23/05/2026
Berabad-abad lamanya, berbagai bangsa di Nusantara dieksploitasi tenaga, harta benda dan sumber daya alamnya oleh penjajah.
Selama itu p**a, perlawanan fisik (peperangan) bersenjata dari kaum elit bangsawan atau para raja kerap dipatahkan/dikalahkan.
Kebijakan Politik Etis yang diberlakukan penjajah Belanda tahun 1901 tanpa sengaja melahirkan kaum muda elit yang terdidik tercerahkan.
Dengan kesadaran bahwa kebodohan adalah senjata utama untuk melanggengkan penjajahan, dan bahwa semangat itu tidak mungkin dapat dilakukan sendirian, para pemuda terdidik-tercerahkan itu berkolaborasi (gotong royong) memajukan bidang pendidikan dan kebudayaan dengan harapan untuk mengubah nasib bangsanya yang tengah terjajah itu.
Adalah Budi Utomo, organisasi “crowdfunding” dana beasiswa pendidikan untuk anak-anak rakyat jelata yang tidak mampu. BU didirikan oleh dr. Soetomo dan beberapa mahasiswa STOVIA lainnya dengan tujuan untuk membebaskan bangsanya dari penjajahan. Mereka menyadari bahwa untuk dapat bangkit dari penjajahan itu diperlukan perubahan dan pembesan alam pikirannya.
Perubahan strategi dari perlawanan fisik ke perlawanan organisasi yang dimotori oleh kaum muda terdidik-tercerahkan itu menjadi tonggak penting dalam sejarah yang kita kenal dengan kebangkitan nasional. Generasi otot (yang didominasi tokoh senior, raja/bangsawan) telah digantikan perannya oleh Generasi otak yang dimotori oleh para elit terpelajar.
“Suatu bangsa dapat hidup dari makanan, tetapi dengan pendidikan membuatnya dapat hidup melintasi zaman.” —