengingat saat itu belum ada pondok pesantren sebagai sentral dakwah di Merbau Mataram, Kiai Zuhri menjadikan dirinya sebagai "sentral" yang bergerak. Dengan sepeda jengki berwarna hijau, beliau menyisir jarak yang tak dekat demi mengetuk pintu para kiai sepuh, tokoh agama, hingga guru Madrasah Diniyah di pelosok desa.

Beliau hadir sebagai "kaum" yang memimpin Yasinan dan Tahlilan dari rumah ke rumah. Strategi "pintu ke pintu" ini membuktikan bahwa kekuatan NU yang sesungguhnya terletak pada kelekatan kultural. Keberhasilan beliau memastikan 60 persen Ranting tetap aktif hingga saat ini adalah akumulasi dari setiap kayuhan pedal yang beliau lakukan selama puluhan tahun.

Sebagai seorang pemimpin, Kiai Zuhri memiliki kearifan untuk melihat realitas dengan jernih. Beliau tidak menutupi bahwa tantangan dalam merangkul keragaman latar belakang sosiologis dan entitas budaya tertentu di wilayahnya masih menjadi tugas besar yang belum usai.

Beliau menyadari bahwa meski secara amaliah keagamaan sudah memiliki banyak titik temu, menyatukan mereka ke dalam barisan struktural organisasi masih membutuhkan pendekatan yang lebih persentuhan (persuasif) dan kultural.

Kejujuran ini menunjukkan bahwa bagi beliau, NU bukan soal dominasi administratif, melainkan soal upaya terus-menerus untuk membangun jembatan persaudaraan di tengah heterogenitas masyarakat Lampung.

Dua dekade lebih (2002-2023) menakhodai jajaran Tanfidziyah, Kiai Zuhri menunjukkan stabilitas kepemimpinan yang luar biasa sebelum akhirnya mengemban amanah sebagai Rais Syuriyah masa khidmah 2023-2028. Beliau telah tuntas dengan urusan teknis, dan kini berdiri sebagai penjaga gawang marwah yang meneduhkan.

Bahkan di usia senja, api militansinya tidak pernah padam. Keikutsertaan beliau dalam PKPNU Angkatan II pada Maret 2020 di usia 69 tahun adalah pesan simbolik yang sangat kuat: bahwa di NU, khidmah adalah proses belajar yang hanya akan berhenti saat napas pun terhenti. Kiai Zuhri Rohmad telah mengajarkan kita bahwa menjaga panji ulama bisa dilakukan dengan cara yang paling sunyi sekalipun, di atas pedal sepeda jengki kesabaran.

Address

Jln. Lintas Sumatera, Way Lubuk Kalianda
Kalianda

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when KBNU Lampung Selatan posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share