02/06/2026
Sebanyak 1.800 salib merah dan palang adat telah ditancapkan di tanah-tanah Papua sejak 2014. Dibuat oleh masyarakat adat Papua Selatan, salib-salib ini menjadi simbol perlawanan sekaligus pertahanan terhadap proyek-proyek perkebunan, pangan, dan energi skala besar yang mengancam tanah adat, hutan, dan ruang hidup mereka.
Salib merah itulah yang membekas dalam ingatan Fransisca Ria Susanti. Dalam esai berjudul “Pesta Babi dan Salib Merah: Pertahanan atas Kuasa yang Beringas”, direktur Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara (PPMN) ini mengelaborasinya menjadi pembacaan yang lebih luas tentang Papua hari ini.
Santi mengajak pembaca melihat bagaimana proyek pangan dan energi di Papua terhubung dengan kepentingan korporasi, kebijakan negara, hingga pengerahan militer, yang akhirnya mengorbankan masyarakat adat yang telah hidup turun-temurun di sana.
Di tengah situasi yang tampak buntu, esai ini mengingatkan bahwa perlawanan belum berhenti. Salib merah masih berdiri. Rakyat Papua masih melawan. Dan pertanyaan tentang untuk siapa pembangunan dijalankan masih layak untuk terus diajukan.
Baca esai lengkapnya: https://jaring.id/pesta-babi-dan-salib-merah-pertahanan-atas-kuasa-yang-beringas/