Digidagidu Project

Digidagidu Project Pelajarilah Sebuah Bangsa itu dengan mempelajari bahasa, seni dan budaya nya

Saya baru saja diakui sebagai salah satu penggemar beratnya! 🎉
17/04/2026

Saya baru saja diakui sebagai salah satu penggemar beratnya! 🎉

Sudah dapat THR tahun ini? 💰✨Sebelum digunakan untuk belanja, mudik, atau berbagi dengan keluarga, ada satu sosok yang p...
15/03/2026

Sudah dapat THR tahun ini? 💰✨
Sebelum digunakan untuk belanja, mudik, atau berbagi dengan keluarga, ada satu sosok yang patut kita ingat.

Tunjangan Hari Raya (THR) ternyata memiliki sejarah panjang di Indonesia. Kebijakan ini pertama kali diperkenalkan pada tahun 1951 oleh Soekiman Wirjosandjojo, yang saat itu menjabat sebagai Perdana Menteri.

Awalnya THR diberikan kepada pegawai negeri untuk membantu memenuhi kebutuhan menjelang hari raya. Seiring waktu dan perjuangan para pekerja, kebijakan ini berkembang hingga akhirnya menjadi hak bagi para pekerja di berbagai sektor seperti yang kita kenal sekarang.

Hari ini, THR bukan hanya sekadar tambahan penghasilan. Ia menjadi bagian dari tradisi menjelang hari raya, membantu banyak keluarga mempersiapkan momen kebersamaan, sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Jadi kalau THR sudah cair…
jangan lupa sejenak mengingat sejarahnya. 🙏

Terima kasih untuk kebijakan yang lahir puluhan tahun lalu dan masih memberi manfaat hingga hari ini.

Hashtag

27/02/2026

Asal Usul Spion
Kalian selama ini pakai spion…
tapi tahu nggak sih “asal-usulnya”? 😭

Dari kata “SEPI, MET!” sampai akhirnya lahir benda yang sekarang nyelametin banyak orang di jalan 👀

Ngaco? Iya.
Masuk akal? Nggak juga.
Lucu? Banget 🤣

👇 SEKARANG GUE MAU TAU 👇
Kalau menurut kalian, cerita ini 1–10 nilainya berapa?
Tulis di kolom komentar!

Dan coba tag temen yang paling sering lupa lihat spion sebelum belok 😭

Kalau part ini tembus banyak komentar, gue lanjut bikin “asal-usul” benda lainnya 👀🔥

🚀 HASHTAG (Optimized Engagement Mix)











Gedung Candra Naya, Rumah Tua Tionghoa yang Bertahan di Tengah Jakarta ModernDi tengah gedung tinggi dan hiruk-pikuk Jak...
08/02/2026

Gedung Candra Naya, Rumah Tua Tionghoa yang Bertahan di Tengah Jakarta Modern

Di tengah gedung tinggi dan hiruk-pikuk Jakarta, sebuah rumah tua berusia ratusan tahun masih berdiri—tenang, tapi penuh cerita.

LORONG-lorong panjang membentang di antara bangunan tua dengan arsitektur Tionghoa yang khas. Atap melengkung, tiang-tiang merah, serta detail ukiran klasik langsung membawa siapa pun yang masuk ke suasana masa lalu. Cahaya lampion merah yang menggantung dengan tenang seolah menjaga setiap sudut bangunan dari lupa. Inilah Gedung Candra Naya, salah satu bangunan bersejarah yang masih bertahan di jantung Jakarta.

Gedung Candra Naya terletak di kawasan Glodok, tepatnya di Jalan Gajah Mada No. 188, Jakarta Barat. Bangunan ini berdiri di atas lahan sekitar 2.250 meter persegi dan diyakini dibangun pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Usianya telah menembus lebih dari dua abad, menjadikannya salah satu peninggalan arsitektur Tionghoa tertua di ibu kota.

Pada masa kolonial, bangunan ini merupakan kediaman keluarga Khouw, salah satu keluarga Tionghoa terpandang di Batavia. Tokoh paling dikenal dari keluarga ini adalah Khouw Kim An, yang pernah menjabat sebagai Mayor Tionghoa Batavia—jabatan penting yang menjadi penghubung antara pemerintah kolonial dan komunitas Tionghoa saat itu. Dari rumah inilah berbagai urusan sosial dan komunitas dijalankan.

Seiring waktu, fungsi Candra Naya mengalami perubahan. Bangunan ini kemudian digunakan sebagai pusat kegiatan sosial dan pendidikan bagi masyarakat Tionghoa. Nama “Candra Naya” sendiri berasal dari Perkumpulan Sosial Candra Naya, organisasi yang pernah memanfaatkan gedung ini sebagai pusat aktivitas kemasyarakatan, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga kegiatan olahraga.

Memasuki era modern, nasib Candra Naya sempat berada di ujung tanduk. Pada awal 1990-an, bangunan ini dijual kepada pengembang swasta dan kawasan sekitarnya berubah menjadi kompleks modern. Bahkan, sempat muncul rencana untuk merelokasi gedung ini ke tempat lain. Namun, penolakan dari pemerhati sejarah dan masyarakat akhirnya menyelamatkan Candra Naya dari pembongkaran.

Kini, Gedung Candra Naya berdiri unik di tengah kawasan Green Central City, dikelilingi apartemen dan pusat perbelanjaan. Kontras antara bangunan tua dan gedung modern justru membuat Candra Naya semakin mencolok—seolah menjadi pengingat bahwa Jakarta dibangun dari lapisan-lapisan sejarah yang panjang.

Lebih dari sekadar bangunan tua, Candra Naya adalah saksi bisu perjalanan komunitas Tionghoa di Jakarta. Setiap tiang, halaman, dan lorongnya menyimpan cerita tentang kehidupan, perjuangan, dan kontribusi sebuah komunitas dalam membentuk wajah kota. Di tengah arus modernisasi, Candra Naya berdiri sebagai simbol bahwa sejarah masih punya tempat untuk dihargai dan dijaga.

🔖 Hashtag







07/02/2026

Let's Nge Blues WIth Digidagidu

Entah jenis batu nya apa namanya
12/01/2026

Entah jenis batu nya apa namanya

04/01/2026

rayabrebes Fals mania sejati
Musik punya kekuatan untuk mengubah hidup — buktinya ada di sini.
Raya bukan sekadar nama, tapi energi yang bikin hati terguncang.
Setiap nada, setiap kata, jadi pidato kecil yang menggetarkan lintas generasi."

#

01/01/2026

Lagu Kesaksian

"Kesaksian bukan sekadar lagu, tapi jeritan hati rakyat. Setiap baitnya bikin merinding, setiap nada jadi saksi zaman. ✊🔥"

30/12/2025

Iwan Fals “Lawan Korupsi” — Teriakan nurani yang menggema di panggung kita konser situs budaya

Suara musik bisa jadi perlawanan.
Lewat Lawan Korupsi, Iwan Fals kembali mengingatkan bahwa kejujuran tak boleh kalah oleh kekuasaan. Lagu lama, tapi pesannya masih relevan sampai hari ini. Salam Oi! ✊🎸
Hashtag:









30/12/2025

“Suara gitar yang lebih tajam dari pedang. Iwan Fals bukan sekadar musisi, tapi legenda hidup yang bikin rakyat berani bersuara. Dari ‘Wakil Rakyat’ sampai ‘Bento’, setiap nada adalah perlawanan, setiap lirik adalah harapan.”








28/12/2025

Jak Japan Matsuri

Jakarta rasa Jepang 🇯🇵
Di satu sudut kota, budaya, musik, kostum, dan senyum menyatu.
Jak-Japan Matsuri bukan sekadar festival, tapi perayaan rasa dan persahabatan dua budaya.










Address

Pondok Cabe Jakarta
Jakarta

Website

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Digidagidu Project posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Share