02/08/2026
Pengejaran yang Sia-sia
Ketamakan.
Sifat tamak itu seperti mengenakan jubah tak kasat mata, berpadu sempurna dengan pakaian budaya modern. Sifat ini diam-diam meresap ke dalam hasrat kita, mengaburkan penilaian kita, dan merusak nilai-nilai kita. Ketamakan selalu mencari lebih lagi—lebih banyak pengakuan, lebih banyak status, lebih nyaman, dan lebih banyak hal.
Namun ironisnya dari ketamakan adalah: semakin banyak harta benda, status, atau pengakuan duniawi yang kita peroleh, semakin kita merasa tidak puas.
Dalam Lukas 12:15, Yesus memperingatkan bagaimana ilusi kepuasan dengan cara mengumpulkan lebih banyak terus-menerus akan membutakan kita terhadap kepuasan dan tujuan sejati dan itu merupakan pengejaran yang sia-sia:
Kata-Nya lagi kepada mereka, "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung pada kekayaannya itu."
Kepuasan sejati tidak terjadi ketika kita menimbun harta benda atau mengejar kenyamanan tanpa akhir. Kepuasan sejati ditemukan ketika kita tertambat pada rasa cukup, syukur, dan hubungan mendalam dengan Allah yang menuntun kita pada pencarian kerajaan dan kebenaran-Nya (Lukas 12:31).
Dalam hal apakah Anda memiliki keinginan yang tak ada habisnya untuk mendapatkan lebih lagi—lebih banyak pengakuan, lebih nyaman, lebih banyak harta? Apakah ada area dalam hidup Anda di mana upaya mengejar lebih banyak hal itu mungkin menutupi upaya mengejar kerajaan Allah dan kebenaran-Nya (Lukas 12:31)?
❤️