03/06/2026
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, sahabat yang mulia pernah mengingatkan kita dengan sebuah nasihat yang sangat visual. Beliau berkata bahwa hati ini adalah wadah. Sebagai orang tua yang sedang membesarkan generasi penghafal dan pencinta Al-Qur'an di sekolah agama, pertanyaan ini terasa sangat dekat dengan keseharian kita.
Di zaman ketika gawai dan media sosial begitu mudah mengisi ruang hati anak-anak kita, nasihat Ibnu Mas'ud ini menjadi alarm yang keras. Bukannya tanpa alasan beliau berkata "jangan kalian penuhi dengan selainnya," karena hati yang terisi hal-hal kurang bermanfaat akan sulit menerima cahaya Al-Qur'an. Bukan berarti anak-anak tidak boleh bermain atau bersantai, tapi jangan sampai wadah hati yang paling dalam justru didominasi oleh lirik lagu, konten viral, atau obrolan kosong, sementara Al-Qur'an hanya singgah sebentar saat mengaji.
Mari kita jadikan rumah sebagai tempat di mana Al-Qur'an benar-benar mengisi hati. Ajak anak-anak mendengarkan murottal saat bangun tidur, baca satu halaman bersama usai maghrib, atau hafalkan satu ayat kecil setiap selesai shalat berjamaah. Lama-lama, wadah hati mereka akan terisi dengan kalamullah, dan ketika dihadapkan pada pilihan antara menonton video atau mendengarkan Al-Qur'an, mereka akan lebih condong pada yang terakhir. Bukankah itu investasi terbaik untuk ketenangan dunia dan akhirat mereka?
Nah, Ayah dan Bunda, bagaimana kebiasaan keluarga di rumah dalam mengisi hati anak-anak dengan Al-Qur'an setiap hari? Apakah ada rutinitas seru yang membuat si kecil semangat mendengar atau membaca ayat-ayat suci? Atau mungkin Anda punya tantangan unik dalam membiasakan ini? Yuk, ceritakan pengalamannya di kolom komentar agar kita bisa saling menginspirasi dan menguatkan. Jangan lupa, hati yang penuh dengan Al-Qur'an akan bersinar dalam gelapnya dunia. Semangat mendidik generasi Qur'ani!