Ansor Ranting Bantrung

Ansor Ranting Bantrung Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Ansor Ranting Bantrung, Jepara.

Di Balik kemerdekaan ada perjuangan. Semoga persatuan ini bisa tetap terjaga demi Indonesia. Dirgahayu Indonesia ke-79 t...
16/08/2024

Di Balik kemerdekaan ada perjuangan. Semoga persatuan ini bisa tetap terjaga demi Indonesia. Dirgahayu Indonesia ke-79 tahun 2024.

Rutinan khotmil qur'an di kediaman sohabat Hari
02/08/2024

Rutinan khotmil qur'an di kediaman sohabat Hari

Rutinan khotmil qur'an di rumah sohabat Hari
02/08/2024

Rutinan khotmil qur'an di rumah sohabat Hari

Selamat untuk sahabat Solikul Arif, atas terpilihnya sebagai Ketua PAC GP Ansor Batealit 2024-2026....
12/01/2024

Selamat untuk sahabat Solikul Arif, atas terpilihnya sebagai Ketua PAC GP Ansor Batealit 2024-2026....

Rutinan Jum'at Legi : Khotmil Qur'an di rumah sahabat Ahmad Jauhari
05/01/2024

Rutinan Jum'at Legi : Khotmil Qur'an di rumah sahabat Ahmad Jauhari

Rutinan Manaqib MDS Rijalul Ansor di rumah sahabat Yanto
01/01/2024

Rutinan Manaqib MDS Rijalul Ansor di rumah sahabat Yanto

Rutinan Manaqib di rumah sohabat Rizal
01/01/2024

Rutinan Manaqib di rumah sohabat Rizal

01/01/2024
https://youtu.be/gEyoNwG0EmA Mohon dukungan nya untuk like n Share 🙏😊
22/02/2022

https://youtu.be/gEyoNwG0EmA
Mohon dukungan nya untuk like n Share 🙏😊

Editor : NU Ranting Bantrung Pimpinan ranting NU didesa Bantrung menunjukkan kepada masyarakat bahwa adanya lembaga pendidikan formal di desa menunjukkan bah...

Bismillahirrahmanirrahim Semoga acara lancar dan manfaat untuk semua. Aamiin
13/01/2022

Bismillahirrahmanirrahim
Semoga acara lancar dan manfaat untuk semua. Aamiin

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,,,Sahabat semua adaLIMA BEKAL MENJADI NULima bekal itu, pernah disampaikan ma...
15/12/2021

Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,,,
Sahabat semua ada
LIMA BEKAL MENJADI NU
Lima bekal itu,
pernah disampaikan mantan Rois Aam PBNU, Almaghfirlah Romo KH. Ali Ma'sum (198-1984).

Bekal pertama,
Tahu tentang ilmunya Nahdlatul Ulama' (Ilmul Ulama')
Orang NU harus tahu
tujuan didirikannya NU. Menurut Kiai Hamid Mannan, NU didirikan karena memiliki tiga tanggungjawab.
Pertama tanggungjawab keagamaan (mas’uliyah diniyah),
Kedua tanggungjawab kenegaraan (mas’uliyah wathoniyah) dan ketiga tanggungjawab kemasyarakatan (mas’uliyah ijtimaiyah).

Bekal kedua,
Memiliki rasa kepercayaan penuh terhadap NU (assiqatu binahdhotil Ulama')
Warga NU harus percaya pemimpinnya.
Jika warga NU brada di ranting
Maka harus percaya kepada ketua rantingnya.
Jika di cabang, maka harus percaya kepada ketua cabang hingga sampai ke tingkat pusat, harus percaya kepada ketua PBNU.

Bekal ketiga,
Beramal sesuai dengan ajaran NU (al amalu binahdotil Ulama')
Amalan sehari-sehari warga NU, harus mengacu kepada ketentuan dan metode yang ditetapkan oleh NU.
Warga NU tidak boleh menerapkan amalan yang bukan amalan orang NU.

Bekal keempat,
berjihad di jalan NU (al jihadu fi sabili nahdotil Ulama').
Jihadnya orang NU tidak sama dengan organisasi lainnya. Warga NU tidak s**a berjihad menggunakan kekerasan. Memerintah kebaikan harus menggunakan kebaikan, bukan dengan kekerasan (amar makruf bil makruf).
Bahkan mncegah kemungkaran juga dilakukan dengan cara yang baik (nahi munkar bil makruf).

Bekal kelima,
sabar berada di NU
(assobru binahdotil Ulama'). Berjuang di NU harus sabar, tidak sombong dan menghargai orang lain. Berjuang di NU tetap mengedepankan akhlaqul karimah.

Perjuangan awal
Rasulullah Muhammad saw adalah perjuangan untuk melakukan perubahan moral, yang kemudian disertai dengan dakwah perubahan aqidah.
Semoga manfaat, Aamiin.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Assalamualaikum sahabat semua, mohon luang kan waktunya sejenak membaca dari Unek2 Gus Baha' untuk NUNU itu terlalu bany...
02/11/2021

Assalamualaikum sahabat semua, mohon luang kan waktunya sejenak membaca dari Unek2 Gus Baha' untuk NU

NU itu terlalu banyak pengajian umum. Tradisi ngaji (kitab) mulai hilang. Itu lampu merah.

Orang kaya s**a ulama. S**a kiai. Tapi maunya ngatur ulama, tidak mau diatur ulama.

Saya ga mau ngaji yang ribet itu. Harus pasang panggung, sound system, yang penting bupati datang. Ribet.

Mereka habis 50 juta, 100 juta tidak masalah. Tapi sesuai mau mereka, yang datang jamaahnya banyak. Coba, kalo nuruti maunya kiai, ulama, ngajinya menganalisa kitab, uangnya buat mencetak naskah, pasti tidak mau.

Saya ingin kebesaran ulama itu kembali, yaitu bisa mengatur orang kaya. Bukan seperti sekarang, diatur orang kaya.

Banyak yang datang minta pengajian umun, bawa alphard, saya jawab kalo mau ngaji datang ke sini saja. Kalo kiai diatur-atur, kan ribet.

Bukan saya anti. Dan itu perlu. Tapi sudah over. tradisi ngaji yang sebenarnya, yang jadi standar NU, sudah mulai ditinggalkan.

Ditambah, kiai yang kedonyan, cinta dunia. Klop. Yang kaya, tahunya memuliakan kiai dengan uang, kiainya juga senang. Musibah. Terutama di Jawa Timur.

Saya keluar dari kantor PWNU Jawa Timur, langsung dikasih voucher umroh. Saya jawab, tidak, saya kiai Jawa Tengah.

Makanya saat saya diundang di Tebu Ireng, Pondok Syaikhona Kholil, Termas ... Saya mau asal, disediakan naskahnya Mbah Hasyim Asy'ari, Mbah Kholil, Syaikh Mahfudz Termas.

Ya, saya ngajinya kitab para pendiri pesantren itu. Bukan ngaji gus baha tapi ngaji Mbah Hasyim Asy'ari, dll.

Ini kan musibah. Selama ini dzurriyah, para cucu tidak peduli dengan naskah pendiri. Padahal ada ahli filologi, pengumpul naskah. Naskah masyayikh kita ada di luar negeri, cucunya ga punya.

Saya punya naskahnya Syaikh Mahfudz yang tidak ada di Termas. Saya dikasih Mbah Moen. Akhirnya, para cucu ngaji ke sini.

Coba, Sirojut Tholibin di cetak di mana-mana, termasuk Yaman. Namun, kita tahu nasibnya di Jampes.

Kiai-kiai NU itu sudah alim. Ngerti hukum secara tafsil, kok malah hobi bicara yang mujmal. Ini kan sudah mau pinter, di suruh goblok lagi.

Anda itu ngaji, sampai buka kamus, meneliti tiap kata, harusnya ngajarnya seperti itu. Agar tetap alim.

Ada kiai yang sehari manggung 3 kali. Padahal, pasti dia tidak paham problem dakwah di setiap tempat itu. Dia tidak tahu objeknya, tidak tahu obatnya. Pasti bicaranya standar, itu-itu saja, yang penting lucu dan menarik. Mana ada waktu untuk belajar lebih dalam?

Akhirnya ada orang ceramah ditambahi musik macam-macam. Karena dia tidak alim. Tidak terkontrol, yang penting menarik.

Akhirnya ya goblok beneran. Pondok NU juga ikut-ikutan tren. Bikin acara, ya pengajian umum. Yang datang banyak.

Masak, pondok NU mengundang Abdus Shomad dan Adi Hidayat. Karena ikut tren tadi. Tidak tahu, keduanya itu kategorinya apa, detailnya mereka.

Musibah lagi, warga NU membaca tulisan Gus Ulil, Nusron bahkan Abu Janda tapi tidak tahu naskahnya Mbah Hasyim Asy'ari.

Saya hanya ingin, tradisi ilmiah di NU itu kembali. Kiai tidak boleh diatur orang kaya.

Jika tidak, NU bisa habis (orang alimnya). Saya di NU ditugasi ini, bukan yang lain.

Maka, saat saya di Lirboyo, saya bilang 'Gus Kafa, saya lebih senang disambut 4 santri yang benar-benar niat ngaji, daripada banyak santri yang niatnya tidak jelas'.

Kemudian, setiap kali saya ke Lirboyo, anak, mantu, cucu dikumpulkan dulu ngaji sama saya.

Jika, kita 5 tahun saja memulai. NU akan hebat. Jika bukan anak kita yang jadi alim, cucu kita akan jadi ulama. Itulah NU.

NU itu harusnya melahirkan kiai - allamah, bukan kiai-mubaligh seperti sekarang. Dan saya melihat sudah lampu merah.

Padahal di zaman kakek saya, bahasa Arab itu seperti bahasa Jawa. Saya punya tulisannya Mbah Hasyim Asy'ari yang surat-suratan dengan kakek saya dengan bahasa Arab.

Keilmuan, kealiman ini jangan habis. Dulu para pendiri, kakek kita, allamah, punya naskah. Jika kita terus begini, bisa habis.

- ditulis secara bebas -

KH. Bahauddin Nur Salim (Rois Syuriah PBNU)

Address

Jepara
59461

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Ansor Ranting Bantrung posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share