Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan - KontraS

Call Directions Website Contact the organization

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan - KontraS Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS)
JL. Kramat II No. 7, Kwitang, Senen Jakarta Pusat 10420 | Telp: 021-3919097, 3919098

KontraS, yang lahir pada 20 Maret 1998 merupakan gugus tugas yang dibentuk oleh sejumlah organisasi civil society dan tokoh masyarakat. Gugus tugas ini semula bernama KIP-HAM yang telah terbentuk pada tahun 1996. Sebagai sebuah komisi yang bekerja memantau persoalan HAM, KIP-HAM banyak mendapat pengaduan dan masukan dari masyarakat, baik masyarakat korban maupun masyarakat yang berani menyampaikan aspirasinya tentang problem HAM yang terjadi di daerah. Pada awalnya KIP-HAM hanya menerima beberapa pengaduan melalui surat dan kontak telefon dari masyarakat. Namun lama kelamaan sebagian masyarakat korban menjadi berani untuk menyampaikan pengaduan langsung ke sekretariat KIP-HAM. Dalam beberapa pertemuan dengan masyarakat korban, tercetuslah ide untuk membentuk sebuah lembaga yang khusus menangani kasus-kasus orang hilang sebagai respon praktik kekerasan yang terus terjadi dan menelan banyak korban. Pada saat itu seorang ibu yang bernama Ibu Tuti Koto mengusulkan dibentuknya badan khusus tersebut. Selanjutnya, disepakatilah pembentukan sebuah komisi yang menangani kasus orang hilang dan korban tindak kekerasan dengan nama KontraS. Dalam perjalanannya KontraS tidak hanya menangani masalah penculikan dan penghilangan orang secara paksa tapi juga diminta oleh masyarakat korban untuk menangani berbagai bentuk kekerasan yang terjadi baik secara vertikal di Aceh, Papua dan Timor-Timur maupun secara horizontal seperti di Maluku, Sambas, Sampit dan Poso. Selanjutnya, ia berkembang menjadi organisasi yang independen dan banyak berpartisipasi dalam membongkar praktik kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia sebagai akibat dari penyalahgunaan kekuasaan. Dalam perumusan kembali peran dan posisinya, KontraS mengukuhkan kembali visi dan misinya untuk turut memperjuangkan demokrasi dan hak asasi manusia bersama dengan entitas gerakan civil society lainnya. Secara lebih khusus, seluruh potensi dan energi yang dimiliki KontraS diarahkan guna mendorong berkembangnya ciri-ciri sebuah sistim dan kehidupan bernegara yang bersifat sipil serta jauhnya politik dari pendekatan kekerasan. Baik pendekatan kekerasan yang lahir dari prinsip-prinsip militerisme sebagai sebuah sistem, perilaku maupun budaya politik. Artinya, kekerasan disini bukan semata-mata persoalan intervensi militer ke dalam kehidupan politik. Akan tetapi, lebih jauh menyangkut kondisi struktural, kultural dan hubungan antar komunitas sosial, kelompok-kelompok sosial serta antar strata sosial yang mengedepankan kekerasan dan simbol-simbolnya.

STORIES IN LINE: Storytelling & Live DrawingBagian dari Pameran Rest(at): Ruang Temu WargaApa yang terjadi ketika cerita...
08/09/2026

STORIES IN LINE: Storytelling & Live Drawing
Bagian dari Pameran Rest(at): Ruang Temu Warga

Apa yang terjadi ketika cerita tidak hanya dipajang, tetapi kembali diceritakan?

Dalam Pameran Rest(at), kita tidak hanya berhadapan dengan arsip, gambar, dan jejak peristiwa. Kita juga berhadapan dengan pengalaman manusia—dengan keresahan, kehilangan, keberanian, dan cerita yang sering kali tidak memiliki cukup ruang untuk didengar.

Melalui Stories in Line, ruang pameran menjadi ruang pertemuan. Ruang untuk mendengar langsung cerita dari mereka yang mengalami, menyaksikan bagaimana pengalaman diterjemahkan menjadi gambar, sekaligus merawat ingatan agar tidak berhenti sebagai catatan masa lalu.

🎙️ Storytelling bersama Humanity Youth
🎨 Live Drawing bersama Gambar Selaw

Mari datang, duduk, mendengar, dan menjadi bagian dari percakapan.

Karena Rest(at) bukan sekadar tempat untuk melihat. Ia adalah ruang untuk bertemu, mengingat, dan menyusun kembali cerita bersama.

đź“… Rabu, 9 September 2026
⏰ 16.00–18.00 WIB
📍 Live House, M Bloc Space

Pameran Rest(at): Ruang Temu Warga
Sebuah ruang untuk bertemu dengan cerita, pengalaman, dan ingatan warga.

DARI ARSENIK HINGGA AIR KERAS, KAMI TERUS MELAWAN!22 Tahun Berlalu, Usut Tuntas dan Lawan Impunitas Masih Menjadi Tuntut...
07/09/2026

DARI ARSENIK HINGGA AIR KERAS, KAMI TERUS MELAWAN!

22 Tahun Berlalu, Usut Tuntas dan Lawan Impunitas Masih Menjadi Tuntutan.

7 September 2004, Munir Said Thalib pergi untuk selamanya. Dua puluh dua tahun berlalu, tetapi pertanyaan tentang siapa yang merancang, memerintahkan, dan memastikan pembunuhan Munir masih belum sepenuhnya terjawab.

Hari ini, wajah perjuangan itu terus hidup. Dari Munir hingga Andrie Yunus, pola yang sama kembali mengingatkan kita: ketika kekerasan terhadap pembela HAM terjadi dan impunitas dibiarkan, negara sedang mempertaruhkan keselamatan setiap orang yang berani bersuara.

Kami menolak penyelesaian perkara melalui peradilan militer ketika dugaan keterlibatan aparat negara harus diuji secara terbuka, transparan, dan akuntabel.

Kami menolak impunitas.
Kami menuntut keadilan.
Kami terus melawan.

Dari Munir, hingga Andrie Yunus.
Perjuangan untuk kebenaran tidak boleh berhenti.

PUTUSAN BANDING KASUS ANDRIE YUNUS: KETIKA PERADILAN MILITER JUSTRU MAKIN SESAT DAN MEMPERKUAT IMPUNITASPengadilan Milit...
05/09/2026

PUTUSAN BANDING KASUS ANDRIE YUNUS: KETIKA PERADILAN MILITER JUSTRU MAKIN SESAT DAN MEMPERKUAT IMPUNITAS

Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta pada 20 Agustus 2026 menjatuhkan putusan banding terhadap empat anggota TNI pelaku serangan air keras terhadap Andrie Yunus.

Hasilnya? Dua terdakwa mendapat hukuman lebih ringan, dan pidana tambahan berupa pemecatan secara jelas dianulir dalam amar putusan.

Padahal, serangan tersebut menyebabkan Andrie mengalami kerusakan pada indera penglihatan dan luka bakar pada kulit sekitar 20%.

Bagi kami, persoalannya tidak berhenti pada ringan atau beratnya vonis.

Ada persoalan yang jauh lebih serius: ketidakjelasan status pemecatan, proses persidangan yang tertutup, minimnya perspektif korban, tidak terungkapnya fakta secara komprehensif, serta pertanyaan mengenai keterlibatan aktor lain.

Ketika proses peradilan justru mempersempit pertanggungjawaban dan meringankan hukuman pelaku, di mana keberpihakan pada korban? Di mana upaya membongkar seluruh kebenaran?

Lebih jauh, persoalan ini menunjukkan problem struktural peradilan militer yang berisiko menjadi infrastruktur impunitas, terutama ketika tindak pidana dilakukan oleh prajurit TNI terhadap warga sipil.

Keadilan tidak cukup dengan menjatuhkan putusan. Keadilan harus memastikan seluruh fakta dibongkar, seluruh aktor dimintai pertanggungjawaban, dan korban mendapatkan pemulihan.

Jangan biarkan kasus Andrie Yunus berhenti pada empat terdakwa.

Bongkar seluruh fakta.
Usut seluruh aktor.
Hadirkan keadilan bagi korban.

22 TAHUN BERLALU. KEADILAN UNTUK MUNIR MASIH BELUM TUNTAS.22 tahun sejak Munir Said Thalib dibunuh dalam perjalanan menu...
05/09/2026

22 TAHUN BERLALU. KEADILAN UNTUK MUNIR MASIH BELUM TUNTAS.

22 tahun sejak Munir Said Thalib dibunuh dalam perjalanan menuju Belanda, pertanyaan tentang siapa yang merancang dan bertanggung jawab atas pembunuhannya masih belum terjawab sepenuhnya.

Peringatan 22 tahun bukan sekadar mengenang. Ini adalah momentum untuk merawat ingatan, melanjutkan perjuangan, dan kembali menagih tanggung jawab negara.

📍 SENIN, 7 SEPTEMBER 2026
🗣️ Seruan Aksi Simbolik
10.00 WIB — Gedung Komnas HAM, Jakarta

đź’¬ Diskusi Publik
16.00 WIB — Waroeng Sadjoe, Tebet

📍 KAMIS, 10 SEPTEMBER 2026
✊ Aksi Kamisan ke-924
15.00–17.00 WIB

Mari hadir, bersuara, dan bersama-sama memastikan ingatan tentang Munir tidak pernah dipadamkan.

Ungkap dalangnya. Bongkar impunitasnya. Tuntaskan keadilan untuk Munir!

🖨️ Poster September Hitam tersedia untuk diunduh, dicetak, dan disebarkan.
Scan QR pada slide terakhir dan ikut sebarkan seruannya.




SEPTEMBER HITAM: KETIKA NEGARA MEMILIH MELUPAKAN!September bukan sekadar pergantian bulan.Ia menyimpan nama-nama yang di...
01/09/2026

SEPTEMBER HITAM: KETIKA NEGARA MEMILIH MELUPAKAN!

September bukan sekadar pergantian bulan.

Ia menyimpan nama-nama yang dibunuh, tubuh yang dihilangkan, dan suara-suara yang dibungkam negara.

Dari Peristiwa 1965, Peristiwa Tanjung Priok, Semanggi II, pembunuhan Munir Said Thalib,hingga tragedi Reformasi Dikorupsi 2019, sejarah terus mencatat kekerasan yang menimpa warga. Dan sampai hari ini, kekerasan serta praktik penghilangan paksa masih terus terjadi.

Ironisnya, ketika korban dan keluarga korban masih menunggu keadilan, negara justru dapat memberikan penghormatan kepada Soeharto sebagai Pahlawan Nasional.

September Hitam adalah tentang mengingat.
Tentang menolak lupa.
Tentang memastikan kekerasan negara tidak dinormalisasi, sejarah tidak diputarbalikkan, dan korban tidak kembali dihilangkan dari ingatan publik.

Karena mengingat bukan sekadar mengenang.

Mengingat adalah melawan.

✊ Merawat Ingatan. Menolak Lupa. Lawan impunitas!

01/09/2026

Senin, 31 Agustus 2026 – Pemantauan Tim Advokasi Untuk Demokrasi (TAUD) menemukan adanya pengerahan aparat secara besar-besaran dan pola pengamanan berlapis untuk mengantisipasi maupun membatasi pergerakan massa pada aksi 27 Agustus 2026. Terdapat sekitar 18.504 personel dikerahkan untuk mengamankan jalannya aksi di wilayah Jakarta. Selain itu, terjadi beberapa dugaan tindakan penggunaan kekuatan secara berlebihan (excessive use of force) berupa penggunaan senjata pengendali massa, penangkapan sewenang-wenang, penganiayaan, hingga penyiksaan yang berkontribusi terhadap eskalasi situasi.

Ditemukan juga jumlah korban yang signifikan, tingginya angka penangkapan, serta berujung pada dugaan tindakan penghilangan orang secara paksa berjangka singkat (short-term enforced disappearances). Upaya pembatasan akses bantuan hukum juga dilakukan oleh Polda Metro Jaya dalam situasi ini.

Penahanan yang dilakukan secara tertutup, tanpa informasi yang memadai mengenai keberadaan dan kondisi orang yang ditahan, tidak dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan administratif. Ketika seseorang ditempatkan di luar jangkauan keluarga, penasihat hukum, dan mekanisme perlindungan hukum, terdapat konsekuensi serius terhadap pemenuhan dan perlindungan hak asasi manusia.

Saksikan konferensi pers TAUD selengkapnya melalui https://www.youtube.com/watch?v=-0Q1j22ZFRs

[Rilis Swarga Zine Vol. 5: “Merdeka di Atas Kertas”]Halo, Warga!Selama bulan Agustus, kami merangkum berbagai karya dan ...
01/09/2026

[Rilis Swarga Zine Vol. 5: “Merdeka di Atas Kertas”]

Halo, Warga!

Selama bulan Agustus, kami merangkum berbagai karya dan refleksi yang dikirimkan oleh warga tentang arti “merdeka” hari ini. Melalui setiap submisi yang masuk, terlihat satu benang merah yang jelas: kemerdekaan yang dirayakan saban tahun ternyata masih sebatas janji di atas kertas.

Jika Agustus 2025 kita mengenang duka “Agustus Kelabu” akibat represi aksi, maka pada Agustus 2026 ini kita kembali ditampar kenyataan. Tindakan represif dan pembatasan ruang sipil saat warga bersuara di ruang publik masih terjadi secara masif.

Kemerdekaan seharusnya milik warga, bukan sekadar simbol seremonial. Terima kasih kepada seluruh warga yang telah berpartisipasi dan menuangkan suaranya.

Swarga Zine Edisi 5 “Merdeka di Atas Kertas” resmi dirilis! Unduh publikasi selengkapnya melalui tautan di bio kami atau pindai kode QR di halaman akhir postingan ini.

Kunjungi website www.kontras.org untuk mengakses Swarga Zine Vol.5 selengkapnya



[Rilis Swarga Zine Vol. 5: “Merdeka di Atas Kertas”]Halo, Warga!Selama bulan Agustus, kami merangkum berbagai karya dan ...
01/09/2026

[Rilis Swarga Zine Vol. 5: “Merdeka di Atas Kertas”]

Halo, Warga!

Selama bulan Agustus, kami merangkum berbagai karya dan refleksi yang dikirimkan oleh warga tentang arti "merdeka" hari ini. Melalui setiap submisi yang masuk, terlihat satu benang merah yang jelas: kemerdekaan yang dirayakan saban tahun ternyata masih sebatas janji di atas kertas.

Jika Agustus 2025 kita mengenang duka "Agustus Kelabu" akibat represi aksi, maka pada Agustus 2026 ini kita kembali ditampar kenyataan. Tindakan represif dan pembatasan ruang sipil saat warga bersuara di ruang publik masih terjadi secara masif.

Kemerdekaan seharusnya milik warga, bukan sekadar simbol seremonial. Terima kasih kepada seluruh warga yang telah berpartisipasi dan menuangkan suaranya.

Swarga Zine Edisi 5 “Merdeka di Atas Kertas” resmi dirilis! Unduh publikasi selengkapnya melalui tautan di bio kami atau pindai kode QR di halaman akhir postingan ini.

https://kontras.org/swarga-edisi-ke-5-merdeka-di-atas-kertas/



[Rangkaian Hari Anti Penghilangan Paksa]Penghilangan Paksa bukan sekadar bagian dari masa lalu—celah hukumnya masih ada ...
29/08/2026

[Rangkaian Hari Anti Penghilangan Paksa]

Penghilangan Paksa bukan sekadar bagian dari masa lalu—celah hukumnya masih ada hingga hari ini. 🚨

Meski Indonesia telah menandatangani ICPPED sejak 2010, praktik Penghilangan Paksa belum dikriminalisasi sebagai autonomous offense dalam hukum pidana kita.

Untuk melihat kesenjangan hukum tersebut dan menyuarakan keadilan bagi korban, mari bergabung dalam rangkaian peringatan Hari Anti Penghilangan Paksa Sedunia 2026 yaitu Webinar Peluncuran Riset dan Aksi Simbolik.



Address

Jalan Kramat II/7
Jakarta
10420

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan - KontraS posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Organization

Send a message to Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan - KontraS:

Shortcuts

Share