EcoNusa Foundation

EcoNusa Foundation Organisasi nirlaba yang berfokus pada berbagai inisiatif pengelolaan SDA berkelanjutan di wilayah Tanah Papua dan Maluku.

Dari tunas kelapa tumbuh harapan bagi masyarakat adat Malind di Merauke.Bagi masyarakat adat Malind di wilayah pesisir K...
15/09/2026

Dari tunas kelapa tumbuh harapan bagi masyarakat adat Malind di Merauke.

Bagi masyarakat adat Malind di wilayah pesisir Kabupaten Merauke, Papua Selatan, kelapa bukan sekadar komoditas. Ia telah menjadi bagian dari sumber penghidupan yang diwariskan dan dirawat lintas generasi.

Kini, kelapa kembali membuka peluang melalui pengolahan kopra. Pada 24 Agustus 2026, sebanyak 14,5 ton kopra dari 30 petani adat di Distrik Semangga dikirim untuk pertama kalinya ke Surabaya, Jawa Timur.

Kini, berkolaborasi dengan Yayasan Dahetok Milah Lestari Yayasan Dahetok Milah Lestari , proses sourcing kopra tahap II untuk tahun ini akan menjangkau lebih banyak kampung di Merauke.

Di titik ini, sourcing bukan lagi sekadar tentang menghubungkan produk dengan pasar. Ia menjadi salah satu jalan untuk menghidupkan kembali pengetahuan, sumber penghidupan, dan harapan yang tumbuh dari tanah sendiri.




13/09/2026

EcoSeries “Potret Mama”mendapat kesempatan untuk diputar perdana dalam Jakarta International Photo Festival (JIPFest) 2026.

Serial dokumenter yang diproduksi oleh EcoNusa disutradarai oleh Zetania dan Kynan Tegar, mahasiswa Departemen Antropologi Universitas Indonesia, ini menghadirkan kisah empat generasi perempuan adat dari Tanah Papua dan Kepulauan Maluku.

Melalui kehidupan sehari-hari mereka, Potret Mama merekam hubungan yang erat antara perempuan, ruang hidup, dan alam yang terus mereka jaga dari generasi ke generasi.

Di tengah berbagai perubahan yang terjadi di sekitar mereka, para Mama berbagi cerita, pengetahuan, serta harapan tentang hari esok yang mereka bayangkan bagi keluarga, komunitas, dan tanah tempat mereka hidup.




10/09/2026

Pemutaran Film & Diskusi Film “Potret Mama” Sutradara Zeta Kinanti, kolaborasi EcoNusa Foundation & Departemen Antropologi UI.

“Dalam riak pembangunan di Maluku dan Papua, empat generasi perempuan menuturkan hari esok yang mereka bayangkan, sembari menegosiasikan berbagai cara masa depan dibentuk di sekitar mereka. Pada akhirnya, untuk siapa dan masa depan seperti apa yang dicipta oleh pembangunan?”

Bergabunglah dalam Pemutaran Film & Diskusi bersama Zeta Kinanti, Elvira Lumapuy, dan Jamina Rumbewas, dengan Nin Djani (JIPFest 2026) sebagai moderator. Dalam sesi ini, mereka akan mengeksplorasi kisah tentang perempuan, komunitas, perubahan lanskap, serta masa depan yang mereka bayangkan bagi tempat yang mereka sebut rumah.

Pemutaran Film & Diskusi akan berlangsung pada:
📅 Minggu, September 13, 2026
⏰ 13:00–15:00 WIB
📍 Teater Asrul Sani, Taman Ismail Marzuki

🎟 Dapatkan akses tiket JIPFest disini (Gratis untuk 3 hari pertama)
bit.ly/TiketJIPFEST2026

Saksikan pemutaran spesial ini hanya di JIPFest 2026!




Dari batas-batas marga hingga pengusulan hutan adat, masyarakat adat Tanah Papua terus memperjuangkan hak dan ruang hidu...
09/09/2026

Dari batas-batas marga hingga pengusulan hutan adat, masyarakat adat Tanah Papua terus memperjuangkan hak dan ruang hidupnya.

Penyerahan 10 dokumen usulan hutan adat dari masyarakat adat Papua — dampingan BRWA dan EcoNusa — saat momentum PAPEDA Summit 2026 (Papua Action for Development, Economy, and Sustainable Nature) sekaligus ingin menegaskan pentingnya memastikan masyarakat adat menjadi aktor utama dalam pembicaraan mengenai pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam di Tanah Papua.

Perjalanan masyarakat adat Ireres, khususnya, sampai ke titik pengusulan hutan adat melewati proses yang cukup panjang. Sejak EcoNusa melakukan FPIC pada 2022, dilanjutkan dengan pemetaan wilayah adat setahun setelahnya, semua dilakukan secara partisipatif.

Artinya, masyarakat adat bukan sekadar dilibatkan, tetapi menjadi pengambil keputusan utama dalam setiap proses, mulai dari menentukan batas wilayah, mengidentifikasi nilai-nilai penting di dalamnya, hingga menyepakati langkah untuk memperjuangkan pengakuan atas hutan adat mereka.

Setelah 54 ribu hektare hutan Papua kembali telah diusulkan menjadi hutan adat, perjalanan menuju pengakuan masih membutuhkan kolaborasi dan komitmen bersama.

Mari terus dorong pengakuan hutan adat dan penguatan hak masyarakat adat di Tanah Papua!




06/09/2026

Beginilah gambaran hidup di Pulau Hariti. Hanya bermodalkan batu kecil, sudah bisa dapat ikan untuk makan hari ini.

Tra harus ke pasar, kami turun ke laut, bawa kail, pulang bawa ikan. 🎣🌊

Laut kasih hidup kitong, jadi kitong juga harus jaga laut.

Ko jaga alam, alam jaga ko. 💙

Masa depan hutan, masyarakat adat, dan ekonomi Papua saling terhubung. 🌿Karena itu, kita membutuhkan kolaborasi lintas p...
27/08/2026

Masa depan hutan, masyarakat adat, dan ekonomi Papua saling terhubung. 🌿

Karena itu, kita membutuhkan kolaborasi lintas pihak untuk membangun ekosistem yang memperkuat pengetahuan adat, generasi Papua, wilayah adat, dan ekonomi masyarakat.

Semangat ini diwujudkan melalui Program Khusus Sarjana Kehutanan Adat & Sarjana Ekonomi Bisnis Adat, serta penguatan ekosistem pendidikan dan ekonomi adat melalui BUMMA.

Bersama, kita orkestrasi kerja kolektif untuk satu tujuan: pembangunan yang berkelanjutan di Tanah Papua untuk masyarakat yang sejahtera dan alam yang lestari.🌱




25/08/2026

Kam pernah lihat vanili "dikawinkan" kah tidak?

Di Wembi (Kerom) dan Neniari Gunung (Maluku), petani-petani harus kawinkan bunga vanili secara manual pakai alat kecil, karena de punya struktur bunga tra bisa lakukan penyerbukan sendiri.

Proses ini harus cepat-cepat waktu bunga mekar, yang tra sampai satu hari itu.
Petani buka de punya pemisah benang sari dan putik perlahan, baru pertemukan serbuk sari ke kepala putik satu-satu pakai tangan.

Kerja rumit dan butuh kesabaran tinggi begini yang bikin vanili jadi salah satu rempah paling mahal di dunia! 💸✨




18/08/2026

Ini bukan sekadar santapan biasa, tapi bukti nyata kedaulatan di atas tanah leluhur yang tra bisa kitorang lepas begitu saja! ✊🌿

Saat ini, Masyarakat Hukum Adat Aara Suku Napiti di Kaimana lagi berjuang dapat pengakuan sah atas tanah adat serta dorong revisi peta zonasi, supaya ruang kelola warga dan wilayah keramat Taparo Naitia aman terlindungi hukum.

Ingat e, kalau hutan dan tanah adat hilang, pangan lokal enak dan jati diri kitorang juga ikut lenyap!




13/08/2026

Ini dia Hiloi, garpu dari Suku Sentani di Jayapura, Papua. Bukan hanya sebagai alat makan, akan tetapi Hiloi ini adalah simbol kebersamaan dalam keluarga. Sekaligus sebagai identitas masyarakat adat yang tetap dijaga sampai sekarang.




Ekspedisi biodiversitas EcoNusa di Hutan Suga, wilayah ulayat Suku Irarutu pada 23 Juni-16 Juli 2026, menemukan beragam ...
11/08/2026

Ekspedisi biodiversitas EcoNusa di Hutan Suga, wilayah ulayat Suku Irarutu pada 23 Juni-16 Juli 2026, menemukan beragam satwa yang masih hidup di hutan kerangas yang relatif utuh.

Setiap satwa memiliki peran dalam menjaga keseimbangan hutan. Sebaliknya, hutan menyediakan ruang hidup bagi satwa sekaligus menopang kehidupan masyarakat.

Pengetahuan masyarakat adat Wenum-Suguara turut menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan yang telah terjalin antara hutan, satwa, dan manusia.

Menjaga hutan berarti menjaga kehidupan.




Address

Jalan Irian No. 5, Menteng
Jakarta
12970

Opening Hours

Monday 08:00 - 17:00
Tuesday 08:00 - 17:00
Wednesday 08:00 - 17:00
Thursday 08:00 - 17:00
Friday 08:00 - 17:00

Telephone

+622131902670

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when EcoNusa Foundation posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to EcoNusa Foundation:

Shortcuts

Share