Komunitas Kenduri Cinta

Komunitas Kenduri Cinta Komunitas Kenduri Cinta terbentuk sejak pertengahan tahun 2000. Komunitas Kenduri Cinta adalah bagian dari komunitas Maiyah Nusantara. Yang lslam, lslamlah.
(323)

"lnna ma'ya Robbi", tutur Musa, Nabi alaihissalaam, untuk meyakinkan ummatnya bahwa Allah ada bersamanya. Muhammad Rasulullah saw, juga menggunakan kata sama -di gua Tsur- tatkala dikejar-kejar oleh pasukan musuh untuk menghibur dan memelihara iman Abu Bakar, sahabat beliau, Sayyid kita Rodhlialloohu'anhu: "La takhof wa la tahzan, innalloha ma'anaa". Jangan takut jangan sedih, Allah ada menyertai

kita. Bahasa kenegaraan Maiyah itu: Nasionalisme. Bahasa mondialnya: Universalisme. Bahasa peradabannya: Pluralisme. Bahasa kebudayaannya: Heterogenisme, atau kemajemukan yang direlakan, dipahami dan dikelola. Metode atau manejemen pengelolaannya bernama: Demokrasi. Di dalam teori Maiyah Nasionalisme, selalu ditemukan adanya banyak pihak, ada banyak wajah, ada banyak warna, ada banyak kecenderungan dan pilihan. Masing-masing pilihan itu menggunakan wamanya sendiri-sendiri, wajahnya sendiri-sendiri dan kecenderungan sendiri-sendiri. Setiap mereka menghidupi dan menampilkan dirinya masing-masing. Sehingga pada semuanya tampak sebagai bhinneka. Berbagai perbedaan itu tidak membuat mereka berperang satu sama lain, karena diikat dan prinsip ke-ika-an, yakni komitmen kolektif untuk saling menyelamatkan dan mensejahterakan. Demikianlah berita gembira berdirinya Republik lndonesia dulu. Sikap Maiyah di antara berbagai pilihan itu adalah kesepakatan untuk saling menyetorkan kebaikan dan kemaslahatan untuk semua. Yang Budha, berpakaianlah Buddha. Yang Katholik, Katholiklah. Omswastiatu tak usah diganti Padamu Negeri. Halelluya tak usah diganti Tanah Tumpah Darahku. Shalaatullaah salaamullaah tak usah diganti lbu Kita Kartini. Heterogenitas itu cukup dijaga oleh satu prinsip: saling memperuntukkan dirinya bagi kebersamaan. ltulah Maiyah.

05/06/2026

๐—ž๐—˜๐—ก๐——๐—จ๐—ฅ๐—œ ๐—–๐—œ๐—ก๐—ง๐—” ๐˜… ๐—๐—”๐—ž๐—”๐—ฅ๐—ง๐—” ๐—™๐—จ๐—ง๐—จ๐—ฅ๐—˜ ๐—™๐—˜๐—ฆ๐—ง๐—œ๐—ฉ๐—”๐—Ÿ: ๐—ฆ๐—”๐—ช๐—”๐—ก๐—š ๐—ฆ๐—œ๐—ก๐—”๐—ช๐—”๐—ก๐—š | Jumat, 5 Juni 2026, 19.30 WIB | Plaza Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat




05/06/2026

๐— ๐—ฒ๐—ป๐—ฒ๐—บ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ป ๐—œ๐˜€๐—บ๐—ฎ๐—ถ๐—น ๐——๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—บ ๐—Ÿ๐—ฎ๐—ป๐—ด๐—ด๐—ฎ๐—บ ๐—ž๐—ฒ๐—ต๐—ถ๐—ฑ๐˜‚๐—ฝ๐—ฎ๐—ป ๐—ž๐—ถ๐˜๐—ฎ

Selengkapnya di youtube.com/

โ€”

Kenduri Cinta edisi Mei 2026
LANGGAM QOROBA

Plaza Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat



Mukadimah Kenduri Cinta edisi Juni 2026: SAWANG SINAWANGManusia adalah rahasia Allah, dan Allah adalah rahasia bagi manu...
04/06/2026

Mukadimah Kenduri Cinta edisi Juni 2026: SAWANG SINAWANG

Manusia adalah rahasia Allah, dan Allah adalah rahasia bagi manusia. Salah satu rahasia terbesar itu adalah hubungan yang sangat dekat antara Sang Pencipta dan hamba-Nya. Seolah terdapat dialog mesra yang terus berlangsung antara keduanya, dengan alam semesta sebagai topik yang tidak pernah habis untuk dipelajari. Kemesraan kosmik ini dapat dipahami ketika manusia menjalankan amanahnya sebagai saksi atas tanda-tanda kebesaran Allah di muka bumi. Dalam mengemban tugas ini, manusia dibimbing oleh Nabi Muhammad SAW, yang diutus sebagai rahmat-Nya bagi seluruh alam semesta.

Karena itulah, dalam tradisi wahyu, rasa syukur tidak hanya diungkapkan dengan ucapan โ€œterima kasih, Tuhanโ€, tetapi dengan kalimat, โ€œSegala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.โ€ Kalimat ini mengandung kesadaran bahwa seluruh rahmat berasal dari-Nya, sehingga hanya kepada-Nya p**a segala pujian layak dipersembahkan. Ketika kalimat itu terucap, sejatinya sang hamba sedang merapal kunci linguistik dari seluruh keberadaan. Sebuah pengakuan sederhana bahwa seluruh kosmos bersumber dari-Nya, dan akan kembali kepada-Nya.

Alam semesta, baik yang membentang di langit dan bumi maupun yang tersimpan di dalam diri manusia, adalah tanda kuasa dan rahmat-Nya (Q.S. Fussilat: 53). Semuanya hadir sebagai bukti atas keberadaan-Nya. Di sinilah peran manusia bertumpu: sebagai saksi atas kebesaran dan kebenaran-Nya.

Namun, di sini tantangan muncul. Menjadi saksi atas kebenaran-Nya bukanlah tugas yang ringan. Bagaimanapun, manusia adalah makhluk yang terbatas. Keterbatasan ini tentu memengaruhi cara manusia melihat, memahami, menyimpulkan, dan bersaksi. Sebagaimana yang sering disampaikan Cak Nun, persaksian manusia akan sangat tergantung pada berbagai faktor: sudut pandang, jarak pandang, lapang pandang, lingkar pandang, hingga cara pandang. Karena itu, tidak ada manusia yang mampu melihat segala sesuatu secara utuh dan sempurna.

Kesadaran akan keterbatasan ini yang menjadi fondasi utama manusia. Tanpa kesadaran ini, manusia akan mudah tergelincir dan menjadikan dirinya sebagai pusat dari segala penilaian. Dari sinilah ego mulai tumbuh, melahirkan rasa paling benar, paling suci, dan paling berhak menghakimi sesama.

Padahal, dalam tradisi kenabian, puncak kesempurnaan itu hanya mencapai maqam tertingginya pada Sang Ahmad, Nabi Muhammad SAWโ€”sebagaimana isyarat tentang Maqam Mahmud dalam Q.S. Al-Israโ€™: 79. Adapun manusia selain beliau hanya dapat mendekati kebenaran dengan saling melengkapi sudut pandang yang dilandasi keikhlasan kepada-Nya, hanya demi-Nya, dan hanya untuk-Nya.

Di sinilah sawang-sinawang tumbuh dan berakar. Sebagai salah satu mutiara hikmah dalam tradisi Suluk Jawa dan khazanah kewalian Nusantara, sawang-sinawang tumbuh sebagai upaya spiritual untuk saling bercermin. Melalui kearifan ini, kita diajak untuk menepis iri hati, dengki, atau prasangka dalam memandang sesama. Sebaliknya, kita harus belajar tepa selira (berempati) untuk memahami perasaan sesama, sekaligus teguh dalam prinsip mulat sarira: sibuk melakukan introspeksi diri sebelum memeriksa orang lain.

Dalam ruang kesadaran itu, sabda nabi bahwa โ€œsetiap insan adalah cermin bagi insan lainnyaโ€ mewujud nyata. Sebagaimana air tenang mampu memantulkan bayangan bulan utuh, hati yang telah melakukan mulat sarira baru mampu memantulkan kebenaran tanpa distorsi ego. Pada akhirnya, harmoni sosial dan ketenteraman semesta akan tercipta ketika manusia mampu menjaga keseimbangan lahir-batin melalui kepekaan batin dan empati.

Nilai-nilai ini menjadi semakin penting di era modern. Arus informasi yang deras, algoritma yang memelihara kemarahan, serta budaya viral yang mendorong manusia bereaksi sebelum memahami, membuat ruang publik dipenuhi kegaduhan penghakiman. Banyak orang lebih sibuk menjadi polisi moral bagi kehidupan orang lain, alih-alih menjadi kritikus bagi dirinya sendiri.

[Baca selengkapnya โ€” https://kenduricinta.com/mukadimah-sawang-sinawang/ ]

Manusia adalah rahasia Allah, dan Allah adalah rahasia bagi manusia. Salah satu rahasia terbesar itu adalah hubungan yang sangat dekat antara Sang Pencipta dan hamba-Nya. Seolah terdapat dialog mesra yang terus berlangsung antara keduanya, dengan alam semesta sebagai topik yang tidak pernah habis un...

๐—ž๐—˜๐—ก๐——๐—จ๐—ฅ๐—œ ๐—–๐—œ๐—ก๐—ง๐—” ๐˜… ๐—๐—”๐—ž๐—”๐—ฅ๐—ง๐—” ๐—™๐—จ๐—ง๐—จ๐—ฅ๐—˜ ๐—™๐—˜๐—ฆ๐—ง๐—œ๐—ฉ๐—”๐—Ÿ: ๐—ฆ๐—”๐—ช๐—”๐—ก๐—š ๐—ฆ๐—œ๐—ก๐—”๐—ช๐—”๐—ก๐—š | Jumat, 5 Juni 2026, 19.30 WIB | Plaza Teater Besar, Taman Ism...
03/06/2026

๐—ž๐—˜๐—ก๐——๐—จ๐—ฅ๐—œ ๐—–๐—œ๐—ก๐—ง๐—” ๐˜… ๐—๐—”๐—ž๐—”๐—ฅ๐—ง๐—” ๐—™๐—จ๐—ง๐—จ๐—ฅ๐—˜ ๐—™๐—˜๐—ฆ๐—ง๐—œ๐—ฉ๐—”๐—Ÿ: ๐—ฆ๐—”๐—ช๐—”๐—ก๐—š ๐—ฆ๐—œ๐—ก๐—”๐—ช๐—”๐—ก๐—š | Jumat, 5 Juni 2026, 19.30 WIB | Plaza Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat




02/06/2026

๐— ๐˜‚๐—ธ๐—ฎ๐—ฑ๐—ถ๐—บ๐—ฎ๐—ต: ๐—Ÿ๐—”๐—ก๐—š๐—š๐—”๐—  ๐—ค๐—ข๐—ฅ๐—ข๐—•๐—”

Selengkapnya di youtube.com/

โ€”

Kenduri Cinta edisi Mei 2026
LANGGAM QOROBA

Plaza Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat



KENDURI CINTA x JAKARTA FUTURE FESTIVAL: SAWANG SINAWANG | Jumat, 5 Juni 2026, 19.30 WIB | Plaza Teater Besar, Taman Ism...
01/06/2026

KENDURI CINTA x JAKARTA FUTURE FESTIVAL: SAWANG SINAWANG | Jumat, 5 Juni 2026, 19.30 WIB | Plaza Teater Besar, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat




ESENSIA: Teater dan Drama Kehidupanโ€”Oleh: Munzir MadjidArtikel ini mengenang Gelanggang Mahasiswa UGM sebagai ruang lahi...
29/05/2026

ESENSIA: Teater dan Drama Kehidupan
โ€”Oleh: Munzir Madjid

Artikel ini mengenang Gelanggang Mahasiswa UGM sebagai ruang lahirnya gerakan seni dan spiritual di era 1980-an. Bukan sekadar gedung, tetapi kawah candradimuka tempat teater, musik, dan dakwah menyatu dalam satu napas. Di tangan Cak Nun, Agung Waskito, Sapto Rahardjo, dan kelompok-kelompok seperti Sanggar Shalahuddin dan Teater Jiwa, panggung menjadi ruang di mana nilai, keimanan, dan kemanusiaan dipertunjukkan dengan jujur. Dari Patangpuluhan hingga stadion ratusan ribu penonton, teater adalah perjalanan ruhani yang membentuk generasi yang berani berkata, bergerak, dan bersujud dalam satu waktu.

Baca artikel Teater dan Drama Kehidupan oleh Munzir Madjid [], di kolom Esensia website Kenduri Cinta.



โ€”

Kirim tulisanmu ke: [email protected]

Address

Jalan Parkir Taman Ismail Marzuki
Jakarta

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Komunitas Kenduri Cinta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share