16/06/2026
Dika Baru Berusia 14 Tahun. Sosok remaja yang menyangka waktunya masıh terbentang, dengan daftar mimpinya yang begitu panjang
Hari ini, seorang anak kehilangan masa depannya di jalan raya. Besok, bisa jadi anak kita, keponakan kita, tetangga kita, atau siapa pun yang berangkat dengan harapan pulang kembali ke rumah.
Pesepeda remaja itu berniat untuk putar balik, namun kejamnya jalan raya tanpa sistem yang melindungi, justru malah memutar nasibnya.
Peristiwa ini kembali mengingatkan kita bahwa jalan raya bukan hanya soal siapa yang benar atau salah, tetapi tentang bagaimana setiap pengguna jalan bisa pulang dengan selamat.
Kecelakaan yang merenggut nyawa Dika bukan sekadar berita lalu lintas. Ini adalah alarm keras bahwa jalan-jalan kita masih belum cukup aman bagi pengguna jalan yang paling rentan: anak-anak dan pesepeda.
Berapa banyak lagi korban yang harus berjatuhan sebelum keselamatan menjadi prioritas?
Sudah saatnya pemerintah mempercepat pembangunan jalur sepeda yang aman dan terhubung. Sudah saatnya sekolah mengajarkan keselamatan berlalu lintas sebagai keterampilan hidup. Sudah saatnya orang tua, komunitas, dan pengguna jalan saling mengingatkan bahwa satu kelalaian di jalan bisa mengakhiri seluruh masa depan seseorang.
Jalan raya tidak boleh menjadi arena yang hanya ramah bagi kendaraan besar dan kendaraan bermotor. Jalan raya harus menjadi ruang yang aman bagi semua, termasuk anak-anak yang bersepeda.
Setiap kecelakaan yang berulang adalah tanda bahwa ada sistem yang belum diperbaiki.
Turut berduka cita sedalam-dalamnya atas wafatnya Dika Putra Mahardika (14). Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan.
Kejadian ini menjadi momentum untuk memperjuangkan jalan yang lebih aman, bukan sekadar menambah daftar korban berikutnya.