17/09/2024
Oleh: Fatih Madini (Mahasiswa STID Mohammad Natsir)
Wajah peradaban Barat modern, kata Dr. Adian Husaini, ditutupi topeng Sekularisme. Itu membuatnya menjadi peradaban yang “emoh agama”, menolak campur tangan Tuhan dan segala yang berbau metafisika, dan begitu memuja dunia. “…it is irreligious in its very essence,” kata cendekiawan Muslim, Muhammad Asad dalam bukunya, Islam at The Crossroads.
Topeng itu semakin erat ketika para filosof postmodernis semacam Firedrich Nietzsche mendeklarasikan “pembunuhan Tuhan”. Mereka, yang menurut Budi Hardiman, melihat Tuhan sebagai infantilisasi dan pengebirian otonomi manusia sehingga perlu “dibunuh” atau dihapus kesadaran akan Dia. “God was no longer Supreme Being, but collective reason, God exist within human intelligence,” ucap Heidegger, murid Nietzsche.
“Pada awal abad kesembilan belas, ateisme benar-benar telah menjadi agenda. Kemajuan sains dan teknologi melahirkan semangat autonomi dan independensi baru yang mendorong sebagian orang untuk mendeklarasikan kebebasan dari Tuhan. Inilah abad ketika Ludwig Feurbach, Karl Marx, Charles Darwin, Firedrich Nietzsche, dan Sigmund Freud menyusun tafsiran filosofis dan ilmiah tentang realitas tanpa menyisakan tempat buat Tuhan,” tulis Karen Armstrong dalam Sejarah Tuhan-nya.
Pandangan itu yang kemudian, menurut pakar filsafat Adnin Armas, mengubah epistemologi Barat menjadi terlampau mendewakan akal (rasio) dan sangat terpaku pada pancaindra, entah melalui penalaran, observasimaupun eksperimen-eksperiman demi merumuskan hipotesis dan teori-teori yang dianggap berguna. Rasionalisme dan Positivisme yang berujung pada Relativisme, kemudian menjadi tren di Barat dan global melalui pemasaran yang dipaksakan dengan dalil “objektif” dan “ilmiah”.
Selengkapnya lihat https://mediadakwah.id/aneh-ngaku-ilmiah-tetapi-menolak-keilmiahan-wahyu/