25/08/2026
Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya berhenti pada romantisme sejarah, tapi menjadi momentum untuk membaca kembali epistemologi dan etika kenabian dalam menghadapi realitas.
Al-Qur’an menegaskan prinsip tabayyun:
“يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ” —
Ketika suatu berita datang, periksalah dengan teliti. Prinsip ini bukan sekadar etika bermedia, melainkan disiplin intelektual: memisahkan fakta dari opini, informasi dari manipulasi, dan pengetahuan dari prasangka.
Sikap Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa kebenaran tidak dibangun melalui ketergesa-gesaan. Kabar dipertimbangkan, manusia diperlakukan dengan adil, dan keputusan diletakkan di atas pengetahuan serta kemaslahatan.
Hari ini ketika produksi informasi jauh lebih cepat daripada kemampuan manusia memverifikasinya, keteladanan Nabi menjadi relevan sebagai etika publik. Maulid karenanya bukan hanya tentang mengingat sosok Nabi, tapi menghidupkan cara beliau membentuk sikap: kritis terhadap informasi, jernih dalam menilai, adil dalam mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas setiap ucapan.