05/06/2026
Sahabat, kita diingatkan oleh Syaikh Ibnu Athaillah, bahwa manusia itu tidaklah diukur hanya dari seberapa banyak ia bicara, tapi seberapa dalam ia menjaga lisan.
Syekh Ibnu Athaillah mengatakan dalam _Al-Hikam_: “orang yang selalu menjawab semua pertanyaan, menceritakan semua yang dilihat, dan memamerkan semua yang diketahui, justru sedang menunjukkan kebodohannya.”
Dengan kata lain, diam bukan berarti kalah, tapi tanda kedewasaan dalam menyikapi ilmu.
Di era banjir informasi hari ini, godaan untuk ikut berkomentar di setiap isu, itu sangat besar. Media sosial membuat kita merasa harus selalu punya opini.
Padahal, menahan diri adalah bagian dari jihad. Tidak semua hal perlu ditanggapi. Tidak semua yang kita tahu harus diumbar.
Ada kalanya, menjaga marwah perlu hanya dengan memilih diam sejenak dari bersuara lantang dan cukup bekerja dalam senyap.
Sikap inilah yang akan membedakan kita dengan yang lain. Kita diajarkan untuk “berbicara dan bertindak dengan ilmu, tidak dengan prasangka dan amarah”. Sebelum menyebar informasi, mari pastikan kebenarannya dahulu.
Sebelum menjawab, mengoreksi, apalagi memberi penilaian atau menyalahkan, pastikan ilmu kita cukup. Karena satu kalimat yang salah itu bisa memecah barisan, tapi satu tindakan nyata bisa membawa kemaslahatan.
Diamnya kader Ansor bukan diam yang kosong, tapi diam yang berisi strategi, adab, dan maslahat.
Wallahu a’lam bish-showaab…