12/06/2026
PESTA KAUM ADU PEDANG YANG GEGERKAN KARAWANG
Oleh: Rosadi Jamani
Tadi pagi saya membahas Ahmadiyah, ada nyeletuk, “Jangan-jangan orang Ahmadiyah ni.” Kali ini saya mau bahas kaum gay alias kaum adu pedang. Semoga tak ada nyeletuk, wah abang gay ni. Iih..amit-amit, najis. Nah, kaum ini menggegerkan Kerawang Jawa Barat. Saat saya menulis ini, tiba-tiba Kota Pontianak diguyur hujan, ntah apa maksudnya. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Di negeri yang tiap pagi ribut soal korupsi triliunan, siang ribut soal bansos, sore ribut soal survei, dan malam ribut soal harga Pertamax, tiba-tiba muncul lagi episode baru yang membuat grup WA emak-emak, bapak-bapak, ustaz, aktivis, bahkan tukang tambal ban kompak mengelus dada.
Namanya, fenomena pemain anggar. Ada juga yang menyebut pasukan pedang-pedangan. Ada yang menyebut komunitas sesama jenis. Pokoknya begitu lah, wak.
Awal Juni 2026, media sosial mendadak panas seperti knalpot truk menanjak di Puncak. Sebuah video viral memperlihatkan dugaan pesta gay di Theater Night Mart atau Helen's Night Mart di Jalan Tuparev, Karawang, Jawa Barat.
Dalam video yang beredar, tampak pria berpasangan berjoget, berpelukan, bahkan berciuman. Kejadiannya disebut berlangsung sekitar pukul 01.00 WIB pada Minggu, 7 Juni 2026.
Begitu video menyebar, Polres Karawang langsung bergerak dengan kecepatan yang membuat netizen bertanya-tanya, "Kalau nangkap koruptor juga secepat ini, mungkin APBD sudah sembuh dari segala penyakit."
Polisi menetapkan tiga tersangka berinisial SA, RD, dan DD atas dugaan perbuatan cabul sesama jenis. Sejumlah saksi diperiksa, termasuk pemilik tempat. Sementara itu Satpol PP menyegel sementara lokasi karena persoalan perizinan dan norma kesusilaan.
Belum selesai sampai di situ.
Ratusan warga bersama ormas Islam turun berdemo ke Pemkab Karawang. Tuntutannya jelas: tutup permanen tempat tersebut. Bupati Karawang pun menegaskan, tidak ada tempat bagi komunitas gay di wilayahnya.
Masalah kemudian naik kelas dari level kabupaten menjadi level provinsi. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi ikut turun gelanggang. Ia mendukung sikap Bupati Karawang dan meminta tindakan nyata, bukan sekadar pernyataan.
Menurut Dedi, para pelaku perlu dibina. Jika masih pelajar, harus ada pembinaan khusus. Jika masyarakat umum, harus dicari lembaga yang mampu membina atau bahkan menyembuhkan mereka.
Pernyataan yang paling membuat jagat maya terjungkal dari kursi adalah ketika ia mengatakan, "Mudah-mudahan barak militer bisa menyelesaikan gay."
Kalimat itu langsung meluncur ke internet seperti rudal balistik. Sebagian tertawa. Sebagian setuju. Sebagian lagi debat sampai lupa makan.
Padahal fenomena ini bukan barang baru. Tahun 2017 pernah terjadi penggerebekan besar di Atlantis Sauna/Gym Jakarta. Sebanyak 141 pria diamankan dalam dugaan gay s*x party. Beberapa karyawan dan stripper divonis 2-3 tahun penjara menggunakan UU Pornografi.
Masih di tahun yang sama, razia serupa terjadi di hotel Surabaya. Tahun 2020 ada gathering di hotel Jakarta yang membuat 56 orang diamankan. Sekitar 2025, Bogor juga mencatat kasus serupa dengan sekitar 75 orang.
Polanya hampir sama. Ada video viral, ada laporan warga, polisi bergerak, tersangka ditetapkan, lalu tempat ditutup. Seperti sinetron yang ganti pemain tapi naskahnya tetap.
Yang menarik, jumlah komunitas LGBT di Indonesia ternyata tidak sedikit. Data Kementerian Kesehatan RI pernah menyebut kisaran 780 ribu hingga 1,1 juta orang atau sekitar 0,44 persen populasi. Jawa Barat disebut sebagai provinsi dengan jumlah tertinggi, sekitar 300 ribu orang.
Sementara beberapa survei independen memperkirakan angkanya bisa mencapai 3 persen penduduk Indonesia atau sekitar 7,5 juta jiwa.
Di sinilah Indonesia seperti sedang memainkan pertandingan final tanpa wasit. Secara sosial dan budaya, mayoritas masyarakat memandang homoseksualitas bertentangan dengan norma agama, budaya, dan kesusilaan. Akibatnya muncul stigma, diskriminasi, tekanan keluarga, bahkan kekerasan.
Di sisi lain, secara hukum homoseksualitas tidak dikriminalisasi secara nasional dalam ranah privat, kecuali di Aceh yang menerapkan hukum syariah. Namun ketika masuk ruang publik, viral, atau tersangkut UU Pornografi dan pasal kesusilaan, urusannya bisa berubah drastis.
Karena itulah komunitas ini sering bergerak underground, lowkey, dan memanfaatkan aplikasi kencan atau gathering privat.
Kasus Karawang akhirnya menjadi contoh terbaru bagaimana isu “pemain anggar” bisa berubah menjadi isu politik, isu sosial, isu agama, bahkan isu keamanan hanya dalam hitungan jam.
Di Indonesia, kadang satu video berdurasi beberapa detik bisa membuat satu kabupaten panas, satu provinsi ribut, dan satu negara mendadak menjadi ahli sosiologi, psikologi, hukum, agama, dan strategi militer sekaligus.
Begitulah negeri ini. Korupsi triliunan kadang lewat seperti angin sore. Tapi begitu ada urusan pedang-pedangan, seluruh alarm nasional langsung berbunyi seperti sirene kiamat edisi premium.
Sumber foto: Antara, saat warga Kerawang demo menolak gay.
Penulis adalah:
Ketua Satupena Kalbar