12/03/2026
Perang berkepanjangan di Jalur Gaza tidak hanya menghancurkan rumah dan infrastruktur, tetapi juga menekan angka kelahiran. Laporan medis menyebut jumlah kelahiran di wilayah itu turun sekitar 41 persen sejak perang berlangsung.
Dokter kandungan Yasser Al-Aqqad mengatakan penurunan tersebut berkaitan langsung dengan runtuhnya sistem kesehatan. Banyak rumah sakit rusak atau berhenti beroperasi, sehingga perempuan hamil tidak lagi mendapatkan pemeriksaan rutin maupun penanganan medis saat terjadi komplikasi.
Di sisi lain, krisis kemanusiaan memperburuk kondisi kesehatan ibu. Kekurangan gizi, tekanan psikologis akibat perang, serta kehidupan di kamp pengungsian meningkatkan risiko keguguran dan persalinan prematur. Rumah sakit yang masih beroperasi juga melaporkan lonjakan bayi lahir dengan berat badan rendah dan membutuhkan perawatan intensif, sementara fasilitas medis justru kekurangan alat dan tenaga kesehatan.
Puluhan ribu perempuan hamil dan menyusui juga terpaksa mengungsi di tengah keterbatasan makanan, air bersih, dan obat-obatan. Banyak di antara mereka melahirkan di rumah sakit yang penuh sesak, pusat pengungsian, bahkan di tenda darurat.
Para pakar memperingatkan, selain menambah korban jiwa, perang juga memicu dampak demografis jangka panjang bagi masyarakat Gaza. Penurunan angka kelahiran, meningkatnya keguguran, serta runtuhnya layanan kesehatan reproduksi dikhawatirkan akan memengaruhi generasi Palestina di masa mendatang jika krisis kemanusiaan ini terus berlanjut.
_*Selengkapnya di: https://spiritofaqsa.or.id/genosida-senyap-perang-israel-tekan-angka-kelahiran-di-gaza-turun-hingga-41-persen.html