15/09/2026
Maria tahu betul rasanya berada di tengah bencana.
Ia sendiri merupakan penyintas gempa di Nagekeo, NTT. Karena itu, ketika mendapat tugas bergabung dalam respons darurat di Lamba Leda Utara, ada rasa cemas yang ikut ia bawa, terutama karena harus meninggalkan keluarganya di tengah situasi yang juga berdampak pada kampung halamannya.
Namun selama 14 hari, Maria tetap memilih untuk hadir bagi keluarga lain yang membutuhkan.
Bersama tim Emergency Response Team (ERT) Plan Indonesia, ia menyusuri posko-posko pengungsian, mendengarkan kebutuhan penyintas, dan berusaha menghadirkan sedikit rasa nyaman di tengah situasi yang sulit.
Suatu hari, setelah memberikan pembalut kepada seorang kaum muda perempuan, Maria teringat pada seorang bayi berusia tiga minggu di salah satu posko.
“Sebentar kita beli perlengkapan bayi juga.”
Kasur, kelambu, pakaian, minyak telon, dan kebutuhan bayi lainnya pun mereka bawa kembali ke posko. Saat melihat bayi kecil itu berbaring nyaman dan sesekali tertawa di kasur barunya, Maria dan tim hanya bisa tersenyum.
Bagi Maria, momen sederhana itu terasa begitu berarti.
“Ini Nga’o (saya) pertama kali tugas begini. Ternyata kita bisa hadir untuk bantu sesama manusia yang memang sedang sulit dan terluka. Saya ingat kalau kita lagi main dengan anak-anak, orang tua mereka sering menonton. Kadang ada orang tua yang air matanya jatuh lihat anak-anaknya bisa main dengan bahagia begitu.”
Di akhir penugasannya, Maria pulang dengan rasa bahagia dan bangga. Di tengah bencana yang juga menerpa hidupnya, ia tetap bisa hadir untuk orang lain.
Bagi Maria, misi kemanusiaan bukan hanya tentang memberi bantuan. Ini tentang hadir, mendengarkan, dan menemukan makna dari membantu sesama.
Baca cerita lengkap perjalanan Maria melalui: https://planindonesia.org/maria-rasa-dan-makna-misi-kemanusiaan/