Marga Singgih

Marga Singgih Coach & Counselor Konsultan Keluarga & Perkawinan

Merawat EtikaMenjaga BudayaMenghormat LeluhurNY. TJOA HIN HOEI( KWEE YAT NIO )Nyonya Tjoa Hin Hoei, lahir dengan nama Kw...
30/09/2026

Merawat Etika
Menjaga Budaya
Menghormat Leluhur

NY. TJOA HIN HOEI
( KWEE YAT NIO )

Nyonya Tjoa Hin Hoei, lahir dengan nama Kwee Yat Nio ( 郭 悅 娘 ) dan juga dikenal dengan nama Visakha Gunadharma, dulu adalah seorang jurnalis, penulis, tokoh Tridharma / Buddha, dan aktivis politik berlatar belakang Tionghoa Indonesia selama periode akhir kolonial dan awal kemerdekaan Indonesia.

Ia terutama dikenal sebagai penerbit dan editor dari majalah wanita Maandblad Istri yang terbit mulai dekade 1930-an hingga awal dekade 1950-an.

Ia lahir dengan nama Kwee Yat Nio pada pertengahan dekade 1907 di Buitenzorg, Hindia Belanda ( kini Bogor, Indonesia ).
Wafat 26 September 1990.

PUTRI SULUNG KWEE TEK HOAY & OEY HIANG NIO

Ia adalah anak sulung dari Kwee Tek Hoay, seorang jurnalis, penulis, dan penerjemah multibahasa berlatar belakang Tionghoa Peranakan.

SEKOLAH DI THHK

Ia bersekolah di Buitenzorg. Awalnya di sebuah sekolah Tiong Hoa Hwee Koan (THHK) dan kemudian di sebuah sekolah Methodist yang berbahasa Inggris.

Ia akhirnya lulus dari sekolah Methodist pada tahun 1924 dan kemudian menjadi guru di sana.

Saat masih bersekolah, ayahnya telah mendorongnya untuk membaca, menulis, dan menerjemahkan berita berbahasa Inggris untuk koran berbahasa Melayu, seperti Sin Po.

CHIE MEY HUI

Pada awal dekade 1920-an, ia pun mendirikan sebuah organisasi wanita dengan nama Chie Mey Hui untuk menyatukan para wanita Peranakan yang belum menikah serta meningkatkan pendidikan dan pengembangan mereka.

MENIKAH DENGAN TJOA HIN HOEI

Pada tahun 1925, ia menikahi Tjoa Hin Hoei asal Lampung, Sumatra yang juga pernah bersekolah di sekolah THHK di Buitenzorg.

Ia lalu berhenti menjadi guru di sekolah Methodist agar dapat pindah ke Batavia, di mana ia mengajar di sebuah sekolah berbahasa Inggris.

MENULIS

Ia mulai menulis pada dekade 1930-an dan menerbitkan tulisannya di Moestika Romans.

Ia menerbitkan tulisannya dengan nama Nyonya Tjoa Hin Hoei.

Selama dekade 1930-an, ia juga menerbitkan artikel di bagian wanita dari sejumlah koran Tionghoa Indonesia, seperti Keng Po, Sin Tit Po, Mata Hari, dan di majalah milik ayahnya, Moestika Dharma.

Sebelum perang, ia sangat aktif di organisasi - organisasi politik Tionghoa di Jawa.

ASOSIASI PENGANUT BUDDHIS

Mulai tahun 1934 hingga 1938, ia menjadi sekretaris di Asosiasi Penganut Buddha di Jakarta.

ASOSIASI WANITA TIONGHOA

Mulai tahun 1932 hingga 1940, ia juga menjadi pemimpin Asosiasi Wanita Tionghoa di Batavia.

MAJALAH ISTRI

Pada bulan September 1935, setelah didorong oleh keluarga dan pembacanya, ia meluncurkan majalahnya sendiri, yakni Maandblad Istri, atau biasa dikenal sebagai Istri.

Majalah tersebut dicetak dalam bahasa Melayu ( Indonesia ) dan ditujukan untuk wanita Tionghoa Peranakan, terutama yang tidak dapat berbahasa Belanda.

Pada akhirnya, majalah tersebut juga populer di kalangan wanita pribumi, sehingga ia juga mengadvokasi hubungan baik antara wanita pribumi dan Tionghoa, serta mengadvokasi kesadaran mengenai situasi mereka.

KONTEN MAJALAH ISTRI

Istri berisi konten fiksi, ulasan film, resep, mode, serta pendidikan mengenai kesehatan anak dan status wanita, yang sebagian besar ditulis sendiri olehnya. Editorialnya tidak selalu radikal.

VISIONER

Ia percaya bahwa wanita harus rendah hati dan mengikuti nilai tradisional Tionghoa, serta bahwa pendidikan bermanfaat untuk menghasilkan istri dan anak yang ideal.

Anggota dewan editorial Istri salah satunya adalah Thung Sin Nio, seorang dokter berpendidikan Belanda.

Hal lain yang membuat Istri berumur panjang adalah karena tersebut didukung oleh komunitas Peranakan di Batavia, termasuk THHK dan Chung Hwa Hui.

Dukungan tersebut juga memungkinkan Tjoa dan penulis lain untuk menerbitkan tulisan dengan namanya sendiri, karena saat itu masih umum bagi penulis wanita di Hindia Belanda untuk menerbitkan tulisan dengan pseudonim.

1940

Pada tahun 1940, Tjoa menghadapi masalah hukum, karena dituduh telah mencetak tulisan fitnah yang melanggar hukum sensor di Hindia Belanda.

Pengadilan kemudian memutuskan bahwa tuduhan tersebut tidak dapat diterima.

Istri berhenti terbit selama pendudukan Jepang dan Revolusi Nasional Indonesia.

Istri baru kembali terbit setelah Indonesia merdeka.

Pada awal atau pertengahan dekade 1950-an, Istri akhirnya ditutup, karena mengalami kesulitan keungan dan kekurangan kertas.

Kematian suaminya pada tahun 1956 kemungkinan juga menjadi salah satu faktor penyebab penutupan Istri.

Pasca Indonesia merdeka, ia juga aktif di sejumlah organisasi Tionghoa dan Buddha.

1952

Mulai tahun 1952,
ia menjadi direktur di Tri Budaja yang diterbitkan oleh federasi Sam Kauw Indonesia ( 三 教 文 )

Ia juga memimpin bagian wanita dari Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia mulai tahun 1956 hingga 1964.

Pasca Transisi ke Orde Baru, sejumlah organisasi Tionghoa Indonesia ditutup oleh pemerintah, sehingga ia lebih fokus pada penerbitan tulisan keagamaan dan tetap aktif di organisasi Buddha lokal di Jakarta.

1973

Pada tahun 1973,
ia menjadi wakil ketua di Wanita Buddhis Indonesia.

Pada periode ini, ia juga mulai memakai nama Visakha Gunadharma.

Ia akhirnya meninggal pada tanggal 26 September 1990.

Ia meninggalkan sebuah otobiografi yang belum sempat diterbitkan, yakni Visakha Gunadharma: Otobiografi Kwee Yat Nio.

Tks
🙏🙏🙏
Ms

🏡 FENGSHUI RUMAH HUNIANSeni Menata Rumah, Menyeimbangkan Qi, Mengoptimalkan Kualitas Kehid**anRumah yang baik dimulai da...
30/09/2026

🏡
FENGSHUI RUMAH HUNIAN

Seni Menata Rumah, Menyeimbangkan Qi, Mengoptimalkan Kualitas Kehid**an

Rumah yang baik dimulai dari penataan yang baik.

Feng Shui bukan sekadar mencari keberuntungan, tetapi memahami hubungan antara manusia, rumah, dan lingkungan.

Bagaimana menentukan arah rumah?

Di mana posisi kamar utama, dapur, kamar mandi, ruang tamu, dan ruang kerja?

Bagaimana menata pintu, tangga, balkon, warna, serta pembagian ruang?

📖 Semua dibahas dalam buku :
FENGSHUI RUMAH HUNIAN
dengan pendekatan yang sederhana, sistematis, dan aplikatif.

Kenali rumah Anda.
Seimbangkan Qi-nya.

Bangun kehid**an yang lebih harmonis.

📚 HARGA BUKU: Rp300.000

💳 PEMBAYARAN:
Bank Kalbar
No. Rekening: 2021 70 8006

A.n.
Tridharma Nusantara Singkawang

Infokan pembayaran melalui WA: 08996733777
📖
Oleh
Liu Qilin 劉 其 霖 /
Dji Sye Lim

Untuk Kalangan Sendiri

Merawat EtikaMenjaga BudayaMenghormat LeluhurTHE BOAN ANThe Boan An adalah tokoh yang menjadi Ketua Umum pertama Gabunga...
29/09/2026

Merawat Etika
Menjaga Budaya
Menghormat Leluhur

THE BOAN AN

The Boan An adalah tokoh yang menjadi Ketua Umum pertama Gabungan Sam Kauw Indonesia (GSKI) ketika organisasi tersebut dibentuk pada 20 Februari 1952 di Jakarta.

The Boan An menjabat Ketua Umum pertama GSKI ( Gabungan Sam Kauw Indonesia )

GSKI berdiri 20 Februari 1952.

GSKI merupakan gabungan berbagai organisasi Sam Kauw, termasuk unsur Buddha, Khong Hu Cu, dan Tao, serta organisasi terkait lainnya.

Namun beliau pada akhir tahun 1953 mengundurkan diri sebagai Ketua GSKI karena menjadi Bhikkhu.

MENJADI BHIKKHU

The Boan An kemudian dikenal sebagai Sukong / Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, setelah menjalani penahbisan sebagai bhikkhu Theravada di Burma ( Myanmar ) pada 1954.

Setelah ia berangkat ke Burma untuk memperdalam dan menerima penahbisan, kepemimpinan GSKI kemudian beralih kepada Drs. Khoe Soe Kiam ( Drs. Sasana Surya / Khoe Soe Kiam ).

GTI

GSKI kemudian berkembang dan pada sekitar 1962 berganti nama menjadi Gabungan Tridharma Indonesia ( GTI ).

Ada sedikit perbedaan tanggal dalam sumber-sumber sejarah mengenai tahun/tanggal pembentukan formal GSKI, tetapi sumber akademik dan sumber sejarah ditemukan secara konsisten menyebut The Boan An sebagai pemimpin awal GSKI.

Pada tahun 1952 – The Boan An menjadi Ketua Umum GSKI (Gabungan Sam Kauw Indonesia).

GTI BERBADAN HUKUM

Pada tahun 13 April 1953 – GSKI memperoleh status badan hukum melalui Penetapan Menteri Kehakiman RI No. JA5/31/13 tanggal 9 April 1953.

Pada akhir tahun 1953 – The Boan An ditahbiskan sebagai samanera Ti Chen dalam tradisi Mahayana di Kong Hoa Sie, Jakarta.

Pada tahun 1954, beliau pergi ke Burma ( sekarang Myanmar ), belajar meditasi di bawah tradisi Mahasi Sayadaw, kemudian ditahbiskan menjadi bhikkhu dengan nama Ashin Jinarakkhita.

MUNDUR DARI GSKI

Setelah menjadi bhikkhu, The Boan An/Ashin Jinarakkhita tidak lagi memimpin GSKI. Ketua GSKI kemudian beralih kepada Drs. Khoe Soe Kiam (Sasana Surya).

GSKI JADI GTI

Pada tahun 1962 – GSKI kemudian berganti nama menjadi Gabungan Tridharma Indonesia ( GTI ).

* The Boan An,
* Visakha Gunadharma ( Ny. Tjoa Hin Hoeij / Kwee Yat Nio ) dan
* Ong Tiang Biauw Bhikkhu Jinapuths )

termasuk tokoh penting dalam kepemimpinan awal GSKI.

Pada 1952, GSKI di bawah pimpinan The Boan An menyelenggarakan kegiatan Waisak dan Asadha di Jakarta.

Sumber sejarah Buddhisme Indonesia menyebut GSKI berdiri / diaktifkan kembali pada 20 Februari 1952 di bawah pimpinan The Boan An.

The Boan An merupakan tokoh sentral GSKI pada periode awal 1950-an, bukan sekadar anggota biasa.

GSKI adalah kelanjutan dari Sam Kauw Hwee yang didirikan oleh Kwee Tek Hoay ( 1934 ) di Batavia.

LAHIR & MENINGGAL

The Boan An lahir pada
23 Januari 1923 di Bogor, Jawa Barat, Hindia Belanda.

Meninggal
18 April 2002 (umur 79)

MASA KECIL

The Boan An merupakan anak ketiga dari pasangan The Hong Gie dan Tan Sep Moy.

Ayah Boan An, merupakan seorang wijkmeester, atau semacam lurah untuk masa kini, sehingga di rumah Boan An sewaktu kecil sering kali didatangi oleh banyak orang untuk mengurusi berbagai surat-surat penting.

Namun sayangnya, pada saat ia berumur 2 tahun, ibunya meninggal dunia, dan kemudian ayahnya menikahi adik dari Tan Sep Moy, yaitu Sep Nyie Moy yang menjadi ibu tiri untuk si kecil Boan An.

MASA SEKOLAH

Pada saat duduk di sekolah dasar di HCS, Boan An tidak mendapatkan uang jajan dari orangtuanya sehingga ia bekerja sambilan untuk memperoleh uang jajan.

Ia menjadi tukang tagih utang untuk seorang dokter, dan mendapat persenan dari hasil tagihan tersebut.

Meskipun demikian, Boan An bukanlah orang yang kasar, tetapi pemurah dan berhati lurus. Ia sering membagi-bagikan uang jajannya kepada teman-temannya yang lain dan sangat tidak s**a mencuri barang orang lain.

Pernah suatu hari, teman dekatnya, Anyi berniat untuk mencuri buah jambu dan dihentikan oleh Boan An dan mengatakan bahwa lebih baik ia memintanya daripada mencuri.

Boan An juga memiliki sifat yang keras, jika ia tidak maka tidak, jika mau maka mau.

Akibat sifatnya ini ia pernah bertengkar dengan ayahnya sehingga ia berusaha untuk kabur dari rumahnya untuk pergi ke tempat neneknya.

Setelah seharian berusaha ke tempat neneknya, akhirnya ayahnya berusaha mencarinya dan menemukannya di rumah salah seorang yang memberinya tempat menginap untuk sementara.

LULUS HCS

Setelah lulus dari HCS ia ingin melanjutkan pendidikannya di HBS, setara dengan SMA untuk masa itu, tetapi karena terlambat mendaftar akhirnya ia bersekolah di PHS selama satu tahun pada 1936, dan setelah itu baru ia mendaftar kembali untuk belajar di HBS tahun berikutnya.

YOGA

Pada saat itu, ia sudah mulai tertarik dengan ilmu-ilmu gaib dan yoga. Ia sering bercerita banyak sekali tentang yoga kepada teman-temannya. "Yoga.

Yoga itu membela kamu punya jiwa, Kamu gak akan ngaco pikirannya. Kalau lagi banyak pikiran, nolkan lagi, sudah nol boleh mikir lagi.” Pada saat itu juga ia berkenalan dengan seorang Belanda bernama Reigh yang katanya dapat melihat makhluk halus.

Oleh Reigh ini, Boan An belajar mengenai magnetism untuk penyembuhan dan juga okultisme.

Ketertarikan Boan An mengenai hal-hal spiritual ini membuat ayahnya merasa khawatir akan pendidikan anaknya di sekolah. Akhirnya ayahnya mengajak Boan An ke tempat kakeknya.

Ternyata kakek Boan An yang merupakan vegetarian, membuat Boan An ikut menjadi vegetarian yang membuat marah ayahnya.

THS / ITB

Setelah lulus dari HBS pada tahun 1941, Boan An melanjutkan pendidikannya di THS jurusan ilmu pasti alam (sekarang ITB). Namun, setelah Jepang menduduki Indonesia, semua perkuliahan dihentikan, akibatnya Boan An pun pulang kembali ke rumahnya di Bogor.

Di Bogor ia membantu di dapur umum yang didirikan untuk membantu orang-orang yang kesulitan mendapat makanan pada masa tersebut.

Selain itu, ia juga rajin bermeditasi dan bertukan pikiran dengan tokoh-tokoh spiritual yang ada.

Akhirnya, ia berkenalan dengan orang-orang dari perkumpulan Theosofi dan mulai memperdalam minatnya di bidang spiritual.

Pada tahun 1946, ayah Boan An merasa bahwa anaknya harus melanjutkan kembali pendidikannya yang tertunda.

BELAJAR KE BELANDA

Boan An akhirnya melanjutkan pendidikannya di Groningen, Belanda di Universitas Groningen, Fakultas Ilmu Pasti Alam jurusan ilmu Kimia.

Di Belanda ia mulai aktif dalam organisasi Theosofi dan juga mulai memperdalam ilmu filsafat. Ia juga membantu dalam bidang sosial, yaitu sewaktu Dam Wicheren bocor, ia menjadi s**arelawan di sana.

Setelah tahun keempatnya di negeri Kincir tersebut, ia menuliskan surat kepada temannya bahwa tidak ingin meneruskan pendidikan ilmu kimia nya dan ingin memusatkan perhatiannya dalam penyebaran agama Buddha.

Akhirnya, setelah 5 tahun berada di negeri orang, Boan An pun kembali ke Indonesia.

Pada tahun 1951, Boan An kembali lagi ke Indonesia. Dia pun menjadi salah satu pendiri Gabungan Sam Kauw Indonesia, di mana perkumpulan ini mencoba untuk melestarikan kebudayaan Buddhisme, Konfusius, dan Taoisme di Indonesia, di mana ia diangkat menjadi ketuanya. Ia juga menjadi wakil ketua pengurus pusat Pemuda Teosofi di Indonesia.

Salah satu usahanya dalam melestarikan agama Buddha di Indonesia ialah mengadakan perayaan Waisak secara nasional untuk pertama kalinya dalam beratus-ratus tahun di candi Borobudur pada tanggal 23 Mei 1953.

Ketertarikan Boan An pada ajaran Buddha membuat ia sering mengunjungi kelenteng Kong Hoa Sie yang berada di Jakarta.

Tks
🙏🙏🙏
Ms

MAKNA dan SIMBOL DALAM TRIDHARMAA. SW****KA Simbol Sw****ka Keberuntungan dan Kebajikan.Kata sw****ka berasal dari bahas...
29/09/2026

MAKNA dan SIMBOL DALAM TRIDHARMA

A. SW****KA

Simbol Sw****ka Keberuntungan dan Kebajikan.

Kata sw****ka berasal dari bahasa Sanskerta svastika, yang berarti kesejahteraan atau keberuntungan.

Simbol ini sering diasosiasikan dengan tanda keberuntungan pada jejak kaki Hyang Buddha Sakyamuni (Buddhapada).

Sw****ka merepresentasikan sifat dharma yang kekal, siklus kehid**an tanpa batas, serta pencerahan.

Simbol ini sering ditemukan pada bagian dada, telapak kaki, atau Rupang Buddha, serta pada pola pakaian dalam tradisi Buddha Tibet.

B. TAI CHI/ TAI KEK

Melambangkan kesatuan mutlak (Tao) atau keseluruhan alam semesta yang tak terbatas dan utuh.

Bagian Hitam ( Yin ): Melambangkan sisi pasif, gelap, dingin, lembut, malam hari, dan prinsip feminin.

Bagian Putih ( Yang ): Melambangkan sisi aktif, terang, panas, keras, siang hari, dan prinsip maskulin.

Garis Melengkung Seperti Huruf "S": Menunjukkan bahwa batas antara Yin dan Yang tidak kaku, melainkan mengalir, dinamis, serta saling menyeimbangkan secara terus-menerus.

Titik Kecil di masing-masing Sisi ( Titik hitam di area putih dan titik putih di area hitam): Mengandung makna bahwa di dalam unsur Yin terdapat benih Yang, dan sebaliknya.

Tidak ada hal di dunia ini yang murni mutlak; setiap sisi selalu mengandung potensi atau unsur dari lawannya.

C. BOKTOK / MUDUO ( GENTA ROHANI )

Bok Tok / Muduo ( Genta Rohani ) ditengahnya ada tulisan

Zhong dan Shu ( Tiong Si ) , 忠 dan 恕 artinya Satya dan Tepasalira/Tenggang Rasa

忠 恕 之 道: Zong shu Ve Dao

Jalan setia dan toleransi pengertian tepaselira, ada 5 :

1. 君 臣 cuin chen = hubungan raja dan pejabat

2. 父 妻 fuqi, = hubingan suami dan istri

3. 父 子 fu ze = hubungan ayah dan anak anak

4. 昆 中 khuen cung = hubungan saudara

5. 朋 友 pheng yu.= hubungan pertemanan / sahabat

Nabi Kongzi / Khong Hu Cu mengajarkan Jalan Suci yang satu tetapi dapat menembusi semuanya ( Yi Guan Zhi Dao 一 贯 之 道 ).

"Apa yang diri sendiri tiada inginkan, jangan dilakukan kepada orang lain"

己 所 不 欲 勿 施 于 人 己 所 不 欲,勿 施 于 人

Jǐ Suǒ Bù Yù, Wù Shī Yú Rén Ci suo pu yi Wu se yi ren

Segala sesuatu yang kau tidak inginkan,

Jangan lakukan pada orang lain,

Tidak mau dihina jangan hina orang,

Tidak mau ditipu jangan menipu

己 欲 立 而 立 人 己 欲 达 而 达 人

Qi Yi Li Er Li Ren Qi Yi Da Er Da Ren

Sendiri ingin berdiri tegak dan dia juga inginkan orang lain berdiri tegak.

Sendiri ingin sukses dan Ingin juga orang lain sukses.

D. LIAN HUA / PADMA / TERATAI

Bunga teratai ( sering disebut lotus / padma / lian hoa ) melambangkan kemurnian spiritual, ketahanan, dan pencerahan.

Bunga ini menggambarkan perjalanan hidup manusia yang mampu bangkit dari kekotoran duniawi menuju kebersihan batin.

Filosofi Pertumbuhan Teratai Akar di dalam lumpur. Menggambarkan kehid**an duniawi yang penuh dengan penderitaan, hasrat, dan kebodohan.

Batang di dalam air: Menggambarkan proses perjuangan dan latihan spiritual untuk membersihkan diri.

Bunga di atas permukaan air yang mekar bersih: Menggambarkan pencapaian pencerahan atau nirwana yang suci dan tidak tercemar oleh lingkungan sekitar.

Makna Berdasarkan Warna Putih: Melambangkan kemurnian mental dan kesucian spiritual yang tertinggi.

Merah: Melambangkan cinta kasih universal dan welas asih kepada sesama makhluk.

Biru: Melambangkan kemenangan roh atas indra, serta simbol kebijaksanaan dan pengetahuan.

Merah Muda: Merupakan warna paling suci yang diasosiasikan langsung dengan Hang Buddha Sakyamuni.

E. RODA CAKRA

Simbol roda cakra atau Dharma Cakra ( Roda Dharma ) dalam adalah lambang suci yang berarti pemutaran roda ajaran ( Dharma ) dan hukum sebab-akibat.

Berikut adalah arti bagian-bagian penting pada simbol Dharma Cakra:

Bentuk Roda yang Berputar: Melambangkan bahwa Dharma terus berjalan, menyebar, dan kehid**an terus berputar seperti roda kendaraan.

Delapan Jari-jari Roda: Melambangkan Jalan Mulia Berunsur Delapan ( Hasta Ariya Marga ) atau Delapan Jalan Utama yang menjadi panduan hidup benar untuk mencapai pencerahan dan Nirwana.

Lingkaran ( Pusat Roda ):

Menyimbolkan ajaran moral dan disiplin yang menyatukan seluruh ajaran, serta pentingnya kemurnian pikiran.

F. BOK KHI

Bok Khi ( Mu Yu 木 魚 ) adalah alat perkusi ritual berbentuk ikan kayu yang digunakan di klenteng atau wihara.

Istilah "klenteng" di Indonesia salah satunya diyakini berasal dari perpaduan bunyi lonceng ( teng-teng ) dan bunyi ketukan Bok Khi ini saat umat sedang melaksanakan ibadah liturgi atau pembacaan doa (Liam Keng / Nien Jing / Nyam Kin ).

Secara mendalam, makna dan filosofi dari Bok Khi di klenteng mencakup beberapa hal berikut:

1. Simbol Kewaspadaan dan Kedisiplinan RohaniMata Ikan yang Selalu Terbuka: Ikan adalah makhluk yang matanya tidak pernah terpejam, bahkan saat tidur. Makna: Bentuk ikan ini menjadi pengingat bagi para rohaniwan dan umat agar selalu waspada, terjaga, dan tidak terlena oleh urusan duniawi. Umat diajak untuk terus melatih diri dan menjaga kejernihan pikiran dalam meniti jalan spiritual.

2. Pengiring Ritme Doa ( Liam Keng / Nien Jing / Nyam Kin ). Fungsi: Alat ini diketuk menggunakan pemukul kayu untuk menghasilkan bunyi yang konstan, ritmis, dan monoton. Makna: Ketukan yang stabil berfungsi menjaga tempo pembacaan kitab suci atau doa bersama agar tetap serasi, tidak terlalu cepat, dan tidak terlalu lambat. Bunyi ini juga membantu memfokuskan pikiran umat agar masuk ke dalam kondisi meditatif saat beribadah.

3. Pembersih Pikiran NegatifFungsi: Getaran suara dari kayu yang berongga ini diyakini memiliki efek menenangkan. Makna: Ketukan demi ketukan melambangkan upaya mengikis kebodohan batin, mengusir rasa kantuk saat bermeditasi, serta membersihkan pikiran egois manusia agar kembali

G. AIR

Air merupakan simbol mendalam yang melambangkan kemurnian, kerendahan hati, ketenangan batin, serta sumber kehid**an.

Makna Simbol Air adalah Pikiran yang Jernih dan Murni.

Air yang jernih dan bening mencerminkan pikiran yang bersih dari kekotoran batin ( kilesa ) seperti keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Umat diingatkan untuk menjaga batin agar tetap tenang dan tidak keruh.

Kerendahan Hati:

Sifat air yang selalu mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah mengajarkan sikap rendah hati, tidak sombong, dan tidak merendahkan orang lain.

Ketenangan dan Kesejukan: Air yang mengalir dengan tenang mencerminkan kedamaian batin yang tidak mudah terguncang oleh kondisi luar, serta membawa kesejukan bagi sesama makhluk.Kecintaan Kasih dan Adaptabilitas:

Air dapat menyesuaikan diri dengan wadah apa pun dan memberikan kehid**an kepada siapa saja tanpa pamrih, melambangkan cinta kasih universal (metta).

Penggunaan dalam Ritual Persembahan di Altar:

Air bersih diletakkan di atas altar sebagai sarana puja (pucha) untuk merenungkan sifat-sifat mulia Sang Buddha dan mengingatkan praktisi agar menjaga kemurnian pikiran.

Dalam tradisi perayaan Waisak di Indonesia, air suci ( seperti yang diambil dari Umbul Jumprit, Jawa Tengah ) disakralkan dan digunakan dalam ritual pembersihan rupang Hyang Buddha Sakyamuni serta simbol pembawa kedamaian.

H. PELITA / LILIN

Lilin atau pelita melambangkan Cahaya Dharma yang melenyapkan kegelapan batin ( kebodohan ) dan memberikan penerangan kebijaksanaanya.

Penerangan Batin dan Kebijaksanaan:

Nyala api melambangkan cahaya kebijaksanaan Hyang Buddha yang menuntun makhluk hidup keluar dari kebingungan dan ketidaktahuan.

Pengorbanan Diri:

Lilin yang meleleh saat dibakar mengajarkan umat untuk merelakan ego, keserakahan, dan kepentingan diri sendiri demi memberi manfaat bagi orang lain.

Simbol Warna Lilin ( Lilin 5 Warna ):

Biru: Lambang bakti.

Kuning: Lambang kebijaksanaan.

Merah: Lambang cinta kasih.

Putih: Lambang kesucian.

Oranye: Lambang semangat.

I. BUNGA

Simbol Ketidakkekalan

Bunga segar yang diletakkan di altar pemujaan lama-kelamaan akan layu dan gugur.

Hal ini mengingatkan umat bahwa semua hal di dunia bersifat sementara, tidak kekal, dan selalu berubah.

Proses ini juga merefleksikan kondisi fisik manusia yang suatu saat akan mengalami tua, sakit, dan meninggal dunia.

Makna Khusus Bunga Teratai (Padma) :

Pencerahan dan Kemurnian:

Teratai tumbuh dari air yang berlumpur dan kotor, namun tetap mekar dengan bersih dan indah di permukaan air.

Ini melambangkan seseorang yang dapat mencapai pencerahan spiritual meskipun hidup di dunia yang penuh noda dan penderitaan.

Berdasarkan legenda, bunga teratai mekar di setiap langkah kaki Pangeran Siddharta Gautama saat ia baru lahir.

Sebab dan Akibat:

Teratai adalah salah satu tanaman langka yang menghasilkan bunga dan buah ( biji ) secara bersamaan, menyimbolkan prinsip keserentakan sebab dan akibat ( karma ) dalam Dharma.

Sarana Penghormatan dan Latihan Batin

Mempersembahkan bunga di altar adalah bentuk rasa hormat kepada Hyang Buddha sebagai guru agung.

Tindakan ini melatih kerendahan hati, rasa syukur, serta membantu membersihkan batin dari kemelekatan terhadap hal-hal duniawi.

J. D**A

Pembakaran d**a ( hio ) melambangkan keharuman kebajikan, moralitas, dan perbuatan baik yang menyebar ke segala arah tanpa memandang angin.

Keharuman Moralitas :

Asap dan aroma wangi d**a mengingatkan umat agar mengembangkan pikiran serta perilaku bajik yang harumnya dapat melebihi wewangian bunga duniawi.

Pengorbanan Tanpa Pamrih:

Batang d**a yang perlahan habis terbakar demi menebarkan keharuman menyimbolkan ketulusan dalam berdana (berderma) dan melatih diri.

Doa dan Aspirasi:

Asap d**a yang membumbung tinggi ke atas melambangkan ketulusan hati, penghormatan kepada Guru Mulia serta aspirasi menuju kebijaksanaan.

Tks
🙏🙏🙏
Marga Singgih

Merawat EtikaMenjaga BudayaMenghormat LeluhurMING DAN ( MING CHEN )SASANAPUTERA SATYADHARMA / THIO LIANG EK KE 96, TAHUN...
27/09/2026

Merawat Etika
Menjaga Budaya
Menghormat Leluhur

MING DAN ( MING CHEN )
SASANAPUTERA SATYADHARMA / THIO LIANG EK KE 96, TAHUN 2026

Admin WAG & www.tridharmapedia.com telah menyelenggarakan Perayaan Ming Dan ( 冥 诞 ) / Ming Chen ( 冥 辰 ) Sasanaputera Satyadharma ( Thio Liang Ek ) ke 96 ( 1930 - 2026 ), pejuang & pelopor pergerakan Tridharma di Jawa Barat, Jakarta, Banten dll pasca 1955 an.

Perayaan Ming Dan / Ming Chen merupakan perayaan ulang tahun bagi seseorang yang telah meninggal dunia.

Perayaan Ming Dan / Ming Chen Sasansputera Satyadharma ( Thio Liang Ek ) tersebut dilangsungkan pada Minggu, 27 September 2026, Pukul : 12 - 15 WIB, bertempat fi Kwan Im Bio / Lam Hay Kiong. Jl. Raya Jonggol - Dayeuh. Desa Sukasirna. Kec. Jonggol. Kab. Bogor.

Acara diisi dengan Makan Siang Bersama yang dilanjutkan dengan Kebaktian Bersama.

Kemudian Acara dilanjutkan dengam Sarasehan & Diskusi.

Berbarengan dengan acara tersebut juga telah diluncurkan / Launching website : www.tridharmapedia.com

Acara tersebut dihadiri sekitar 70 umat Tridharma.

Sasanaputera Satyadharma terlahir ( Lahir di Cariu - Jonggol, Bogor ) dengan nama Thio Liang Ek pada Pe Gwe Cap Go, Im Yang Lek / 6 Oktober 1930 dan meninggal 22 Maret 2020.

Tks
Panitia
🙏🙏🙏
Perayaan Ming Dan ( 冥 诞 ) /
Ming Chen ( 冥 辰 )
Sasanaputera Satyadharma ( Thio Liang Ek )

Merawat EtikaMenjaga BudayaMenghormat LeluhurTIGA PINTU MASUK KLENTENGTiga pintu masuk pada bangunan utama klenteng ( sa...
27/09/2026

Merawat Etika
Menjaga Budaya
Menghormat Leluhur

TIGA PINTU MASUK KLENTENG

Tiga pintu masuk pada bangunan utama klenteng ( san-men ) melambangkan jalur spiritual yang berbeda berdasarkan tradisi arsitektur Tionghoa.

PINTU TENGAH

Secara tradisional dikhususkan untuk jalan masuk para roh suci, dewa dewi atau orang suci

Pada zaman dahulu dalam istana atau bangunan resmi, pintu ini juga hanya dilalui oleh raja atau pejabat tinggi.

Umat biasa umumnya tidak menggunakan pintu tengah ini untuk keluar-masuk sehari-hari.

PINTU KANAN

Pintu Kanan (Sisi Kanan dari luar) sering disebut sebagai Pintu Naga Hijau ( Qing Long ), yang melambangkan kebaikan, berkah, dan kemakmuran.

Umat biasanya masuk melalui pintu sebelah kanan ini sebagai harapan mendapat keberuntungan.

PINTU KIRI

Pintu Kiri (Sisi Kiri dari luar) sering disebut sebagai Pintu Macan Putih ( Bai Hu ), yang melambangkan simbol untuk membuang kesialan atau lolos dari bahaya.

Umat biasanya menggunakan pintu sebelah kiri ini sebagai jalur saat keluar dari ruang suci.

Tks
🙏🙏🙏
Ms

Merawat EtikaMenjaga BudayaMenghormat LeluhurAGAMA BUDDHA & TRIDHARMA DI TIONGKOKAgama Buddha masuk ke Tiongkok melalui ...
26/09/2026

Merawat Etika
Menjaga Budaya
Menghormat Leluhur

AGAMA BUDDHA & TRIDHARMA
DI TIONGKOK

Agama Buddha masuk ke Tiongkok melalui Jalur Sutra pada abad ke-1 Masehi pada masa Dinasti Han, dibawa oleh para pedagang dan bhikshu dari Asia Tengah.

Masa Masuk dan Awal Perkembangan (Abad ke-1 – ke-3 M) Kaisar Ming dari Han.

Menurut legenda dan [catatan sejarah awal Masehi], Kaisar Ming Di ( 57–75 M ) bermimpi tentang sesosok dewa emas, yang ditafsirkan sebagai Buddha.

Agama Buddha di Tiongkok ( 汉 传 佛 教; Hàn Chuán Fó Jiào ) berkembang pada abad ke-2 SM setelah para pedagang dari Asia Tengah yang beragama Buddha memperkenalkagnnya ke orang Tiongkok.

JALUR SUTERA

Penyebaran agama Buddha melalui jalur Sutera melalui penerjemah teks penting tentang ajaran Buddha dari bahasa India ke bahasa Tionghoa.

Penyebaran agama Buddha di Tiongkok juga ditandai dengan berkembangnya seni pahat patung-patung Buddha dan dibangunnya sekolah ajaran Buddha di Tiongkok.

Agama buddha turut memengaruhi ciri khas seni, patung, arsitektur dan filsafat Tionghoa.

DINASTI TANG

Pada puncak keemasan Dinasti Tang, agama Buddha berkembang sangat pesat di Tiongkok dengan dihasilkannya banyak guru-guru spiritual yang bagus.

WIHARA KUDA PUTIH

Utusan dikirim ke India dan kembali membawa kitab suci Sutra Empat Puluh Dua Bagian, lalu mendirikan Wihara Kuda Putih di Luo Yang sebagai wihara pertama di Tiongkok.

PENERJEMAHAN KITAB SUCI

Bhikshu asing dan lokal mulai menerjemahkan naskah suci dari bahasa Sanskerta ke dalam bahasa Tionghoa.

MULAI AKULTURASI

Masa Penyesuaian dan Pertumbuhan ( Abad ke-4 – ke-6 M ) Pengaruh Lokal:

Ajaran Buddha beradaptasi dengan budaya lokal serta filosofi asli seperti Taoisme dan Konfusianisme.

PEMBANGUNAN SENI

Seni pahat dan arsitektur gua batu besar mulai dibangun, seperti Gua Mo Gao dan Gua Long Men.

ZAMAN KEEMASAN

Zaman Keemasan ( Dinasti Tang, 618–907 M ) dengsn dukungan Kekaisaran:

Dinasti Tang mengangkat agama Buddha sebagai salah satu fokus utama kerajaan, membuat pengaruhnya mencapai puncak kejayaan.

PERJALANAN KE INDIA / BARAT

Bhikshu terkenal seperti Xuan Zang ( Tong Sam Cong ) melakukan perjalanan ke India / Barat untuk membawa naskah asli kembali ke Tiongkok.

ALIRAN BARU

Lahir berbagai aliran khas Tiongkok seperti Chan ( Zen ) dan Pure Land ( Tanah Suci / Amitabha ).

SINKRETISME

Perkembangan Lanjutan dan Masa Modern Sinkretisme:

Agama Buddha bercampur harmonis dengan tradisi rakyat Tiongkok ( Taoisme, Confusinisme, Budaya Tionghoa ) di mana figur seperti Bodhisattva Guan Yin ( Kuan Im ) sangat dipuja.

KONDISI KINI

Mayoritas umat Buddha di Tiongkok mengikuti tradisi Buddha Mahayana aliran Han yang melebur dengan nilai-nilai lokal.

PENERJEMAHAN KITAB SUCI

Penerjemahan kitab Buddhis pertama ke dalam bahasa Tionghoa terjadi pada 148 SM bersamaan dengan kedatangan pangeran An Shi Gao yang menjadi bhikshu.

Ia membangun wihara buddhis di Luo Yang dan menyusun penerjemahan kitab-kitab Buddhis ke dalam bahasa Tionghoa yang bertahan sampai saat ini.

An Xuan, seorang awam dari Parthia juga bekerjasama dengan An Shi Gao untuk menerjemahkan kitab-kitab yang nantinya menjadi awal perkembangan agama Buddha Mahayana di Tiongkok.

Pada masa masa awal terjadi berbagai konflik antara Taoisme, Konfusianisme dan Buddhsme tapi lambat laun mereda dan bahkan terjadi akulturasi yang kian harmonis sehingga lahir lah San Jiao / Sam Kauw / Tridharma.

Dengan bermunculan banyak guru guru spiritusl besar seperti :

* Xuan Zhang / Tong Sam Cong
* Bodhidharma
* Nagarjuna
* Kumarajiva
* Lin Chao En
* fll

Tks
🙏🙏🙏
Ms

Merawat EtikaMenjaga BudayaMenghormat LeluhurVASUBANDHUBhikshu Vasubandhu adalah salah satu filsuf, bhikshu, dan cendeki...
26/09/2026

Merawat Etika
Menjaga Budaya
Menghormat Leluhur

VASUBANDHU

Bhikshu Vasubandhu adalah salah satu filsuf, bhikshu, dan cendekiawan Buddhis paling berpengaruh asal India yang hidup sekitar abad ke-4 hingga ke-5 Masehi, pada masa kekaisaran Gupta.

Ia dikenal luas karena kontribusi besarnya dalam merumuskan doktrin-doktrin penting, baik dalam tradisi Buddhis awal maupun Mahayana.

Bhikshu Vasubandhu lahir dalam keluarga brahmana di Purusapura (sekarang Peshawar, Pakistan), wilayah kuno Gandhara.

Ia merupakan adik dari Asanga, yang juga merupakan tokoh besar dalam Buddhisme.

DUA FASE KEAGAMAAN

FASE AWAL
( HINAYANA / SRAVAKAYANA )

Pada mulanya, ia menolak ajaran Mahayana.

Ia menumpahkan pemikirannya untuk mendalami mazhab Sarvastivada ( Vaibhasika ) dan Sautrantika.

Pada masa inilah ia menulis karya monumentalnya, Abhidharmakosha ( Treasury of Abhidharma ), sebuah risalah yang hingga hari ini menjadi panduan utama studi psikologi dan kosmologi Buddha di Asia Timur dan Tibet.

FASE MAHAYANA

Atas pengaruh dan bimbingan kakaknya, Asanga, Vasubandhu akhirnya beralih ke tradisi Mahayana.

Bersama Asanga, ia menjadi pelopor utama pendiri Mazhab Yogacara ( Mind-Only / Cittamatra ), sebuah mazhab filsafat yang berfokus pada analisis mendalam terhadap sifat kesadaran dan realitas pikiran.

KARYA POPULER

Selain Abhidharmakosha, karya penting lainnya setelah ia beralih ke Mahayana meliputi Vimsatika ( Dua Puluh Bait ) dan Trimsika ( Tiga Puluh Bait ) yang merumuskan metafisika Yogacara.

ESENSI

Esensi ajaran Bhikshu Vasubandhu (abad ke-4 hingga ke-5 M) berpusat pada filsafat Yogacara-Vijnanavada, yang sering dikenal sebagai doktrin Citta-matra (Hanya-Pikiran) atau Vijnapti-matra (Hanya-Kesadaran).

Secara garis besar, esensi ajaran beliau terbagi ke dalam tiga pilar filosofis utama:
1. Citta-mātra / Vijnapti-mātra ( Hanya-Pikiran atau Hanya-Kesadaran ). Vasubandhu mengajarkan bahwa objek-objek eksternal yang kita persepsikan di dunia ini tidak memiliki realitas independen di luar pikiran kita. Segala fenomena dan dunia fisik yang kita alami hanyalah manifestasi atau proyeksi mental dari kesadaran kita sendiri. Melalui untaian kalimat ringkas dalam instruksi esensialnya, ia menyimpulkan bahwa konsep kedirian atau ego manusia hanyalah berupa bentukan pikiran ("you are just a thought").

2. Konsep Delapan Kesadaran (Eight Consciousnesses)Untuk menjelaskan bagaimana realitas mental ini bekerja dan mengatasi penderitaan ( samsara ), Vasubandhu merinci kesadaran manusia menjadi delapan lapisan: 6 Kesadaran Indra: Kesadaran mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran kortikal ( manovijnana ).Kesadaran Ego ( Manas ): Pusat kesadaran yang terus-menerus melekat pada ilusi dualitas dan keakuan (self).Kesadaran Gudang ( Alaya-vijnana ): Lapisan kesadaran terdalam yang menyimpan semua "benih" ( bija ) dari karma atau perbuatan masa lalu. Benih-benih inilah yang nantinya matang dan memproyeksikan pengalaman hidup kita saat ini.

3. Ajaran Tiga Hakikat Realitas ( Trisvabhava ). Di dalam kitabnya Trisvabhava-nirdesa ( Tiga Hakikat ), Vasubandhu membagi cara makhluk hidup memandang dan mengalami realitas menjadi tiga tingkatan: Hakikat Khayalan ( Parikalpita-svabhava ): Realitas sehari-hari yang penuh ilusi, di mana kita secara keliru membagi dunia menjadi dualitas "subjek" ( saya ) dan "objek" ( benda di luar saya ). Hakikat Ketergantungan ( Paratantra-svabhava ): Realitas yang muncul karena hukum sebab-akibat yang saling bergantungan ( dependent origination ); proses kausal yang memunculkan persepsi kita.Hakikat Mutlak / Kesempurnaan ( Parinispanna-svabhava ): Realitas sejati atau kondisi tercerahkan, di mana kita berhasil melihat menembus ilusi dualitas dan menyadari kesunyatan ( kekosongan ) bahwa subjek dan objek adalah satu kesatuan yang tidak terpisah.Tujuan akhir dari esensi ajaran Vasubandhu adalah memurnikan aliran kesadaran dari kekotoran batin ( klesha ) melalui praktik meditasi yogis, sehingga kesadaran biasa ( vijnana ) bertransformasi menjadi kebijaksanaan langsung yang tanpa sekat ( jnana ) demi mencapai Nirvana.

Reputasi:

Ia dihormati sebagai master debat ulung yang pernah memenangkan perdebatan besar di istana kerajaan.

Di berbagai tradisi Buddhis ( seperti Zen/Chan dan Buddhisme Tibet ), ia juga dihormati sebagai seorang Bodhisatva karena pengabdiannya dalam menyebarkan Dharma.

Tks
🙏🙏🙏
Ms

Address

Jakarta
12220

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Marga Singgih posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share