11/08/2026
Kekerasan sadis yang dilakukan anak laki-laki tidak pernah lahir dalam ruang hampa.
Di balik tindakan keji yang kerap memicu kemarahan publik, ada norma maskulinitas beracun (toxic masculinity) dan pola asuh salah arah yang bertahun-tahun kita diamkan.
Ketika anak laki-laki dilarang mengekspresikan rasa sedih, diajarkan menyelesaikan konflik dengan pukulan, serta dituntut untuk selalu dominan dalam "Man Box", empati mereka perlahan terkikis. Hasilnya, emosi yang tersumbat itu meledak menjadi tindak kejahatan dan kekerasan terhadap sesama.
Menghukum pelaku memang penting, namun mencegah lahirnya "monster-monster" baru jauh lebih krusial. Saatnya kita memutus rantai kekerasan ini mulai dari rumah dan lingkungan terdekat.
Baca artikel lengkapnya untuk memahami akar masalah dan langkah pencegahannya di rumahkitab.com! ๐ก