04/08/2026
Beberapa hari terakhir, ramai diperbincangkan unggahan seorang pasien di Threads yang mengeluhkan harus menunggu berjam-jam di IGD karena belum mendapatkan kamar rawat inap.
Unggahan tersebut menuai berbagai tanggapan, termasuk komentar yang menghakimi dan merendahkan.
Beberapa hari kemudian, pasien tersebut dikabarkan meninggal dunia.
KPCDI turut berduka cita dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.
Kami tidak ingin mengaitkan lamanya waktu tunggu di IGD dengan penyebab meninggalnya pasien. Hal tersebut tentu memerlukan penjelasan medis dan tidak bisa disimpulkan hanya dari unggahan di media sosial.
Namun ada satu hal yang menurut kami layak menjadi bahan refleksi bersama.
Sebagai komunitas pasien gagal ginjal, pasien dialisis, pasien transplantasi ginjal, dan keluarga pasien, kami memahami bahwa menunggu di IGD bukanlah pengalaman yang mudah. Saat tubuh sedang sakit, setiap menit terasa lebih lama. Suasana IGD yang ramai, minim privasi, dan penuh ketidakpastian sering kali membuat kecemasan semakin besar.
Di sisi lain, kami juga memahami bahwa tenaga kesehatan bekerja di bawah tekanan yang tidak ringan. Keterbatasan tempat tidur, tingginya jumlah pasien, serta kondisi gawat darurat yang harus diprioritaskan merupakan bagian dari realitas pelayanan kesehatan.
Karena itu, keluhan pasien tidak selalu berarti menyalahkan tenaga kesehatan. Sebaliknya, menjelaskan kondisi rumah sakit kepada pasien juga tidak harus dilakukan dengan kalimat yang merendahkan.
Kami juga melihat ada yang langsung mengaitkan kejadian seperti ini dengan BPJS Kesehatan. Padahal, pasien yang harus menunggu ruang rawat inap belum tentu mengalaminya karena status kepesertaannya. Dalam banyak situasi, persoalannya lebih berkaitan dengan kapasitas tempat tidur dan alur pelayanan di rumah sakit.
Yang paling kami sayangkan justru munculnya komentar-komentar yang mengolok atau meremehkan pasien. Mungkin bagi sebagian orang itu hanya candaan. Namun bagi pasien dan keluarganya, kata-kata seperti itu bisa meninggalkan luka yang tidak terlihat.
KPCDI percaya bahwa mayoritas dokter, perawat, dan tenaga kesehatan memiliki empati yang tinggi. Banyak anggota kami yang dapat bertahan menjalani pengobatan bertahun-tahun karena dedikasi para tenaga kesehatan. Karena itu, tulisan ini bukan untuk menggeneralisasi profesi tertentu.
Kami hanya ingin mengingatkan bahwa pelayanan kesehatan bukan hanya tentang tindakan medis. Cara kita berbicara, mendengarkan, dan memperlakukan pasien dengan hormat juga merupakan bagian dari pelayanan.
Semoga kejadian ini menjadi pengingat bagi kita semua. Sistem pelayanan kesehatan perlu terus diperkuat, tenaga kesehatan perlu terus didukung, dan pasien tetap memiliki ruang untuk menyampaikan pengalaman serta keluhannya tanpa takut dihakimi.
Karena pada akhirnya, tujuan kita sama: menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih manusiawi bagi setiap orang.