06/11/2025
Pimpinan Gereja yang Abaikan pada Generasi Muda adalah Pembunuh Masa Depan Gereja
Generasi muda adalah masa depan Gereja. Mereka adalah calon pelayan, penginjil , dan pemimpin rohani di masa mendatang. Namun, kenyataannya tidak sedikit pimpinan Gereja yang kurang memberi perhatian pada kaum muda, seolah mereka belum layak dilibatkan dalam pelayanan. Sikap abai seperti ini dapat menjadi bumerang bagi keberlangsungan Gereja itu sendiri. Sebab, Gereja tanpa generasi muda yang terlibat aktif akan kehilangan semangat hidup dan arah pertumbuhannya.
Seorang pimpinan Gereja seharusnya berperan sebagai gembala yang menuntun seluruh umat, termasuk kaum muda. Tugasnya bukan hanya berkhotbah dan mengatur pelayanan, tetapi juga membina, mendengarkan, dan memberi ruang bagi anak muda untuk bertumbuh dalam iman. Ketika pimpinan Gereja menutup mata terhadap kebutuhan spiritual dan sosial generasi muda, ia sejatinya sedang membiarkan iman mereka layu tanpa bimbingan. Dari sinilah istilah “pembunuh generasi Gereja” menjadi relevan karena kealpaan itu mematikan semangat rohani generasi penerus.
Pengabaian terhadap generasi muda akan berdampak serius pada kehidupan Gereja. Banyak anak muda akhirnya merasa tidak diterima dan memilih menjauh dari persekutuan. Gereja menjadi kering, pelayanan kehilangan warna, dan regenerasi kepemimpinan terhenti. Ketika Gereja gagal menyiapkan kader muda yang beriman dan berintegritas, maka masa depannya terancam. Karena itu, perhatian terhadap kaum muda bukan sekadar tugas tambahan, melainkan bagian penting dari misi Gereja.
Gereja yang hidup adalah Gereja yang memberi ruang bagi kaum muda untuk berkreasi, melayani, dan memimpin. Pimpinan Gereja perlu membuka diri terhadap ide dan semangat muda, mendampingi mereka dengan kasih, serta memberikan pembinaan iman yang relevan dengan zaman. Program pendampingan, pelayanan sosial, kegiatan kreatif, dan pelatihan kepemimpinan rohani adalah cara konkret untuk menjaga api iman mereka tetap menyala. Dengan demikian, Gereja dapat terus bertumbuh dan tetap relevan bagi generasi berikutnya.
Gereja yang besar bukanlah Gereja dengan bangunan megah, tetapi Gereja yang mampu menumbuhkan iman generasi penerusnya. Pimpinan Gereja yang bijak akan melihat kaum muda sebagai harta berharga yang harus dijaga dan dibimbing. Sebaliknya, pemimpin yang abai telah membiarkan kehidupan rohani generasi muda mati perlahan. Maka benar adanya, bahwa pimpinan Gereja yang tidak peduli pada generasi muda sama saja dengan membunuh masa depan Gereja itu sendiri.
Wahai Para Pemimpin hati-hatilah...!!!
Ev. Salmon Degei, S.Th
Dep Pemuda
Gereja Kemah Injil (KINGMI) Di Tanah Papua