01/07/2018
Ada dua pihak yang terlibat dalam pertikaian: (1) yang berbuat salah, (2) yang dizalimi
-
Yang berbuat salah tentu saja punya kewajiban meminta maaf. Meminta maafnya bukan tunggu moment tertentu, bukan tunggu nanti pas Syawalan atau Halal bi Halal. Setiap tindakan jelek mesti diselesaikan sesegera mungkin. Kapan? Yah, pas buat salah langsung meminta maaf. Jangan jadi orang yang pura-pura tidak berbuat salah.
Jadi kalau buat salah, akui kesalahan dan mintalah maaf.
-
Coba perhatikan cara-cara meminta maaf:
1. Bersungguh-sungguh
Jangan mencoba untuk melupakan kesalahan dengan sebuah alasan atau permohonan maaf yang lemah. hanya akan menjadikan kesalahan semakin buruk.
Jadi, jangan katakan “Itu bukan hal yang besar,” “Saya tidak bermaksud melakukannya,” atau “Anda terlalu berlebihan”. Sebaliknya, katakanlah “Saya telah membuat kesalahan besar,” “Seharusnya saya tidak melakukannya,” atau “Saya seharusnya tahu mana yang benar.”
2. Akui kesalahan yang sebenarnya dengan mengemukakan alasan!
Sebuah permintaan maaf yang baik mengungkapkan masalah yang maksud dengan menggunakan kata “karena”.
3. Jangan bilang “tetapi”!
Satu kata itu dapat merusak permohonan maaf Anda. Itu adalah sebuah cara untuk menutupi kesalahan.
4. Bertekad tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa akan datang.
-
Bagi yang Disakiti (Dizalimi)
Bagi yang dizalimi yang bisa dilakukan adalah:
1. Menahan amarah (hilm atau lemah lembut) dan sabar (sadar itu musibah dan ujian).
2. Memaafkan kesalahan orang lain.
3. Membalas kejelekan dengan kebaikan.
-
Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu pernah berkata,
“Seolah-olah aku masih dapat melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menceritakan seorang nabi dari para nabi, yaitu ketika nabi tersebut dipukul oleh kaumnya hingga menyebabkan keluar darahnya dan nabi itu mengusap darah tersebut dari wajahnya sambil berdo’a, “Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka itu tidak mengetahui.” (HR. Bukhari, no. 3477; Muslim, 1792)