08/02/2026
Gedung Candra Naya, Rumah Tua Tionghoa yang Bertahan di Tengah Jakarta Modern
Di tengah gedung tinggi dan hiruk-pikuk Jakarta, sebuah rumah tua berusia ratusan tahun masih berdiri—tenang, tapi penuh cerita.
LORONG-lorong panjang membentang di antara bangunan tua dengan arsitektur Tionghoa yang khas. Atap melengkung, tiang-tiang merah, serta detail ukiran klasik langsung membawa siapa pun yang masuk ke suasana masa lalu. Cahaya lampion merah yang menggantung dengan tenang seolah menjaga setiap sudut bangunan dari lupa. Inilah Gedung Candra Naya, salah satu bangunan bersejarah yang masih bertahan di jantung Jakarta.
Gedung Candra Naya terletak di kawasan Glodok, tepatnya di Jalan Gajah Mada No. 188, Jakarta Barat. Bangunan ini berdiri di atas lahan sekitar 2.250 meter persegi dan diyakini dibangun pada akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Usianya telah menembus lebih dari dua abad, menjadikannya salah satu peninggalan arsitektur Tionghoa tertua di ibu kota.
Pada masa kolonial, bangunan ini merupakan kediaman keluarga Khouw, salah satu keluarga Tionghoa terpandang di Batavia. Tokoh paling dikenal dari keluarga ini adalah Khouw Kim An, yang pernah menjabat sebagai Mayor Tionghoa Batavia—jabatan penting yang menjadi penghubung antara pemerintah kolonial dan komunitas Tionghoa saat itu. Dari rumah inilah berbagai urusan sosial dan komunitas dijalankan.
Seiring waktu, fungsi Candra Naya mengalami perubahan. Bangunan ini kemudian digunakan sebagai pusat kegiatan sosial dan pendidikan bagi masyarakat Tionghoa. Nama “Candra Naya” sendiri berasal dari Perkumpulan Sosial Candra Naya, organisasi yang pernah memanfaatkan gedung ini sebagai pusat aktivitas kemasyarakatan, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga kegiatan olahraga.
Memasuki era modern, nasib Candra Naya sempat berada di ujung tanduk. Pada awal 1990-an, bangunan ini dijual kepada pengembang swasta dan kawasan sekitarnya berubah menjadi kompleks modern. Bahkan, sempat muncul rencana untuk merelokasi gedung ini ke tempat lain. Namun, penolakan dari pemerhati sejarah dan masyarakat akhirnya menyelamatkan Candra Naya dari pembongkaran.
Kini, Gedung Candra Naya berdiri unik di tengah kawasan Green Central City, dikelilingi apartemen dan pusat perbelanjaan. Kontras antara bangunan tua dan gedung modern justru membuat Candra Naya semakin mencolok—seolah menjadi pengingat bahwa Jakarta dibangun dari lapisan-lapisan sejarah yang panjang.
Lebih dari sekadar bangunan tua, Candra Naya adalah saksi bisu perjalanan komunitas Tionghoa di Jakarta. Setiap tiang, halaman, dan lorongnya menyimpan cerita tentang kehidupan, perjuangan, dan kontribusi sebuah komunitas dalam membentuk wajah kota. Di tengah arus modernisasi, Candra Naya berdiri sebagai simbol bahwa sejarah masih punya tempat untuk dihargai dan dijaga.
🔖 Hashtag